Model-Model Belajar untuk Mata Pelajaran IPS di Madrasah

0
74

 Dra. Hj. Yurnalis Nurdin , M. Pd

Widyaiswara Madya BDK Palembang

 

Abstrak: Tulisan ini berjudul “Model-Model Belajar Untuk Mata Pelajaran IPS di Madrasah”. Sebagai guru IPS di Madrasah kita dapat merencanakan berbagai program pembelajaran, seperti program invidual di dalam kelas, agar setiap peserta didik  belajar sendiri-sendiri dalam jangka waktu tertentu. Namun kita juga dapat merencanakan pengalaman belajar dengan kelas yang bersaing sehingga peserta didik membentuk diri seolah-olah berlomba menggendarai mobil yang akhirnya menjadi pemenang. Atau kita juga dapat merencanakan program kerja sama yang mengharapkan peserta didik bekerja sama melalui model-model belajar, dan keberhasilannya tergantung pada anggota tim. Dalam tulisan ini akan membahas empat model belajar dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran IPS dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, yaitu belajar kolaboratif , belajar kuantum, belajar kooperatif, dan  belajar tematik.

 

Kata Kunci: Model-Model Belajar dalam Merancang dan Melaksanakan Pembelajaran IPS.

 

 

MODEL-MODEL BELAJAR

UNTUK MATA PELAJARAN IPS DI MADRASAH

 

 

A. PENDAHULUAN

            Untuk mencapai target kurikulum yang telah ditetapkan, guru harus berupaya menerapkan kurikulum secara maksimal dan efektif. Kegiatan yang paling menentukan dalam keberhasilan penerapan kurikulum adalah proses pembelajaran atau kegiatan belajar. Belajar merupakan suatu proses yang harus ditempuh oleh peserta didik, tetapi esensinya dan hakekatnya harus dipahami oleh guru agar dalam pelaksanaannya guru dapat mengelola dan membimbing proses pembelajaran sesuai dengan kaidah-kaidah belajar yang efektif, Anitah W. Sri ( 2007:2.3). Disamping itu, guru akan dapat menciptakan kondisi dan suasana belajar yang optimal dalam rangka mendukung proses guna mencapai hasil belajar yang diharapkan. Oleh karena itu guru perlu belajar memahami model-model belajar.

Uraian diatas menunjukkan bahwa pentingnya pemahaman guru tentang model-model belajar yang mencakup empat model belajar yang membantu kita sebagai guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, yaitu belajar kolaboratif, belajar kuantum,  belajar kooperatif , dan  belajar tematik.

 

 

B. ISI/URAIAN MATERI

I.              BELAJAR KOLABORATIF (COLLABORATIVE LEARNING)
a.               Hekekat Belajar Kolaboratif.

Kegiatan belajar dikatakan kolaboratif apabila dua orang atau lebih bekerja sama , memecahkan masalah bersama, untuk mencapai tujuan tertentu. Ada dua unsur yang amat penting dalam belajar kolaboratif yaitu;

1) adanya tujuan yang sama.

2) ketergantungan yang positif.

Ad 1) Adanya Tujuan yang Sama.

Dalam mencapai tujuan tertentu, peserta didik bekerja sama dengan teman untuk menentukan strategi pemecahan masalah yang ditugaskan oleh guru. Dua orang peserta didik atau sekelompok kecil peserta didik berdiskusi untuk mencari jalan keluar, menetapkan keputusan bersama. Diskusi para pebelajar menimbulkan perasaan bahwa persoalan yang sedang didiskusikan bersama adalah “milik bersama”. Setiap orang mengemukakan ide dan saling menanggapi, yang pada akhirnya dapat mengembangkan pengetahuan bersama maupun pengetahuan masing-masing individu.

Ad 2) Ketergantungan yang Positif.

Maksud dengan ketergantungan yang positif disini adalah, Setiap anggota kelompok hanya dapat berhasil mencapai tujuan apabila seluruh anggota” bekerja sama”. Dengan demikian dalam belajar kolaboratif, ketergantungan individu sangat tinggi. Untuk ketergantungan individu dapat dibantu dengan sejumlah cara. Cara tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Beri peran khusus setiap anggota kelompok untuk memainkan peran sebagai pengamat, mengklarifikasi, perekam, dan pendorong. Dengan cara ini, setiap individu mempunyai tugas khusus untuk melakukan sesuatu yang konstribusi tiap orang yang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas.
  2. Bagilah tugas menjadi sub-sub tugas yang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas. Setiap anggota diberi suatu sub tugas. Hasilnya kemudian diputuskan bersama oleh semua anggota kelompok.

Untuk  penerapan belajar kolaboratif ini ,guru harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:

  1. Mengajarkan keterampilan kerja sama, memperaktikkan, dan balikan

diberikan dalam hal seberapa baik keterampilan-keterampilan digunakan.

  1. Kegiatan kelas ditingkatkan untuk melaksanakan kelompok yang kohesif.
  2. Individu-individu diberi tanggung jawab untuk kegiatan belajar dan perilaku masing-masing.

Strategi-strategi yang berkaitan dengan ketiga perinsip tersebut tidak ekslusif, namun dilaksanakan dengan cara siklus, misalnya menunjukkan keterampilan kooperatif sekaligus melaksanakan kekohesifan dan tanggung jawab.

b. Manfaat Belajar Kolaboratif

Manfaat Belajar Kolaboratif, yaitu:

1). Meningkatkan pengetahuan anggota kelompok karena interaksi dalam kelompok merupakan factor berpengaruh terhadap penguasaan konsep.

2). Pebelajar belajar memecahkan masalah bersama dalam kelompok

3). Memupuk rasa kebersamaan antar peserta didik, setiap individu tidak dapat leppas dari kelompoknya, mereka perlu mengenali sifat, pendapat yang berbeda dan mapu mengelolanya, Selain itu hakikat manusia sebagai makhluk social mereka tidak dapat menyendiri melainkan mmemerlukan orang lain dalam hidupnya.

4). Meningkatkan keberanian memunculkan idea tau pendapat untuk pemecahan masalah bagi setiap individu yang diarahkan untuk mengajarakan atau member tahu kepada teman kelompoknya jika mengetahui dan menguasai permasalahannya.

5). Memupuk rasa tanggung jawab individu dalam mencapai suatu tujuan bersama dalam bekerja agar tidak terjadi tumpang tindih atau perbedaan pendapat yang prinsip.

6). Setiap anggota melihat dirinya sebagai milik kelompok yang merasa memiliki tanggung jawab karena kebersamaan dalam belajar menyebabkan mereka juga sangat memperhatikan kelompok.

II. BELAJAR KUANTUM (QUANTUM LEARNING)

a. Hakekat Belajar Kuantum

Model belajar ini muncul untuk menanggulangi masalah yang paling sukar di sekolah yaitu “kebosanan”. Istilah kuantum secara harfiah  berarti “ kualitas sesuatu”, mekanis (yang berkenaan dengan gerak). Kuantum mekanis merupakan suatu studi tentang gerakan-gerakan partikel-partikel subatomic (Shelton, 1999 dalam Anitah W Sri, 2007). Quantum Learning merupakan seperangkat metode dan filsafah belajar.

De Porter & Henacki (1999) dalam Anitah W Sri, (2007) mendefenisikan

Quantum Learning sebagai interaksi-interaksi yang merubah energy menjadi cahaya.

 

Agus Nggermanto (2002) dalam Anitah W Sri, 2007) mengatakan bahwa;

Quantum   Learning   menjelaskan bagaimana cara belajar efektif sehingga

     mendapat hasil yang sama dengan kecepatan cahaya. Metode membaca kuantum

adalah sebagian Quantum   Learning mencapai kecepatan cahaya. 

 

 

 Quantum Learning berakar dari upaya Lozanov dengan eksprimennya tentang suggestopedia. Prinsipnya bahwa sugesti dapat mempengaruhi hasil belajar dan setiap detail apapun  memberikan  sugesti  positif atau  negatif. Berikut ini ada beberapa tekhnik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif :

1). Mendudukkan peserta didik secara nyaman

2). Memasang musk latar di dalam kelas.

3). Meningkatkan partisipasi individu.

4). Menggunakan poster untuk memberikan kesan besar sambil menunjukkan informasi.

5). Menyediakan guru-guru yang terlatih dalam seni pembelajaran sugesti.

Seorang guru yang menerapkan pembelajaran kuantum diibaratkan “mengorkestrasi belajar” dengan meriah dan segala nuansa. Maksudnya mengubah bermacam-macam interaksi yang ada di dalam kelas dan di sekitar moment belajar (De Porte, Reardon, nouric, 2000 dalam Anitah W Sri, 2007). Dengan pembelajaran kuantum, guru menciptakan kegiatan belajar yang bergairah dan menyenangkan. Seperti seorang konduktor syimphony yang piawai menghasilkan sajian yang terbaik dari setiap musisi, setiap instrument bahkan dari ruang konser.

Pembelajaran kuantum  mengedepankan unsur-unsur kebebasan , santai, menakjubkan, menyenangkan dan menggairahkan. Indikator keberhasilan pembelajaran kuantum adalah peserta didik sejahtera. Peserta didik dikatakan sejahtera kalau aktivitas belajarnya menyenangkan dan menggairahkan.

 

b. Prinsip-prinsip Utama Pembelajaran Kuantum

Prinsip-prinsip Utama dari Pembelajaran Kuantum adalah sebagai berikut:

1). Segalanya berbicara, segala sesuatu, lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari

kertas yang dibagikan sampai rancangan pembelajaran semuanya mengirim pesan

tentang belajar.

2). Segalanya bertujuan, semua yang terjadi dalam pengubahan mempunyai tujuan,

yaitu  para peserta didik mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran.

3).  Berangkat dari pengalaman, proses roses belajar paling baik terjadi ketika peserta

didik telah mengalami informasi sebelum memperoleh label untuk sesuatu yang

dipelajari.

4). Hargai setiap usaha, belajar mengandung resiko, belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan, saat peserta didik mengambil  langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan dirinya. Pemberian  pengakuan tersebut harus kuat dan dan konkret, seperti kata “bagus, baik, hebat, dan memuaskan” sudah lazim digunakan oleh guru, tetapi kurang jelas apanya yang bagus, baik atau memuaskan, akan labih konkret aabila disebutkan bagian mana yang bagus, baik atau memuaskan, contohnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)  tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) . “Sambil mengangkat jempol kita mengucapkan, peta yang kamu buat bagus sekali!, skala yang kamu  buat/ perbandingan antara jarak di Bumi  dengan skala dipeta tepat sekali!, petamu sesuai dengan kenyataan, dan sebagainya. Dengan demikian peserta didik menjadi tahu bagian mana yang mendapat penghargaan/pujian..

5). Rayakan setiap keberhasilan, perayaan  memberikan  umpan balik tentang  kemajuan guru, kita layak menanamkan bibit kesuksesan dan selalu menghubungkan belajar dengan  perayaan karena perayaan membangun keinginan untuk sukses. Bentuk perayaan dapat berupa tepuk tangan, berteriak hore tiga kali, jentik  jari, poster umum, catatan pribadi, persekongkolan, kejutan, pengakuan kekuatan pujian kepada teman sebangku.

 

c. Manfaat Belajar Kuantum

Manfaat dari Belajar Kuantum, adalah:

1). Suasana kelas menyenangkan sehingga peserta didik bergairah belajar

2). Pesrta didik dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya sebagai pendorong belajar.

3). Peserta didik belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing.

4). Apa pun yang dilakukan oleh peserta didik sepatutnya dihargai.

 

III. BELAJAR KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING)

a. Hakekat Belajar Kooperatif

Dalam kegiatan kooperatif, seseorang mencari hasil yang menguntungkan bagi dirinya dan menguntungkan pula bagi seluruh anggota kelompok. Belajar kooperatif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil sehingga peserta didik bekerja bersama untuk memaksimalkan kegiatan belajarnya sendiri dan juga anggota yang lain. Idenya yang sangat sederhana, anggota kelas diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok kecil setelah menerima pembelajaran dari guru. Kemudian para peserta didik itu mengerjakan tugas sampai semua anggota kelompok berhasil memahaminya.

Usaha-usaha kooperatif menghasilkan participant yang berusaha saling menguntungkan. Jadi, semua anggota kelompok tambahan dari usaha-usaha satu sama lain dengan kata kuncinya” Anda berhasil menguntungkan saya dan keberhasilan saya menguntungkan anda”, pengakuan bahwa semua anggota kelompok berbagi nasib bersama, pengenalan bahwa kinerja seseorang selain disebabkan oleh dirinya sendiri, juga saling membantu dengan teman-temannya.

Kata kooperatif digunakan pada  peserta didik yang bersikap manis, bersedia berbagi bahan-bahan yang dimiliki. Ini merupakan perilaku sosial yang tepat . dalam suatu lingkungan tertentu, tetapi tidak berarti bahwa peserta didik perlu ambil bagian dalam kegiatan belajar kooperatif. Belajar kooperatif bukan harmonisasi, dan sering melibatkan konflik intelektual. Kegiatan kooperatif dapat dikatakan eksis apabiala dua orang atau lebih bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.

b. Prinsip Utama Belajar Kooperatif

Prinsip utamadari  Belajar Kooperatif, adalah sebagai berikut:

1). Kesamaan Tujuan

Tujuan yang sama pada peserta didik dalam kelompok membuat kegiatan belajar lebih kooperatif. Pada suatu saat peserta didik mungkin tampak bekerja kooperatif apabila bertanya tentang ejaan suatu kata atau berbagi pensil saat menggambar. Mungkin peserta didik tersebut memiliki tujuan sendiri yang terpisah dalam kasus ini.

Jika suatu kelas bekerja sama dalam suatu permainan, tujuan kelompok adalah menghasilkan suatu permainan yang menyebabkan peserta didik lain senang atau mengapresiasi kelompok itu. Namun tujuan tiap peserta didik mungkin tidak sama. Seorang peserta didik mungkin ingin menyenangkan gurunya, yang lain ingin menarik perhatian kelas lain, yang lain betul-betul menganggap sebagai suatu kesempatan untuk mengerjakan tugas sebaik-baiknya. Namun makin sama tujuan makin kooperatif.

2). Ketergantungan Positif.

Beberapa orang direkrut sebagai anggota kelompok karena kegiatan hanya dapat berhasil jika anggota dapat bekerja sama.  Ketergantungan antara individu-individu dapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagai berikut:

a). Beri anggota kelompok peranan khusus untuk membentuk pengamat, peningkat,    penjelas, atau  perekam. Dengan cara ini, tiap individu memiliki tugas khusus dan konstribusi tiap orang diperlukan untuk melengkapi keberhasilan tugas.

b). Bagilah tugas menjadi sub-sub tugas yang diperlukan  untuk melengkapi keberhasilan tugas. Setiap anggota kelompok diberi subtugas. Input diperlukan oleh seluruh anggota kelompok.

c). Nilailah kelompok sebagai satu kesatuan yang terdiri dari invidu-individu. Peserta didik dapat bekerja berpasangan dengan penilaian tiap pasangan dengan  penilaian tiap pasangan.

d). Struktur tujuan kooperatif dan kompotitif data dikoordinasikan dengan  menggunakan kelompok belajar kooperatif, menghindari pertentangan satu sama lain.

e). Ciptakan situasi fantasi yang menjadikan kelompok bekerja bersama untuk membangun kekuatan imajinatif, dengan aturan yang ditetapkan oleh situasi. Misalnya untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS) , “kamu berada di suatu  pulau dan harus menciptakan rumah, petani, dan masyarakat yang mencukupi uk untdiri sendiri”

Dari uraiann diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa ada perbedaan antara belajar

kooperatif dengan belajar kelompok. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada table berikut:

              Tabel perbedaan antara belajar kooperatif dengan belajar kelompok

NO.

BELAJAR KOOPERATIF

BELAJAR KELOMPOK

1 Memiliki berbagai ragam model dan tekhnik Hanya memiliki satu model, yaitu beberapa peserta didik tergabung dalam satu kelompok
2 Memiliki struktur, jumlah, dan tekhnik tertentu Memiliki satu cara, yaitu menyelesaikan tugas tertentu bersama-sama
3 Mengaktifkan semua anggota kelompok untuk berperan serta dalam penyelesaian tugas tertentu Menimbulkan gejala ketergantungan
4 Belajar kooperatif menggalang potensi sosialisasi di antara anggotanya Sangat tergantung dari niat baik setiap anggota kelomppok

Sumber: Anitah W Sri, (2007:3.9)

 

c. Manfaat Belajar Kooperatif

Berikut ini adalah Manfaat Belajar Kooperatif, diantaranya:

1). Meningkatkan hasil belajar pebelajar

2). Meningkatkan hubungan antar kelompok, belajar kooperatif memeberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk mencerna materi pelajaran

3). Meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar, belajar kooperatif dapat membina sifat kebersamaan, peduli satu sama lain dan tenggang rasa andil terhadap keberhasilan tim

4). Menumbuhkan realisasi kebutuhan pebelajar untuk belajar berfikir, belajar kooperatif dapatditerapkan untuk berbagai materi ajar, seperti emahaman yang rumit, pelaksanaan kajian proyek, dan latihan untuk memecahkan masalah.

5). Memadukan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan

6). Meningkatkan perilaku dan kehadiran di kelas.

7). Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya.

 

  1. d.      Keterbatasan Pembelajaran Kooperatif

Berikut ini adalah keterbatasan-keterbatasan pembelajaran kooperatif, antara lain:

1). Memerlukan waktu yang cukup bagi setiap peserta didik untuk bekerja dalam tim

2). Memerlukjan latihan agar peserta didik terbiasa belajar dalam tim.

3). Model belajar kooperatif yang diterapkan harus sesuai dengan pembahasan materi ajar, materi ajar harus dipilih sebaik-baiknya agar sesuai dengan misi belajar kooeratif

4).Memerlukan format penilaian belajar yang berbeda.

5). Memerlukan kemampuan khusus bagi guru untuk mengkaji berbagai tekhnik

pelaksanaan belajar kooperatif.

 

IV. BELAJAR TEMATIK

a.  Hakekat Belajar Tematik

Yang dimaksud dengan belajar tematik adalah suatu kegiatan belajar yang dirancang sekitar ide pokok atau tema, dan melibatkan beberapa mata pelajaran, yang berkaitan dengan  tema. Pendekatan ini dilakukan oleh guru dalam usahanya untuk menciptakan konteks dalam berbagai jenis pengembangan yang terjadi sehingga apa yang dipelajari atau dibahas disajikan secara utuh dan menyeluruh, bukan bagian-bagian dari suatu konsep yang utuh. Pappas(1995) dalam Anitah W Sri, 2007: 3.10) mengatakan bahwa:

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang digunakan guru untuk mendorong  partsipasi aktif pebelajar dalam kegiatan-kegiatan yang difokuskan pada suatu topic yang disukai pelajar dan dipilih untuk belajar.

 

b. Prinsip Belajar Tematik

Prinsip Belajar Tematik menggunaka tema sentral dalam kegiatan belajar yang berlangsung. Semua kegiatan belajar dipusatkan disekitar tema tersebut. Pembelajaran mengombinasikan struktur, urutan, dan strategi yang diorganisasikan dengan baik. Kegiatan-kegiatan, bacaan, dan bahan-bahan digunakan untuk mengembangkan konsep-konsep tertentu. Para ahli mengasumsikan bahwa belajar tematik merupakan suatu cara untuk mencapai keterpaduan kurikulum.

c. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik memiliki karakteristik yang khas dengan pembelajaran lainnya. Kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan melalui pengalaman langsung. Barbara Rohde dan Kostelnik, et al. (1991) dalam Anitah W Sri, 2007: 3.11) mengemukakan karakteristik pembelajaran tematik sebagai berikiut:

1). Memberikan pengalaman langsung dengan objek-objek yang nyata bagi

pebelajar untuk menilai dan memanipulasinya.

2). Menciptakan kegiatan di mana peserta didik menggunakan semua

pemikirannya.

3). Membangun kegiatan sekitar mainat-minat umum belajar

4). Membantu  pebelajar  mengembangkan pengetahuan dan keterampilan  baru

yang didasarkan pada apa yang yang telah mereka ketahui dan kerjakan.

5). Menyediakan kegiatan dan kebiasaan yang menghubungkan semua asek

perkembangan kognitif, emosi, social, dan fisik.

6). Mengakomodasi kebutuhan pebelajar untuk bergerak dan melakukan kegiatan

fisik, interaksi social, kemandirian, dan harga diri yang positif.

7). Memberikan kesempatan bermain untuk menerjemahkan pengalaman ke

dalam pengertian

8). Menghargai perbedaan individu latar belakang budaya, dan pengalaman di

keluarga yang dibawa pebelajar ke kelasnya.

9). Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga pebelajar.

 

d. Perlunya Pembelajaran Tematik di SD/ MI

1). Pada dasarnya peserta didik di SD/MI kelas awal memahami suatu konsep secara utuh, global/tematis, makin meningkatkan kecerdasan, dan makin terperinci serta spesifik pemahamannya terhadap konsep tertentu.

2). Peserta didik kelas awal mengembangkann kecerdasannya secara komprehensif, semua unsur kecerdasan ingin dikembangkannya sehingga muncul konsep pentingnya multiple intelligent untuk dikembangkan.

3). Kenyataan hidup sehari-hari menamppilkan fakta yang utuh dan tematis.

4). Ada konteksnya.

5). Guru SD/MI adalah guru kelas, akan lebih mudah mengajar satu konsep secara utuh, akan sulit mengajar sub-sub konsep secara terpisah-pisah.

 

e.      Manfaat Belajar Tematik

1). Ada perubahan peranan guru dari seorang pemimpin dan penyedia kebijakan serta pengetahuan fasilitator, pembimbing, penantang, pemberi saran, dan organisator.

2). Pembelajaran tematik menghadapkan pebelajar pada arena yang realistic, mendorong pebelajar memanfaatkan suatu konteks dan literatur yang luas.

3). Membantu pelajar melihat hubungan antara ide-ide dan konsep-konsep, dengan demikian akan meningkatkan pemahaman pebelajar terhadap apa yang dipelajari

4). Memberi kesempatan yang nyata kepada pebelajar untuk membentuk latar belakang informasi sendiri dalam rangka membangun pengetahuan baru.

5). Memperlihatakan logika, estetika, dan kinestetika serta life skills

 

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas , dapat diambil kesimpulan bahwa belajar kolaboratif adalah suatu cara belajar antara dua orang atau lebih dengan tujuan yang sama dan adanya ketergantungan satu sama lainnya. Dalam belajar kolaboratif pebelajar dapat mengembangkan pengetahuan bersama  maupun pengetahuan  individu. Belajar kooperatif juga merupakan  suatu cara belajar bekerja sama, namun para anggota belum tentu mempunyai tujuan yang sama. Antar pelajar yang saling bantu hanya sebatas apa yang dibutuhkan oleh temannya.

Belajar kuantum merupakan suatu kegiatan belajar dengan suasana yang menyenangkan karena guru mengubah segala sesuatu yan ada di sekelilingnya sehingga pebelajar bergairah belajar.

Belajar tematik ada hakekatnya merupakan suatu jenis pembelajaran yang memadukkan beberapa bidang sutudi berdasarkan suatu tema sebagai paying (kerangka isi). Dengan demikian pebelajar diharapkan memahami hubungan antar bidang studi secara terpadu.

SARAN

Dengan mengenal jenis-jenis model belajar, guru-guru madrasah/guru-guru IPS di Madrasah pada khususnya, dan  para guru-guru  dibawah naungan Kementerian Agama pada umumnya  diharapkan dapat menerapkan model tertentu yang sesuai dengan bidang studi  serta peserta didik yang anda hadapi. Selamat mencoba,semoga anda mampu dan berhasil, Amin. Terimakasih.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Anita W, Sri . 2007. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Arsyad. 2003. Belajar Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Dahar, R. W. 1989. Teori-teori Belajar.Jakarta: Erlangga

Hamalik, O. 1986. Strategi  Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Martina.

Istarani. 2011. Model-Model Pembelajaran Interaktif. Medan : Iscom Medan.

Ivor K. Davies. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.

____, 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Roestiyah N.k. 2008. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Sudiarto. 1990. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti

Sujana, Nana. 1997. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda Karya.

Sardiman A.M. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo.

Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Usman, Uzer Moh. dan Lilis Setiawati. 2004. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Winkel, W.S, 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: P.T. Grasindo.

Zain, Aswan dan Djamarah, Syaiful Bahri. 2006. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Indonesia. 2002. Media Pembelajaran. (http://www.indonesia.com/intisari/2002 agst/diakses 25 Desember 2008).

 Sudrajat, Akhmad. 2006. Media Pembelajaran. (http://romisatriawahoo                       .net/2006/06/23/media-pembelajaran-dalam-aspek-rekayasa-perangkat -lunak/.diakses 18 November 2008)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.