MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

0
32

Oleh : Muhammad Tontowi,S.Ag


Abstrak: Tulisan yang berjudul “Komponen-Komponen Contextual Teaching and Learning (CTL)” ini, akan membahas tujuh   bahasan yaitu;  (1) kontruktivisme (contructivism), (2) menemukan (inquiry), (3) bertanya (questioning), (4) masyarakat-belajar (learning community), (5) pemodelan (modeling), (6) refleksi (reflection) dan (7) penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Tulisan ini bertujuan untuk membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam konteks itu, peserta didik perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya.

 Kata Kunci: Komponen-Komponen CTL.

PENDAHULUAN

Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika peserta didik “mengalami” apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya”. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali peserta didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan, itulah yang terjadi di kelas sekolah kita Indonesia.

Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai angota keluarga  dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari ada hasil.

  1. PEMBAHASAN.

Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan tujuh  komponen dalam pembelajaran nya. Dan, untuk melaksanakan hal itu tidak sulit! CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Berikut akan dibahas satu persatu.

Ad. 1. KONTRUKTIVISME (CONTRUCTIVISM)

     Contructivism (konstruktivisme) merupakan landasan berpikir (filisofi) pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan dan memberi makna dalam keadaan nyata.

Peserta didik perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi diri nya, dan bergelut dengan ‘ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada peserta didik. peserta didik harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori kontruktivis adalah ide bahwa peserta didik harus menemukan  dan mentransformasikan suatu informasi komplek ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar itu, pelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkontruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Peserta didik menjadi pusat kegiatan bukan guru.. Untuk itu, tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan, (1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik, (2) Memberikan kesempatan peserta didik,  menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan (3) Menyadarkan peserta didik,  agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pengalaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Menurut Piaget, manusia memiliki struktur pengetahuann dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Pengalaman sama oleh beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masing-masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak (struktur pengetahuan) dalam otak manusia tersebut. Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi maksud nya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hadirnya pengalaman baru.

 Lalu, bagaimanakah penerapannya dikelas? Bagaimanakah cara merealisasikannya pada kelas-kelas disekolah kita?. Pada umumnya kita juga sudah menerapkan filosofi ini dalam pembelajaran sehari-hari, yaitu ketika kita merancang pembelajaran dalam bentuk peserta didik,  bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstraksikan, menciptakan ide, dan sebagainya. Mari kita kembangkan cara-cara tersebut lebih banyak dan lebih banyak lagi!

Ad.2. MENEMUKAN (INQUIRY)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik,  diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan nya. Topik mengenai adanya 2 jenis binatang melata, sudah seharusnya ditemukan sendiri oleh peserta didik,  bukan ‘menurut buku’.

           Siklus inkuiri terdiri dari; (1) Observasi (observation), (2) Bertanya (questioning), (3) Mengajukan dugaan (hiphotesis), (4) Pengumpulan data (data gathering), dan (5) Penyimpulan (conclusion). Inkuiri dapat diterapkan pada semua bidang studi: Bahasa Indonesia (menemukan cara menuliskan paragraph deskripsi yang indah), IPS (membuat sendiri bagan silsilah raja-raja majapahit), PPKN (menemukan perilaku baik dan perilaku buruk sebagai warga Negara). Kata kunci dari strategi inkuiri adalah ‘peserta didik menemukan sendiri’.

Langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri)adalah sebagai berikut:

  • Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
  • Bagaimanakah silsilah raja-raja majapahit? (sejarah)
  • Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar ditepi pantai

          kendari? (bahasa Indonesia)

  • Ada berapa jenis tumbuhan menurut bentuk bijinya? (biologi)
  • Kota mana saja yang termasuk kota besar di Indonesia? (geografi)
  • Mengamati atau melakukan observasi
  • Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung.
  • Mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati.
  • Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, table dan karya lainnya
  • Peserta didik membuat peta kota-kota besar sendiri.
  • Peserta didik membuat paragraph deskripsi sendiri.
  • Peserta didik membuat bagan silsilah raja-raja majapahit sendiri.
  • Peserta didik membuat penggolongan tumbuhan-tumbuhan sendiri.
  • Peserta didik membuat essay atau usulan kepada pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya sendiri. Dst.
  • Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.
  • Karya peserta didik disampaikan kepada teman sekelas atau orang bayak untuk mendapat masukan.
  • Bertanya jawab dengan teman.
  • Memunculkan ide-ide baru.
  • Melakukan refleksi.
  • Menempelkan gambar, karya tulis, peta dan sejenisnya di dinding kelas, dinding sekolah, majalah dinding, majalah sekolah, dsb.

Ad.3. BERTANYA (QUESTIONING)

         Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari ‘bertanya’. Sebelum tahu kota Palu, seseorang bertanya ‘mana arah ke kota Palu?’ questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir peserta didik. Bagi peserta didik, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: (1) Menggali informasi, baik  administrasi maupun akademis, (2) Mengecek pemehaman peserta didik, (3) Membangkitkan respon kepada peserta didik, (4) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui peserta didik, (5) Menfokuskan peserta didik pada sesuatu yang dikehendaki guru, (5) Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari peserta didik, (6) Mengetahui sejauhmana keingintahuan peserta didik, dan (7) Untuk menyegarkan kembali pengetahuan peserta didik

Bagaimanakah penerapannya dikelas? Hampir pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan: antara peserta didik dengan peserta didik, antara peserta didik dengan guru, antara peserta didik dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dsb. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika peserta didik berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dsb. Kegiatan-kegiatan itu akan menumbuhkan dorongan untuk bertanya.

Ad.4. MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)

Konsep learning community menyarankan agar hasil pelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pensil dengan peraut elektronik,  ia bertanya kepada teman nya “bagaimana caranya? Tolong bantuin, aku!” lalu temannya yang sudah biasa, menunjukan cara mengoprasikan alat itu. Maka, dua orang peserta didik itu sudah membentuk masyarakat-belajar (learning community).

Hasil belajar diperoleh dari ‘sharing’ antara teman, antara kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Diruang ini, dikelas ini, disekitar sini, juga orang-orang yang ada diluar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar.

Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melakukan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya hiterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat tanggap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok peserta didik bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaannya, jumlah, bahkan bisa melibatkan peserta didik dikelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas. Misalnya tukang sablon, petani jagung, peternak susu, teknik computer, tukang cat mobil, dan sebagainya.

“Masyarakat-belajar” bisa terjadi bila ada komunikasi dua arah. “seorang guru yang mengajari peserta didiknya” bukan contoh masyarakat-belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke peserta didik, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru dari arah peserta didik. Dalam contoh ini yang belajar hanya peserta didik bukan guru. Dalam masyarakat-belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga sekaligus meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.

Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik “learning community” ini sangat membantu proses pembelajaran dikelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam pembentukan kelompok kecil, pembentukan kelompok besar, mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, dsb), bekerja dengan kelas sederajat, bekerja kelompok dengan kelas diatasnya, bekerja dengan masyarakat

Ad. 5. PEMODELAN (MODELLING)

Model bisa berupa cara mengoprasikan sesuatu, seperti cara melempar bola dalam olahraga, dan sebagainya. Atau, guru memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi modal tentang ‘bagaimana cara belajar’.Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum peserta didik melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membaca cepat tesebut, peserta didik mengamati guru membaca dan membolak-balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan adalah menjadi perhatian utama peserta didik. Dengan begitu peserta didik tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scanning. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada peserta didik sebagai hasil pembelajaran menemukan kata kunci secara cepat. Secara sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya, ada model yang bisa ditiru dan diamati peserta didik, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kasus itu, guru menjadi model.

Dalam pendekatan CTL, guru  bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan peserta didik. Seorang peserta didik juga bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebeyulan ada peserta didik yang berhasil memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, peserta didik itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Peserta didik ‘contoh’ tersebut dikatakan sebagai model. Peserta didik lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapainya.

Model juga didatangkan dari luar. Seorang penutur asli ber-bahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan dikelas untuk menjadi model cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.

Bagaimanakah contoh praktek pemodelan dikelas?

  • Guru olahraga menunjukan cara berenang gaya kupu-kupu dihadapan peserta didik Guru PPKN mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu peserta didik diminta bertanya jawab dengan tokoh itu.
  • Guru geografi menunjukan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh peserta didik dalam merancang peta daerahnya.
  • Guru biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan

Ad.6. REFLEKSI (REFLECTION)

Refleksi juga bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan CTL. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Peserta didik mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, peserta didik merenung ‘kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, ya! Mestinya, dengan cara yang baru saya pelajari ini, file computer saya lebih merata.”

Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Pengetahuan dimiliki peserta didik diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru atau orang dewasa membantu peserta didik membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan demikian, peserta didik merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.

Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak peserta didik. Peserta didik mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar  peserta didik melakukan refleksi. Realisasi nya berupa: Pernyataan langgsung tentang apa yang diperoleh nya hari itu, Catatan atau jurnal dibuku peserta didik Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, Diskusi, Hasil karya.

Ad. 7. PENILAIAN YANG SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSESSMENT)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik. Gambaran perkembangan belajar peserta didik perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa peserta didik mengalami kemacetan belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar peserta didik terhindar dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan diakhir periode (cawu/smester) pembelajaran seperti kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti EBTA/EBTANAS), tapi dilakukan bersama dengan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.

Data yang dilakukan melalui kegiatan penilaian (assessment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar peserta didik. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.

Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan peserta didik pada saat proses melakukan pembelajaran. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar bahasa inggris bagi para peserta didik nya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para peserta didik menggunakan bahasa inggris, bukan pada saat para peserta didik mengerjakan test bahasa inggris. Data yang diambil dari kegiatan peserta didik saat peserta didik melakukan kegiatan berbahasa inggris baik didalam kelas maupun diluar kelas itulah yang disebut data autentik.Karakteristik dari authentic assessment adalah: (1) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (2) Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, (3) Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, (4) Berkesinambungan, (5) Terintegrasi, dan (6) Dapat digunakan sebagai feed back. Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi peserta didik. Proyek/kegiatan dan laporannya sebagai berikut:

  • PR
  • Kuis
  • Karya siswa
  • Presentasi atau penampilan siswa
  • Demonstrasi
  • Laporan
  • Jurnal
  • Hasil tes tulis
  • Karya tulis.

Intinya, dengan authentic assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah “apakah anak-anak belajar?”, bukan “apa yang sudah diketahui?”. Jadi, peserta didik dinilai kemampuannya dengan berbagai cara, tidak selalu dari hasil ulangan tulis!

KESIMPULAN

Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah.secara garis besar, langkah-langkahnya adalah; (1) Kembangkan pikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna bila bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya, (2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic, (3) Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya, (4) Ciptakan “masyarakat belajar” (5) Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran, (6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan, dan (7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara! Mudahan dengan adanya tulisan ini akan dapat membantu para guru dalam menerapkan CTL di sekolah masing-masing.

 DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2003). Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Djamarah, Syaiful Bahri ,2000. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha

                Nasional

Kasihani, K, Latif, A , Nurhadi. (2002) Pembelajaran berbasis CTL. Makalah disampaikan pada kegiatan Sosialisasi CTL untuk Dosen-dosen UM. Malang, 12 Februari 2002.

Udin S. Winataputra. (2003).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan

              Universitas Terbuka

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(belajarpsikologi.com) diakses 22 Nopember 2010)

(Egi–leni.blogspot.com//m=1) diakses Rabu, 07 Maret 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.