Model التحاورية Dalam Pendidikan Dan Pelatihan Tingkat Dasar Guru MI Bahasa Arab Pada Diklat Keagamaan Kota Palembang

0
87

Oleh: M. Tontowi, S.Ag

(Widyaiswara Pertama)

Abstract

Pembelajaran bahasa Arab berbeda dengan bahasa asing lainnya. Fenomena linguistik bahasa Arab belum banyak ditemui persamaannya dalam bahasa Indonesia. Dikatakan oleh Robert Lado (1979) “Fenomena linguistik yang identik dengan bahasa pertama, akan mempercepat proses belajar, sedangkan fenomena yang berbeda akan menjadi penghalang atau penghambat”.

Karakteristik kebahasaan dalam bahasa Arab seperti ini wajar jika mengalami kesulitan-kesulitan dalam mempelajarinya. Dengan mengacu pada pemikiran tersebut, ada beberapa hal yang perlu disoroti, bagaimana menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi yang efektif. Oleh karenanya diperlukan upaya merekonstruksi atau merancang bangun pengajaran bahasa Arab dalam fungsi komunikasi lisan dan tulisan pada pengajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Bagaimana menerapkan pendekatan dan metode melalui model-model pengembangan pengajaran melalui optimalisasi empat keterampilan berbahasa Arab sehingga lebih efektif dan efesien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Empat keterampilan bahasa yang dimaksud yakni; (a) Fahmul Masmu’ (keterampilan mendengar), (b) Ta’bir Syafahi (keterampilan bicara), (c) Fahmul Maqru’ (keterampilan membaca), dan (d) Ta’bir Tahriri (keterampilan menulis)berikut: 1) Sistem penerimaan santri, 2) Sistem pengelolaan kelas, 3) Materi pembelajaran, 4) Teknik atau strategi yang diterapkan, 5) Sistem evaluasi menggunakan tes atau ujian lisan secara langsung dengan menghadap mustahiq secara individual, baik materi membaca, praktek ibadah ataupun hafalan-hafalan, dan bagi yang lulus diberikan ijazah atau sertifikat pada acara wisuda setiap akhir tahun ajaran.

Kata Kunci: Fonologi, Karakteristik, Metode, Filosofi, Sistem, Makna.


 A.Latar Belakang

 Secara sosiolinguistik, bahasa dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkaitan, keduanya memiliki hubungan mutualistik; antara yang satu dengan yang lain saling ada ketergantungan, membutuhkan, dan menguntungkan. Ujaran dan bunyi jelas disebut sebagai bahasa jika berada dan digunakan oleh masyarakat. Demikian pula, masyarakat tidak dapat eksis dan bertahan (survive) tanpa adanya bahasa yang digunakan sebagai alat berinteraksi dan berkomunikasi diantara meteka.Bahkan, lembaga–lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat pun dipertahankan dan dikembangkan dengan menggunakan alat yang bernama bahasa. Jadi, tiada aktivitas dalam kehidupan ini yang dapat dipisahkan dari bahasa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan dalam menggunakan bahasa sebagai media komunikasi merupakan salah satu kunci dan dasar keberhasilan manusia dalam hidupnya disini, bahasa dipahami dengan sangat praktis dan fungsional sebagai alat komunikasi, mengingat sebagian besar waktu hidup manusia digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan, komunikasi mempengaruhi dan menjadi standar kesehatan seseorang, baik secara sosiologis maupun psikologis.

Peran bahasa bagi kehidupan manusia demikian penting sehingga pengajaran bahasa menuntut kecermatan, tujuannya agar bahasa bermakna fungsional. Oleh karena itu, terdapat perbedaan filosofi antara belajar berbahasa dengan belajar pengetahuan yang lain. Belajar pengetahuan pada umumnya, seseorang dituntut untuk mengetahui secara kognitif, afektif, dan psikomotor. Berbeda dengan belajar berbahasa (mendengar, membaca, berbicara, dan menulis) yang merupakan alat ekspresi dan komunikasi, maka seseorang dituntut untuk belajar mengaplikasikan bahasa itu sendiri dalam berekspresi dan berkomunikasi sehari-hari..Bahasa bukan hanya dipelajari secara teoretik, melainkan dipelajari secara praktis dan fungsional. Dalam pembelajaran berbahasa, apalah arti sebuah konsep dan teori, jika tidak pernah dipergunakan/dipraktikkan dalam interaksi sosial di masyarakat.

Pembelajaran bahasa Arab berbeda dengan bahasa asing lainnya. Fenomena linguistik bahasa Arab belum banyak ditemui persamaannya dalam bahasa Indonesia. Dikatakan oleh Robert Lado (1979) “Fenomena linguistik yang identik dengan bahasa pertama, akan mempercepat proses belajar, sedangkan fenomena yang berbeda akan menjadi penghalang atau penghambat”.

Karakteristik kebahasaan dalam bahasa Arab seperti ini wajar jika mengalami kesulitan-kesulitan dalam mempelajarinya. Dengan mengacu pada pemikiran tersebut, ada beberapa hal yang perlu disoroti, bagaimana menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi yang efektif. Oleh karenanya diperlukan upaya merekonstruksi atau merancang bangun pengajaran bahasa Arab dalam fungsi komunikasi lisan dan tulisan pada pengajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Bagaimana menerapkan pendekatan dan metode melalui model-model pengembangan pengajaran melalui optimalisasi empat keterampilan berbahasa Arab sehingga lebih efektif dan efesien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Empat keterampilan bahasa yang dimaksud yakni; (a) Fahmul Masmu’ (keterampilan mendengar), (b) Ta’bir Syafahi (keterampilan bicara), (c) Fahmul Maqru’ (keterampilan membaca), dan (d) Ta’bir Tahriri (keterampilan menulis) (Belajar Bahasa Arab, www.eramuslim.com).

Hakikat bahasa, Al-Suyuthi menyebutkan bahwa bahasa merupakan serangkaian suara (ashwath) yang digunakan orang dalam mengungkapkan maksud yang dikehendaki. Definisi ini setidaknya melibatkan dua unsur dasar keterampilan, bahasa sebagai tutur kata yang didengar (listened) dan yang diucap (spoken). Unsur kemahiran berbicara, pada hakikatnya, merupakan kemahiran menggunakan bahasa rumit. Dalam hal ini kemahiran dikaitkan dengan pengutaraan buah pikiran dan perasaan dengan kata-kata dan kalimat yang benar-tepat. Sasarannya adalah bagaimana lawan bicara mampu memahami pesan yang disampaikan lewat lisan tersebut, dan sistimatika model pembelajaran yang diterapkan.

Model Pembelajaran التحاورية melatih Peserta untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti model pembelajaran Talking Stik akan tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilemparkan kepada Peserta lain silih berganti peserta mendapat bagian sesuai lemparan dari peserta yang telah mendapat menjawab pertanyaan yang ada dalam lembaran. Peserta yang mendapat bola kertas berikutnya lalu membuka dan menjawabnya kembali. Perlu diingat dalam permainan ini widyaiswara menggunakan bahasa pengantar bahasa Arab 100% dan tidak menggunakan bahasa Indonesia sedikitpun.Lembaran kertas yang digulung dan membentuk bola salju tersebut juga kalimatnya bahasa Arab dan pertanyaan tersebut telah dibuat dan dirancang oleh peserta sendiri yang telah diarahkan bentuk materio yang akan disajikan pada permainan التحاورية .

Adapun langkah-langkah pembelajaran التحاورية sebagai berikut :

  1. Widyaiswara  menyampaikan pengantar materi yang akan disajikan, dan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
  2. Widyaiswara  menginstruksikan kepada para  peserta untuk membentuk kelompok, lalu memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
  3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh peserta  kepada temannya.
  4. Kemudian masing-masing peserta diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
  5. Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu peserta ke peserta yang lain.
  6. Setelah peserta dapat satu bola, satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada peserta untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
  7. Evaluasi.
  8. Penutup.

“ Model pembelajaran التحاورية juga membantu peserta untuk menciptakan konteks di mana bahasa berguna dan bermakna. Peserta ingin mengambil bagian dan untuk melakukannya harus mengerti apa yang dikatakan orang lain, dan peserta harus berbicara untuk mengekspresikan titik pandang mereka sendiri atau memberikan informasi. ”
Sebuah penafsiran yang berguna ‘kebermaknaan’ adalah bahwa peserta merespon pertanyaan dengan   cara tertentu,upaya diperlukan untuk memahami secara maksimal untuk memahami makna yang tersirat dan tersurat dalam setiap untaian kalimat. Model pembelajaran  التحاورية sangat memotivasi karena atraktif  dan  menantang. Lebih jauh lagi, menggunakan bahasa bermakna , mendorong dan meningkatkan kerja sama antar peserta dalam kegiatan diskusi, dapat digunakan untuk memberikan praktek di semua kemampuan bahasa dan digunakan untuk praktek berbagai jenis komunikasi. Model pembelajaran التحاورية tidak hanya mengisi waktu kegiatan tetapi memiliki nilai pendidikan yang besar. Model pembelajaran التحاورية dapat menurunkan kecemasan, sehingga membuat perolehan input lebih mungkin, karena sangat memotivasi dan menghibur, dan dapat memberikan peserta  pemalu lebih banyak kesempatan untuk mengekspresikan pendapat dan perasaannya, juga memungkinkan peserta untuk mendapatkan pengalaman baru dalam bahasa asing yang tidak didapatka dalam buku pelajaran .

Dalam pembelajaran speaking  pembelajaran secara konvensional (teacher centered situation) tidak dapat mengajak peserta  untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, yang diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan mudah. Oleh karena itu, widyaiswara hendaknya merubah system kegiatan pembelajaran menjadi modern (students centered situation) yang dapat meningkatkan minat peserta  untuk belajar menemukan sendiri, bekerjasama dan mengkomunikasikan hasil belajarnya serta membuat peserta  semakin aktif dan kooperatif.

Berbicara ( speaking  ) adalah salah satu ketrampilan dari 4 ketrampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam pengajaran bahasa Arab. Namun yang terjadi didalam kelas ketika diberikan kegiatan berbicara yang disampaikan oleh widyaiswara ,sangatlah jauh dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa sebab antara lain;

(1)   Pengantar materi bahasa Arab  yang disampaikan oleh widyaiswara masih sulit  dipahami oleh peserta dan  sangatlah jauh dari yang diharapkan.

(2)   Karena minat dan keberanian  peserta  sangat minim ,membuat peserta  tidak dapat

memahami secara langsung informasi-informasi baik yang tersurat maupun yang tersirat didalam proses pembelajaran

(3)   widyaiswara berbicara  pengantar  bahasa Arab, peserta tidak merasa nyaman

sebagaimana tujuan pada kegiatan  pembelajarann berbicara (الكلا م  ).

 B.Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi permasalahan penelitian sebagai berikut :

  1. Peserta masih merasa malu  untuk mengawali berucap dan menjawab dengan menggunakan  bahasa Arab secara langsung.
  2. Peserta  kurang terlibat dalam proses pembelajaran
  3. Peserta kurang memiliki rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan
  4. Metode belajar yang digunakan oleh peserta  belum sesuai
  5. Peserta kurang memahami terhadap faktor kebahasan seperti penguasaan kosa kata, tata kalimat, diksi dan penguasaan wacana
  6. Hasil belajar peserta pada materi speaking masih rendah.
  7. Masih lemahnya membuat kalimat kompleks dalam bahasa Arab

Ada beberapa hal yang terjadi pada peserta  sehubungan dengan alasan tersebut diantaranya adalah; peserta tidak memahami bahasa pengantar bahasa Arab secara keseluruhan, peserta tidak mau berusaha mencari arti didalam kamus, peserta  ragu ragu  dan malu menjawab pertanyaan dengan menggunakan bahasa Arab.

Jika hal ini dibiarkan berlarut maka dikhawatirkan keinginan peserta untuk meningkatkan kemampuan speaking  akan berkurang dan mungkin hilang, peserta  tidak mau berusaha untuk memaksakan diri untuk berucap bahasa Arab, dan juga peserta takut atau malu bertanya tentang permasalahan yang dihadapinya didalam kegiatan berbicara.

 C.Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang tersebut diatas, maka penulis dapat menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Apakah dengan التحاورية dapat meningkatkan  motivasi peserta untuk berbicara bahasa Arab?
  2. Apakah  dengan menggunakan االتحاوريةdapat meningkatkan  keberanian  peserta  bercakap bahasa Arab?
  3. Apakah dengan menggunakan التحاورية dapat meningkatkan aktivitas  peserta  dalam berbicara bahasa Arab ?
  4. Apakah dengan التحاورية dapat meningkatkan penguasaan speaking secara baik bagi peserta?
  5. Apakah dengan التحاورية tingkat motivasi peserta memahami kalimat bahasa Arab dapat di tingkatkan?

D.Batasan Masalah

Penelitian ini dilakukan terbatas di kelas diklat guru bidang studi bahasa Arab  Madrasah Iftidaiyyah dengan materi model model pembelajaran, dimana  pemateri menggunakan salah satu model pembelajaran التحاورية sebagai model yang diterapkan saat proses penelitian berlangsung di ruang kelas.

Agar penelitian ini lebih terfokus, efektif, efisien dan dapat dikaji lebih Mendalam,maka ada beberapa  hal yang membatasi dalam penelitian ini adalah     sebagai berikut :

1. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah التحاورية

2. Mengkaji tentang Kemampuan bercakap  peserta dalam  mengkomunikasikan buah  pikirannya.

3. Proses belajar mengajar dikhususkan peserta terlibat dalam diskusi, mengajukan pertanyaan,

dan menjawab pertanyaan .

4.Mengkaji kalimat sederhana dan kalimat kompeks yang sulitdi pahami oleh peserta.

 E.Tujuan

Sebagai tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :

1.Bagi Peserta :

a. Dengan Model pembelajaran  التحاورية dapat meningkatkan   keberanian  untuk berbicara bahasa Arab.

  1. Dengan menggunakan Model pembelajaran  التحاورية dapat meningkatkan  kemampuan peserta bercakap bahasa Arab.
  2. Dengan menggunakan Model pembelajaran  التحاورية dapat meningkatkan aktivitas  peserta  dalam berbicara bahasa Arab.
  3. Dengan menggunakan  Model pembelajaran  التحاورية dapat meningkatkan penguasaan vocabulary
  4. Dengan Model pembelajaran التحاوريةpeserta dapat meningkatkan pemahaman terhadap kalimat sederhana dan kalimat kompeks.

2. Bagi Widyaiswara

Widyaiswara dapat  menemukan metode pembelajaran   التحاورية yang efektif dan bernilai ekonomis   dalam usaha meningkatkan  kemampuan bahasa Arab peserta diklat guru bidang studi bahasa Arab Madrasah Iftidaiyyah serta meningkatnya kemampuan  dan keberanian peserta dalam berbahasa Arab.

3. Bagi Balai Diklat

Tersedianya  widyaiswara bahasa Arab yang handal dan professional, dan peserta yang pandai berbicara bahasa Arab serta meningkatkan profesionalisme guru dan terangkatnya  nama baik instansi.

F.Kerangka Teoritis

Model pembelajaran التحاورية memungkinkan peserta untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar serta  manuntut peserta   mampu   berfikir   kritis    dalam memecahkan    masalah yang muncul.  Selain  itu,  dengan metode التحاورية  diharapkan    peserta   lebih  semangat,  nyaman  dan menyenangkan   dalam   menerima pembelajaran yang disampaikan oleh widyaiswara  serta konsep – konsepnya dapat disampaikan dengan benar dan tepat pada  sasarannya   (Istianingsih,kripsi,2010).

التحاورية digolongkan pada pembelajaran kooperatif dan ini bukan model baru dalam proses belajar mengajar, karena sesungguhnya pembelajaran tersebut telah sejak lama dilaksanakan widyaiswara dalam Rencana Pelaksanaan pembelajarannya. Merunut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 yang disempurnakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)2006 bahwa setiap individu memiliki potensi yang harus dikembangkan. Proses pembelajaran yang relevan ialah yang mampu menggali potensi peserta agar selalu kreatif dan berkembang. Upaya inilah yang senantiasa diusahakan oleh Tim widyaiswara balai diklat keagamaan kota Palembang. Awal tahun 2006 lalu, mulai menerapkan berbagai metode pembelajaran baru, termasuk proses belajar mengajar berbasis kelompok (Kooperatif) yang salah satunya adalah التحاورية

Keberhasilan widyaiswara dalam mengajar dapat di nilai berdasarkan ketercapaian  tujuan  pembelajaran yang direncanakan. Tujuan pembelajaran pada diklat guru bidang studi bahasa Arab tingkat MI adalah mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan bercakap dalam bahasa Arab dan dapat diterapkan dalam  proses pembelajaran di kelas masing masing dengan siswa mereka . Namun dalam kenyataannya pembelajaran bahasa Arab masih dianggap sulit, hal ini disebabkan  banyaknya materi  bahasa Arab   yang   mengharuskan siswa mereka sulit mempraktekkan dalam kehidupan sehari hari. Selain itu cara penyajian materi widyaiswara pada umumnya terlalu sering meng- gunakan metode ceramah serta kurang variasi dalam model pembelajaran. Dengan demi- kian  peserta  akan merasa jenuh oleh pembelajaran  yang disajikan  widyaiswara  tersebut.  Dampak dari permasalahan tersebut yaitu rendahnya hasil belajar  peserta   Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar peserta  pada pratindakan  yang menunjukan  bahwa  nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai peserta rendah.

Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan model pembelajaran Snowball    Throwing.  Penelitian ini bertujuan untuk  (1) mendeskripsikan  penggunaan model  pembelajaran snowball  throwing dalam  meningkatkan aktivitas   belajar materi Ilmu  bahasa Arab  pada diklat guru bidang studi bahasa Arab tingkat madrasah iftidaiyyah. Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar bahasa Arab melalui  model pembelajaran التحاورية pada peserta diklat guru bidang studi bahasa Arab Madrasah Iftidaiyyah pada materi  model model pembelajaran.

Instrumen yang digunakan  dalam penelitian ini adalah  lembar  observasi, tes ,wawancara  dan   pelaksanaan tindakan.  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa 1)  penerapan model pembelajaran التحاورية dapat meningkatkan  aktivitas  belajar peserta  baik secara individuai, klasikal maupun kelompok. 2) penerapan  model  pembelajaran التحاورية dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Arab  pada peserta diklat guru bidang studi bahasa Arab madrasah iftidaiyyah di wilayah kota Palembang. Hal ini dapat dilihat pada peningkatan hasil tes tulis pada setiap siklus. Hasil pre Test  mencapai 65.05 dan meningkat menjadi 86.00 .

Dengan  demikian dapat disimpulkan  bahwa penerapan model  pembelajaran  التحاورية  dapat meningkatkan hasil  belajar peserta pada diklat guru bidang studi bahasa Arab MI di Kota Palembang. Tentunya model pembelajaran ini bisa  diterapkan  pada kelas yang berbeda.

Landasan teori snowball merujuk pada teori Piaget, dikenal sebagai salah satu tokoh konstruktivistik, khususnya terkait dengan konstruktivistik kognitif. Kali ini penulis  ingin berbagi tentang konsep dasar bagaimana suatu pengetahuan dibangun menurut teorinya Piaget, orang Rusia yang berkebangsaan America itu. Konsep sederhana Piaget adalah bahwa setiap orang telah memiliki apa yang disebut dengan schemataSkemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur pengendalian,kemudian karena ada proses asimilasi dan akomodasi menyebabkan pengetahuan terbangun secara terus menerus. (Uwes A. Chaeruman ,2010).

Piaget merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat bahwa pembelajar  membangun sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh pembelajar  aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran widyaiswara  adalah sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi. Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu 1) memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental pembelajar, tidak sekedar kepada hasilnya. Widyaiswara harus memahami proses yang digunakan peserta sehingga sampai pada hasil tersebut. Pengalaman – pengalaman belajar yang sesuai dikembangkan dengan memperhatikan tahap fungsi kognitif dan jika widyaiswara penuh perhatian terhadap Pendekatan yang digunakan peserta  untuk sampai pada kesimpulan tertentu, barulah dapat dikatakan widyaiswra berada dalam posisi memberikan pengalaman yang dimaksud, 2) mengutamakan peran peserta  dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi ( ready made knowledge ) peserta didik didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan, 3) memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh peserta  tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbungan itu berlangsung pada kecepatan berbeda. Oleh karena itu widyaiswara harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu – individu ke dalam bentuk kelompok – kelompok kecil peserta  daripada aktivitas dalam bentuk klasikal, 4) mengutamakan peran peserta  untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan – gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung.

G.Temuan dan Bahasan

Dalam strategi pembelajaran pada diklat guru bidang studi bahasa Arab Madrasah Iftidaiyyah  dengan menggunakan model pembelajaran التحاورية mengalami perubahan yang sangat menyenangkan widyaiswara, karena dengan metode ini peserta merasa senang dan merasa tidak stress saat menjawab pertanyaan pertanyaan pada setiap lembaran kertas bola salju yang telah di buat oleh widyaiswara.

 Pada Penelitian kualitatif ini  adalah  peneliti  yang  tidak   menggunakan   model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan   menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang   akan digunakan   dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data   untuk  memberikan  penjelasan   dan   argumentasi. Dalam penelitian kualitatif   informasi  yang  dikumpulkan  dan  diolah  harus  tetap   obyektif  dan  tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.

Pembelajaran dilaksanakan mencakup keterampilan speaking dan pemberian pemahaman tentang membuat kalimat bahasa Arab yang efektif. Pengajaran dimulai dari speaking, Perlakuan dengan التحاورية dilakukan pada saat kegiatan keterampilan speaking seperti langkah-langkah berikut: widyaiswara memulai pengajaran dari keterampilan speaking, Alokasi waktu untuk keterampilan speaking ini adalah 2 jam . kegiatan keterampilan ini dilakukan dengan  penjelasan langkah-langkah dan aturan permainan, kemudian widyaiswara  meminta peserta membentuk kelompok bermain. Setelah melempar bola bertas yang disetiap lembar kertasnya dibuat pertanyaan pertanyaan dengan kalimat sederhana dan kalimat kompleks dalam bahasa Arab, widyaiswara meminta peserta untuk mulai bermain dengan melempar bola kertas ke rekan pesertanya yang lain dengan sasaran sesuai dengan keinginan dari peserta yang melempar kearah peserta yang lainnya , kemudian peserta yang terkena bola kertas harus menangkap bola tersebut dan membuka kertas lembaran pertama yang berisikan kalimat pertanyaan dengan kalimat bahasa Arab “اانت استاد اللغة العرية ?  ها ت هجة منها (Apakah anda seorang guru bahasa Arab ? bila iya beri alasan ) maka mulailah peserta yang mendapat bagian tersebut menjawab pertanyaan yang ada dalam bola kertas kertas tersebut, dan harus bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan kalimat sendiri. Pertanyaan tesebut semuanya bisa dijawab oleh peserta dengan panjang lebar.sikap peserta saat menjawab dengan wajah berseri seri tanpa ada beban saat menjawab walaupun kadang kala menjawab sedikit terputus putus saat mennucapkan kalimat bahasa Arab, satu jam lebih pembelajaran telah berlangsung ,sesi berikutnya adalah diskusi. Widyaiswara menginstruksikan kepada peserta untuk membentuk kelompok menjadi lima kelompok ,setiap kelompok berjumlah lima orang. Maka mulailah widyaiswara memberikan kalimat bahasa Arab tadi dibagikan kepada lima kelompok.Membahas jawaban rekan peserta saat pembelajaran التحاورية berlangsung.Dari hasil diskusi yang di lakukan oleh peserta , maka respon kelompok A kalimat yang di bahas adalah:اانت استا د اللغة العربية? هات هجة منها menyimpulkan penjawab kalimat ini  saat speaking lancar, tidak gugup dan adapat menjawab dengan semestinya. Kelompok Bهل تستطيع ان تبين ماد عمل الاستاد ? Pada kelompok ini mengomentari bahwa rekan yang menjawab kalimat tersebut dengan baik tanpa ada kendala menjawab dengan lancer ,tidak ada arsa keraguan,yang ada rekan peserta merasa enjoyKelompok Cهل تعرف عن طريقة التحا ورية ? Kelompok D: ماد تستعمل طريقة التحاورية pada kelompok ini hasil diskusi mengtakan dan menyimpulkan penjawab kalimat ini dalam keadaan tidak gugup alias lancer dan mengucapkan dengan kalimat bahasa Arab yang baik dan benar.  Kelompok  E:هل تقرء بلسان عربي?begitupun pada kelompok E menyimpulkan apa yang dilakukan oleh penjawab kalimat yang ada dalam bola snowball dapat dijawab dengan baik dan benar tanpa ada rasa keraguan dan ekspresi wajah dengan penuh canda dan tawa.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan widyaiswara ,pada jam pertama  didapatkan data bahwa selama penelitian berlangsung muncul 12 peserta yang mulai berani untuk mengekspresikan buah pikirannya dengan susunan kalimat yang belum teratur secara semestinya sesuai dengan struktur kalimat bahasa Arab, untuk dugaan sementara  bahwa peserta dalam rasa enggan  dan rasa tidak percaya diri ataupun masih malu dalam mengawali bercakap bahasa Arab , setelah di terapkan التحاورية ada perubahan sikap dan perlakuan peserta dalam menjawab setiap pertanyaan walau masih sedikit kurang lancar dalam mengucapkan,perlunya juga memiliki kemampuan memahami kalimat kalimat bahasa Arab oleh peserta diklat guru bidang studi bahasa Arab tingkat Mts di lingkunga kota Palembang, permainan dan penggunaan model pembelajaran التحاورية merupakan sarana yang dapat membantu peserta merasa tidak ada ketegangan dan merasa senang dengan permainan yang diterapkan oleh widyiswara .Kelebihan dari model pembelajaran التحاورية yaitu melatih kesiapan peserta peserta dalam proses belajar dikelas khususnya melatih kebarian dalam bercakap bahasa Arab.Kedua Saling memberikan pengetahuan antar teman peserta sehingga adanya pemerataan dalam penerimaan materi yang disampaikan oleh widyaiswara. Adapun kekurangan dari model pembelajaran التحاورية pengetahuan peserta tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar peserta saja.

 Daftar  Pustaka

 

Sudjana, Nana.1991.Model-Model Mengajar CBSA. Sinar Baru. Bandung.

Istianingsih,skripsi, Peningkatan kemampuan berpikir kritis dan keaktifan siswa melalui    metode التحاورية dalam pembelajaran matematika,2010

Gulo. W. 2002. Strategi Belajar – Mengajar. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

Sardiman, A.M., 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar mengajar. Rajawali Jakarta.

Sukardi. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2003.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Wiriaatmadja. R. 2005. Metode Penelitian Kelas. PT Remaja Rosdakarya. Bandung

Yamin, Martinis. 2003, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi,.Gaung Persada Press, Jakarta.

Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : cv. Pustaka Setia, 1997.

Anshori, Isa. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Sidoarjo : Umsida Press, 2008.

Bahri, Djamarah, Saiful dan Asma Zain. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT.Rineka Cipta, 1997.

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Group, 2008.

Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2005.

Sugiono,Prof.DR, Statistika untuk penelitian,alfabeta,Bandung 2010

Lintang Suharto Rivai.Rambu rambu KTI Widyaiswara,,bogor,2009

Sumarlam

Sumarlam,Teori dan praktik analisis wacana,pustaka cakra,2003

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.