METODE PENEMUAN DALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR

0
57

METODE PENEMUAN DALAM  PROSES BELAJAR-MENGAJAR

Elsy Zuriyani

 

  1. Latar Belakang

Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah “metode penemuan.” Hal ini disebabkan karena metode penemuan itu:

  1. Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif
  2. Dengan menemukan sendiri, menyeldiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tak mudah dilupakan anak.
  3. Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam sutuasi lain.
  4. Dengan menggunakan strategi penemuan anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkan sendiri
  5. Dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problem yang dihadapi sendiri; kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian diharapkan metode penemuan ini lebih dikenal dan digunakan di dalam berbagai kesempatan proses belajar mengajar yang memungkinkan.

  1. Konsep Dasar

Metode penemuan diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajar perseorangan, manipulasi objek dan lain-lain percobaan, sebelum sampai kepada generalisasi. Sebelum siswa sadar akan penegrtian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata.

Metode penemuan merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, berorientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif.

Menurut Encylopedia of Education Research, penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan keterampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode penemuan itu adalah suatu metode di mana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menenmukan sendiri informasi yan secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.

  1. Sejarah Latar Belakang

Metode penemuuan telah berkembang dari berbagai gerakan pendidikan dan pemikiran yang mutakhir, seperti misalnya:

  1. Gerakan pendidikan progresif, yang terutama tidak puas dengan keformilan yang kososng dari isi sebagian besar pendidikan, terutama pada akhir abad ke-19 dan awal ke-20. Metode yang sering dipakai pada saat ini adalah drill dan hafalan di luar kepala, sehingga timbul verbalisme dan gejala membeo. Reaksi terhadap keadaan ini adalah tumbuhnya apa yang biasa disebut “belajar untuk dan dengan pemecahan masalah” sebagai tujuan dan metode terpenting; Dewey sebagai tokohnya.
  2. Pendekataan yang berpusat pada anak

Pendekataan ini menekankan pentingnya menyusun kurikulum dalam istilah sifat anak dan partisipasinya dalam proses pendidikan. Bruner menggunakan metode penemuan dalam menyusun kurikulum

  1. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Penemuan

Glistrap (1975) dalam Suryosubroto mengemukakan petunjuk langkah-langkah yang harus ditempuh kalau seorang guru melaksanakan metode penemuan.

Langkah-langkah yang harus dikerjakan itu adalah:

  1. Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realistis untuk mengajar dengan penemuan
  2. Seleksi pendahuluan, atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubunganya dengan apa yang akan dipelajari
  3. Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan.
  4. Bercakap-cakap dengan siswa untuk membantu menjelaskan peranan.
  5. Menyiapkan suatu situasi yang mengandung masalah yang minta dipecahkan.

Merangsang belajar dengan penemuan

  1. Mengecek pengertian siswa tentang masalah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan.
  2. Menambah alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan
  3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai sebuah tabung yang diamatinya dan dicatatnya
  4. Mempersilakan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiiri, sehingga memperoleh tilikan umum
  5. Memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri
  6. Memberi jawaban dengan tepat dan cepat dengan data dan informasi kalau ditanya dan kalau ternyata diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya.
  7. Memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses.
  8. Mengajarkan keterampilan untuk belajar dengan penemuan yang diidentifikasi oleh kebutuhan siswa, misalnya latihan penyelidikan
  9. Merangsang interaksi siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul
  10. Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat yang sederhana.
  11. Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandangan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar.
  12. Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alasan dan fakta.
  13. Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang bertanya kepada temannya atau kepada guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri, dengan kata-kata “saya mengenal teori tentang……..”
  14. Membantu siswa menulis atau merumuskan prinsip, aturan, ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan.
  15. Mencek apakah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya pengertian atau teori atau teknik, dalam situasi berikutnya; situasi di mana siswa bekas menentukan pendekataannya.

Sedangakan Dr. J. Richard Scuhman dalam Widiharto dan asistennya mencoba “self learning” siswa, sehingga proses pengajaran berpindah dari situasi “teaching dominated learning (vertical) ke situasi “Student domnated learning’ (horisontal) dengan menggunakan discovery yang melibatkan murid dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi , seminar dan sebagainya. Salah satu bentuknya adalah “Guided Discovery Inquiri Lesson”, yang langkah-langkahnya mengajarnya meliputi:

  1. Adanya problem yang akan dipecahkan. Problem itu dapat dinyatakan sebagai “pernyataan” atau “pertanyaan.
  2. Jelas tingkat/kelasnya; dinyatakan dengan jelas tingkat siswa yang akan diberi pelila kedua metode ajaran, misalnya SD kelas V SMP kelas II
  3. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas
  4. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan
  5. Diskusi pengarahan berwujud pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa untuk didiskusikan sebelum para siswa melakukan kegiatan discovery-inquiri
  6. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa kegatau prinsip-prinsip yang telah iatan penyelidikan/percobaan untuk menentukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan
  7. Proses berpikir kritis perlu dikelaskan untuk menunjukan adanya “mental operation” siswa yang diharapkan dalam kegiatan
  8. Pertanyaan yang bersifat “open-ended” perlu diberikan berupa pertanyaan yang mengarah kepada pengembangan kegiatan penyelidikan yang dilakukan oleh siswa.
  9. Catatan guru, meliputi penjelasan tentang bagian-bagian yang sulit dari pelajaran; dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasilnya, terutama bila kegiatan penyelidikan mengalami kegagalan atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dan apabila kedua metode di atas diambil kesimpulan bahwa langkah-langkah metode penemuan itu dapat disederhanakan sebagai berikut:

  1. Identifikasi kebutuhan siswa
  2. Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengetian konsep dan generalisasi yang akan dipelajari
  3. Seleksi bahan, dan problem/tugas-tugas
  4. Membantu memperjelas:

– tugas/problem yang akan dipelajari

– Peran masing-masing siswa

  1. Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan
  2. Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas siswa
  3. Memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan penemuan
  4. Membantu siswa dengan informasi/data, jika diperlukan oleh siswa
  5. Memimpin analisis sendiri dengan pertanyaan yang mangarahkan dan mengidentifikasi proses
  6. Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa
  7. Memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan
  8. Memabntu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan  generalisasi atau hasil penemuannya.
  9. Kelebihan dan Kekurangan Metode Penemuan
  10. Kelebihan metode penemuan
  11. Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa, andaikan siswa dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan; jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu.
  12. Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sanagat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatau pengetahuan yang sanagt kukuh; dalam arti pendalaman dari pengertian, retensi dan transfer.
  13. Strategc. Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan
  14. Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemmapuannya sendiri
  15. Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga ia telah merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus
  16. Metode ini dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan.
  17. Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan kepada mereka dan guru berpartisipasi sebagai sesama dalam mengecek ide. Guru menjadi teman belajar, terutama dalam situasi penemuan yang “jawaban”nya belum diketahui sebelumnya
  18. Membatu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
  19. Kekurangan metode penemuan
  20. Dipersyaratkan keharusan adanya periapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain
  21. Metode ini kurang berhasil untuk mengajarkan kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejanaan dari bentuk kata-kata tertentu.
  22. Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional
  23. Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan. Sedangkan sikap dan keterampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan
  24. Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada
  25. Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan maslaah menjamin penemuan yang penuh arti. Pemecahan masalah dapat bersifat membosankan mekanisme, formalitas dan pasif seperti bentuk terburuk dari metode ekspositories verbal.
  26. Kesimpulan

Metode penemuan diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajar perseorangan, manipulasi objek dan lain-lain percobaan, sebelum sampai kepada generalisasi. Sebelum siswa sadar akan penegrtian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata. Metode penemuan ini memiliki kelebihan dan kekurangan tinggal seorang guru berupaya meminimalisir kekurangannya untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar dan mengajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Moh. Ali, 1985. Guru dalam Proses Belajar-Mengajar, Bandung, Sinar Baru

Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta. Rineka Cipta

Widdiharto, Rachmadi. 2004. Model-Model Pembelajaran Matematika SMP. Makalah disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembangan Matematika SMP jenjang Dasar. Yogyakarta.  Diknas

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.