MENYIBAK SISI KELAM KOLONIALISME SEBUAH KAJIAN HERMENEUTIK TERHADAP BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN MELALUI STRATEGI STARATA

0
31

Oleh: Dra. Hodidjah, M.Pd.

Widyaiswara BDK Palembang

 ABSTRAK

Sejarah mencatat Belanda telah menjajah Indonesia lebih dari tiga setengah abad. Nama-nama seperti Deandels, Rafless, dan Van Den Boss adalah tokoh-tokoh penting dalam sejarah Kolonialisme Belanda di Indonesia. Demikianlah fakta empiris itu. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas masa kompeni-Belanda (VOC), penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Agresiasi Belanda I dan II. Dampak yang timbulkan sebuah kolonialisme dan peperangan tentu sangat kompleks, tidak saja berakibat secara fisik sebagai fakta empiris, tetapi juga secara batinn (emosi dan psikologis). Hermeneutik berarti tafsir sastra. Paradigma hermeneutic menawarkan dua metode tafsir sastra, yaitu: metode dialektika (antara masa lalu dengan masa kini), dan metode bagian dengan keseluruhan. Roman Bumi manusia karya Pramoedya Anta Toer bukanlah buku sejarah meskipun ditulis berdasarkan perjalanan sejarah kolonialisme yang kental. Bumi manusia menyibak sisi berbeda dari sebuah kolonialisme yaitu sisi emosional dan psikologis terhadap martabat bangsa yang dijajah.

Kata Kunci: kolonialisme, hermeneutic, paradigma

PENDAHULUAN

Kolonialisme atau zaman penjajahan (Belanda) sebagian besar dipahami sebagai fakta empiris bagi generasi Indonesia yang lahir di atas tahun 70-an. Sejarah mencatat Belanda telah menjajah Indonesia lebih dari tiga setengah abad. Nama-nama seperti Deandels, Rafless, dan Van Den Boss adalah tokoh-tokoh penting dalam sejarah Kolonialisme Belanda di Indonesia.

Meski penjajah Belanda di Indonesia tergantikan oleh penjajahan Jepang (dua setengah tahun), tapi kekalahan Jepang oleh pihak Sekutu-Indonesia memproklamasikan kemerdekaan-tidak urung Belanda kembali berusaha menjajah Indonesia melalui Agresi Belanda I tahun 1948. Perjuangan melawan Belandapun berkecamuk. Bandung lautan api. Perang lima hari lima malam di Palemban adalah salah satu contoh peristiwa heroik menandai perlawanan sebuah bangsa yang berdaulat. Perjanjian Linggar jati tahun 1949 pun kembali dilanggar Belanda. Agresiasi Belanda II pun terjadi kembali. Kembali pula perlawanan rakyat Indonsia bergolak.

Demikianlah fakta empiris itu. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas masa kompeni-Belanda (VOC), penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Agresiasi Belanda I dan II.

Dampak yang timbulkan sebuah kolonialisme dan peperangan tentu sangat kompleks, tidak saja berakibat secara fisik sebagai fakta empiris, tetapi juga secara batinn (emosi dan psikologis). Bagi generasi yang lahir tahun 45-an ke bawah fakta empiris dan psikologis akibat kolonialisme tentu masih terasa. Mereka adalah generasi yang terlibat secara emosional tidak lagi mengalami masa-masa yang sangat memiriskan itu. Lebih daripada itu, dampak emosional dan psikologis tidak tersajikan dalam buku-buku teks pelajaran sejarah di sekolah (memang buku sejarah hanya memuat fakta dan data sejarah).

Hermeneutik berarti tafsir sastra. Paradigma hermeneutic menawarkan dua metode tafsir sastra, yaitu: metode dialektika (antara masa lalu dengan masa kini), dan metode bagian dengan keseluruhan. Langkah kerja (rambu-rambu) dalam hermeneutic sebagai berikut: bertolak dari pendapat teks sendiri sudah jelas, menyusun kembali arti historic (penafsir mengaitkan dengan aspek sejarah atau hubungan dengan ihwal pilitik), memadukan masa silam dengan masa kini, bertolak dari pandangan penafsir, penafsiran yang berpangkal pada suatu prolematik tertentu (bersifat parsial): menunjukkan kemungkinan-kemungkinan dalam teks.

Roman Bumi manusia karya Pramoedya Anta Toer bukanlah buku sejarah meskipun ditulis berdasarkan perjalanan sejarah kolonialisme yang kental. Bumi manusia menyibak sisi berbeda dari sebuah kolonialisme yaitu sisi emosional dan psikologis terhadap martabat bangsa yang dijajah.

ORANG PRIBUMI SEKELAS MONYET

“Orang memanggilku: Minke , namaku sendiri….”demikian Pram (nama Pramoedya Ananta Toer sering disapa) membuka ceritanya. Sebuah kalimat pembuka yang sugestif”, singkat dan padat. Roman yang tebalnya 353 halaman itu hanya dibuka dengan tiga paragraph.

Minke memang nama yang menghinakan bagi tokoh Minke, Belakangan diketahui namanya itu adalah julukan kemarahan  dari gurunya meneer Rooseboom. Ketika sekolah di ELS tokoh Minke tidak fasih berbahasa  Belanda, Hal itu membuat gurunya marah sebab Minke tidak dapat menjawab pertanyaan yang diberikan. “Diam kau, Monk….Minke!” demikianlah bentak Meneer Rooseboom yang maksudnya adalah monkey. Selanjutnya tema-tema sekelas memanggil Minke padnya.

Minke adalah pelajar kelas terakhir di HBS sebuah sekolah yang bagi anak-anak Eropa (baca:Belanda)., Indo (blasteran Belanda), dan sebagian kecil pribumi yang orang tuanya menjabat bupati atau terpandang (sekelas dengan Eropa). Melalui pelajaran  dan pergaulan di sekolah Minke mendapat pengetahuan modern, budaya Eropa dan Bahasa Belanda. Minke pun menyerang budaya raja-raja Jawa.

Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukanpunggawa kakekku dan nenekku dan orang tuaku, waktu lebaran. Dan sekarang juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang antusiasme para guruku  dalam menyambut hari esok yang cerah bagi umat manusia. Dan entah berapa kali lagi aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah penanggungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri sampai sedater tanah . kalau mungkin! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani keninaan ini (hal, 182).

Begitulah Minke, pemuda pribumi, yang dididik dalam pergaulan Eropa. Memang sosok Minke digambarkan Pram sebagai pemuda yang berilmu pengetahuan dan maju, tetapi ia tetaplah pribumi. Minke tidak ingin menjadi Eropa atau keeropa-eropaan sebagaimana novel-novel sebelumnya diantaranya Atheis”, “Salah Asuhan”, “atau Robert Anak Surapati”.

Minke sadar bahwa kelasnya sebagai orang pribumi jauh lebih rendah dan direndahkan orang Eropa. Hal ini jelas terlihat dari kemarahan Tuan Herman Mellema, seorang pemilik Boerderij Buitenzorg” ketika pemuda itu berkunjung ke rumahnya dan menjadi tamu bagi Nyai Ontosoro (gundik Herman Mellema) dan Annelies (Putri Herman Mellema), “Siapa kasih kowe ijin dating kemari, monyet!’ dengusnya dalam bahasa Melayu pasar, kaku dan kasar, juga isinya, “(hal 64).

Kehadiran Minke di rumah Herman Mellema atau ajakan Robert Suurhof, temannya di HBS. Robert Suurhof berteman dengan Robert Mellema, putra sulung Nyai Onotosoro dan Herman Mellema yang memiliki dua orang anak, Annelies salah seorang lagi. Itulah awal pertemuan Minke dengan Annelies. Seorang gadis cantik keturunan Belanda Wihelmina membuat Minke jatuh hati.

Pribadi Annelies yang kekamank-kanakan tetapi kukuh dalam pendirian dan tipe pekerja yang tekun ditambah lagi dengan kecantikannya yang mengatakan gambar Ratu Belanda Wihelmina membuat Minke jatuh hati.

Konplik mulai menjalar tatkala Minke mrnjadi bagian dari keluarga Nyai Ontosoro: tentang Darsam, tentang Robert Mellema, dan tentu saja tentang Herman Mellema yang semua menjadi pribadi-pribadi misteri magi Minke. Sebagai putra bupati, Minke dilarang ayahnya untuk meneruskan hubungan dengan keluarga Nyai Ontosoro. Kecantikan Annelies dan keanggunan pribadi Nyai sendiri telah membuat hatinya tidak dapat berpaling. Minke pun memperistri Arnelies.

NYAI OTOSORO: POTRET PERLAWANAN PEREMPUAN PRIBUMI

Kata Nyai, gundik istri tidak syah atau entah apalagi, mungkin adalah kata biasa yang muncul pada masa kolonialisme. Terlebih lagi sistem patriakat’ menempatkan perempuan pada subordinat, laki=laki lebih mendominasi. Demikian dengan Sanikem yang harus rela dijual oleh ayahnya sendiri untuk mendapatkan sejumlah uang dan janji diangkat menjadi seorang bupati. Tidak ada yang  bisa menghalangi termasuk ibu Santikem sendiri.

Sanikem tidak berdaya ketika dijadikan “boneka” Herman Millena, seorang tuan tanah pemilik Borderij, Pram sangat cantik melukiskan penderitaan batin Sanikem.

Aku tak tahu sampai berapa lama bukit daging itu berada bersama   denganku. Aku pingsan Annelies. Aku tak tahu apa yang terjadi                                                 Begitu aku siuman  kembali, kuketahui aku bukan Sanikem yang kemarin. Aku telah jadi Nyai yang sesunggunhya. Dikemudian hari aku      ketahui nama tuan besar kuasa itu.Herman Mallema, papamu, Ann papamu

yang sesungguhnya. Dan nama Sanikem hilang untuk selama-lamanya.

(hal. 127)

Sanikem memang tidak berdaya, tetapi perempuan itu tidak menyerah saja. Ia menekuni dan mengambil pelajaran dari semua kejadian. Baginya tidak ada guna menjadi Sanikem, tetapi ia menajdi Nyai yang sesungguhnya Nyai Ontosoro. Dia mulai menabung, mempelajari peternakan, perkebunan dan perdagangan. Keadaan kemudian terbalik Borderij Buitnzorg ada dalam kendalinya. Herman Millem tidak lebih dari orang Eropa yang tidak ada artinya selain berplesir dan mabuk-mabuk saja, terlebih setelah Ir. Maurist Mellema, anaknya dari perkawinan yang syah dari Belanda, menemuinya guna meminta pembagian harta waris atas istri Herman Mellema yang ditelantarkan di Belanda.

Konflik cerita memuncak setelah kematian Herman Mellema di rumah plesir Baba Ah Tjong Pengadilan Belanda memutuskan semua harta Herman Mellema jatuh pada IR Maurist Mellema dan ibunya. Mevroow Amelia Mellema Hammers seorang wanita Belanda yang dinikahinya secara sah. Lebih daripada itu, pengadilan Putih di Surabaya menetapkan Annelies sebagai anak masih di bawah umur sehingga dalam perwalian dan pengasuhan dikembalikan ke Nederland.

Minke tidak berdaya. Pengetahuan modern dan budaya Eropa yang dahulu didapatkannya dari pendidikan Eropa, kini ditentangnya sebagai keputusan yang biadab”. Usahanya untuk membuktikan Anelies adalah istrinya yang sahpun tidak berhasil.

Meskipun pada ending cerita Nyai Ontosoro tidak sanggup melawan kesewenang-wenangan hokum Belanda, namun wanita itu telah menunjukkan perlawanan yang gigih bersama menantunya Minke.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” demikian kata Nyai Ontosoro sekaligus menjadi kata penutup dari roman setebal 535 halaman itu.

APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN MELALUI STRATEGI STRATA

Menurut strategi ini ada tiga tahap yang harus dilakukan, yaitu: 1) tahap penjelajahan, 2) tahap interpretasi, dan 3) tahap rekresiasi.

Yang dilakukan pada tahap penjelajahan ialah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menikmati karya sastra dengan cara mereka sendiri. Pada tahap ini tugas siswa ialah membaca Bumi Manusia dan mencatat kesan-kesan yang diperoleh dari kegiatan membaca tersebut.

Pada tahap interpretasi kegiatan yang dilakukan siswa adalah mendiskusikan Bumi Manusia yang telah dibaca. Dalam diskusi ini masing-masing kelompok siswa mempresentasikan hasil penjelajahannya dan siswa lain menanggapi. Diakhir kegiatan ada penugasan dari guru.

Kegiatan tahap ketiga adalah rekreasi, Siswa diminta mendramatisasikan bagian-bagian tertentu dari kisah (cerita) dalam roman novel yang telah dibaca, menuliskan kembal (dengan cara sendiri) adegan-adegan atau bagian cerita, menentukan suasana dan seting.

PENUTUP

Minke sosok pribumi yang semula mengagung-agungkan budaya Eropa dan mengkritik budaya Jawa yang dianut ayahnya, kini malah menentang habis-habisan budaya Eropa tersebut yang dianggapnya tidak beradab. Dengan pendekatan hermeneutic terhadap Bumi Manusia kita dapat merasakan bahwa terdapat sisi yang “lain” dari sebuah kolonialisme yang bukan sekedar fakta empiris sebuah penjelajah, tetapi lebih daripada itu. Kajian hermeneutic terhadap Bumi Manusia dan memperkaya pengalaman emosional dan merasakan keterpurukan psikologis terhadap martabat manusia “Indonesia” yang terjajah.

Pemahaman terhadap Bumi Manusia ini dalam konteks pembelajaran dapat dilakukan secara apresiatif melalui strategi strata. Ada tiga tahap yang harus dilakukan, yaitu: 1) tahap penjelajahan; 2) tahap interpretasi; dan 3) tahap rek-reasi.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta. Depdiknas

Jabrohim (ED), 1994. Pengajaran Sastra, Yokyakarta: Pustaka Pelajar.

Kurniawan, Eka. 2006. Pramudta Ananta Toor dan Sastra Realisme Sosialis,

Jakarta: Gramedia.

Lubis, Muchtar, 1997. Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.