Menumbuhkan minat penelitian dikalangan siswa Madrasah

0
35

Menumbuhkan minat penelitian dikalangan siswa Madrasah

Oleh

Dr. Lilis Suryani, M.Si

( Widyaiswara BDK Palembang)

 

Pembelajaran kreatif adalah pembelajaran yang mampu mendorong kreativitas dan  memunculkan potensi siswa. Melalui kegiatan penelitian diharapkan siswa berlatih secara kritis, menulis secra sistematis, membentuk generasi muda yang unggul dalam keilmuan dan keimanan, kreatif dalam berpikir dan cekatan. Penelitian adalah suatu upaya untuk menjawab pertanyaan atas suatu masalah. Dalam artian bahwa penelitian adalah pekerjaan yang sangat terikat dengan prinsip-prinsip kerja cermat, tepat, akurat, dan tidak boleh sembarangan. Prinsip-prinsip tersebut harus dipatuhi untuk memastikan bahwa jawaban atas pertanyaan peneltian adalah benar, bebas dari kekeliruan, dan yang paling penting tidak mengandung unsur kebohongan.

Setiap penelitian selalu mencari jawaban atau solusi dari permasalahan yang ditelti. Sebuah penelitian berdasar dari pertanyaan yang muncul, karena adanya keraguan, ketidakpuasan, dan ketimpangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Dari pertanyaan tersebut muncul suatu proses untuk memperoleh jawaban yang dipercaya sebagai kebenaran. Jawaban yang diperoleh seperti itu pada gilirannya akan dipertanyakan kembali, dan dijawab lagi melalui proses penelitian berikutnya.

Madrasah adalah merupakan model pendidikan yang ideal karena menawarkan keseimbangan hidup yaitu iman-taqwa (imtaq) dan ilmu pengetahuan (iptek). Disamping itu madrasah merupakan pendidikan yang berbasis agama dan memiliki akar budaya yang kokoh dimasyarakat serta memiliki basis sosial yang jelas. Dalam upaya meningkatkan mutu lulusan madrasah maka harus dilakukan proses pendidikan yang bermutu. Salah satu upaya untuk mencapainya adalah dengan membudayakan penelitian di kalangan siswa madrasah.

Menumbuhkan motivasi pada diri siswa madrasah untuk menyukai kegiatan penelitian tidaklah mudah. Dalam pikiran anak didik telah tertanam kondisi bahwa meneliti itu aktivitas yang tidak menarik dan membosankan. Siswa lebih senang melakukan sesuatu yang punya tujuan dan pengerjaan yang praktis, hasilnya bisa langsung dinikmati. Apalagi pada era sekarang ini, banyak hal yang dapat dilakukan secra praktis dan cepat. Sementara dalam meneliti ada begitu banyak proses yang harus dilalui, prosesnya sistematis, langkahnya terstruktur baru mencapai pada hasil akhir yang diinginkan. Di sinilah peran guru agar lebih aktual dalam memotivasi semangat siswa supaya melakukan penelitian.

Sedikitnya ada tiga alasan mendasar mengapa penelitian dilakukan. Pertama, untuk memenuhi rasa ingin tahu peneliti. Penelitian memiliki alur dari ketidaktahuan menuju keingintahuan lantas mencari tahu lalu kemudian menjadi tahu hingga akhirnya memunculkan pengetahuan baru. Salah satu sifat hakiki yang terdapat pada manusia adalah “rasa ingin tahu” atas segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan yang dimiliki, maka rasa ingin tahu tersebut bertambah luas ruang lingkupnya.

Kedua, penelitian dilakukan untuk pemecahan masalah. Manusia dalam kehidupan selalu menghadapi masalah, tantangan, hambatan dan kesulitan, baik di dalam diri, keluarga, masyarakat sekitar serta di lingkungan kerjanya. Pemecahan masalah melalui penelitian dilakukan secara objektif, sistematis, menggunakan metode dan mengikuti prosedur, serta berpegang pada prinsip dan kaidah pengumpulan, pengolahan data, dan pembuktian secara ilmiah.

Ketiga, penelitian dilakukan karena adanya perbedaan, atau bahkan pertentangan pendapat tentang suatu objek yang sama. Munculnya perbedaan dan pertentangan pada suatu masalah akan memunculkan suatu pertanyaan yang jawabannya perlu ditemukan. Dari situ berbagai macam solusi pemecahan lahir. Semakin besar perbedaan atau pertentangan itu ada maka akan semakin besar pula upaya dan langkah yang dicari untuk menyelesaikan masalah.

Mengapa penelitian itu harus dilakukan oleh siswa madrasah? Seberapa pentingkah kegiatan meneliti itu akan memberikan dampak positif  bagi peserta didik? Pada level manakah minat meneliti itu perlu ditumbuhkan? Melalui penelitian, siswa diajak untuk mendalami suatu masalah hingga menemukan jawaban yang pasti dari masalah yang diteliti. Ketidaktahuan pada diri siswa harus diubah menjadi rasa keingintahuan yang besar sehingga ia akan selalu mencoba untuk menjadi tahu akar permasalahan yang ada dan pada akhirnya setelah tahu muncullah pengetahuan baru yang positif dan bernilai guna bagi dirinya ataupun orang lain. Melalui penelitian kita melatih siswa untuk peka dan kritis atas suatu kondisi di sekitarnya. Tidak hanya itu, proses yang dilakukan selama kegiatan meneliti itu berlangsung biasanya melatih siswa untuk lebih bersimpati terhadap orang maupun lingkungan sekitar karena adanya nilai-nilai social yang tumbuh. Pada akhirnya siswa akan terbiasa untuk menalar, menganalisis, dan memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya. Dampaknya akan muncul jiwa dan pribadi yang kritis, analitis, dan solutif pada diri siswa dalam menghadapi suatu masalah.

Proses penelitian yang cermat, penuh selidik, sistematis dalam membangun alur berpikir melalui media tulisan akan membantu para siswa dalam mengembangkan kemampuan literasinya. Menurut Cooper (1993) pengembangan literasi dapat dilakukan dengan cara ; 1) memberikan motivasi, 2) membaca-menulis, dan 3) menulis mandiri.   Pemberian motivasi dilakukan kepada siswa agar mereka tahu apa itu penelitian lantas kemudian mencoba untuk melakukannya. Sebelum penelitian itu dilakukan, siswa diarahkan untuk membaca informasi, literatur, ataupun referensi terkait gagasan yang akan diteliti. Sambil mencari sumber informasi yang valid, siswa diminta untuk mencatat informasi-informasi penting yang terdapat dari sumber bacaannya. Ketika hal itu sudah dilakukan maka tahap selanjutnya adalah menulis mandiri hasil penelitian yang dilaksanakan sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan oleh siswa madrasah akan membuat mereka menjadi pribadi yang kreatif. Menurut Pervin dalam Ramadhy dan Permadi (2009) mendefinisikan kepribadian kreatif sebagai “personality represent those characteristics of the person or of the people generally that account for consistent patternsof behavior”. Dalam penjelasan berikutnya disebutkan bahwa ciri-ciri orang kreatif dapat dibedakan ke dalam ciri kognitif dan non-kognitif. Di dalam ciri kognitif terdapat empat ciri berpikir kreatif yaitu orisinalitas, fleksibitas, kelancaran, dan elaborasi. Sementara itu yang termasuk ciri non-kognitif adalah: (a) terbuka terhadap pengalaman baru dan luar biasa, (b) luwes dalam berpikir dan bertindak, (c) bebas dalam mengekspresikan diri, (d) dapat mengapresiasi fantasi, (e) berminat pada kegiatan-kegiatan kreatif, (f) percaya pada gagasan sendiri, dan (g) mandiri.

Bahkan jika diamati lebih lanjut lagi ciri yang muncul dari aspek non-kognitifnya akan dirasakan secara langsung oleh siswa setelah melakukan penelitian. Peserta didik karena merasakan sesuatu yang baru akhirnya merasakan pula pengalaman baru. Dalam berpikir dan bertindak akan luwes karena menimbang masalah dari berbagai sudut pandang. Mereka akan bebas berekspresi mengembangkan diri sehingga ide nyata maupun yang hanya sekadar fantasi dapat dihargai. Tetapi yang lebih utama bahwa siswa akan semakin berminat pada kegitan kreatif yang ada pada proses penelitian, sangat percaya pada gagasan yang dipikirkan sendiri sekaligus melatih kemandirian siswa untuk lebih tangguh menghadapi suatu masalah.

Minat siswa untuk meneliti dapat ditumbuhkan sejak dini mulai dari tingkat madrasah ibtidaiyah. Sejak tingkat MI telah ditumbuhkan minat untuk selalu ingin mencari pengetahuan secara aktif, memecahkan masalah dan informasi yang diperolehnya, serta akhirnya akan mendapatkan pengetahuan yang bermakna sesuai tingkat kemampuannya. Keterlibatan guru dalam proses pembelajaran jauh lebih sedikit namun bukan berarti guru melepas tangan. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menarik minat penelitian siswa adalah model pembelajaran penemuan terarah. Model pembelajaran ini memiliki beberapa kebaikan, diantaranya :

  1. Dengan menemukan sendiri dalam proses pembelajaran siswa lebih percaya pada diri sendiri
  2. Memberi kesempatan pada siswa mengembangkan kemampuannya sendiri
  3. Dapat membangkitkan gairah belajar siswa
  4. Memberikan motivasi pada siswa untuk belajar lebih giat

Guru dapat menumbuhkan minat penelitian pada siswa dengan  cara yang sederhana seperti mengaitkan materi pelajaran dengan kejadian-kejadian di lingkungan sekitar, siswa diarahkan untuk mengamati hal-hal yang terjadi di dunia luar, mengkaji, meneliti, menyimpulkan dan mengembangkan ide-ide baru. Sebagai contoh guru dapat menjelaskan hubungan materi pelajaran dengan kegunaan di masa yang akan datang, menghubungkan bahan pelajaran dengan berita yang sedang sensional, memberikan contoh-contoh keberhasilan peneliti yang dapat bermanfaatkan bagi kemaslahatan dan lain-lain. Oleh sebab itu sangat diperlukan kreativitas dan kerja keras seorang guru.

Objek yang diteliti dapat di mulai dari bahan-bahan di sekitar lingkungan baik lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah. Penelitian dapat dilakukan dari hal yang sederhana tetapi bersifat konstektual yaitu berdasarkan kondisi yang sebenarnya dan berusaha memperoleh solusinya. Hal ini dapat dimulai dengan eksperimen sederhana yang sesuai dengan silabus dan RPP pembelajaran agar materi penelitian tidak menyimpang jauh dari materi pembelajaran dan sesuai dengan tingkatan kemampuan siswa (MI, MTs atau MAN). Sebagai contoh karya tulis sederhana bidang IPA (Biologi) untuk MI adalah eksperimen sederhana pengaruh nutrien pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman terong. Pupuk kandang dapat berasal dari sapi, kambing, kuda, ayam dll. Siswa dapat mempelajari pengaruh jenis pupuk kandang, pengaruh jumlah pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman terong dan lain-lain. Berawal dari penelitian sederhana ini dapat menimbulkan ide-ide baru dan menantang bagi siswa.

Sebagai contoh pemenang lombah penulisan karya ilmiah yang diselenggarakan LIPI pada tahun 2015 ini, pemenangnya adalah Kholifatul Maula dan Putri Rahayu Budiman berasal dari MAN Insan Cendekia Jambi dengan judul “Pengaruh Eksistensi Perkebunan Sawit terhadap Integrasi Sosial Masyarakat Transmigrasi Desa Sumber Harapan Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Muara Bungo Provinsi Jambi”. Selain itu Pupoes Biworo dan Achmad Nurul Yaqin  dari MTsN II Kediri Jawa Timur dengan judul karya “Daya Astrigensia pada Getah Tanaman Sono Kembang (Pterocarpus indicus) sebagai Anti septik Alami dan Ekonomis,” mendapatkan Special Award untuk kategori Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. Dalam bidang Kebumian dan Kemaritiman, Hafidh Nur Haq dan Akbar Rizky Hasim dari MAN 3 Kediri Jawa Timur dengan karyanya “Pemanfaatan Serbuk Lempung Aktif sebagai Absorban bau, Warna, Tingkat Keasaman (pH) dan Kadar Logam Tembaga (Cu) dan Merkuri (Hg) serta Jumlah Bakteri Pada Limbah Cair Industri Kertas di Daerah Nganjuk, berhasil mendapatkan Juara II.

Setidaknya ada tujuh Juara yang berhasil diraih  siswa-siswa madrasah pada ajang LKIR 2015 ini. Hal Ini merupakan jumlah yang cukup signifikan meningkat dibandingkan tahun lalu. Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa kompetensi siswa-siswi madrasah dalam bidang riset tidak diragukan lagi. Siswa madrasah bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum lainnya, dan itu  terbukti dengan perolehan sejumlah juara dari beberapa kategori dalam LKIR ini.

Upaya lain menumbuhkan penelitian di kalangan madrasah atau membangun tradisi ilmiah siswa dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti kelompok ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). KIR merupakan suatu organisasi yang sifatnya terbuka bagi para siswa yang ingin mengembangkan kreativitas, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan kegiatan ini para siswa memiliki perhatian besar pada pengembangan sikap ilmiah, kejujuran dalam memecahkan gejala alam yang ditemui dengan kepekaan yang tinggi dengan metode yang sistimatis, obyektif, rasional dan berprosedur. Potensi siswa juga dikembangkan dengan mengikuti berbagai lomba karya ilmiah hasil penelitian maupun penulisan karya ilmiah. Dengan demikian siswa akan mendapatkan banyak pengalaman dan terbuka wawasannya untuk lebih tertantang melakukan penelitian.

 

Kesimpulan

Berdasarkan uraian maka dapat disimpulkan bahwa potensi yang terdapat dalam diri siswa madrasah sangat besar. Apabila potensi tersebut dapat diarahkan dengan baik niscaya para pelajar akan membawa perubahan yang besar bagi kemajuan bangsa di masa yang akan datang. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam membantu siswa mengenali dan menemukan potensi terpendam dalam dirinya. Salah satu cara tersebut adalah dengan menumbuhkan semangat meneliti dalam diri para pelajar sehingga siswa madrasah bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Eni Dewi Kurniawati, 2011. Menumbuhkan Sikap Ilmiah Pada Remaja. 14/03/2011. oleh
beritacianjur.com.
Suyanto, 2009. Kegiatan KIR SebagaiI Usaha Peningkatan Mutu Pendidikan Siswa-siswa Sekolah. kirsmadw.blogspot.com.

Wartono dkk, 2004. Penilaian Berbasis Kelas dalam Pembelajaran Sains. Materi PelatihanTerintegrasi SN-42. Departemen Pendidikan Nasional. Dirjen Dikdasmen, Direktur Lanjutan Pertama.

http://gurupembaharu.com/home/?p=2676
http://www.radartulungagung.co.id/…/3396-ekstrakulikuler-dan-pengembangan-diri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.