MENULIS ITU MUDAH

0
57

MENULIS ITU MUDAH

Oleh: Marzal

Widyaiswara Madya BDK Palembang

A. Pendahuluan

Menulis itu mudah, terutama bagi yang mau menulis. Syarat pertama untuk bisa menulis dan menjadi penulis adalah kemauan, jika kemauan belum muncul, padahal tuntutan menghasilkan karya tulis terus menghantui kita, kita harus memotivasi diri sendiri, oleh karenanya syarat kedua untuk menjadi penulis adalah kemampuan memotivasi diri sendiri. Bagaimana cara memotivasi diri sendiri? Tergantung diri sendiri, tetapi keinginan-keinginan tertentu sering manjur untuk maksud itu, misalnya karena ingin cepat selesai kuliah, namanya dikenal orang (terkenal), pendapatnya diketahui orang, membuat tulisan karena suatu masalah / tema yang kita tulis belum ditulis orang, menanggapi tulisan, pendapat, atau mereaksi suatu keadaan, menambah penghasilan, dan lain-lain.

Lazimnya, orang mempunyai kemauan dan termotivasi karena memiliki pengetahuan dan kemampuan. Pengetahuan dan kemampuan adalah syarat berikutnya untuk menjadi penulis Tetapi, jika kita telah mempunyai kemauan dan motivasi, pengetahuan dan kemampuan lebih mudah untuk dikembangakan. Pengetahuan dan kemampuan berkaitan dengan isi tulisan, apa yang diuraikan dalam karya tulis. Namun, ia juga berkaitan dengan cara dan tatacara mengungkapnya. Yang terakhir berkaitan dengan kemampuan membahasakan apa yang ingin diungkapkan dan format penulisan, Jadi, pada intinya, untuk menjadi penulis atau menghasilkan karya tulis orang harus memiliki kemauan, motivasi, pengetahuan, dan kemampuan.

Pengetahuan dan kemampuan juga terkait dengan cara mengungkapkan gagasan (aspek bahasa). Kemampuan mengungkapkan ide dalam bahasa yang benar dan komunikatif adalah kunci keberhasilan seseorang untuk menjadi penulis. Singkatnya, ada dua unsur pengetahuan dan kemampuan yang harus dimiliki, yaitu apa yang akan diungkapkan (isi) dan bagaimana cara mengungkapkan (bentuk). Aspek isi dan  bentuk adalah dua hal yang mendukung eksistensi sebuah karya tulis. Keduanya saling terkait dan saling melengkapi. Tulisan dengan bahasa yang benar jika isi tidak meyakinkan, orang akan malas membaca karena tidak memberi nilai tambah. Tulisan dengan ide yang bagus, orisinal, dan luas, tetapi jika bahasanya tidak benar akan kacau (bahasa menunjukkan karakter penulis). Berlatih menulis karya ilmiah mesti melibatkan kedua unsur itu.

B. Kendala Menulis

Mengapa kita sulit menghasilkan karya tulis padahal profesi kita menuntut untuk itu? Tampaknya, ada sejumlah kendala yang menjadi penyebabnya, antara lain dapat ditunjukkan sebagai berikut:

  1. Kendala psikologis:
  2. Merasa tidak bisa padahal belum berusaha
  3. Malu, takut, atau tidak percaya diri tulisannya kurang baik sehingga ditertawakan orang
  4. Malu, takut, atau tidak percaya diri bahwa pengetahuannya tidak banyak
  5. Malu, takut, atau tidak percaya diri bahwa kemampuan bahasanya kurang baik
  6. Kurang termotivasi karena berbagai sebab
  7. Malas, tidak ada keinginan untuk maju, dan lain-lain
  8. Kendala Kemampuan
    1. Kurang menguasai pengetahuan, bahkan untuk bidang keilmuannya sendiri (unsur gagasan, isi)
    2. Tidak tahu apa yang harus atau dapat ditulis untuk penulisan karya ilmiah
    3. Kurang menguasai bahasa untuk membahasakan gagasan pada penulisan karya ilmiah (aspek bentuk)
    4. Kurang memahami model dan teknik penulisan karya ilmiah
  9. Kendala Ekonomis dan lain-lain
  10. Tidak ada tantangan dari faktor income, tidak menulis juga sudah bisa hidup layak
  11. Tidak memahami pentingnya berekspresi lewat karya tulis
  12. Kurang memahami/mengharagai pentingnya penyebaran informasi lewat tulisan (kegiatan tulis-baca)
  13. Masih terpaku pada budaya lisan (bicara-dengar; ngobrol, nonton televisi, dll)

CLangkah Awal Menulis Karya Tulis (Ilmiah)

a.Cari dan Tentukan Topik

Bagi penulis pemula, topik sebaiknya dicari yang sesuai dengan bidang karena masalah itu yang paling dikuasai. Bertanya kepada diri sendiri, misalnya saya menguasai dan atau tertarik pada bidang apa? Membaca dan membaca sebanyak mungkin, membaca jurnal, laporan penelitian, buku, makalah, akses internet. Penulis yang baik pasti sekaligus pembaca yang rajin, diskusi dengan sejawat, berseminar. Cermati bagaimana isi tulisan-tulisan itu, misalnya gagasan, pengembangan dan pengorganisasian gagasan, bahasa, dan lain-lain. Dari kegiatan-kegiatan itu lazimnya akan muncul “ilham” di benak kita.

b. Cermati Pola Pikir Pengarang lain

Sekali lagi bagi penulis pemula: ada baiknya mencermati tulisan pengarang yang karangannya baik untuk “belajar” Cermati dan ikuti bagaimana cara: (1) pengembangan gagasan, (2) pengembangan alinea, (3) perujukan acuan, (4) pengarang yang dirujuk, (5) peramuan berbagai gagasan dari berbagai sumber,     (6) sikap pengarang,        (7) style dan ejaan, dan lain-lain. Oleh karena itu, Dengan rajin menulis, pada akhirnya pengarang akan menemukan kepribadian sendiri, Itu perlu waktu dan mau menulis terus-menerus (tidak hanya dimotivasi oleh tuntutan naik pangkat saja).

c. Lakukan Praktik Menulis

Aktivitas menulis tidak cukup hanya berbekal teori walaupun pengetahuan teoritis juga penting. Untuk dapat menulis, kita harus benar-benar langsung praktik menulis, Seperti belajar berenang untuk dapat berenang kita harus betul-betul praktik berenang dengan resiko tenggelam. Kendala utama biasanya ketika kita akan memulai menulis, bingung tidak tahu apa yang harus ditulis, atau mulai dengan atau dari mana. Semua orang mengalami itu, tetapi kita harus berani membuang keraguan dan ketidakpercayaan diri itu. Menulislah apa saja, apa yang diminati, apa yang ada di pikiran, apa yang menantang, tanpa merasa takut salah. Bentuk tulisan bisa jadi masih berwujud coretan-coretan ekspresif, tidak karuan, tidak saling terkait. Itu tidak masalah, sebab substansinya adalah menuliskan apa saja, gagasan dan ide-ide atau pendapat kita. Kemudian cobalah kembangkan menjadi sebuah outline.

d. Buat outline

Menulis pada hakikatnya adalah mengungkapkan ide dan gagasan ke dalam wujud bahasa tertulis. Ide, gagasan, atau materi yang ada di pikiran banyak sekali (baik yang sudah siap diungkap maupun yang masih berupa kelebatan-kelebatan pikiran yang harus dikembangkan). Agar dapat diungkapkan dengan sistematis-logis dan dengan bahasa yang benar, semua harus ditata, disistematiskan, dan dipersiapkan dengan baik. Penataan itu sebaiknya konkret, tidak hanya di pikiran saja, dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca berulang-ulang. Penataan pikiran itu sebenarnya berupa perencanaan tentang apa saja yang akan dituliskan dan bagaimana pengurutannya. Itulah yang kemudian disebut sebagai outline karya tulis

Outline menurut pengertianya dalam kamus adalah garis besar, bagan, skema, sketsa, kerangka, Outline karangan merupakan kerangka karangan, garis besar karangan. Outline berisi kerangka topik dan sub-subtopik yang akan dikembangkan menjadi sebuah tulisan yang lengkap, jadi Outline mencantumkan judul  karangan dan sub-subjudul (bab, bagian) (semuanya sementara). Outline haruslah sudah memberikan gambaran jelas tentang masalah yang diuraikan dalam karangan. Semua subjudul harus mendukung tema karangan yang secara jelas tercermin dalam judul; semua subjudul mendukung judul utama karangan. Semua sub-subjudul harus mendukung subjudul, Semua subjudul menunjukkan secara konkret tentang apa saja yang akan diuraikan dalam batang tubuh karangan. Dengan membaca outline, mestinya orang sudah dapat membayangkan apa isi karangan secara keseluruhan, Outline yang jadi tidak lain adalah daftar isi sebuah karya tulis.

Penyakit yang menghantui penulis pemula (sering juga bagi yang telah berpengalaman) adalah memulai sebuah tulisan. Kebingungan itu biasanya meliputi pertanyaan, antara lain: apa yang harus pertama dituliskan, serta bagaimana pengalimatan dan pengalineaannya. Kebingunan pertama disebabkan oleh adanya sejumlah gagasan yang “berebut” untuk lebih dahulu dituliskan, apa yang mesti dituliskan diawal penulisan, Atau sebaliknya, kebingugnan karena tidak ada gagasan yang akan diungkapkan, Kebingungan kedua menyangkut aspek bahasa, bahasa tulis-menulis. Bagi yang sedang belajar menulis ketepatan unsur bahasa, bahasa tampaknya lebih ditekankan, Tetapi, bagi para penulis sungguhan  aspek isi karangan lebih ditekankan. Hal itu tidak berarti masalah bahasa diabaikan, tetapi semestinya itu sudah baik (kalau belum baik, ya…kebangeten).

Cara pembuatan outline sebagai berikut; Tuliskan judul (sementara) karangan yang akan dibuat. Tuliskan semua topik/subtopik/ide yang terkait dengan judul (tema) karangan. Biarkan semua subtopik/ide itu bermunculan begitu saja, tidak usah terburu mengurutkannya secara logis-kronologis. Setelah semua subtopik/ide dituangkan (sementara), cermati satu per satu berdasarkan cakupan dan urutan. Cakupan dimaksudkan sebagai satu subtopik dan sub-subtopik yang menjadi bawahannya yang memang berkaitan secara logika, Atau, satu subjudul dengan subjudul-judul yang mendukungnya. Urutkan tiap subjudul dan sub-subjudul ke dalam pengurutan yang menunjukkan alur pemikiran yang logis-kronologis. Urutan subjudul langsung mendukung judul,dan sub-subjudul mendukung langsung subjudul

D. Pembenahan Aspek Bentuk

a. Unsur Bahasa

Keindahan bahasa karya tulis ilmiah, artinya bukan karya fiksi, pertama-tama adalah ketundukan pada kaidah, benar secara kaidah. Bahasa yang gramatikal dan runtut menunjukkan kualitas berpikir. Bahasa mencerminkan logika. Bahasa yang kacau menunjukkan kekacauan logika penulis. Jika penulisan telah selesai, tolong sekali lagi dibaca, siapa tahu masih butuh pembenahan bahasa di sana-sini. Yang penting juga menjadi perhatian adalah banyak artikel terpaksa ditolak/direvisi semata-mata faktor bahasa. Bahasa apapun yang dipakai dalam artikel (Indonesia, Inggris) harus benar secara kaidah dan tepat kosakata. Ketepatan kaidah dan kosakata merupakan prasyarat yang harus terpenuhi. Kriteria juga  dilihat dari kualitas bahasanya

b. Cara Merujuk

Penulisan artikel ilmiah lazimnya menyertakan banyak rujukan dari jurnal atau teks-teks yang lain (Teks tidak lain adalah “kumpulan rujukan” yang padu). Teks yang dirujuk harus benar-benar dibaca (tidak sekadar untuk gagah-gagahan). Cara merujuk harus tepat dan konsisten sesuai dengan aturan jurnal yang telah ditentukan. Rujukan yang lazim: nama akhir pengarang, tahun, dan halaman. Contoh: Edward (2008:75); (Edward, 2008:75). Catatan: banyak artikel yang tidak tepat dan tidak konsisten cara merujuk, dan itu jelas mengganggu.

c. Penulisan Daftar Pustaka

Penulisan artikel ilmiah harus menyertakan daftar pustaka. Semua yang dirujuk harus ada dalam daftar pustaka, dan yang di daftar pustaka harus benar-benar dirujuk (tidak sekadar untuk gagah-gagahan). Penulisan daftar pustaka harus konsisten sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada suatu jurnal. Contoh yang lazim dipakai: Edward, Patricia A. 2008. Children’s Literary Development, Boston: Pearson. Catatan: banyak penulis artikel yang tidak mencantumkan semua pengarang yang dirujuk, atau tidak dirujuk tetapi ada daftar pustakanya.

d. Ejaan

Bahasa apapun yang dipakai dalam artikel (Indonesia, Inggris) harus benar ejaannya. Ejaan menunjukkan kerapian, kedisiplinan, dan apresiasi terhadap aturan bahasa. Ejaan meliputi semua aturan cara menulis dalam suatu bahasa. Gagasan baik dan bahasa benar, tetapi jika ejaan kacau, itu tetap saja mengganggu. Catatan: banyak artikel dalam Bahasa Indonesia yang ejaannya kacau, tetapi penulisnya tidak merasa bersalah

e. Format dan sistematika penulisan

Semua karya tulis/artikel yang akan dimuat di sebuah penerbitan, misalnya jurnal/majalah ilmiah, pasti telah mempunyai format dan ketentuan yang harus diikuti oleh (calon) penulis. Jurnal yang baik (terakreditasi) pasti memiliki aturan format dan sistematika penulisan yang sudah pasti. (Penilaian akreditasi sebuah jurnal juga antara lain dilihat dari segi ini). Lazimnya, format dan sistematika artikel berbasis hasil penelitian dan bukan hasil penelitian tidak sama. Penulis artikel harus menyesuaikan diri dengan aturan itu, jangan semau sendiri jika ingin artikelnya dimuat. Catatan: banyak artikel yang sering tidak memperhatikan aturan format/sistematika jurnal yang dikiriminya; artikel itu mungkin ditolak atau dikembalikan untuk diperbaiki.

E. Kesimpulan

Kegiatan menulis itu sebenarnya mudah dilakukan jika kita mau melakukannya. Guru, apalagi widyaiswara dan dosen jelas mempunyai tanggungjawab moral untuk menulis dan menulis sejalan dengan kegiatan meneliti dan meneliti. Tanggung jawab itu berkaitan dengan fungsi sekolah, diklat dan perguruan tinggi yang merupakan agen of changing. Widyaiswara Dosen, peneliti, ilmuwan, dan juga guru adalah mengembangkan dan kemudian mentranformasikan keilmuawan kepada khalayak. Itu motivasi diri idealnya, kita wajib menumbuhkan motivasi diri. Motivasi yang lain: karena alasan nama, popularitas, eksistensi diri, uang, naik pangkat, dll. (Banyak guru yang mandeg tidak bisa naik pangkat setelah golongan III/b semata-mata karena terkendala tidak mempunyai karya tulis). Jadi, mengapa kita tidak mau dan mampu memotivasi diri kita sendiri untuk menulis dan menulis. Mulai sekarang juga diputuskan untuk segera menulis, topik apa pun yang ditulis. Tidak ada kata terlambat walau sudah berkepala 5 atau 6, apalagi masih 4, 3, apalagi 2. Penulis buku-buku bagus bisa sangat terkenal dan kaya raya.

REFERENSI

Akhadiah, Sabarti, dkk. 1998. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alwasilah, A. Chaedar. 2000. Politik Bahasa dan Pendidikan. Cet. II. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Alwi, Hasan. 1996. ”BIPA:  Hari Ini dan Esok”. Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. (Husen dkk. Penyunting). Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Azies, Furqanul dan Alwasilah, A. Chaedar. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan Praktek. Cet. I. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Semi, M. Atar. 1995. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Mugantara.

Emre, Fachrudin Ambo. 1988. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Jakarta: Depdikbud.

Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Menulis secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.

Parera, Jos Daniel. 1987. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta: Erlangga.

Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.  Bandung: Angkasa.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.