MENJAGA MARWAH GURU

0
63

M

Oleh

Muhammad Abduh

Baru-baru ini dunia pendidikan Indonesia dihebohkan dengan video viral seorang siswa kelas 9 di sebuah SMP swasta yang membully gurunya di kelas. Sebuah tindakkan yang sangat tidak patut dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya.  Kejadian siswa yang membully guru bukanlah hal baru, sebelumnya juga sudah terjadi dimana seorang guru dikeroyok oleh siswa-siswanya di sebuah SMK di Kendal, Jawa Tengah.

Fenomena siswa membully guru ini menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan bagi dunia pendidikan ke depan. Sebab tidak ada yang lebih mengkhawatirkan dari sebuah tindakkan tak terpuji pelajar, selain dari prilaku yang tidak menghormati seorang guru. Karena prilaku tidak menghormati guru akan melahirkan prilaku negatif lainnya sebab nasihat dari guru tidak lagi berguna baginya. Jika kondisinya sudah seperi ini maka tidak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari hadirnya sekolah.

Seorang guru sejatinya adalah orang yang harus dihormati dan dimuliakan setelah kedua orang tua. Karena ia adalah sumber pengetahuan dan akhlak. Dari guru orang bisa membaca, menghitung, memperoleh pengetahuan, mendapat keterampilan sehingga menjadi bekal dalam menjalani kehidupan. Bahkan dari guru seseorang dapat memperoleh budi pekerti yang luhur. Tanpa guru apa jadinya aku, begitu kata Melly Goeslow dalam syair lagunya  guruku tersayang.

Sejak dulu guru begitu dihormati dan menempati derajat mulia di dalam masyarakat dan memang begitulah seharusnya guru diperlakukan. Para orang tua rela menitipkan anaknya secara total dengan mempercayakannya kepada sang guru untuk diajar dan dididik. Tak peduli cara apa yang akan dilakukan oleh sang guru dalam mendidik anaknya. Bagi orang tua yang penting anaknya dapat dididik agar menjadi orang yang bermanfaat di kemudian hari. Sehingga jika ada pengaduan dari anaknya tentang perlakuan guru terhadapnya, para orang tua justru menyalahkan anak karena mereka tidak patuh terhadap perintah guru.

Dari pihak siswa pun, guru bagaikan orang tua kedua setelah orang tua kandung sebagaimana yang terjadi dalam pesantren. Kata-kata yang keluar dari bibir guru sama nilainya dengan perintah kedua orang tuanya bahkan lebih. Sehingga penghormatan terhadap guru betul-betul tertanam dalam diri siswa.  Jangankan mengejek dan membully guru, bahkan menatap mata dan mendongakkan kepala pun tak sanggup dilakukan.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, mulai terjadi pergeseran dimana seorang guru tidak lagi dianggap sebagai seseorang yang memiliki kharisma. Guru lebih dipandang sebagai pekerja jasa yang bertugas memberikan pelayanan mengajar sesuai dengan keilmuan yang dimiliki. Akibatnya sikap hormat kepada guru mulai memudar. Sebagai pekerja jasa, para orang tua sering memperotes dan menyalahkan guru apabila anaknya diberi sanksi hukuman, tanpa melihat sebab kenapa anaknya dihukum. Selanjutnya tindakkan orang tua tersebut kemudian diikuti oleh anaknya yang tidak berlaku sopan terhadap gurunya.

Buah simalakama

Guru dituntut untuk dapat mendidik para siswa agar memiliki sikap terpuji, pengetahuan yang luas, dan keterampilan yang memadai sebagai bekal kehidupan mereka di masyarakat. Dalam menunaikan tuntutan tersebut, guru sering menghadapi persoalan yang dilematis. Misalnya ketika mendapati siswa yang tidak disiplin. Di satu sisi guru dituntut untuk dapat mendisiplinkan siswa namun disisi lain guru takut memberikan “hukuman”  yang dapat menimbulkan efek jera bagi siswa karena akan berakibat pada pemidanaan sang guru.

Beberapa kasus guru yang mendisiplinkan siswa harus berurusan dengan polisi dan  berakhir di meja hijau bahkan penjara. Seperti kasus pak Sustrisno, guru madrasah tsanwaiyah di desa Babat, Gempol, dilaporkan wali murid karena menjitak (bukan memukul) anaknya yang mengucapkan kata-kata tidak sopan . Malayanti, guru SMAN 3 kabupaten Wajo, dilaporkan ke polisi karena mencubit lengan siswi yang diperingatkan tidak main handphone namun tidak digubrisnya. Mubazir, guru SMAN 2 Sinjai, harus mendekam di penjara karena mendsiplinkan siswa yang berambut panjang dengan memotong rambut si anak. Darmawati, guru agama di SMAN 3 Parepare, harus dipenjara karena mengibaskan mukenanya kesekolompok siswi yang berkeliaran saat waktu shalat zuhur, kemudian diadukan oleh siswanya ke polisi. Sambudi, guru di Sidoarjo, harus mendekam di penjara selama enam bulan karena mencubit siswa yang tidak shalat dhuha.

Dalam dunia pendidikan, funishment adalah sesuatu yang diperlukan untuk mendidik siswa berbanding lurus dengan reward. Jika funishment diberikan bagi siswa yang melanggar aturan, maka reward diberikan kepada siswa yang berprestasi. Dalam teori ilmu pendidikan hal ini disebut dengan alat pendidikan. Bahkan dalam ajaran agama pun funishment dan reward harus dijalankan. Bagaimana seorang anak yang sudah berumur 10 tahun harus dipukul jika tidak melaksanakan shalat adalah bentuk funishment agar anak menjadi disiplin.

Guru harus diberikan peluang untuk menghukum anak dengan batasan tertentu dan dengan tujuan untuk mendidik. Para orang tua khendaknya membangun kerjasama yang baik dengan sekolah untuk kebaikan anaknya sendiri. Tindakan melaporkan guru ke polisi dikarenakan anaknya dicubit hanya akan menjadikan sekolah bukan lagi tempat pendidikan melainkan menjadi tempat perkumpulan manusia yang bebas tidak beraturan, dikarenakan para gurunya menjadi apatis.

Selain itu, keinginan para orang tua untuk menjadikan anaknya menjadi orang yang baik harus diiringi oleh upaya maksimal dari keluarga. Jangan malah sekolah atau guru yang sering dijadikan kambing hitam bahwa sekolah atau guru tidak becus dalam mendidik. Sementara sekolah tidak diberikan wewenang penuh dalam mendidik anak mereka. Jika keluarga tidak mampu karena segala keterbatasan maka paling tidak berikan ke percayaan yang penuh terhadap sekolah untuk menggambleng anak didiknya.

Butuh komitmen bersama

Para orang tua, pemerintah, bahkan guru itu sendiri harus menjaga marwah guru. Karena jika marwah guru direndahkan maka hilanglah wibawanya, akibatnya nasihat guru tidak lagi memberi pengaruh dan didengar oleh siswanya. Jika hal tersebut benar-benar terjadi maka hilanglah fungsi pendidikan. Tidak ada bencana pendidikan yang paling besar selain hilangnya kewibawaan seorang guru.

Para ahli sepakat bahwa kewibawaan seorang guru memberikan pengaruh yang besar terhadap siswa atas sikap mengakui, menerima, tunduk, dan patuh terhadap perintah yang diberikan. Karena itu menjaga kehormatan dan kemulian guru agar tetap berwibawa adalah penting untuk dilakukan dan menjadi tugas dan tanggung jawab bersama semua stakeholder pendidikan.

Oleh karena itu, guna menjaga wibawa guru beberapa pihak yang perlu terlibat antara lain :

Guru

Menjadi guru tidaklah mudah, karenanya tidak semua orang bisa menjadi guru. Beberapa syarat dan kriteria yang harus dimiliki oleh seorang guru antara lain guru harus berwibawa. Sayangnya wibawa tidak datang dengan sendirinya atau diperoleh melalui pemberian orang lain, melainkan harus diusahakan oleh guru itu sendiri. Cara untuk menjadi guru yang berwibawa antara lain guru harus memiliki kecerdasan spiritual, istiqomah menjaga hubungan dengan Sang Khaliq, dan memiliki akhlak yang baik sehingga dapat menjadi teladan bagi siswa-siswa.

Orang tua anak

Pendidikan akhlak seharusnya telah dimulai dari keluarga. Dimana anak telah diajarkan bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua dan menyangi yang muda. Orang tua harus mengajarkan anak bagaimana harus menghormati orang lain apalagi orang yang telah berjasa baginya seperti halnya guru. Dengan cara menghormati guru, tidak menjelekkan guru di depan anaknya, atau mungkin sesekali memberikan hadiah buat guru sebagai wujud terima kasih. Hal ini akan menumbuhkan rasa hormat anak kepada guru.

Selain itu orang tua harus berperan aktif membangun komunikasi yang baik dengan sekolah. bekerjasama dengan sekolah dalam memantau perkembangan prilaku anak.

Tenaga kependidikan  

Semua insan yang ada di sekolah mulai dari kepala sekolah, pegawai, hingga OB harus menunjukan prilaku yang baik di hadapan para siswa. Budaya karakter yang dibangun di sekolah harus dicontohkan oleh semua orang yang ada di sekolah.

Pemeritah

Pemerintah berperan besar dalam mengangkat martabat guru. Pemberian honor yang layak, memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, pemberian penghargaan pada momen tertentu misalnya pada hari guru, membuat undang-undang perlindungan guru, dan seterusnya.

Masyarakat

Masyarakat harus turut serta membangun budaya menghormati guru dengan mendukung program sekolah, memberikan sumbangan pemikiran untuk kemajuan sekolah,  menghargai jasa para guru, dan lain sebagainya.

Jika semua komponen di atas memiliki komitmen yang sama, maka marwah guru akan tetap terjaga. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.