MENJADI GURU BERKARAKTER

0
43

MENJADI GURU BERKARAKTER

Oleh Riduwan

 

Abstrak

Dalam mewujudkan pribadi-pribadi yang berkarakter diperlukan adanya pendidikan karakter.Pendidikan karakter akan sukses bila pendidiknya (guru)memilki karakter yang baik. Sangat mustahil pendidikan karakter akan berhasil bila para gurunya berkarakter rendah. Karena itu merupakan suatu keniscayaan bagi guru untuk memiliki karakteristik yang efektif dalam pengajaran demi tercapainya tujuan pendidikan.Karakter yang harus dimiliki oleh oleh guru paling tidak meliputi sikap adil, percaya dan suka terhadap peserta didiknya, sabar dan rela berkorban, memiliki wibawa (gezag) terhadap anak-anak, penggembira, bersikap baik terhadap guru-guru lain, bersikap baik terhadap masyarakat, benar-benar menguasai mata pelajarannya, suka pada mata pelajaran yang diberikannya dan berpengetahuan luas.Denganbaiknya karakter para guru maka diharapkan akan baik pula karakter peserta didik, sehingga mereka mampu eksis dan unggul dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin rumit. 

Key words: guru, karakter

Pendahuluan

Pemeran utama dalam mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter adalah guru, karena guru memiliki pengaruh yang cukup dominan terhadap kualitas pembelajaran, karena gurulah yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas, bahkan sebagai penyelenggara pendidikan di sekolah. Kalimat bijak mengatakan bahwa “bila ingin melihat kualitas suatu bangsa maka lihatlah kualitas gurunya”. Pernyataan ini diperkuat oleh Dedi Supriadi (1999:178), yang menyatakan bahwa “diantara berbagai masukan (input) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa) sepertiganya ditentukan oleh guru. Faktor guru yang paling dominan mempengaruhi kualitas pembelajaran adalah karakter guru.”

Lebih lanjut Brandt dalam Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:262) mengatakan bahwa “guru merupakan kunci utama yang memiliki peran besar dalam peningkatan mutu pendidikan, guru berada pada titik central dari setiap usaha perbaikan pendidikan yang diarahkan pada perubahan seluruh aspek seperti kurikulum, metode dan pengembangan sarana prasarana.”

Namun yang disayangkan, pemangku pendidikan kini dianggap belum mampu menginternalisasi pendidikan karakter sebagai arus utama dalam prosesnya, sehingga berakibat pada lulusannya yang tidak berkualitas. Marvin Berkowitz (1998) dalam (http://www.reformed-crs.org/ind/articles/karakter_bangsa_dulu_dan_kini.html) menyatakan bahwa, “kebanyakan orang mulai tidak memerhatikan lagi bagaimana pendidikan itu dapat berdampak terhadap perilaku seseorang. Itulah cacat terbesar pendidikan gagal untuk menghadirkan generasi anak-anak bangsa yang berkarakter kuat.” Pendidikan semestinya mampu mencetak generasi unggul yang berkarakter kuat, karena manusia sesungguhnya dapat dididik, dan manusia pada dasarnya adalah animal seducandum, yaitu “binatang” yang harus dan dapat dididik.

Mengingat pentingnya pendidikan karakter bagi generasi ini, maka merupakan keniscayaan bagi guru berusaha mewujudkan dirinya menjadi guru berkarakter. Karena sangat mustahil pendidikan karakter akan sukses bila gurunya adalah figur yang memiliki karakter rendah. Lalu, karakter yang bagaimana yang harus dimilki oleh seorang guru untuk bisa mendidik generasi berkarakter?

Pembahasan

Dalam mewujudkan pribadi-pribadi yang berkarakter diperlukan adanya pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara (Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa tahun 2011-2025). Menurut T. Ramli, sebagaimana yang dikutip oleh Zainal Aqib dan Sujak (2011:3-4), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Selaras dengan tujuan di atas, Doni Kusuma A (2007:5) menyatakan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik.

Kita sepakat bahwa guru merupakan pelaku pendidikan. Agar tujuan pendidikan bisa tercapai maka dibutuhkan guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas akan memiliki karakter yang baik, yang mana perilakunya dapat ditiru oleh peserta didik. Rektor UNJ, Djaali, menyatakan bahwa “untuk mewujudkan pendidikan karakter harus ada guru yang berjiwa pendidik. Pendidikan karakter itu bukan diajarkan tapi diberikan melalui contoh. Untuk menghadirkan pendidikan karakter di sekolah harus dihadirkan pula guru berkarakter bagus (Republika 20/07/2014), yang ketika mengajar mereka tidak hanya berusaha mewujudkan peserta didik yang pintar, pandai, atau pakar di salah satu atau beberapa bidang disiplin ilmu, melainkan yang jauh lebih penting dari itu mereka bisa menempatkan dirinya sebagai agent of change (agen perubah).

Dalam pelaksanaannya pendidikan karakter tidak perlu membutuhkan teori yang berlebihan tetapi yang lebih diutamakan adalah praktik di dalam kehidupan sehari-hari. Guru lebih dituntut untuk memberikan praktik dan contoh yang baik terhadap peserta didik. Dalam kegiatan belajar mengajar mereka tidak sekedar memberitahu, menjelaskan atau mendemonstrasikan, tapi juga mampu menginspirasi dan mampu memandang perubahan jauh ke depan, sehingga dapat merencanakan apa yang terbaik untuk anak didiknya. Berikutnya mampu menjadi motivator yang akan memotivasi peserta didiknya agar penuh semangat dan siap menghadapi serta menyongsong perubahan hari esok. Karena itulah seorang guru selain mempunyai kompetensi pedagogis sebagai basic mengajar, guru harus mempunyai beberapa kompetensi utama dalam melakukan proses pembelajaran pendidikan karakter.

Zaenal Muttaqin (http://tabloidlintaspena.blogspot.com/2012/07/pengaruh-karakter-guru-terhadap-masa.html) menyebutkan bahwa guru yang berkarakter adalah guru yang mempunyai prinsip hidup  dan perenungan dan kebebasan dalam berkreasi. Dengan prinsip yang  hidup yang dihasilkan dari pencarian dan perenungan, seorang guru mem­punyai kepercayaan diri dalam membimbing dan mendidik peserta didik sesuai dengan  per­kembangan dan kemampuannya. Dengan kebebasan berkreasi, guru diharapkan dapat mengem­bangkan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif, dan inovatif sehingga potensi siswa berkembang secara maksimal.

Guru bekarakter akan berusaha menciptkan iklim belajar yang efektif dan menyenangkan, dengan kreativitas metode pem­belajaran, untuk mengurangi ke­jenuhan dan menyesuaikan dengan konteks pembelajaran sehingga tumbuh kegairahan dan motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Dengan karakter positif yang ditunjukkan guru, diharap­kan pelanggaran disipilin ber­kurang; siswa berperilaku wajar, percaya diri, dan tidak sombong; dan persaingan sehat antarsiswa, kelas, dan guru tumbuh di lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan. Itulah pentingnya guru berkarakter bagi pem­bentukan karakter generasi muda.

Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didiknya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar mereka memiliki gaya tersendiri. Dari hasil observasi yang telah dilakukan, ditemukana tiga tipe kategori dari gaya guru sebagai pendidik yaitu; gaya otoriter, gaya masa bodoh dan gaya demokrasi.

Pertama, kita pasti pernah berhadapan dengan guru dengan gaya atau karakter otoriter ini, dimana  memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didiknya selama pelaksanaan PBM (proses belajar mengajar) dan karakter otoriter ini juga dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyuman manis dan kata-kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter ini. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter tersebut.

Kedua, guru dengan karakter masa bodoh. Karakter seperti ini cenderung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila anak didik di kelas cukup banyak. Peranan guru yang berkarakter “masa bodoh” ini bisa agak bagus apabila ia mengelola kelas dengan anak didik sedikit. Guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi karakter masa bodoh tersebut.

Ketiga, Guru yang berkarakter demokratis adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokratis dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu menenangkan hati anak didik atau memotivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yang baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.

Karakteristik guru yang efektif dalam pengajaran akan tampak dalam situasi belajar yang diciptakannnya. Situasi belajar tersebut ditunjukkan dalam hal-hal berikut:

  1. Keluwesan dalam mengajar
  2. Adanya empati dan kepekaan terhadap segala kebutuhan siswa
  3. Kemampuan mengajar sesuai dengan selera siswa
  4. Kemauan memberi peneguhan (reinforcement)
  5. Kemauan memberi kemudahan, kehangatan dan cara mengajar yang tidak kaku.
  6. Kemampuan menyesuaikan emosi, percaya diri dan ada keriangan dalam mengajar.

Dalam suatu haditsnya Rasulullah bersabda “Ajarkanlah ilmu, berikan kemudahan dan jangan mempersulit, sampaikan kabar gembira dan jangan membuat orang lain lari. Jika salah seorang diantara kalian marah, hendaklah ia diam”. Berikut ini merupakan cara-cara mendidik anak menurut Rasulullah yang merupakan dasar-dasar metode yang harus dipegang oleh orang tua dan para pendidik (http://tabloidlintaspena.blogspot.com/2012/07/pengaruh-karakter-guru), yaitu:

  1. Keteladanan yang baik
  2. Waktu yang baik untuk memberikan bimbingan
  3. Bersikap adil dan sama terhadap setiap anak
  4. Memenuhi hak-hak anak
  5. Mendoakan anak
  6. Membelikan alat permainan untuk anak
  7. Membantu anak untuk berbuat baik dan patuh
  8. Menjauhi banyak mencela

Selanjutnya menurut M. Ngalim Purwanto (2000:143-148) untuk menjadi seorang guru yang baik ada beberapa karakter yang tidk bisa tidak harus dimiliki yaitu:

1. Adil

Seorang guru harus adil dalam memperlakukan anak-anak didik harus dengan cara yang sama, misalnya dalam hal memberi nilai dan menghukum anak. Jangan mentang-mentang ada anak titipan si A dan si B lalu memberlakukan eksekusi ekslusif.

2. Percaya dan suka terhadap murid-muridnya

Seorang guru harus percaya terhadap anak didiknya. Ini berarti bahwa guru harus mengakui bahwa anak-anak adalah makhluk yang mempunyai kemauan, mempunyai kata hati sebagai daya jiwa untuk menyesali perbuatannya yang buruk dan menimbulkan kemauan untuk mencegah hal yang buruk.

3. Sabar dan rela berkorban

Kesabaran merupakan syarat yang sangat diperlukan apalagi pekerjaan guru sebagai pendidik. Sifat sabar perlu dimiliki guru baik dalam melakukan tugas mendidik maupun dalam menanti jerih payahnya.

4. MemilikiWibawa (gezag) terhadap anak-anak

Gezag adalah kewibawaan. Tanpa adanya gezag pada pendidik tidak mungkin pendidikan itu masuk ke dalam sanubari anak-anak. Tanpa kewibawaan, murid-murid hanya akan menuruti kehendak dan perintah gurunya karena takut atau paksaan; jadi bukan karena keinsyafan atau karena kesadaran dalam dirinya.

5. Penggembira.

Seorang guru hendaklah memiliki sifat tertawa dan suka memberi kesempatan tertawa bagi murid-muridnya. Sifat ini banyak gunanya bagi seorang guru, antara lain akan tetap memikat perhatian anak-anak pada waktu mengajar, anak-anak tidak lekas bosan atau lelah. Sifat humor yang pada tempatnya merupakan pertolongan untuk memberi gambaran yang betul dari beberapa pelajaran. Yang penting lagi adalah humor dapat mendekatkan guru dengan muridnya, seolah-olah tidak ada perbedaan umur, kekuasaan dan perseorangan. Dilihat dari sudut psikologi, setiap orang atau manusia mempunyai 2 naluri (insting) : (1) naluri untuk berkelompok, (2) naluri suka bermain-main bersama. Kedua naluri itu dapat kita gunakan secara bijaksana dalam tiap-tiap mata pelajaran, hasilnya akan baik dan berlipat ganda.

6. Bersikap baik terhadap guru-guru lain

Suasana baik diantara guru-guru nyata dari pergaulan ramah-tamah mereka di dalam dan di luar sekolah, mereka saling menolong dan kunjung mengunjungi dalam keadaan suka dan duka. Mereka merupakan keluarga besar, keluarga sekolah. Terhadap anak-anak, guru harus menjaga nama baik dan kehormatan teman sejawatnya. Bertindaklah bijaksana jika ada anak-anak atau kelas yang mengajukan kekurangan atau keburukan seorang guru kepada guru lain.

7. Bersikap baik terhadap masyarakat.

Tugas dan kewajiban guru tidak hanya terbatas pada sekolah saja tetapi juga dalam masyarakat. Sekolah hendaknya menjadi cermin bagi masyarakat sekitarnya, dirasai oleh masyarakat bahwa sekolah itu adalah kepunyaannya dan memenuhi kebutuhan mereka. Sekolah akan asing bagi rakyat jika guru-gurunya memencilkan diri seperti siput dalam rumahnya, tidak suka bergaul atau mengunjungi orang tua murid-murid, memasuki perkumpulan-perkumpulan atau turut membantu kegiatan masyarakat yang penting dalam lingkungannya.

8. Benar-benar menguasai mata pelajarannya

Guru harus selalu menambah pengetahuannya. Mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar. Guru yang pekerjaannya memberi pengetahuan-pengetahuan dan kecakapan-kecakapan kepada muridnya tidak mungkin akan berhasil baik jika guru itu sendiri tidak selalu berusaha menambah pengetahuannya. Jadi sambil mengajar sebenarnya guru itu belajar.

9. Suka pada mata pelajaran yang diberikannya

Mengajarkan mata pelajaran yang disukainya hasilkan akan lebih baik dan mendatangkan kegembiraan baginya daripada sebaliknya. Di sekolah menengah hal ini penting bagi guru untuk memilih mata pelajaran apa yang disukainya yang akan diajarkannya.

10.Berpengetahuan luas

Selain mempunyai pengetahuan yang dalam tentang mata pelajaran yang sudah menjadi tugasnya akan lebih baik lagi jika guru itu mengetahui pula tentang segala tugas yang penting-penting, yang ada hubungannya dengan tugasnya di dalam masyarakat. Guru merupakan tempat bertanya tentang segala sesuatu bagi masyarakat. Guru itu mempunyai dua fungsi isitimewa yang membedakannya dari pegawai-pegawai dan pekerja-pekerja lainnya di dalam masyarakat. Fungsi yang pertama adalah mengadakan jembatan antara sekolah dan dunia ini. Fungsi yang kedua yaitu mengadakan hubungan antara masa muda dan masa dewasa.

Sementara itu ciri-ciri guru yang baik menurut M.Rosidin Nawawi (dalam http://arrosidin.blogspot.com/2010/03/karakteristik-guru-yang-baik.html)  antara lain sebagai berikut :

  1. Ikhlas dalam Mengemban Tugas sebagai Pengajar.Seorang guru harus mempunyai falsafah hidup bahwa tugasnya tersebut merupakan bagian dari ibadah. Tentu saja suatu ibadah tidak akan diterima Allah bila tidak disertai dengan keikhlasan. Amat jauh perbedaan antara seorang guru yang ikhlas dan saleh dengan seorang guru yang munafik. Seorang pelajar biasanya dapat berprestasi karena keikhlasan dan kesalehan gurunya. Hal itu telah dijamin oleh Allah dalam firman-Nya berikut: “Hendaklah kalian menjadi orang-orang yang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah), karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya,” (QS Ali Imran:79)
  2. Memegang Amanat dalam Menyampaikan Ilmu. Bagi seorang guru, ilmu merupakan amanat dari Allah yang harus disampaikan kepada anak didiknya dengan tanpa ada yang dikurangi. Ia juga harus menyampaikannya sebaik dan sesempurna mungkin. Jika ada seorang guru menahan atau menyembunyikan ilmu yang dimilikinya, maka ia berarti telah berkhianat pada amanat yang telah diberikan Allah kepadanya. Secara umum Allah telah memerintahkan untuk menyampaikan amanat (kepada yang berhak), termasuk amanat ilmu. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil (QS An-Nisa  58).
  3. Memiliki Kompetensi dalam Ilmunya. Sudah menjadi keharusan bagi seorang pengemban tugas sebagai pengajar untuk memilki penguasaan yang cukup atas ilmu yang akan ia ajarkan. Ia juga dapat menggunakan sarana-sarana pendukung dalam menyampaikan ilmu. Allah memerintahkan setiap orang untuk menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan yang diinginkan-Nya. Karakter ini berlandaskan sabda Rasulullah Saw. berikut: “Sesungguhnya Allah menyukai seorang di antara kalian yang bila bekerja ia menyelesaikan pekerjaannya (dengan baik),” (HR Al-Baihaqi). Disebutkan abad 21 merupakan abad global. Masa ini ditandai dengan kehidupan masyarakat yang berubah cepat karena dunia semakin menyatu. Maka pada era ini profesionalisme mutlak dibutuhkan, apalagi pada dunia global lebih diutamakan pada penguasaan kemampuan dan ketrampilan serta penuh dengan persaingan. Globalisasi mengubah hakikat kerja dari amatirisme menuju kepada profesionalisme.
  4. Menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya. Seorang pelajar pasti selalu melihat gurunya. Baginya, seorang guru adalah contoh berakhlak dan bertingkah laku, seperti halnya ia mengambil ilmu darinya. Oleh karena itu, seorang guru berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian seorang murid. Rasulullah sendiri dapat mempengaruhi khalayak ramai saat itu hanya dengan keteladanan beliau yang baik. Tidak heran bila waktu itu banyak orang Arab yang masuk Islam secara beramai-ramai. Tentang pentingnya keteladanan ini, Al-Quran menjelaskan dalam firman Allah Swt. berikut: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, hari akhir (kiamat), dan dia banyak menyebut Allah,” (QS Al-Ahzab :21). Secara teoretis menjadi teladan merupakan bagian integral dari seorang guru sehingga menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan, memang setiap profesi mempunyai tuntutan-tuntutan khusus dan karenanya bila menolak berarti menolak profesi itu. Berikut ini beberapa hal berkaitan dengan sikap dalam kehidupan seharai-hari yang harus diperhatikan bagi seorang guru: sikap, gaya bicara, kebiasaan bekerja, pakaian, hubungan kemanusiaan, serta gaya hidup secara umum. Dengan memerhatikan beberapa hal tersebut diharapkan seorang guru benar-benar layak menjadi teladan, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan guru harus mencerminkan seorang pendidik, salah satu ungkapan yang selalu melekat pada seorang guru adalah guru bisa digugu dan ditiru. Digugu maksudnya pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru.
  5. Mengetahui Taraf Perkembangan anak. Dengan mengetahui taraf perkembangan anak seorang guru dapat memberikan bimbingan kepada anak didik nya dengan tepat sesuai dengan usianya. Dalam hal ini seorang guru harus mengetahui psikologi perkembangan peserta didik yaitu fase-fase perkembangan berdasarkan pada usianya meliputi perkembangan kognitif, emosional dan sebagainya.
  6. Mencintai muridnya. Sebagaimana pertanyaan yang disampaian oleh badan PBB dibidang pendidikan UNESCO mengenai guru yang baik. Maka ada salah satu pernyataan mengenai hal tersebut yang disampaikan oleh Le Nhu Anh. Dia adalah seorang murid dari Vietnam menyatakan bahwa sungguh menyenangkan jika engkau wahai guru menyanyi dan bermain bersama kami memperlakukan kami sama dan mengerti perasaan, aspirasi dan suasana hati kami. Dalam nada yang sama Fatoumata menulis guru yang baik akan memperlakukan siswanya seperti anaknya sendiri. Berdasarkan pernyataan tersebut menjadi keharusan bagi seorang guru adalah sayang pada anak didiknya, karena dengan sikap tersebut akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan murid, tidak hanya di lingkungan kelas tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.
  7. Berbuat yang terbaik. Guru yang baik akan selalu berupaya berbuat yang terbaik untuk siswanya, berbuat terbaik untuk orang disekitarnya. Guru yang baik akan selalu mengembangkan dirinya dan mensejajarkan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk melakukan hal tersebut guru harus aktif tidak saja mengajar, tetapi juga aktif di setiap kegiata-kegiatan yang berbau pendidikan. Apalagi sekarang ini kalau guru tidak aktif menambah ilmu pengetahuan, wawasan, dan ketrampilannya maka ia akan ketinggalan. Pendeknya citra sebagai guru akan berkurang.

 

PENUTUP

Pendidikan karakter itu penting, dan yang lebih penting lagi adalah guru yang berkarakter. Karena dari guru yang berkarakterlah pendidikan karakter akan terlaksana dan tujuan pendidikan bisa tercapai. Guru yang berkarakter adalah guru yang mempunyai prinsip hidup dan perenungan dan kebebasan dalam berkreasi, sehingga dengan prinsip itu guru memiliki kepercayaan diri dalam membimbing dan mendidik peserta didik sesuai dengan perkembangan dan kemampuannya, serta dapat mengem­bangkan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif, dan inovatif sehingga potensi siswa berkembang secara maksimal.

Demikian pula guru bekarakter akan berusaha menciptakan iklim belajar yang efektif dan menyenangkan, dengan kreativitas metode pem­belajaran, untuk mengurangi ke­jenuhan dan menyesuaikan dengan konteks pembelajaran sehingga tumbuh kegairahan dan motivasi instrinsik dan ekstrinsik.

Dengan karakter positif yang ditunjukkan guru, diharap­kan akan terlahir generasi penerus yang berkarakter dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin rumit.

 

DAFTAR PUSTAKA

A, Doni Kusuma. 2007. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo.

Aqib, Zainal dan Sujak. 2011. Panduan dan Aplikasi Pendidikan Karakter (Cet. I). Bandung: Yrama Widya

http://tabloidlintaspena.blogspot.com/2012/07/pengaruh-karakter-guru-terhadap-masa.html

http://www.reformed-crs.org/ind/articles/karakter_bangsa_dulu_dan_kini.html

Jalal, Fasli dan Dedi Supriadi. 2001. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Adicita Karya Nusa.

Ngalim Purwanto, M. 2007. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya

Republika 20/07/2014

Rosidin Nawawi, M. (http://arrosidin.blogspot.com/2010/03/karakteristik-guru-yang-baik.html)

Supriadi, Dedi. 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.