MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

0
49

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MELALUI PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

 

Elsy Zuriyani

Abstrak

Di Indonesia, pendidikan terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan ditingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan uundang-undang sistem pendidikan nasional, mengesahkan UU kesejahteraan guru dan dosen serta mengadakan perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Namun dalam kenyataannya, terobosan pemerintah tersebut belum sepenuhnya berhasil, bahkan cendrung terkesan hanya teori saja. Jika dianalisis, usaha tersebut ternyata belum menekankan pada penyelenggaran dan pelaksanaannya. Hal ini terlihat dari kurangnya motivasi belajar siswa yang disebabkan oleh pembelajaran yang disajikan selama ini cendrung tekstual. Oleh karena itu perlu strategi baru dengan memanfaatan lingkungan sekolah dalam proses pembelajaran. Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan merupakan sebuah konsep pembelajaran yang mengidentikkan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar. Terkait dengan hal tersebut, lingkungan digunakan sebagai sumber inspirasi dan motivator dalam meningkatkan pemahaman peserta didik. Dalam hal ini, lingkungan merupakan faktor pendorong yang menjadi penentu dalam meningkatkan pemahamana peserta didik dalam setiap pembelajaran.

 

Key Word :Motivasi, Belajar, Lingkungan, Sumber Belajar

 

A. PENDAHULUAN

Pendidikan sebagai salah satu aspek dalam meningkatkan sumber daya manusia terus diperbaiki dan direnovasi dari segala aspek. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap tempat yang memiliki sejumlah populasi manusia pasti membutuhkan pendidikan. Perkembangan zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. Sehingga di mana pun dia berada dapat digunakan (siap pakai) setiap saat. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran pendidkan dalam pembentukan tingkah laku individu. Di Indonesia, pendidik terus diperhatikan dan ditingkatkan dengan berbagai cara diantaranya mengeluarkan undang-undang system pendidkan nasional, mengesahkan UU kesejahteraan guru dan dosen serta mengadakan zaman.

Namun dalam kenyataannya, terobosan pemerintah tersebut belum sepenuhnya berhasil, bahkan cendrung terkesan hanya teori saja. Padahal kalau ditelaah, usaha yang dilakukan oleh pemerintah lebih dari cukup karena tearah proses dan mekanismenya. Munculnya suatu masalah dalam sebuah aturan yang tersusun rapi, mungkin tidak dapat dihindari walaupun hanya sekecil bakteri. Jika dianalisis, usaha tersebut ternyata belum menekankan pada enyelenggaran dan pelaksanaannya. Hal ini terlihat dari sebagian besar peserta didik di dalam proses pembelajaran belum memiliki motivasi belajar yang optimal. Kurangnya motivasi belajar pada diri siswa sebagai peserta didik disebabkan oleh pembelajaran yang disajikan selama ini cenderung tekstual saja (Winataputra 1997;55).

Selain itu, system pembelajaran seperti ini agaknya terkontaminasi oleh system lama yang lebih menekankan pada tingkat hafalan tinggi. Dengan demikian, siswa tidak memahami dasar kualitatif tentang fakta-fakta dalam materi serta tingkat pemahamana semakin berkurang sehingga pada kenyataannya timbul kebosanan pada siswa.

Melihat kondisi seperti ini, maka perlu diadakan strategi baru yang memanfaatkan lingkungan sekolah dalam proses pembelajaran, khususnya pada pelajaran. Dengan menggunakan pendekataan ini, pembelajaran lebih menyenangkan dan terkesan melekat pada siswa disbanding guru hanya bertindak sebagai penceramah. Pendekatan ini pun makin memperkuat motivasi belajar siswa pada pembelajaran, khususnya pembelajaran Sains karena mereka dihadapkan langsung dengan situasi yang koonkret bahkan menjadi cambuk tersendiri untuk mengamati, mengidentifikasi, bereksperimen, dan membuat hipotesis.

Oleh karena itu, penggunaan pendekatan lingkungan merupakan suatu terobosan baru untuk menghilangkan verbalisme dalam diri siswa serta mampu mengaplikasikan nilai-nilai Sains yang terwujud pada kecintaan terhadap lingkungan dan kesedian untuk menjaganya dari kerusakan. Disamping itu, siswa semakin termotivasi untuk belajar sambil menikmati keindahan dan keunikan alam sekitar.

Adapun kajian yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah hakikat lingkungan ?
  2. Bagaimana definisi belajar ?
  3. Apa hakikat dari pembelajaran ?
  4. Bagaimana upaya meningkatkan motivasi belajar peserta didik ?

B.Hakikat Lingkungan

Dikti (2007;358) mengemukakan bahwa anak-anak usia muda sangat baik diajak untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan kualitas lingkungan hidup. Kita semuannya menyadari kualitas lingkungan dari hari ke hari, dari generasi ke generasi, bukanya semakin membik tetapi malah sebaliknya. Lebih lanjut dikti (2007;359) menyadarkan masyarakat yang sudah terlanjur kurang memahami arti kualitas lingkungan untuk kelestarian umat manusia, sulit untuk dilakukan. Penanaman pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian kualitas lingkungan sangat baik apabila diterapkan melalui pendidikan pada anak usia dini.

Selanjutnya Suleman, dkk (2006;43) mendefinisikan bahwa lingkungan merupakan suatu keadaan di sekitar kita. Lingkungan secara umum terbagi atas dua jenis, yaitu lingkungan alam dan buatan.

Dengan demikian lingkungan merupakan salah satu potensi yang diciptakan oleh Allah SWT untuk digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan manusia dalam menjalani hidup di dunia yang perlu dijaga kelestariannya.

Selanjutnya mempelajari tentang seluk beluk serta pemanfaatan lingkungan ternyata siswa bukan hanya diajak untuk mempelajari konsep tentang lingkungan, tetapi lingkungan pun dapat menjadi salah satu sumber belajar. Hal ini senada dengan pernyataan dan penuturan dari Depdiknas (1990;9) yang mengemukakan bahwa belajar dengan menggunakan lingkungan memungkinkan siswa menemukan hubungan yang sangat bermakna antara ide-ide abstrak dan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata, konsep dipahami melalui proses penemuan, pemberdayaan dan hubungan, Winaputra (1997;5-49) mengatakan bahwa pemenfaatan lingkungan didasari oleh pendapat pembelajaran yang lebih bernilai, sebab para siswa diharapkan dengan peristiwa dan keadaan yang seharusnya Samatowa (2006;173) mengatakan pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas (out door education) dengan memanfaatkan lingkungan sebagai laboratorium alam. Selain itu, pula Iskandar (1997;78) menyatakan bangkitnya motivasi belajar instriksik siswa sangat dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik, yaitu behavior (lingkungan).

Berdasarkan definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan merupakan sumber belajar yang paling efektif dan efisien serta tidak membutuhkan biaya yang besar dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

C. Pandangan tentang Belajar

          Pendidkan pada hakikatnya adalah suatu proses pendewasaan anak didik melalui suatu interaksi, proses dua arah antara guru dan siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Macmud (1989;15) yang mengatakan bahwa “proses pendidikan dilakukan oleh pendidik dengan sadar dan sengaja, dan penuh tanggung jawab untuk membawa anak didik menjadi dewasa jasmaniah dan rohaniah maupun dewasa sosial sehingga kelak menjadi orang yang mampu melakukan tugas-tugas jasmaniah maupun berpikir, berpikir, bersikap, berkemauan secara dewasa, dan dapat hidup wajar selamanya serta  berani bertanggung jawab atas sikap dan perbuatannya kepada orang lain.

          Dari pendapat tersebut maka guru dan siswa merupakan inti dalam proses pendidikan, sedangkan tujuan, alat, dan lingkungan lebih bersifat pengarah, penunjang, dan prasarana. Interaksi guru dan siswa disebut proses belajar mengajar. Belajar biasanya dikhususkan pada siswa sedang mengajar ditunjukkan pada guru. Guru dan siswa disebut proses belajar mengajar.

          Belajar sebagai proses memungkinkan seseorang untuk mengubah perilakunya, beberapa ahli pendidikan mengemukakan tentang batas mengajar antara lain menurut Suryabrata (1991;45) bahwa:

          “Belajar adalah suatu proses yang menghasilkan suatu proses yang menghasilkan perubahan perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan dan pengalaman baru kearah yang lebih baik.”

          Dalam pelaksanaan proses belajar di kelas, guru selain sebagai pendidik, pembimbing, dan pengarah serta narasumber pengetahuan juga sebagai motivator yang bertanggung jawab atas keseluruhan perkembangan kepribadian siswa. Dengan kata lain, guru sebagai pendidikan selain harus mampu menciptakan suatu proses pembelajaran yang kondusif dan bermakna sesuai metode pembelajaran yang digunakan juga harus mampu meningkatkan perhatian dan minat serta motivasi belajar siswa mengikuti pelajaran dan membantu siswa dalam menggunakan berbagai kesempatan belajar, sumber, dan media. Belajar dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

          Belajar secara tradisional diartikan sebagai upaya menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengertian belajar yang lebih modern diungkapkan Morgan, dkk (1999;15) sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman.

          Menurut Nasution (1992;3) bahwa belajar adalah aktivitas yang mmenghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, baik aktual maupun potensial. Perubahan itu pada dasarnya didapatkannya berupa kemungkinan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama. Selanjutnya, belajar menurut Herggenhahn, 1993 (Samatowa 2006; 174) adalah perubahan perilaku yang relative permanen sebagai hasil dari proses pembelajaran. Di sisi lain, Bandura (Gunarsa, 1990;184)memandang bahwa belajar merupakan proses sosialisasi dengan memperhatikan orang lain melakukan sesuatu pekerjaan. Slameto (1991;2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan dalam diri seseorang pada tingkah laku sebagai akibat/hasil interaksi dengan lingkungannya dalam kebutuhan.

          Berdasarkan pendapat di atas, konsep belajar dapat diidentifikasikan beberapa unsure penting yang termuat dalam definisi belajar, yaitu sebagai berikut:

  1. Belajar pada dasarnya merupakan suatu proses mental dan emosional yang terjadi secara sadar
  2. Belajar adalah mengalami, dalam hal ini terjadi interaksi antara indivdu dengan lingkungannya bik lingkungan fisik/psikis maupun lingkungan sosial.

          Mengacu pada beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses kegiatan belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa dalam pencapain tujuan/indicator yang telah ditentukan.

D. Hakikat Pembelajaran

          Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (dituruti) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajar sehingga anak didik mau belajar.

          Selain hal tersebut, istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanppa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain, sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas. Dufffy dan Roehler (1989) mengatakan apa yang dilakukan guru agar proses belajar mengajar berjalan lancer, bermoral, dan membuat siswa merasa nyaman merupakan bagian dari aktivitas mengajar, juga secara khusus mencoba dan berusaha untuk mengimplementasikan kurikulum dalam kelas. Sementara itu, pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Jadi, pembelajaran adalah suatu aktivitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan yaitu tercapainya tujuan kurikulum. Dalam buku pedoman melaksanakan kurikulum SD, SLTP, dan SMU (1994) istilah belajar diartikan sebagai suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku, setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar. Sumber belajar tersebut dapat berupa buku, lingkungan, guru dan lain-lain. Selama ini Gredler (1986) menegaskan bahwa proses perubahan sikap dan tingkah laku itu pada dasarnya berlangsung pada suatu lingkungan buatan (eksperiment) dan sangat sedikit sekali bergantung pada situasi alami (kenyataan). Oleh karena itu, lingkungan belajar yang mendukung dapat diciptakan, agar proses belajar ini dapat berlangsung optimal.

Dikatakan pula bahwa proses menciptakan lingkungan belajarsedemikian rupa disebut dengan pembelajaran. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh suatu pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya mudah diamati. Mengajar diartikan dengan suatu keadaan untuk menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Situasi ini tidak harus berupa transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa saja, tetapi dapat dengan cara lain, misalnya belajar melalui media pembelajaran yang sudah disiapkan. Gagne dan Briggs (1979;3) mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu system yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sepintas pengertian mengajar hamper sama dengan pembelajaran, namun pada dasarnya berbeda. Dalam pembelajaran kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh perancang atau guru. Sementara itu dalam keseharian di sekolah-sekolah istilah pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar di mana di dalamnya ada interaksi guru dan siswa dan antara sesame sisqa untuk mencapai suatu tujuan, yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku siswa. Apa yang dipahami guru ini sesuai dengan pengertian yang diuraikan dalam buku pedoman kurikulum (1994;3).

Sistem pendidikan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari system masyarakat yang memberinya masukan maupun menerima keluaran tersebut. Pembelajaran mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik menjadi siswa yang terdidik. Fungsi sistem pembelajaran ada tiga, yaitu fungsi belajar, fungsi pembelajaran, dan fungsi penilaian. Fungsi belajar dilakukan oleh komponen siswa, fungsi pembelajaran dan penilaian (yang terbagi dalam pengelolaan belajar dan sumber-sumber belajar) dilakukan oleh sesuatu di luar diri siswa (Arief S, 1984;10). Sebenarnya belajar dapat saja terjadi tanpa pembelajaran, namun hasil belajar akan tampak jelas dari suatu pembelajaran. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan berlangsungnya proses belajar dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila dirinya terjadi perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dan sebagainya. Dalam pembelajaran hasil belajar dapat dilihat langsung. Oleh karena itu, agar kemmapuan siswa dapat dikontrol dan berkembang semaksimal mungkin dalam proses belajar di kelas maka program pembelajaran tersebut harus dirancang terlebih dahulu oleh para guru dengan memperhatikan berbagai prinsip-prinsip pembelajaran yang telah diuji keunggulannya.

E. Upaya untuk Meningkatkan Motivasi Siswa Melalui Lingkungan

          Depdiknas (1990;9) mengemukakan bahwa belajar dengan menggunakan lingkungan memungkinkan siswa menemukan hubungan yang sangat bermakna antara ide-ide abstrak dan penerapan praktis di dalam konteks dunia nyata, konsep dipahami melalui proses penemuan, pemberdayaan, dan hubungan. Winaputra (1997;5-47) mengatakan bahwa pemanfaatan lingkungan didasari oleh pendapat pembelajaran yang lebih bernilai, sebab para siswa diharapkan dengan peristiwa dan keadaan yang seharusnya. Samatowa (2006;173) mengatakan bahwa pembelajaran sains dapat dilakukan di luar kelas (out door education) dengan memanfaatkan lingkungan sebagai laboratorium alam. Di samping itu, Iskandar (1997;78)menyatakan bangkitnya motivasi belajar instrinsik siswa sangat dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik, yaitu behavior (lingkungan).

          Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendekatan lingkungan merupakan strategi dan konsep pembelajaran yang cocok dan pas pada setiap proses pembelajaran.

F. Kelebihan Konsep Pembelajaran dengan Menggunakan Lingkungan

          Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan merupakan sebuah konsep pembelajaran yang mengiidentikkan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar. Terkait dengan hal tersebut, lingkungan digunakan sebagai sumber inspirasi dan motivator dalam meningkatkan pemahaman peserta didik. Dalam hal ini, lingkungan merupakan faktor pendorong yang menjadi penentu dalam meningkatkan pemahamana peserta didik dalam setiap pembelajaran.

          Secara garis besar, konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan memiliki beberapa kelebihan, antara lain sebagai berikut:

  1. Peserta didik dibawa langsung ke dalam dunia yang konkret tentang penanaman konsep pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya bisa untuk mengkhayalkan materi;
  2. Lingkungan dapat digunakan setiap saat, kapan pun dan di mana pun sehingga tersedia setiap saat, tetapi tergantung dari jenis materi yang sedang diajarkan;
  3. Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan tidak membutuhkan biaya karena semua telah disediakan oleh alam lingkungan;
  4. Mudah untuk dicerna oleh peserta didik karena peserta didik disajikan materi yang bersifat konkret bukan abstrak;
  5. Motivasi belajar peserta didk akan lebih bertambah karena peserta didik mengalami suasana belajar yang berbeda dari biasanya;
  6. Suasana yang nyaman memungkinkan peserta didik tidak mengalami kejenuhan ketika menerima materi:
  7. Memudahkan untuk mengontrol kebiasaan buruk dari sebagian peserta didik;
  8. Membuka peluang kepada peserta didik untuk berimajinasi;
  9. Konsep pembelajaran yang dilaksanakan tidak akan terkesan monoton;
  10. Peserta didik akan lebih leluasa dalam berpikir dan cendrung untuk memikirkan materi yang diajarkan telah tersaji di depan mata (konkret)

Dari beberapa kelebihan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan memberikan peluang yang sangat besar kepada peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya, dan secara umum konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

G. Kelemahan Konsep Pembelajaran dengan Menggunakan Lingkungan

Dalam aplikasinya, konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan memiliki beberapa kelemahan antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Lebih cendrung digunakan pada mata pelajaran IPA atau Sains dan sejenisnya;
  2. Perbedaan kondisi lingkungan di setiap daerah (dataran rendah dan dataran tinggi)
  3. Adanya pergantian musim yang menyebabkan perubahan kondisi lingkungan setiap saat
  4. Timbulnya bencana alam

H. Kesimpulan

Berdasarkan uraian materi pada pembahasan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Lingkungan merupakan sumber belajar yang paling efektif dan efisien serta tidak membutuhkan biaya yang besar dalam meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar.
  2. Pembelajaran adalah proses kegiatan belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa dalam pencapaian tujuan/indicator yang telah ditentukan.
  3. Pendekatan lingkungan merupakan strategi dan konsep pembelajaran yang cocok dan pas pada setiap proses pembelajaran
  4. Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan memberikan peluang yang sangat besar kepada peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya, dan secara umum konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan dapat meningkatkan motivasi belajar dari peserta didik.
  5. Adapun kelemahan dari konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan adalah perubahan kondisi lingkungan yang disebabkan oleh berbagai faktr sehingga mengganggu proses pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Depdiknas. 1990. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikndasmen

Iskandar, Sindi M dan Hidayat, Eeddy M. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Depdikbid Dikti: Loan 1997. Jakarta Hilton Convention Center

Samatowa, Usman. 2006. Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Pustaka Indonesia Press

Uno, Hamzah dan Mohamad Nurdin. 2014. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara

Winataputra, Udin. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.