MENGGANDAKAN HARTA DALAM BINGKAI ISLAM

0
26

MENGGANDAKAN HARTA DALAM BINGKAI ISLAM

Oleh

Muhammad Abduh

 

Belakangan ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan terbongkarnya praktek penipuan modus penggadaan uang yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Tak tanggung-tanggung korbanya berjumlah puluhan ribu orang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, mulai dari yang berlatar pendidikan rendah hingga pendidikan tinggi.

Modus penggandaan uang serupa sebenarnya juga sudah banyak terjadi di lingkungan masyarakat namun dalam skala yang kecil dan bersifat lokal. Seperti  penipuan dukun pengganda uang bernama Wahyudi di Temanggung, Sutawi di Pati, Muhyaro dan Priyo widodo, di Magelang, dan masih banyak lagi pelaku penipuan dengan modus penggandaan uang yang belum terungkap.

Demikian pula kasus penipuan penggandaan uang (baca: mencari keuntungan berlipat) dengan modus investasi juga banyak terjadi. Misalnya kasus investasi ala Koperasi Langit Biru, PT. Gradasi Anak Negeri, PT. Dream For Freedom, dan perusahaan-perusahaan lain yang menelan ribuan korban. Bahkan lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mensinyalir ada ratusan perusahaan menjalankan investasi bodong. Kebanyakan diantara perusahaan tersebut melakukan aksinya dengan modus MLM, investasi valas, investasi emas, sampai perkebunan dan peternakan.

Tumbuh suburnya penipuan penggandaan uang dengan modus yang beragam di masyarakat  sebenarnya disebabkan oleh masyarakat itu sendiri. Ibarat hukum ekonomi harga ditentukan oleh permintaan.  Tingginya keinginan masyarakat untuk mendapat kekayaan dengan cara yang cepat dan mudah menjadi media yang ditenggarai tumbuh suburnya penipuan.

Keinginan untuk menjadi kaya dengan cara yang instan menjadikan masyarakat kehilangan nalar sehatnya. Sehingga seseorang dengan mudah percaya atas tawaran yang diberikan meskipun tawaran tersebut terkadang tidak masuk akal. Masyarakat tidak mau melakukan penelusuran informasi terlebih dahulu sebelum memutuskan menerima tawaran untuk memperoleh pundi-pundi kekayaan dengan cara instan tersebut. Kasus penggandaan uang ala Taat Pribadi atau investasi yang menjanjikan profit tinggi melebihi bunga bank misalnya tentu merupakan hal yang tidak diterima oleh akal sehat.

Namun apa mau dikata jika hati sudah dipenuhi oleh kecintaan yang berlebihan terhadap harta menjadikan orang tidak peduli dengan cara yang ditempuhnya mulai dari cara yang halal maupun yang haram, dari cara yang logis hingga cara yang tidak masuk akal.

Banyaknya korban penipuan dengan modus penggandaan uang yang dilakukan oleh Taat Pribadi tentu membuat kita prihatin. Apalagi penipuan tersebut dibalut dengan ritual keagamaan. Lalu bagaimanakah pandangan Islam tentang melipatgandakan harta. Akan coba diuarai dalam artikel singkat ini.

Naluri kecintaan pada harta

Al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia memang selalu dihiasi dengan syahwat kecintaan pada harta sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 14 :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imron : 14)

Cinta kepada harta yang banyak adalah suatu sifat alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia. Karenanya semua orang ingin memiliki harta yang banyak. Seperti  kisah kaum Qarun yang berandai-andai jika mereka juga diberikan harta seperti Qarun (QS. Al-Qashas : 79). Bahkan Rasulullah saw menggambarkan besarnya keinginan manusia terhadap harta diilustrasikan jika ia sudah mendapat sebuah gunung emas maka ia akan menginginkan gunung emas yang lain. Begitulah besarnya keinginan manusia dalam mendapatkan harta.

Memang secara kasat mata, memiliki kekayaan seolah menguasai kehidupan. Hal Ini dapat dilihat dari realitas kehidupan orang kaya yang bisa melakukan apa saja menurut yang diinginkannya. Travelling keliling dunia, memeiliki rumah mewah, mobil mahal, mengendalikan orang banyak, membeli hukum, dan sebagainya.

Karenanya tidak heran jika banyak orang berlomba-lomba mengejar kekayaan. Berbagai upaya pun dilakukan. Ada yang menempuh jalur yang alamiah namun ada pula yang menempuh segala cara tidak peduli halal atau haram, merugikan orang lain, dan lain sebagainya.

Tujuan hidupnya diarahkan untuk mencari kekayaan. Jika bekerja maka bekerja adalah untuk mencari  kekayaan. Jika bersekolah maka sekolahnya itu niatnya adalah untuk mencari kekayaan. Jika menjadi pemimpin maka kesempatan memimpin dijadikan lahan mencari kekayaan. Hal ini akan terus berjalan hingga masa menutup usia. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke dalam kubur (QS. At-Takatsur : 1-2). Disinilah batas dimana manusia berhenti mengejar dunia.

Melipatgandakan harta

Karena kecintaan kepada harta adalah sifat alamiah manusia, maka Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya raya. Namun demikian, Islam mengatur tata cara memperoleh kekayaan. Islam menekankan kepada umatnya untuk melakukan hal yang rasional yaitu dengan bekerja keras. Misalnya dengan berdagang, bertani, atau bekerja sebagai pegawai, dan lain sebagainya.

Berdagang, bertani, atau bekerja sebagai pegawai merupakan sarana mencari rezeki yang berlipat ganda. Guna mencapai keinginan untuk menjadi kaya raya ada baiknya dilakukan dengan cara yang jujur bukan menghalalkan segala cara. Beberapa amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim dalam mengiringi usaha yang dilakukannya seperti  :

Takwa dan tawakal

Seorang muslim dituntut bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Islam melarang umatnya berpangku tangan atau bermalas-malasan dalam mencari rezeki.  Meskipun demikian Islam mengajarkan agar setelah kerja keras tersebut hasilnya diserahkan kepada Allah dengan diiringan doa dan ketakwaan. Hal ini penting dilakukan karena Allah telah berfirman dalam al-Qur’an.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada di sangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”(QS. Ath-Thalaq : 2-3).

Takwa merupakan kunci pembuka rezeki. Logikanya sangat sederhana yaitu orang yang bertakawa adalah orang yang dekat dengan Allah. Maka suatu hal yang sangat mudah bagi Allah sebagai pemilik rezeki untuk memberikan kepada orang yang bertakwa yang dikehendaki-Nya.

Istighfar

Imam Al-Qurthubi menyebutkan sebuah cerita dari Ibnu Shabih, bahwasanya suatu hari ada seorang laki-laki mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang kegersangan atau kemarau panjang yang ia alami, maka Hasan Al-Bashri berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah”. Lalu datang lagi orang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka ia berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Kemudian datang lagi orang lain memohon kepadanya, “Do’akanlah aku kepada Allah, agar Ia memberiku anak!”, maka ia menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah!”. Hingga ketika datang lagi yang lain mengadu kepadanya tentang kekeringan yang melanda kebunnya, Hasan Al-Bashri tetap menjawab dengan jawaban yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Maka Ibnu Shabih bertanya kepadanya, “Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar?. Lalu Hasan Al-Bashri menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh :

“Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai”. (QS.Nuh : 10-12).

Ada sebuah pertanyaan, apa hubungan anugerah rizki dengan istighfar yang kita lakukan? Bagaimanakah logika dan hikmahnya? Jawabnya adalah Hadits Rasulullah SAW: “Sesungguhnya seorang hamba pasti akan terhalang dari rizki disebabkan oleh dosa yang telah ia perbuat” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Hakim).

Infaq di jalan Allah

Bagi sebagian mukmin, zakat, shodaqah, dan infaq masih menjadi amalan yang sangat berat dilakukan karena secara zhahir terlihat mengurangi kekayaan. Padahal justru zakat, shodaqah, dan infaq akan menambah harta. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti menanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, lalu pada setiap tangkai berbuah seratus biji ( Q.S Al-Baqarah : 261 ) Demikian jaminan Allah yang akan melipatgandakan rezeki hamba-Nya yang mau berinfaq di jalan-Nya. Dari satu menjadi tujuh ratus.

Silaturrahiim

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).

Dengan silaturahim maka akan terjalin komunikasi antar sesama sehingga membuka peluang terbukanya pintu-pintu rezeki sebagai dampak dari terbukanya informasi dan terbangunnya relasi.

Demikian Islam memberikan jalan sempurna bagi umatnya yang ingin memiliki kekayaan. Sebuah jalan yang mulia dan terhormat. Sebaliknya, Islam melarang dalam mencari kekayaan dengan cara yang kotor dan zhalim seperti mencuri, merampok, korupsi, praktek riba, melihara tuyul, pesugihan, demikian pula dengan cara menipu. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166).

Rezeki yang diperoleh dari cara yang tidak halal tentu tidak akan membawa keberkahan dan hanya mengundang malapetaka bagi pemiliknya. Kasus padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi yang cukup menghebohkan adalah bukti bahwa akhir dari sebuah penipuan adalah kesengsaraan baik di dunia lebih-lebih di akherat nanti. Wallahua’lam

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.