Menggali Potensi Anak

0
44

Menggali Potensi Anak

oleh:

Sri Sunarti, M.Pd

sribdk@gmail.com

 

Abstrak – Menggali potensi anak sangatlah penting dilakukan oleh para orang tua dan pendidik. Ini dilakukan agar anak dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki sejak lahir. Lingkungan sangat mempengaruhi tumbuh kembang potensi mereka, apabila baik maka baik pula hasilnya. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan orang tua ataupun pendidik dalam menggali potensi anak, agar anak dapat mengembangkan potensinya secara bebas dan bermakna.

 

 

Kata kunci: menggali, potensi, anak

 

 

Pendahuluan

Anak adalah calon lahirnya suatu generasi/penerus baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Anak merupakan asset bangsa, yang memiliki kepribadian. Semakin baik kepribadian anak maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa. Masa kanak-kanak merupakan masa keemasan dimana mereka bisa menyerap semua yang mereka lihat namun, setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Anak memiliki keunikan tersendiri yang tanpa disadari oleh orang tua mereka. Potensi dan bakat anak beragam baik dibidang akademis maupun social. Anak yang berada dalam rentang antara 0-7 tahun adalah anak-anak usia dini yang berada dalam tahap eksplorasi (Gardner, 2003). Masa usia dini adalah saat yang tepat untuk mengenali berbagai kecerdasan yang dimiliki seorang anak. Namun, orang tua terkadang lalai dan kurang memperdulikan potensi anak tersebut. Mereka bahkan memaksakan kehendak mereka dan mengorbankan apa yang mereka miliki. Oleh sebab itu, orang tua tidak boleh terlambat dalam mengenali dan menggali potensi anak sehingga mereka bisa lebih mengeksplorasi potensi dan bakat mereka. Orang tua berperan penting untuk membantu agar potensi anak dapat berkembang.

 

 

 

Pembahasan

  1. Pengertian Anak

Anak adalah individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi usia 0-1 tahun, usia bermain / oddler mulai dari 1-2,5 tahun, pra sekolah usia 2,5-5 tahun, usia sekolah 5-11 tahun hingga remaja usia 11-18 tahun. Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2007, anak merupakan seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Ada beberapa tahap perkembangan anak (Depdiknas, 2004), yaitu:

  1. Perkembangan kemampuan anak usia 0 sampai dengan 5 tahun

Pada tahap ini, anak dalam periode ‘pra-operasional’anak masih melihat sesuatu yang nyata dan belum mampu menyelesaikan persoalan melalui cara berfikir logic sistematik. Kemampuan mengolah informasi dari lingkungan belum cukup tinggi untuk dapat menghasilkan transformasi yang tepat.

  1. Perkembangan kemampuan anak usia 6 sampai dengan 12 tahun

Pada usia ini, anak dalam periode operasional konkrit yang dalam menyelesaikan masalah sudah mulai mampu berfikir secara setengah abstrak. Kemampuan mengolah informasi lingkungan sudah mulai berkembang sehingga hasilnya dapat sesuai dengan kenyataan.

  1. Perkembangan kemampuan anak usia 13 sampai dengan 15 tahun

Pada usia ini, anak memasuki tahap remaja, cara berpikir mulai meningkat ke taraf yang lebih tinggi, abstrak dan rumit. Cara berpikirnya sudah bersifat rasional, sistematik dan eksploratif. Kemampuan mengolah informasi dari lingkungan sudah semakin berkembang.

  1. Mengidentifikasi Potensi Anak

Potensi anak akan terlihat bila dikembangkan dan diasah oleh lingkungan sekitarnya. Namun sebaliknya bila tidak dikembangkan dan diasah maka potensi anak tidak akan terlihat. Hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa anak yang banyak distimulasi oleh lingkungannya terbukti lebih cerdas dibanding dengan yang sedikit stimulasinya. Ini disebabkan karena lingkungan (orangtua, guru, teman sebaya dan masyarakat sekitar) mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan potensi anak yang dimilikinya. Potensi anak dalam mengembangkan diri dapat dilakukan dengan mengaktualisasikan diri. Aktualisasi diri merupakan tingkatan kebutuhan yang sudah masuk pada level tinggi – level meta (Iman, 1984). Dalam dunia pendidikan, pendidik perlu menggali potensi anak sehingga mereka mengetahui perbedaan potensi anak yang berbeda-beda.

Untuk mengetahui potensi anak, perlu diketahui kecenderungan minat anak, dari kepribadiannya, seperti:

  1. Kemampuan Umum

Dalam kemampuan umum anak dapat diketahui dengan melakukan tes intelegensi. Wechsler mengungkapkan bahwa intelegensi adalah seluruh kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah, serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara afektif. Dengan hasil IQ, diketahui kecerdasan umum anak seperti kemampuan verbal, kelancaran kata, mengenal angka, keruangan, ingatan, persepsi, dan menalar. Dengan dilakukannya tes intelegensi umum, akan diperoleh gambaran umum tentang kecerdasan anak.

  1. Kreativitas

Kreativitas merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada. Kreativitas juga merupakan kemampuan data-data dan jawaban terhadap suatu masalah yang tepat. Munandar (1994) merumuskan bahwa kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitass dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Ada beberapa indicator tentang kreativitas anak, seperti memiliki rasa ingin tahu yang besar, mengajukan pertanyaan yang berbobot, memberikan gagasan dan usulan, pendapat secara spontan, menghargai keindahan, rasa imaginasi yang tinggi, bekerja sendiri dan mencoba hal-hal baru.

  1. Motivasi

Anak akan termotivasi bila orang tua dan pendidik memberikan semangat untuk mengembangkan potensi mereka. Karena motivasi itu tidak hanya berbentuk intrinsic tapi ekstrinsik juga. Dengan mengetahui kesulitan anak, kemampuan anak, member semangat agar tidak bosan, membantu anak dalam mencapai tujuannya dan membantu memecahkan masalah mereka maka anak akan mudah mengembangkan potensi mereka.

  1. Menggali Potensi Anak

Untuk menggali potensi anak, ada beberapa hal yang dapat diterapkan, yaitu:

  • Syukuri anak sebagai anugerah yang diamanahkan ke orang tua untuk menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada kedua orang tua serta meneruskan cita-cita.
  • Berikan kasih sayang yang akan membuat anak merasa aman dan nyaman. Orang tua sebisa mungkin menyediakan waktu luang untuk anak merasakan cinta dan kasih sayang dari orang tua mereka.
  • Pahami bahwa anak unik. Setiap anak mempunyai karakter dan potensi yang berbeda. Dengan keunikan tersebut, orang tua harus mampu memahami dan mengembangkan potensi mereka.
  • Bangkitkan minat dan motivasi belajar. Anak akan lebih semangat bila orang tua memberikan motivasi tinggi kepada anak sehingga mereka percaya diri dalam mengembangkan potensi mereka.
  • Beri kesempatan anak membuat keputusan. Setiap anak mempunyai keberanian dalam memilih dan membuat keputusan. Berikan mereka kesempatan agar mereka berani melontarkan keputusan.
  • Dorong anak mencari informasi baru di luar rumah agar mereka dapat menggali potensi
  • Berikan penghargaan kepada anak sehingga mereka belajar menghargai apa yang telah diberikan.
  • Jalin hubungan yang kondusif antara orang tua, sekolah dan lingkungan. Potensi anak tergantung dari kondisi di sekitar mereka, oleh karenanya perlu dibangun hubungan yang harmonis dan menyenangkan sehingga dapat bersama-sama mewadahi potensi anak untuk berkembang.

Ada lima potensi anak yang dapat dikembangkan, yaitu:

  • Petensi spiritual
  • Potensi perasaan
  • Potensi akal
  • Potensi social
  • Potensi jasmani

 

 

Penutup

Setiap anak memiliki potensi yang dibawa sejak lahir. Potensi ini dapat berwujud kecerdasan/intelegensi, bakat, prestasi dan kepribadian. Semua ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar agar potensi mereka dapat teraktualisasi dalam kehidupan nyata. Dengan memberikan motivasi dan stimulus, potensi anak akan terasah dan berkembang dengan baik.

 

 

Daftar Pustaka

Depdiknas. 2004. Pedoman diagnostic potensi peserta didik. Proyek Peningkatan Mutu SLTP. Jakarta.

Gardner, H. 2003. Kecerdasan majemuk. Batam Centre: Interaksara

Iman, N. 1984. Motivation and personality-Abraham Maslow. Jakarta. PT Gramedia.

Munandar, U. 1994. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.