MENGEMBANGKAN SOAL TERBUKA (OPEN-ENDED PROBLEM) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

0
99

MENGEMBANGKAN SOAL TERBUKA (OPEN-ENDED PROBLEM) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

oleh :

Rudi Hermawan

 A. Pendahuluan

Setiap siswa mempunyai karakteristik berbeda terkait aktivitas penyelesaian masalah. Misalnya, Ali lebih sering menggunakan metode informal untuk menyelesaikan masalah daripada menggunakan prosedur formal. Tasya lebih senang menyendiri sehingga ia merasa nyaman dalam menyelesaikan masalah. Ia lebih menyukai untuk menyalin uraian materi atau contoh soal dari papan tulis, mempraktikannya di rumah, dan menerapkan prosedur tersebut pada tes. Ia tidak

menyukai sesuatu yang baru. Sekali ia menguasai suatu prosedur, ia tidak ingin mencari prosedur lainnya. Lain lagi dengan Joko. Jika ia tidak dibimbing tahap demi tahap maka ia akan mengalami kebuntuan. Sementara itu, Yono tampak kurang percaya diri dalam mengungkapkan ide-ide barunya. Meski, jika diberikan sedikit dorongan dan motivasi maka ia akan menghasilkan suatu prosedur penyelesaian masalah yang indah dan tidak terduga. Pembelajaran matematika perlu dirancang sedemikian sehingga dapat mengakomodasi berbagai ragam karakterisik siswa. Salah satu cara yang dapat mewujudkan hal itu adalah penggunaan soal terbuka dalam pembelajaran matematika.

Karakteristik soal terbuka memungkinkan siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang mereka pilih. Siswa seperti Ali misalnya, akan berkembang potensinya jika ia menyelesaikan soal terbuka yang mempunyai beragam strategi penyelesaian atau beragam solusi. Menyelesaikan soal terbuka yang mempunyai solusi tak tunggal dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa seperti Yono. Hal demikian akan terjadi apabila strategi penyelesaian yang dikemukakan siswa diperhatikan dan dihargai. Meskipun siswa seperti Tasya pada mulanya menolak atau menghindari soal terbuka, mereka dapat menjadi lebih nyaman melalui praktik berkelanjutan. Memang, siswa seperti Joko mungkin tidak menikmati soal terbuka, tetapi jika kita hanya memberikan soal-soal yang hanya disenangi Joko, maka kita akan berisiko kehilangan kesempatan untuk melejitkan potensi Ali dan Yono dalam bermatematika dengan cara yang mengesankan.

Penggunaan soal terbuka perlu dibudayakan dalam pembelajaran matematika. Namun demikian, upaya ini sering terkendala oleh terbatasnya kemampuan guru dalam mengembangkan soal-soal terbuka. Tentu, keterbatasan ini perlu diatasi. Dalam tulisan ini akan dikemukakan beberapa strategi atau cara mengembangkan soal terbuka dalam pembelajaran matematika.

B. Pengertian Soal Terbuka

Menurut Becker dan Shigeru (Inprashita, 2008), pendekatan open-ended pada awalnya dikembangkan di Jepang pada tahun 1970-an. Antara tahun 1971 dan 1976, peneliti-peneliti Jepang melakukan proyek penelitian pengembangan metode evaluasi keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pendidikan matematika dengan menggunakan soal atau masalah terbuka (open-ended) sebagai tema. Meskipun pada mulanya pengembangan soal terbuka dimaksudkan untuk mengevaluasi keterampilan berpikir tingkat tinggi, tetapi selanjutnya disadari bahwa pembelajaran matematika yang menggunakan soal terbuka mempunyai potensi yang kaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Menurut Takahashi (2006), soal terbuka (open-ended problem) adalah soal yang mempunyai banyak solusi atau strategi penyelesaian. Sedangkan menurut Syaban (2008), dipandang dari strategi bagaimana materi pelajaran disampaikan, pada prinsipnya pembelajaran dengan memanfaatkan soal terbuka dapat dipandang sebagai pembelajaran berbasis masalah, yaitu suatu pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Shimada (1997) bahwa pembelajaran open-ended adalah pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu. Pembelajaran open-ended dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan/pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beragam teknik.

Aspek keterbukaan dalam soal terbuka dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yaitu: (1) terbuka proses penyelesaiannya, yakni soal itu memiliki beragam cara penyelesaian, (2) terbuka hasil akhirnya, yakni soal itu memiliki banyak jawab yang benar, dan (3) terbuka pengembangan lanjutannya, yakni ketika siswa telah menyelesaikan suatu, selanjutnya mereka dapat mengembangkan soal baru dengan mengubah syarat atau kondisi pada soal yang telah diselesaikan.

Berikut diberikan ilustrasi dua soal untuk membedakan antara soal tertutup dan soal terbuka. (1) Gedung bioskop Plaza 27 mencatat penjualan tiket film Laskar Pelangi selama tiga hari berturut-turut adalah 457 lembar, 446 lembar, dan 475lembar. Hitung banyak tiket yang terjual selama tiga hari tersebut. (2) Susunlah sebuah data yang rata-ratanya lebih dari mediannya dan jangkauannya adalah 7. Soal (1) merupakan soal rutin dan bukan masalah terbuka karena prosedur yang digunakan untuk menentukan penyelesaiannya sudah tertentu yakni hanya menjumlahkan ketiga bilangan yang terdapat pada soal. Soal ini juga hanya memiliki satu jawaban yang benar. Sedangkan soal (2) merupakan soal terbuka (open-ended problem). Soal ini juga dikategorikan sebagai soal non-rutin. Keterbukaan soal ini meliputi keterbukaan proses, keterbukaan hasil akhir, dan keterbukaan pengembangan lanjutan. Soal ini dikategorikan sebagai soal non-rutin karena tidak memiliki prosedur tertentu untuk menjawabnya. Dengan menggunakan soal terbuka, pembelajaran matematika dapat dirancang sedemikian sehingga lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kompetensi mereka dalam menggunakan ekspresi matematik (Takahashi, 2006). Dalam upaya menemukan berbagai alternatif strategi atau solusi suatu masalah, siswa akan menggunakan segenap kemampuannya dalam menggali berbagai informasi atau konsep-konsep yang relevan. Hal demikian akan mendorong siswa menjadi lebih kompeten dalam memahami ide-ide matematika. Hal demikian tidak akan terjadi dalam pembelajaran yang menggunakan soal tertutup yang hanya merujuk pada satu jawaban atau strategi penyelesaian. Penggunaan soal tertutup kurang mendorong siswa untuk mengeksplorasi berbagai ide-ide matematikanya, sehingga kurang memungkinkannya untuk secara efektif digunakan dalam mengembangkan kemampuan komunikasi matematika sekaligus membangun pemahaman matematik siswa.

Penggunaan soal terbuka juga dapat memicu tumbuhnya kemampuan berpikir kreatif. Menurut menurut Becker dan Shimada (Livne dkk, 2008), penggunaan soal terbuka dapat menstimulasi kreativitas, kemampuan berpikir original, dan inovasi dalam matematika. Sedangkan menurut Nohda (2008), salah satu tujuan pemberian soal terbuka dalam pembelajaran matematika adalah untuk mendorong aktivitas kreatif siswa dalam memecahkan masalah.

Menurut Takahashi (2006), terdapat beberapa manfaat dari penggunaan soal terbuka dalam pembelajaran matematika, yaitu sebagai berikut.

  1. Siswa menjadi lebih aktif dalam mengekspresikan ide-ide mereka.
  2. Siswa mempunyai kesempatan lebih untuk secara komprehensif menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka.
  3. Siswa mempunyai pengalaman yang kaya dalam proses menemukan dan menerima persetujuan dari siswa lain terhadap ide-ide mereka.

Berbagai manfaat penggunaan soal terbuka juga dikemukakan oleh Sawada (Heinemann, 2008). Menurutnya, terdapat beberapa manfaat penggunan soal terbuka, yaitu sebagai berikut.

  1. Siswa berpartisipasi secara lebih aktif dalam pembelajaran dan mengekspresikan ide-ide mereka secara lebih intensif. Pemecahan masalah terbuka memberikan kebebasan dan lingkungan belajar yang mendukung sebab terdapat banyak solusi yang benar, sehingga setiap siswa mempunyai kesempatan untuk menghasilkan satu atau lebih jawaban yang unik. Aktivitas demikian akan mendorong terjadinya interaksi dan percakapan yang menarik antarsiswa di kelas.
  2. Siswa mempunyai kesempatan lebih untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilannya secara komprehensif. Karena terdapat banyak jawaban berbeda, maka siswa dapat memilih cara favoit mereka untuk memperoleh jawaban unik mereka.
  3. Siswa mempunyai kesempatan lebih untuk mengembangkan penalarannya. Dengan membandingkan dan mendiskusikan strategi dan solusi siswa di kelas,siswa akan termotivasi untuk memberikan rasional atau penjelasan kepada siswa lain terhadap strategi atau solusi yang mereka hasilkan. Hal demikian akan menumbuhkan daya nalar siswa.
  4. Siswa mempunyai pengalaman yang kaya untuk menikmati proses penemuan dan menerima persetujuan dari siswa lainnya terhadap strategi atau solusi yang mereka dihasilkan. Karena setiap siswa mempunyai solusi berdasarkan pada pemikiran mereka yang unik, maka setiap siswa akan tertarik atau berminat terhadap solusi siswa lainnya. Hal ini akan lebih menambah pengetahuan dan sekaligus dapat memperkaya strategi yang dimilikinya.

 

Dalam pembelajaran matematika, soal terbuka dapat diberikan kepada siswa di awal pembelajaran. Selanjutnya pembelajaran dikembangkan berdasarkan variasi jawaban yang muncul. Dengan cara ini siswa mempunyai pengalaman dalam menemukan sesuatu selama proses pemecahan masalah. Aktivitas matematika yang dihasilkan atau dibangun berdasarkan soal terbuka akan sangat kaya sedemikian sehingga guru dapat mengevaluasi keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.

C. Mengembangkan Soal Terbuka

Meskipun sangat disadari bahwa penggunaan soal terbuka dapat berdampak positif dalam pembelajaran matematika, tetapi hal ini tidak mudah untuk dipraktikkan di kelas karena tidak mudah untuk mengembangkan soal terbuka yang baik. Selain itu, pada umunya, guru tidak mempunyai cukup waktu untuk mengkreasi sejumlah besar soal terbuka. (Heinemann, 2008). Untuk mengembangkan soal terbuka, terdapat langkah-langkah atau ”heuristik” tertentu yang dapat diacu. Salah satu cara untuk mengembangkan soal baru adalah dengan mengubah soal biasa atau tertutup menjadi soal terbuka. Berikut diberikan contoh mengubah atau merevisi soal tertutup menjadi soal terbuka.

Berikut contoh soal terbuka :

Pertanyaan semula (soal tertutup)

  1. Dari bilangan-bilangan berikut, manakah yang merupakan bilangan prima? 7, 57, 67, 117
  2. Tentukan tiga suku berikutnya pada barisan berikut. 1, 4, 7, 10, 13, …, …, …

 

Pertanyaan revisi (soal terbuka)

  1. Menurut Fred 57 dan 67 adalah bilangan prima karena keduanya mempunyai satuan 7, yang merupakan bilangan prima. Dick tidak setuju dengan Fred. Siapakah yang benar? Mengapa?
  2. Perhatikan barisan berikut. 1, 4, 7, 10, 13, …, …, … Apakah 100 merupakan suku barisan

itu? Jelaskan jawabanmu

D. Penutup

Disadari bahwa meskipun terdapat berbagai manfaat dari penggunaan soal-soal terbuka dalam pembelajaran matematika, namun terdapat beberapa kendala dalam mempraktikannya. Tidak mudah bagi guru untuk mengembangkan soal-soal terbuka apalagi dalam jumlah yang memadai. Berbagai strategi pengembangan soal terbuka sebagaimana dikemukakan di atas perlu diperhatikan oleh guru untuk selanjutnya dipraktikkan dalam pembelajaran matematika. Selanjutnya diharapkan penggunaan soal terbuka akan lebih membudaya, sehingga akan menjadikan pembelajaran matematika lebih bermakna, karena dapat mengoptimalkan pengembangan potensi siswa.

 

Daftar Pustaka

 Heinemann. (2008). Why Use Open-Ended Question?. [Online]. Tersedia: http://books.heinemann.com/math/reasons.cfm. [17 Oktober 2008].

Inprasitha, M. (2008). Open-ended Approach and Teacher Education. [Online]. Tersedia: http://www.human.tsukuba.ac.jp/~mathedu/journal/vol25/inprasitha.pdf. [17 Oktober 2008].

Livne, N.L, Livne, O. E., & Wight, C. A. (2008). Enhanching Mathematical Creativity Through Multiple Solutions to Open-Ended Problems Online. [Online]. Tersedia: http://www.iste.org/Content/NavigationMenu/Research/NECC_Research_Paper_Archives/NECC2008/Livne.pdf. [17 Oktober 2008].

Nohda, N. (2008). A Study of “Open-Approach” Method in School MathematicsTeaching – Focusing On Mathematical Problem Solving Activities. [Online]. Tersedia: http://www.nku.edu/~sheffield/nohda.html. [13 Oktober 2008].

Shimada. (1997). Lesson Study for Effective Use of Open-Ended Problems. [Online]. Tersedia: http://e-archive.criced.tsukuba.ac.jp/data/doc/pdf/2007/09/RCh%205%20Case%204%20 Hashimoto_rev_max.pdf. [17 Oktober 2008].

Syaban, M. (2008). Menggunakan Open-Ended Problem untuk Memotivasi Berpikir Matematika. [Online]. Tersedia: http://educare.e-fkipunla.net/index2. php?option=com_content&do_pdf=1& id=54. [17 Oktober 2008].

Takahashi, A. (2008). Communication as Process for Students to Learn Mathematical. [Online]. http://www.criced.tsukuba.ac.jp/math/apec/apec2008/papers/PDF/14.Akihiko_Takahashi_USA.pdf. [17 Oktober 2008].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.