Mengapa Penerapan Kurikulum 2013 Sebaiknya Dilanjutkan di Tiap Sekolah

0
84

Oleh :

Agustina, M. Pd.

Widyaiswara Muda

 

Abstrak

Dihentikannya penerapan Kurikulum 2013 sesuai edaran Mendikbud pada 5 Desember 2014 tak pelak membawa kontroversi baru. Benarkah “ketidaksiapan” penerapan Kurikulum 2013 harus membawa kita pada kurikulum lama kembali sampai benar-benar “siap”? Bukankah aspek-aspek ketidaksiapan ini lebih banyak bersifat teknis daripada substantif dan perbaikannya sendiri bisa dilakukan sembari tetap melanjutkan apa yang sudah dimulai? Artikel ini membahas aspek mana saja yang perlu diperbaiki dalam Kurikulum 2013 dan rasional mengapa sebaiknya perbaikan ini dilakukan dengan tetap melanjutkan penerapannya di sekolah dan madrasah, terutama menyoroti bagaimana Kurikulum 2013 sangat sejalan dengan tuntutan pendidikan modern yang menekankan perlunya keseimbangan antara pendidikan soft skill dan hard skill. Hal ini juga terkait dengan isu pentingnya memasukkan pendidikan kreatif dan berpikir tinggi (higher order thinking skills) di ruang-ruang kelas melalui pendekatan saintifik dan penilaian autentik yang diusung kurikulum 2013.

Kata Kunci: Kurikulum 2013

Pendahuluan

Seperti yang banyak diberitakan pemedia pada Jumat, 5 Desember 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan merekomendasikan sekolah yang belum menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester untuk kembali ke Kurikulum 2006. Sebanyak 6.221 sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 selama tiga semester akan jadi contoh bagi sekolah yang “belum siap”. Buat banyak pihak ini tentu bukan solusi yang ideal, namun bisa jadi juga dianggap jalan tengah untuk menjembatani titik-titik ekstrim yang selama ini muncul sejak penerapan Kurikulum 2013 dilaksanakan pada tahun ajaran 2013/2014.

Banyak pihak menyayangkan bahwa Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 baru dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014, yakni tiga bulan setelah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia. Dan ini juga yang mungkin memberi kesan bahwa Kurikulum 2013 lahir terlalu prematur, lalu karena belum matang perlu masuk “inkubator” dulu sebelum siap melihat dunia.

Pembahasan

Banyak yang menyebut setidaknya dua hal yang perlu menjadi perhatian yaitu kesiapan guru dan kesiapan bahan ajar. Pemerhati pendidikan Hilmar Farid dalam acara Dialog dan Konsultasi Nasional Kurikulum 2013 yang diselenggarakan Network for Education Watch Indonesia atau Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia di Gedung PGRI, Jakarta, Kamis, 16 Oktober 2014 seperti yang dilansir NEW Indonesia, Senin, 20 Oktober 2014 menyatakan bahwa masalah terletak pada penyiapan buku-buku pelajaran yang tidak dilakukan dengan baik oleh pemenang tender. “Seharusnya produksi buku didesentralisasikan ke percetakan di daerah-daerah untuk mempercepat distribusi buku tersebut, hingga sekolah dapat dengan mudah memantau penyiapan buku dan diharapkan tidak mengalami keterlambatan dalam penyediaan buku”, ungkapnya.

Kritik lain dialamatkan peneliti ICW Febri Hendri (2014) yang menyatakan lahirnya kurikulum 2013 ini tidak didului oleh riset mendalam, dan juga bahwa KTSP tidak memiliki kelemahan untuk diperbaiki. Perubahan kurikulum ini lantas diduga sarat kepentingan pihak yang ingin dapat keuntungan dari penjualan buku, seperti birokrasi, politisi, broker, penerbit, sampai kepala sekolah untuk mendapat keuntungan. Bagi birokrasi, perubahan kurikulum merupakan proyek baru dan tentu anggaran yang sangat besar. Dana pelatihan guru dan dana penyusunan konsep dan materi Kurikulum 2013 yang melibatkan berbagai ahli disebut-sebut menyedot triliunan rupiah.

Febri juga menyebut tentang pendekatan integratif yang digunakan dalam kurikulum yang memadukan materi tentang spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Banyak yang menyangsikan tentang bagaimana dalam pengetahuan siswa dimungkinkan untuk belajar tentang sikap sosial dan spiritual. Ia menyebut kurikulum 2013 sebagai “kurikulum sisip-sisipan”, bahwa semua materi pelajaran disisipkan sehingga tiada lagi kejelasan dan fokus tentang apa yang sedang dipelajari siswa bersama guru di dalam atau di luar ruangan kelas.

Kritik ketiga adalah bagaimana repotnya guru melakukan penilaian terhadap siswa. “Ini masalah bagi guru karena menghafal ratusan nama siswa saja sulit, apalagi memberikan penilaian narasi murid satu per satu. Hampir dipastikan waktu interaksi guru habis untuk mengamati murid satu per satu sehingga fokus terhadap materi pelajaran kian berkurang. Apalagi guru juga disibukkan kegiatan lain seperti mengejar pemenuhan syarat sertifikasi”, ungkap Febri lagi dalam tulisannya.

Kritik-kritik senada banyak dialamatkan pada kurikulum 2013, meski beberapa terdengar tendensius, beberapa lagi apatis dengannya. Banyak juga kritik yang muncul karena kurang kenal dan kurang pahamnya banyak pihak tentang what is Kurikulum 2013 and whats behind this. Kurikulum 2013 yang mengusung keseimbangan antara sikap,keterampilan dan pengetahuan ini sebetulnya sangat sejalan dengan apa yang disebut Boediono (2012) sebagai konsep pendidikan untuk pembangunan, yaitu penyiapan SDM yang punya soft skills (warga negara yang baik) dan hard skills (pekerja yang baik) seiring dengan makin tingginya kesadaran akan pentingnya soft skills. Seperti yang diungkap Ratna Megawangi (2012) bahwa hard skills bisa dipelajari dengan membaca buku, menghafal dan drill, namun mengajarkan siswa untuk cakap mengolah emosi, berkarakter baik, punya motivasi, berpikir analitis, kritis dan kreatif perlu usaha besar, seni dan teknik sendiri.

Mengapa berpikir kritis, kreatif (yang masuk dalam kemampuan berpikir tinggi/higher order thinkin skills/HOTs) dan berkarakter menjadi sedemikian urgen untuk pendidikan kita? Dalam banyak data, performa siswa kita dalam kemampuan berpikir tinggi ini masih sangat tertinggal. Data TIMMS 2007 (Trends in International Math and Science Survey), hanya 1 persen siswa Indonesia yang memiliki kemampuan berpikir advanced (mengolah informasi, membuat generalisasi, menyelesaikan masalah nonrutin, mengambil kesimpulan data). Dan sayangnya 78 persen siswa Indonesia memiliki kemampuan berpikir rendah dan dibawah minimal atau lower order thinking skills (LOTS). LOTS inilah –menurut Megawangi (2012) akan membuat siswa tidak berpikir analitis, tanpa inisiatif dan mudah ikut arus/diprovokasi. Dan kita sangat paham bagaimana fenomena ini memicu berbagai fenomena negative mulai dari kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, tingginya tindak pidana korupsi oleh kaum intelektual, plagiarisme di kalangan akademisi, split personality dan lain-lain.

Yang juga bisa dijadikan rujukan adalah hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) pada tahun 2006 dan 2011 untuk kelas IV SD yang menunjukkan bahwa 95% siswa hanya berada di level menengah, yaitu hanya mampu menjawab soal-soal tingkat knowing dan applying, belum sampai level reasoning. Kurikulum 2013 mencoba menjawab realita ini dengan membiasakan pembelajaran yang bersifat saintifik, ditandai dengan prinsip pembelajaran siswa aktif melalui kegiatan mengobservasi, menginkuiri, menganalisis, mengkonstruksi dan mengkomunikasikan. Melalui serangkaian kegiatan pembelajaran saintifik tersebut, siswa selalu ditantang untuk berpikir kreatif, dan harus diingat bahwa kreativitas adalah aktivitas yang bisa dipelajari bersama dan bersifat menular (sesuai hukum Einstein). Dyers juga menyatakan bahwa hanya 1/3 bagian dari kemampuan kreativitas berasal dari gen, dan 2/3nya diperoleh dari pendidikan. Ini berarti pembelajaran kreatif sudah seharusnnya menjadi isu penting dalam pendidikan, dan ini disokong penuh dalam kurikulum 2013.

Perbaikan-perbaikan cepat memang perlu dilakukan oleh Kemdikbud dan Kemenag yang membawahi sekolah dan madrasah. Ini bisa diinisiasi mulai dari level sekolah atau madrasah yang pemetaan terhadap (potensi) kesulitan dalam penerapan hingga identifikasi masalah ini dapat mengarahkan sekolah tersebut untuk menerima coaching dan treatment yang relevan dengan menyertakan instruktur nasional, LPMP dan Balai Diklat Keagamaan pada wilayah kerja tersebut. Dengan kerjasama yang baik antara tiap elemen semua permasalahan dilapangan bisa pelan-pelan teratasi. Selain itu, guru perlu terus-menerus dibina untuk memelihara mindset yang positif, karena sesungguhnya tiap guru memiliki potensi untuk menjadi problem-solver atas tiap permasalahan yang terjadi di skeolahnya.

Hal kedua yang perlu diagendakan Kemdikbud dan Kemenag adalah terus memprogramkan pelatihan-pelatihan aplikatif untuk para guru sasaran terutama pada daerah remote sesuai kapasitas lembaga-lembaga terkait baik dalam bentuk diklat, diklat di tempat kerja, workshop, lokakarya dan bimbingan teknis (bimtek) secara intensif. Dan ketiga adalah melakukan perbaikan pengadaan buku pelajaran secara merata dan masif hingga buku pegangan siswa dan guru dapat dipakai secara gratis di semua sekolah dan madrasah, hingga tidak ada lagi kebingungan pada daerah-daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses informasi akan bahan ajar.

Kritik tentang bagaimana repotnya para guru melakukan penilaian didalam kelas dan bahwa ini bisa mengurangi fokus guru dalam mengajar, sesungguhnya adalah kritik mereka yang belum menginternalisasikan idealisme dalam pembelajaran itu sendiri. Tidak ada separatisme antara mengajar dan menilai, karena semuanya adalah the whole spirit untuk seorang guru yang memahami. Disitulah esensinya mengajar sebagai sebuah seni, dan bukan hanya sebuah kegiatan mekanistis tanpa ruh. Disitulah esensinya mengajar dengan hati, dan secara natural guru akan menganggap penilaian bukan sebagai beban melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban. Pendidikan kita sudah terlalu lama berorientasi pada penilaian kognitif, dan ini juga yang didewa-dewakan para orangtua siswa. Sudah sewajarnya kita move on, meninggalkan penilaian yang serba hitam putih dan praktis, yang sebenarnya tidak merepresentasikan kemampuan peserta didik secara memadai.

Kesimpulan

Sebagai susbtansi, kurikulum 2013 bermuatan dan memiliki nilai-nilai yang sangat progresif. Banyak pakar mengatakan ini adalah terobosan yang sesuai dengan tuntutan abad 21. Jikapun dalam implementasinya terdapat kekurangan adalah hal yang sangat wajar. Terlebih lagi kekurangan yang banyak dikritik lebih banyak bersifat technical problems daripada persoalan subtansi. Boleh saja kita berpendapat kurikulum 2013 lahir prematur dan perlu masuk “inkubator” dulu agar dimatangkan dulu organ-organnya, namun bukan berarti kita lebih baik kembali ke kurikulum lama. Rekomendasi Ditjen Pendis Kementerian Agama untuk meneruskan pelaksanaan kurikulum 2013 harus diapresiasi setinggi-tingginya karena sangat mempertimbangkan banyak hal, termasuk mengapresiasi kerja keras tim perumus, pengembang, instruktur nasional dan widyaiswara, para guru sasaran di madrasah-madrasah, yang sudah jungkir balik bahkan “berdarah-darah” belajar, memperjuangkan pembelajaran yang lebih baik berbasiskan kurikulum 2013. Mematangkan dan mengevaluasi kurikulum 2013 baik persoalan teknis maupun konten bisa dilakukan sembari terus melanjutkan apa yang sudah dirintis, melakukan learning by doing ala John Dewey. Move on! Dan lanjutkan pelaksanaan kurikululum 2013 karena ini worth-fighting, untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Referensi

Boediono. Pendidikan Kunci Pembangunan. Kompas, 28 Agustus 2012.

Febri Hendri AA. Kritik Kurikulum 2013: Layu Sebelum Berkembang. Kompas, Jumat, 19 September 2014.

Ratna Megawangi. Tantangan Besar Pendidikan Kita. Kompas, 15 Oktober 2012.

NEW Indonesia. Banyak Masalah, Kurikulum 2013 Harus Dievaluasi. 20 Oktober 2014.

http://www.linkeyproject.com/app/?sid=503&aid=0&type=n&ver=5.0.0.13986&tm=60&src=iebModul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. 2014. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.