MEMBANGUN TRADISI LITERASI WIDYAISWARA MUSLIM

0
87

Oleh : Mardiansyah, S.IP., M.Si.

Widyaiswara Ahli Pertama

 

 

ABSTRAK

 

Kebiasaan membaca menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan literasi. Membangun tradisi literasi widyaiswara muslim akan meminimalkan plagiat dan membangun tradisi diskusi dan dialektika dalam dunia diklat. Dengan diskusi dan dialektika inilah para widyaiswara membangun iklim keilmuan, argumentasi dan suasana ilmiah, disamping itu tradisi diskusi dan dialektika ini adalah upaya para widyaiswara dalam memuliakan anugerah paling tinggi makhluk (manusia) yang namanya akal.

 

Kata kunci : literasi, widyaiswara.

 

 

  1. PENDAHULUAN

 

Seorang tokoh pergerakan Islam (Al Ikhwan al Muslimun) Hasan al Banna (1906-1949) dalam salah satu nasehatnya (2011: 201) mengatakan :

“Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, serta memperbanyak membaca koran, majalah atau tulisan lain. Bangun perpustakaan khusus, seberapapun ukurannya, konsentrasilah terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlianmu jika engkau seorang spesialis, dan kuasailah persoalan Islam secara umum yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah.”

Sejak lama Hasan al Banna sudah mengarahkan untuk membangun tradisi literasi. Banyak pengertian tentang literasi, kita ambil satu pengertian yg mungkin dapat mewakili tulisan ini; Pengertian literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre dan kultural.

Jadi tradisi literasi adalah bukan sekedar tradisi membaca dan menulis tetapi lebih dalam dari itu adalah mengolah dan memahami informasi dari proses membaca dan menulis itu. Berdasarkan survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Riset berbeda yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Ini artinya, Indonesia berada di bawah Tahiland (59) dan di atas Bostwana (61). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan minat baca penduduk Indonesia hanya sekitar 23,5 persen sebaliknya minat menonton televisi mencapai 85,59 persen. Kalau dipilah lagi dari 23,5 persen yang hobi baca, berapa orang Islam dan Non Islam? Belum lagi jenis bacaan, buku apakah yang dibaca?

 

  1. PEMBAHASAN

Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat  Baca Perpustakaan Nasional Syarif Bando melansir hasil penelitian tentang waktu baca masyarakat Indonesia. Hasilnya, dari penelitian pada 2012-2014 ini  cukup memprihatinkan. Masyarakat Indonesia rata-rata hanya menyempatkan membaca dalam waktu 2-4 jam per hari. Angka ini masih di bawah  standar UNESCO yang meminta agar waktu membaca sebaiknya 4-6 jam per hari.

Jika dibandingkan dengan rata-rata membaca negara maju, angka membaca Indonesia juga sangat jauh tertinggal. Masyarakat di negara maju rata-rata menghabiskan waktu membaca 6-8 jam per hari. Dengan demikian masyarakat negara maju pun bisa membaca lebih dari 80 ribu kata atau 1.500 halaman per hari.

Taufiq Ismail pernah membandingkan budaya baca di kalangan pelajar saat ini. Ia menyebutkan, rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku. Ia menyebut kondisi ini dengan istilah “tragedi nol buku”, yaitu generasi yang tidak membaca satu pun buku dalam satu tahun, generasi yang rabun membaca, dan lumpuh menulis.

Padahal, Indonesia adalah mayoritas ummat Islam dimana ayat pertama yg diturunkan oleh  Allah adalah IQRO’ yg merupakan perintah untuk membaca. Buku adalah jendela dunia, yang tidak membaca buku artinya dia tidak bisa melihat dunia.

Nasehat Hasan al Banna diatas relevan dgn perintah IQRO’ dalam Al Quran. Membaca buku adalah pintu gerbang ilmu. Pepatah Arab mengatakan “Faqidusy Sya’i Laa Yu’tihi” (Yang Tidak Punya Sesuatu, Tidak Bisa Memberikan Sesuatu),  kalau seorang widyaiswara sedikit membaca maka sedikit ilmu yang dia serap maka sedikit pula ilmu yang bisa dia sampaikan. Sesuatu yg keluar tergantung yang diisi.

Bagaimana jika para widyaiswara rendah minat bacanya? Bagaimana mungkin dia menyampaikan materi ketika dia sendiri tidak banyak berilmu, padahal ilmu dahulu sebelum amal. Widyaiswara yang malas membaca akan tertinggal dalam ilmu baru yang terus berkembang. Sesuatu yang dilakukan dengan ilmu, akan berbeda hasilnya jika tidak dilakukan dengan ilmu. Widyaiswara akan disenangi peserta diklat jika ia mumpuni dan terus mengasah ilmu mengajarnya. Kalau hal tersebut tidak dilakukannya, peserta terasa terpenjara karenanya. Tak ada interaksi antara widyaiswara dengan peserta, materipun itu lagi-itu lagi, tidak menemukan hal yang baru.

Kalau kita merujuk pada ulama-ulama Islam adalah manusia-manusia yang banyak membaca buku.             Seperti Ibnul Jauzi membaca 20.000 jilid buku. Beliau berkata, “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di madrasah An-Nidhamiyyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahhab bin Nashir dan yang terakhir Abu Muhammad bin Khasysyab. Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.”

Tradisi literasi sangat penting bagi para pendidik. Seorang widyaiswara yang rutin membaca memiliki pengetahuan luas dengan kosa kata beragam. Luasnya wawasan seorang widyaiswara memungkinkan peserta diklat akan lebih nyaman bersamanya dalam pembelajaran, diskusi, dan konsultasi karena pendapatnya yang runut dan jelas. Tradisi literasi yang rendah dari para widyaiswara, akan menyebabkan keringnya pesan-pesan yang disampaikan oleh para widyaiswara dari argumentasi dan kecerdasan.

Wajar saja kalau terjadi kejenuhan dalam melakukan proses pembelajaran dalam diklat yang dikeluhkan oleh para peserta diklat, apabila widyaiswara dalam penyampaian materi yang itu-itu saja dan diulang-ulang, apalagi ditambah lemahnya penguatan-penguatan materi diklat. Akhirnya kebutuhan-kebutuhan wawasan keilmuan peserta diklat dilakukan dengan cara-cara instan lewat youtube. Secara jangka pendek memang dapat memenuhi dahaga keilmuan peserta tetapi secara jangka panjang akan berdampak dangkalnya keilmuan baik peserta maupun widyaiswara.

Secara kolektif dalam lembaga akan berdampak jika widyaiswara tidak terbuka dengan perubahan dan dinamika global karena tradisi literasi yang lemah. Padahal perubahan-perubahan global bisa di baca dari buku-buku yg di produksi oleh banyak para ahli, akademisi ataupun praktisi, bahkan ribuan jurnal-jurnal ilmiah dan penelitian ilmiah yang mencoba membaca fenomena-fenomena sosial, ekonomi maupun sains telah terbit dan bisa di akses secara terbuka.

Situs olahan pemeringkatan publikasi ilmiah  SCImago Lab. (www.scimagojr.com ) melaporkan  jumlah publikasi ilmiah dari tahun  1996-2013 berdasarkan data dari SCOPUS. Portal tersebut memeringkat hasil publikasi  239 negara. Dari portal SCImago diketahui  jika Indonesia berada pada urutan ke-61  dengan jumlah publikasi sebanyak 25.481.  Indonesia kalah jauh dari negara tetangga  ASEAN seperti Malaysia yang menempati  urutan ke-37 dengan jumlah publikasi karya  ilmiah 125.084, Singapura yang berada di  peringkat ke-32 dengan jumlah publikasi  171.037, dan Thailand pada peringkat ke-43  dengan jumlah publikasi 95.690.

Negara  ASEAN yang di bawah Indonesia adalah  Vietnam dengan peringkat 66 yang memiliki  jumlah publikasi sebanyak 20.460. Dari situs  SCImago tersebut juga bisa dilihat tiga negara  paling produktif menerbitkan karya-karya  ilmiah, yaitu untuk peringat ke-1 diduduki  oleh Amerika Serikat dengan jumlah publikasi  karya ilmiah 7.846.972, peringkat ke-2  adalah Tiongkok (China) dengan jumlah  publikasi 3.129.719, dan peringkat ke-3 yakni Inggris dengan jumlah publikasi 2.141.375.

Begitu banyak jurnal-jurnal ilmiah dan jurnal penelitian-penelitian yang terbit percuma tanpa tradisi literasi yang kuat, apalagi kalau itu terjadi pada diri para widyaiswara. Widyaiswara yang menyampaikan materi harus selalu update dengan situasi kekinian sehingga materi yang disampaikan selalu relevan dengan situasi dan zamannya, dan itu hanya bisa dilakukan jika para widyaiswara punya budaya literasi yg tinggi.

Nasehat Hasan al Banna di awal tulisan ini adalah nasehat yang tepat dan relevan di zaman ini. Di tengah serbuan informasi yang overload, di tengah serbuan budaya digital, tradisi literasi widyaiswara yang mulai lemah. Bisa jadi kejenuhan-kejenuhan dan kelemahan dalam menulis disebabkan karena para widyaiswara kehilangan inspirasi dari literatur buku yang harusnya mereka baca.

Dari nasehat Hasan al Banna itu bisa kita simpulkan kiat-kiat praktis dalam membangun budaya literasi di kalangan para widyaiswara:

  1. Meningkatkan kapasitas kita dalam membaca dan menulis. Membaca dalam artian bukan sekedar membaca teks, tetapi sampai pada memahami dan mengkaji. Berusaha memulai menulis dalam tema-tema yang bermanfaat.
  2. Memperbanyak bacaan. Bacaan pertama tentu saja Al Quranul Karim minimal 1 juz/hari, ditambah dengan membaca terjemah atau tafsir Al Quran. Kemudian membaca buku-buku ilmu dan wawasan Islam, baru membaca koran, majalah dalam rangka update informasi diperkaya juga dengan jurnal atau penelitian ilmiah utk memperkuat data dan fakta.
  3. Membangun perpustakaan pribadi. Menyiapkan tabungan untuk membeli buku, karena buka adalah investasi ilmu terutama buku-buku pokok. Anis Matta pernah merekomendasikan buku-buku yang minimal harus dimiliki; pertama, tafsir Al Quran Ibnu Katsir atau yang berhubungan dengan tafsir Quran. Kedua Buku-buku hadits terutama hadits arbain beserta syarahnya dan kitab riyadhus sholihin. Ketiga buku-buku ilmu Islam, misalnya kitab fiqih, kitab tentang aqidah dan ibadah, tentang rukun Islam dan Iman, tentang seputar pembahasan dasar-dasar Islam. Keempat buku-buku tentang wawasan Islam, yaitu tema-tema tentang yang melingkup dasar-dasar Islam. Anis Matta mengatakan bahwa membaca buku yang direncanakan dan berjenjang akan membantu membentuk konstruksi pikiran kita.
  4. Jadilah spesialis dalam satu hal dan konsentrasi dalam satu hal tersebut, disamping memahami konsepsi umum Islam.
  5. PENUTUP

Membangun tradisi literasi widyaiswara muslim akan meminimalkan plagiat dan membangun tradisi diskusi dan dialektika dalam aktivitas diklat. Dengan diskusi dan dialektika inilah para widyaiswara membangun iklim keilmuan, argumentasi dan suasana ilmiah, disamping itu tradisi diskusi dan dialektika ini adalah upaya para widyaiswara dalam memuliakan anugerah paling tinggi makhluk (manusia) yang namanya akal.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

 

Hawwa, Said., Membina Angkatan Mujahid, Era Intermedia, Jakarta, 2011.

 

UNESCO, Understandings of literacy. Richard Kern (2000), Literacy and language Teaching, Oxford University Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.