MEDIA LIDI KOREK API DALAM PEMBELAJARAN POLA BARISAN BILANGAN

0
62

OLEH : RUDI HERMAWAN

 ABSTRAK

 Menurut Standar Isi (SI) dalam setiap pembelajaran matematika hendaknya selalu dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (Contextual Problem). Berdasarkan informasi beberapa orang guru, mereka kesulitan pada saat mengajarkan pola barisan bilangan. Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui bagaimana cara mengajarkan pola barisan bilangan dengan menggunakan media lidi korek api.

Untuk keefektifan pembelajaran guru dapat menggunakan media pembelajaran. Pada pembelajaran pola barisan bilangan banyak media yang dapat digunakan, salah satunya lidi korek api karena lidi korek api ini mudah didapat dan harganya relative murah sehingga setiap siswa dapat bereksperimen. Sedangkan salah satu pendekatan yang dapat digunakan pada pembelajaran ini adalah pembelajaran kontektual. Cara mengajarkan pola barisan bilangan dengan media lidi korek api adalah menetapkan pendekatan yang akan digunakan, menyiapkan RPP, menyiapkan media dan merancangkan LKS yang akan digunakan.

 Kata Kunci : Barisan Bilangan, Media Lidi, contekstual

 PENDAHULUAN

             Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan itu dapat dilihat dari nilai atau hasil belajar siswa yang relative masih sangat rendah. Sesuai dengan tuntutan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) guru diharapkan untuk dapat mengembangkan indikator, menggunakan media pembelajaran dan juga menggunakan pendekatan kontekstual. Menurut Standar Isi (SI) dalam setiap pembelajaran matematika hendaknya selalu dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika.   Untuk keefektifan pembelajaran diharapkan guru dapat menggunakan media pembelajaran.

Salah satu materi yang diberikan di sekolah menengah pertama (SMP) kelas IX semester dua adalah pola barisan bilangan. Pola barisan bilangan perlu dipelajari karena banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan pola dan barisan bilangan. Dengan mengidentifikasi keteraturan dari suatu kejadian akan dapat ditemukan pola atau aturan umum yang sangat bermanfaat dalam menentukan kesimpulan atau generalisasi dari suatu persoalan. (Dikdasmen,2004 :1). Berdasarkan informasi beberapa orang guru yang mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kesulitan yang sering dihadapi pada saat mengajarkan pola barisan bilangan adalah siswa sulit untuk menentukan pola barisan bilangan dan menentukan rumus suku ke-n sedangkan salah satu indikator yang dapat dikembangkan dari pola barisan bilangan adalah menentukan pola barisan bilangan.

Dalam pembelajaran pola barisan bilangan ini banyak media pembelajaran yang dapat digunakan, misalnya gelas, kelereng, lidi korek api dan lain sebagainya. Pada makalah ini media pembelajaran yang akan digunakan adalah lidi korek api, karena lidi korek api ini mudah didapat dan harganya relative murah sehingga setiap siswa dapat langsung mencobakan atau menggunakannya dalam bereksperimen. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mengajarkan pola barisan bilangan dengan menggunakan media lidi korek api ? Agar permasalahan tidak terlalu meluas maka pada makalah ini maka pola barisan bilangan disini dibatasi hanya pada pola barisan bilangan yang sederhana.

Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana mengajarkan pola barisan bilangan dengan menggunakan media lidi korek api.

Sedangkan manfaatnya adalah :

  1. Bagi guru, sebagai acuan untuk mengajar pola barisan bilangan
  2. Bagi siswa, sebagai motivasi untuk belajar matematika.

PEMBAHASAN

 Media Pembelajaran

             Menurut Azhar (2005:3) media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara ataau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut Nana Sudjana (2005:2) media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai. Ada beberapa alasan media dapat mempertinggi proses dan hasil belajar,yaitu pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran, kedua berkenaan dengan taraf berpikir siswa.

Media pembelajaran yang dimaksud pada makalah ini adalah alat yang dapat digunakan untuk membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam beraktivitas dan bereksperimen   dalam membahas suatu masalah, sehingga dapat membantu siswa dalam pemahan konsep-konsep matematika. Dengan menggunakan media inipun diharapkan siswa lebih ingat akan konsep yang diberikan atau dengan kata lain ingatan siswa diharapkan akan tahan lebih lama.

Didalam pembelajaran matematika banyak media yang dapat digunakan, baik yang buatan pabrik maupun yang dapat dibuat sendiri oleh guru atau siswa. Namun umumnya guru lebih suka memakai media yang dapat dibuat dan dirangkai dengan cepat dan murah. Dalam pembelajaran pola barisan bilangan ini banyak media pembelajaran yang dapat digunakan, misalnya gelas, kelereng, lidi korek api dan lain sebagainya. Pada makalah ini media pembelajaran yang akan digunakan adalah lidi korek api, karena lidi korek api ini mudah didapat dan harganya relative murah sehingga setiap siswa dapat langsung mencobakan atau menggunakannya dalam bereksperimen.

Pendekatan kontekstual

             Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajari ,bukan mengetahuinya. Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Menurut Nurhadi dalan Sagala (2003) sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual, jika menerapkan melibatkan komponen utama pembelajaran efektf ,yakni:

1. Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep yang siap diambil dan dipakai, tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberinya makna melalui pengalaman nyata.   Dalam suatu pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dalam hal ini tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan ;

a. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa

b. memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri

c. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2. Bertanya

Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan kontekstual.

Dalam sebuah pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk ;

a.  menggali informasi

b.  mengecek pemahaman siswa

c.  membangkitkan respon siswa

d. mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa

e. mengetahui hal-hal yang telah dimiliki siswa

f. memfokuskan perhatian siswa

g. membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan siswa

h. menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

Dalam semua aktivitas belajar bertanya dapat diterapkan antara sesama siswa, siswa dengan guru atau guru dengan siswa.

3. Menemukan

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri.

4. Masyarakat Belajar

Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing dengan teman, antar kelompok dan antara yang tahu dengan yang belum tahu. Dengan pembelajaran kontekstual guru disarankan untuk melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar yang bersifat heterogen. Pada masyarakat belajar komunikasi terjadi bukan hanya satu arah tetapi banyak arah.

5. Permodelan

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahua tertentu ada model yang dapat ditiru. Model itu memberi peluang yang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mengerjakan sesuatu atau tentang cara bekerja sesuatu sebelum siswa mengerjakan   tugas.

Dalam pendekatan kontekstual guru bukan satu-satunya model tetapi model itu dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran pun dapat dijadikan permodelan.

6.Refleksi

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam belajar dimasa lampau. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Pengetahuan yang bermakna dipeolh dari proses belajar. Pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran yang kemudian diperluas   sedikit demi sedikit sehingga semakin berkembang.

Dengan refleksi siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.

7. Penilaian

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar.

Pembelajaran Pola Barisan Bilangan

             Pada pembelajaran pola barisan bilangan di sini indikator yang dikembangkan adalah menentukan pola barisan bilangan. Pembelajaran pola barisan bilangan pada makalah ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kontekstual dan media pembelajaran yang digunakan berupa lidi korek api. Pada pembelajaran pola barisan bilangan di sini siswa diminta untuk bekerjasama dengan teman sebangkunya dalam mengisi atau mengerjakan LKS yang telah disiapkan atau dirancang oleh guru. Pada pembelajaran di sini guru bertindak selaku fasilisator bagi siswa sedangkan yang menemukan pola dari barisan bilangan itu siswa itu sendiri. Mulanya siswa melakukan sendiri atau bereksperimen sendiri dengan media lidi korek api yang telah disediakan oleh guru untuk menemukan pola barisan bilangan yang sederhana.

Diakhir pembelajaran siswa diminta untuk menyimpulkan apa itu pola barisan bilangan dan bagaimana menentukan nilai suku ke-n dari suatu barisan bilangan. Adapun tahapan pembelajaran pola barisan bilangan dengan menggunakan media lidi korek api dapat dilihat pada contoh di bawah ini :

LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS)

Mata Pelajaran        : Matematika

Kompetensi Dasar : 6.1. Menentukan Pola  Barisan Bilangan Sederhana

Waktu                    : 2 x 40 Menit

Indikator                  : Menentukan Pola Barisan Bilangan Sederhana.

Kegiatan                   : Diskusikan dengan teman sebangkumu.

1. Gambarlah konstruksi bangun datar pada kolom gambar dengan menggunakan lidi korek api dan isilah berapa banyak lidi korek api yang diperlukan pada kolom disebelahnya

2. Tuliskan banyak lidi koerek api yang    diperlukan pada soal no.1 di atas secara berurutan. Buatkan tabelnya.

3. Tanpa mengkonstruksi tentukan berapa   banyak lidi korek api yang diperlukan  untuk mengkonstruksi :

a) 10 buah segitiga sama sisi ?

b)12 buah segitiga sama sisi ?

c) 20 buah segitiga sama sisi ?

d) n   buah segitiga sama sisi ?

4. Tentukan aturan / pola barisan bilangan       3 , 5 , 7 , 9 , . . . .. . .

5. Tentukan suku ke –n dari barisan bilangan   3 , 5 , 7 , 9 , . . . . .

6. Tanpa mengkostruksi, tentukan berapa banyak lidi korek api yang diperlukan untuk mengkonstruksi :

a) 8 buah persegi ?

b) 10 buah persegi ?

c) 15 buah persegi ?

d) n buah persegi ?

7. Tentukan aturan / pola barisan bilangan       4 , 7 , 10 , . . .

8. Tentukan suku ke – n dari bilangan              4 , 7 , 10 , . . . .

9. Tentukan pola barisan bilangan                   4 , 8 , 12 , 16 , . . .

10. Tentukan suku ke – n dari barisan bilangan 4 , 8 , 12 , 16 , . . .

 

B.1. Tentukan pola barisan bilangan berikut :

a)  1 , 3 , 5 , 7 , . . .

b)  10 , 8 , 6 , 4 , . .

c)   4 , 9 , 14 , 19 , . . .

d)  25 , 20 , 15 , 10 , . . .

2. Tentukan suku ke – n dari barisan bilangan berikut :

a) 1 , 3 , 5 , 7 , …

b) 10 , 8 , 6 , 4 , . . .

c) 4 , 9 , 14 , 19 , …

d) 25, , 20 , 15 , 10 , . . .

 

KESIMPULAN

             Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cara mengajarkan pola barisan bilangan dengan media lidi korek api adalah sebagai berikut:

# menetapkan pendekatan yang akan digunakan

# menyiapkan RPP

# menyiapkan media yang  digunakan

# menyiapkan /merancang LKS yang akan digunakan

 

Daftar Rujukan

 Arsyad,azhar. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta :Raja   Grafindo Persada.

Dikdasmen. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika 1.Jakarta : Proyek Pengembangan Sistem dan Pengendalian Program

Sagala,Syaiful.2003. Konsep dan Makna Pembelajara. Bandung: Alpabeta.

Sudjana,nana.2005.Media Pengajaran.Bandung: Sinar Baru Algensindo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.