PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM DUNIA PENDIDIKAN

0
136

Oleh: Marzal, M.Pd

Widyaiswara Ahli Madya BDK Palembang

  1. Pendahuluan

Pendidikan karakter   adalah  sebuah  sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekat, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai,  baik  terhadap  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  diri  sendiri,  sesama  manusia, lingkungan maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.

Dharma Kesuma menyatakan bahwa: “Karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan”. Seseorang  dianggap  memiliki  karakter  mulia  apabila  mempunyai pengetahuan  yang  mendalam  tentang  potensi  dirinya  serta  mampu mewujudkan  potensi  itu  dalam  sikap  dan  tingkah lakunya.

Adapun  ciri  yang dapat  dicermati  pada  seseorang  yang mampu memanfaatkan  potensi  dirinya adalah  terpupuknya  sikap-sikap  terpuji,  seperti  penuh  reflektif,  percaya  diri, rasional,  logis,  kritis,  analitis,  kreatif-inovatif,  mandiri,  berhati-hati,  rela berkorban,  berani,  dapat  dipercaya,  jujur,  menepati  janji,  adil,  rendah  hati, malu berbuat  salah, pemaaf, berhati  lembut,  setia, bekerja keras,  tekun, ulet, gigih,  teliti,  berinisiatif,  berpikir  positif,  disiplin,  antisipatif,  visioner, bersahaja,  bersemangat,  dinamis,  hemat,  efisien,  menghargai  waktu,  penuh pengabdian,  dedikatif,  mampu  mengendalikan  diri,  produktif,  ramah,  cinta keindahan, sportif, tabah, terbuka, dan tertib.

Seseorang  yang  memiliki  karakter  positif  juga  terlihat  dari  adanya kesadaran  untuk  berbuat  yang  terbaik  dan  unggul,  serta  mampu  bertindak sesuai  potensi  dan  kesadarannya  tersebut.  Dengan  demikian  karakter  atau karakteristik  adalah  realisasi  perkembangan  positif  dalam  hal  intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku. Bila  peserta  didik  bertindak  sesuai  dengan  potensi  dan  kesadarannya tersebut  maka  disebut  sebagai  pribadi  yang  berkarakter  baik  atau  unggul indikatornya  adalah mereka  selalu  berusaha melakukan  hal-hal  yang  terbaik terhadap  Tuhan Yang Maha  Esa,  diri  sendiri,  sesama manusia,  lingkungan, negara,  serta  dunia  internasional  pada  umumnya,  dengan  mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasi.

Di antara karakter baik yang hendak dibangun dalam kepribadian peserta didik  adalah  bisa  bertanggung  jawab,  jujur,  dapat  dipercaya, menepati  janji, ramah,  peduli  kepada  orang  lain,  percaya  diri,  pekerja  keras,  bersemangat, tekun,  tak  mudah  putus  asa,  bisa  berpikir  rasional  dan  kritis,  kreatif  dan inovatif, dinamis, bersahaja, rendah hati, tidak sombong, sabar, cinta ilmu dan kebenaran, rela berkorban, berhati-hati, bisa mengendalikan diri, tidak mudah terpengaruh  oleh  informasi  yang  buruk,  mempunyai  inisiatif,  setia, menghargai waktu, dan bisa bersikap adil.

 Landasan Pendidikan Karakter

  1. Landasan Yuridis

Landasan yuridis pelakasanaan pendidikan karakter sangat jelas. Hal ini tampak dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisem Pendidikan Nasional pada Pasal yang menyatakan:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia;sehat; berilmu; cakap; kreatif; mandiri; dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam pasal tersebut, secara tersirat dapat disimpulkan bahwa pendidikan nasional berfungsi dan bertujuan membentuk karakter (watak) peserta didik menjadi manusia sempurna.

  1. Landasan Filsafat Manusia

Secara filosofis, manusia diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan belum selesai. Mereka dilahirkan dalam bentuk setengah jadi. Manusia yang ketika dilahirkan berwujud anak manusia belum tentu dalam proses perkembangannya ketika dewasa menjadi manusia yang sesungguhnya. Agar dapat menjadi manusia yang sesungguhnya, dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, anak-anak manusia memerlukan bantuan. Upaya membantu manusia untuk menjadikan manusia yang sesungguhnya itulah yang disebut pendidikan. Berbeda dengan hewan, yang memang dari lahir sampai proses perkembangannya akan tetap menjadi hewan yang sesungguhnya dan berkarakter sebagai hewan.

Dalam proses perkembangannya, karakter manusia bahkan dapat lebih buruk daripada hewan. Oleh sebab itu, pendidikan karakter sangat diperlukan bagi manusia sepanjang hidupnya, agar menjadi manusia yang berkarakter baik.

  1. Landasan Filsafat Pancasila

Bangsa Indonesia yang memiliki dasar pancasila, seharusnya juga memiliki perilaku/karakter yang senantiasa dijiwai oleh nilai-nilai yang terkandung dalam ke-5 sila pancasila, yakni: Bangsa yang ber-keTuhanan Yang Maha Esa; Bangsa yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan yang adil dan beradab; Bangsa yang mementingkan persatuan dan kesatuan untuk Indonesia; Bangsa yang demokratis dan menjunjung tinggi hukum dan Hak Asasi Manusia; Bangsa yang mengedepankan keadilan sosial dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia.

“Manusia Indonesia yang ideal, adalah manusia Pancasilais, yaitu menghargai nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial”.

  1. Landasan Filsafat Pendidikan

Seseorang yang berkepribadian utuh digambarkan dengan terinternalisasikannya nilai-nilai dari berbagai dunia makna (nilai), yaitu nilai simbolik yang ada dalam bahasa, ritual keagamaan, dan matematika; nilai empirik terdapat dalam Sains dan Ilmu Pengetahuan Sosial; nilai estetik yang terdapat pada kesenian; nilai etik dikembangkan melalui pendidikan moral; yang tercermin dalam pengalaman hidup yang unik dan sangat mengesankan yang mampu mengubah perilaku; dan nilai sinoptik yang merangkum keseluruhan nilai dan hadir dalam pendidikan agama, sejarah dan filsafat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter pada dasarnya merupakan proses internalisasi nilai-nilai di atas yang dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran yang diajarkan dalam pendidikan formal maupun non formal.

 Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang  berakhlak mulia, bermartabat, tangguh, berjiwa patriotik, kompetitif, berkembang dinamis, berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan nilai-nilai karakter yang dikembangkan yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Pendidikan  karakter  bertujuan  mengembangkan  nilai-nilai  yang membentuk  karakter  bangsa yaitu Pancasila, meliputi: 1)  mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; 2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; 3) Mengembangkan  potensi  warganegara  agar  memiliki  sikap  percaya  diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. Pendidikan karakter dalam seting sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan;
  2. Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah;
  3. Membangun koneksi yang harmonis dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggungjawab pendidikan karakter secara bersama.

Pendidikan karakter  berfungsi 1) membangun  kehidupan  kebangsaan yang multikultural; 2) membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur,  dan mempu  berkontribusi  terhadap  pengembangan  kehidupan  umat manusia, mengembangkan  potensi  dasar  agar  berhati  baik,  berpikiran  baik,dan  berperilaku  baik  serta  keteladanan  baik;  3)  membangun  sikap warganegara  yang  mencintai  damai,  kreatif,  mandiri,  dan  mampu  hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni.

  1. Tahapan Perkembangan Karakter Siswa

Karakter dikembangkan melalui tahapan pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Seseorang dikatakan memiliki karakter yang baik itu tidak hanya terbatas pada pengetahuannya tentang kebaikan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan mengenai baik buruknya sifat, belum tentu mampu bertindak sesuai pengetahuannya, jika ia tidak terbiasa melakukan kebaikan.

Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu:

  1. moral knowing (pengetahuan tentang moral) yang meliputi kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, penentuan sudut pandang, logika moral, keberanian mengambil sikap, dan pengenalan diri.
  2. moral feeling atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral yang meliputi kesadaran akan jati diri, percaya diri, kepekaan terhadap derita orang lain, cinta kebenaran, pengendalian diri, dan kerendahan hati.
  3. moral action atau perbuatan moral merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya.

 

  1. Penutup

Proses pembentukan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh diri sendiri dan juga dari lingkungan dan antara keduanya terjadi interaksi. Secara normatif, pembentukan atau pengembangan karakter yang baik memerlukan kualitas lingkungan yang baik pula. Berikut empat faktor yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter.

  1. Keluarga

Keluarga adalah komunitas pertama bagi seseorang, yang menjadi tempat untuk belajar mengenai konsep baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah, sejak usia dini.

  1. Media Massa

Di era kemajuan teknologi ini, salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap pembangunan, atau sebaliknya, perusakan karakter bangsa adalah media massa, khususnya media elektronik. Sebenarnya, mengenai bagaimana pengaruh media massa terhadap bangsa, merusak atau membangun, itu tergantung pada penggunanya sendiri.

  1. Teman Sepergaulan

Teman sepergaulan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter seseorang. Adakalanya pengaruh teman sepergaulan tidak sejalan dengan pengaruh keluarga, bahkan bertentangan, ada juga yang sebaliknya, yakni mereka membawa pengaruh yang baik.

  1. Sekolah

Sekolah adalah tempat peserta didik mengenyam pendidikan secara formal. Pembinaan watak adalah tugas utama pendidikan. Bagi orangtua, sekolah diharapkan menjadi salah satu tempat atau lingkungan yang dapat membantu anak mengembangkan karakter yang baik.

 

Daftar Pustaka

Andayani Dian dan Abdul Majid. 2011. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Aunillah,  Nurla  Isna.  2013 Panduan  Menerapkan  Pendidikan  Karakter  di Sekolah. Jogjakarta: Laksana

Dharma Kesuma,  et. all. 2011. Pendidikan Karakter “Kajian Teori dan Praktik di Sekolah” Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. 2006. Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, Jakarta: Departemen Agama RI

Novan Ardy Wiyani2013. Konsep, Praktik, dan Strategi Membumikan Pendidikan Karakter di SD. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Rusdianto, (ed.). 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. (Jogjakarta: DIVA Press, 2012)

Tim Pakar Yayasan Jati Diri Bangsa. 2011. Pendidikan Karakter di Sekolah “dari Gagasan ke Tindakan”. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Zubaedi. 2011 Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.