MANAJEMEN MASJID

0
71

MANAJEMEN  MASJID

Oleh : Salman Saesar

Widyaiswara Utama

 

Absrak

Pada saat ini orang-orang Islam terus mencoba untuk membangun masjid. Kemudian muncul masjid baru di berbagai tempat, di samping banyak renovasi atas yang lama. Semangat dalam mencoba untuk membangun Rumah Allah adalah yang tepat untuk membuat kita bangga. Hampir di seluruh sudut tanah air tidak ada tempat yang tidak memiliki sentuhan dengan bangunan masjid. Beberapa dari mereka adalah kecil dan lucu danbeberapaoranglainsangatbesardanmulia.Mendukung orang-orang di begitu banyak bangunan fisik masjid positif rata-rata. Di mana masjid dibangun, ada banyak partisipasi orang dalam berbagai cara untuk menggalang dana. Semangat dan motivasi dari orang-orang di gedung dan penggalangan dana yang sangat ditentukan oleh trik khusus manajemen di setiap masjid dalam menggalang dan melibatkan orang-orang.
Jadi keinginan yang kuat dan orang-orang sangat antusias dalam membangun masjid, itu harus diimbangi dengan penggunaan fungsi masjid dalam mengembangkan orang. Tampaknya fungsi masjid dalam mengembangkan orang tidak sesuai lagi, terutama di negara-negara kembali, seperti masjid pada saat ini hanya difungsikan sebagai mandhoh layanan keagamaan dan tidak mencapai belum untuk layanan sosial keagamaan dan lain-lain.Untuk alasan ini, sangat penting untuk pengelolaan masjid untuk memahami pengelolaan masjid juga.

Kata Kunci : Manajemen, Masjid, dan Sosial.

  1. Pendahuluan

Meskipun manajemen pada awalnya tumbuh dan berkembang dikaIangan dunia bisnis, industri dan minter, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya temyata sangat bermanfaat dan amat dibutuhkan dalam berbagai usaha dan kegiatan, termasuk didalamnya organisasi pengelolaan masjid. Dalam dards modern, di mans perkembangan berbagai disiplin ilmu dan teknologi sangat pesat, tidak ada satu organisasipun yang tidak menggunakan manajemen. Pengelolaan masjid dew asa int yang ditandai dengan era globalisasi, pasti menghadapi berbagai tantangan dan permasaIahan yang sangat kompleks. Karenanya gelombang budaya asing yang bersifat destruktif mendorong pars pengelola masjid untuk mem­persiapkan manajemen yang baik dan berkualitas.

Manajemen masjid yang kits siapkan tidak lepas dari tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah, dari kedua sumber ajaran Islam itulah kita mengem­bangkan suatu manajemen pengelolaan masjid yang sesuai dengan bim­bingan Rasulullah SAW. Sebagai suatu aktivitas yang sangat terpuji, penge­Iolaan masjid harus dilaksanakan secara profesional dan menuju pada sistem manajemen modern, sehingga dapat mengantasipasi perkembangan yang tents berubah dalam kehidupan masyarakat yang maju dan ber­kualitas.

  1. Pembahasan
  2. Manajemen dalam Pengertian Sederhana

Manajemen adalah suatu ilmu untuk mengelola sushi aktivitas, dalam rangka mencapai suatu tujuan, dengan bekerjasama secara efisien dan terencana dengan baik. Sebagai ilmu baru yang berkembang menjelang abed dua puluh, manajemen terns berkembang dengan pesat, sesuai dengan perkembangan zarnan. Emu itu dewasa ini dapat digunakan untuk kegiatan spa raja, yang bersifat kerjasarna untuk mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien, atau usaha dengan kegiatan sekecil mungkin dan memperoleh hasil yang maksimal.

Ilmu Manajemen bergerak untuk mengefisienkan semua unsur manajemen, yaitu orang, uang, barang, mesin dan sebagainya. Paling tidak dilakukan melalui empat fungsi manajemen yang disingkat POAC yaitu (I) Planning, (2) Organizing, (3) Actuating dan (4) Controlling) Para ahli yang ‘lain menambahkan beberapa fungsi, sebagai pengembangan dart empat fungsi di  atas yaitu : (1) research, atau penelitian, (2) staffing atau penempatan personil, (3) evaluating dan (4) budgeting atau anggaran pendapatan dan belanja. Masjid merupakan suatu organisasi yang menjadi pusat ibadah, dakwah dan peradaban Islam, untuk pengelolaannya agar lebih efisien dan efektif perlu menggunakan ilmu manajemen. Manajemen yang akan dikembanglom dalam hal ini tidak terlepas dari bingkai ajaran Islam, karena itu sebeIum membahas lebih jauh, perlu dikaji terlebih dalndu mengenai fungsi masjid pada masa Nabi SAW dan gambaran masjid yang kita idealkan, atau masjid masa deparan.

  1. Fungsi Masjid Masa Rasulullah SAW

Masjid, pengertiannya secara etimologis merupakan isim makan dari kata “sajada” “yasjudu” – “sujudan”, yang artinya tempat sujud, dalam rangka beribadah kepada Allah SWT atau tempat untuk mengerjakan shalat. Sesungguhnya untuk sujud atau mengerjakan shalat, botch dilakukan di mans saja asal tidak ada larangan, sebagaimana dinyatakan sabda Nabi SAW: “…Dijadikan bagiku seluruh bumf sebagai tempat sujud (masjid) dan tanahnya dapat digunakan untuk bersuci… ” (HR. Muslim). Kenyataan itu memberikan sushi pemahaman, bahwa tempat untuk bersujud atau mengerjakan Shale tidak terikat pada tempat tertentu, akan tetapiboleh dilakukan di mana saja di alam semesta inibahkan boleh dilaku­kan di kandang ternak sekalipun, asal mernenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Pengertian masjid secara sosiologis, yang berkembang pada masyarakat Islam Indonesia, dipahami sebagai suatu tempat atau bangunan tertentu yang clipenmtukkan bagi orang-orang muslim untuk mengerjakan shalat, yang terdiri dari shalat wajib dan shalat sunnah, baik secara perseorangan ataupun jama’ah. la diperuntukkan juga untuk melaksanakan ibadah-iba­dah lain dan melaksanakan shalat Jut’ at. Dalam perkembangan selanjut­nya, masjid dipahami sebagai tempat yang dipakai untuk shalat rawatib dan ibadah shalat jurreat, yang sering disebut jami’ atau masjid jami’. Sedangkan bangunan yang serupa masjid yang dipakai untuk mengerjakan shalat wajib dan sunnah, yang tidak dipakai untuk shalat jum`at disebut “mushalla’. Kata ini mertunjukkan isim makan dari “shalla” – “yushalli” – “shalatan” yang artinya tempat shalat. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa setiap masjid berarti jugs mushalla, tetapi tidaklah setiap mushalla adalah masjid. Mushalla sering disebut dengan nama talus, langgar, surau, meueasah dan sebagainya.

Pada awal perkembangan da’wah Islam periode Madinah, ketika Nabi SAW berhijrah, tempat yang pertama kali dibangun adalah masjid Quba dengan dasar taqwa kepada Allah SWT, dikerjakan secara gotong royong oleh rnasyarakat  di tempat itu. la didirikan oleh rnasyarakat dan untuk kepentingan masyarakat dalam rangka pengamalan ajaran Islam. “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut lcamu shalat di dalamnya. Di dalam­nya ada orang-orang yang ingin rnensucikan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang sucr (Q.S. al-Taubah: 11:18). Setelah pembangunan masjid Quba, Rasul SAW melanjutkan perjalanan ke Madinah, di sanapun yang pertama beliau lakukan ialah membangun masjid rays yang kemudian disebut masjid Nabawi. Dalam masjid inilah Rasul SAW membina rnasyarakat Islam, yang diawali dengan membina masyarakat yang terdiri clan multi ras, multi etnis, dan multi agama. Masyarakat Islam yang dibina Rasulullah SAW berhasil dengan balk, sehingga menjadi suatu umat yang dikagurni oleh kawan maupun lawan dan menjadi pemimpin dunia pada masanya. Fungsi masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW, dapat diuraikan antara lain, sebagai berikut: (1) Untuk melaksanakan ibadah mandhah seperti shalat wajib, shalat sunnah, sujud, i tikaf, dan shalat-shalat sunnah yang bersifat insidental seperti shalat Id, shalat gerhana dan sebagainya. Seminggu sekali setiap hari Jum’at dilaksanakan shalat Jum’at dengan didahului dua khutbah untuk membina keimanan dan ketakwaan kaum muslimin (2) Sebagai pusat pendidikan dan pengajaran Islam. Nabi SAW sering menerima wahyu dalam masjid Madinah, dan mengajarkannya pada para sahabat dalam berbagai hal seperti hukum, kemasyarakatan, perundang-undangan dan berbagai ajaran lainnya. Para sahabat nabi melakukan berbagai kegiatan ilmiah di masjid, termasuk mempelajari dan membahas sumber-surnber ajaran Islam. Di masjid Madinah juga disediakan tempat khusus bagi mereka yang mengkhususkan kegiatarmya untuk mendalami Amu agama yang disebut Ahlal-Shuffalr. Fungsi berikutnya (3) sebagai pusat informasi /slam Rasulullah SAW menyampaikan berbagai macam informasi di masjid termasuk menjadi­karmya sebagai tempat bertanya bagi para sahabat (4) Tempat menyelesai­kan perkara dan pertikaian, menyelesaikan masalah hukum dan peradilan serta menjadi pusat penyelesaian berbagai problem yang terjadi pada masyarakat. Fungsi selanjutnya (5) masjid sebagai pusat kegiatan ekonomi. Yang dimaksud kegiatan ekonomi, tidak berarti sebagai pusat perdagangan atau industri, tetapi sebagai pusat untuk melahirkan ide-ide dan sistem ekonomi yang islami, yang melahirkan kemakmuran dan pemerataan pendapatan bagi umat manusia secara adil dan berimbang. Fungsi selanjutnya (6) sebagai pusat kegiatan sosial dan politik. Kegiatan sosial, tidak bisa dipisahkan dengan masjid sebagai tempat berkumpulnya para jarna’ah dalam berbagai Iapisan masyarakat. Dad suasana itu terjadi interaksi sosial yang saling menguntungkan dan saling mengasihi. Kegiatan politik juga tidak hiss dilepaskan dari kehidupan masjid, karena politik dan kehidupan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dicerai pisahkan. Politik yang dikembangkan di sini adalah politik tingkat tinggi yang bersifat Islarni bukan politik murahan yang kotor clan mencelakakan kelompok masyarakat. Banyak lagi lungs! lain yang bisa dikembangkan dari uraian di alas sehingga bisa lebih terperinci.

  1. Masjid Masa Depan

Memasuki milenium ketiga, masjid hams menata dirinya dengan me­nampilkan sosok yang mengagumkan baik dad segi bangunan fisik, arsitektur, seni dan sarana-sarananya. Aktifitasnya harus dikelola dengan manajemen modem dan mencontoh fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW, dengan cars melakukan aktualisasi pemahaman, dari pemaharnan tekstual, menuju kontekstual sampai yang konseptual. Aktualisasi dari peran masjid yang terjadi pada rnasa Nabi SAW, misalnya bisa dilakukan dengan: (1) pembangunan sarana fisik yang memadai, masjid hendaknya dibangun dengan persiapan yang sebaik-baiknya dalam berbagai aspek, sehingga mampu menampung berbagai kegiatan yang telah dirertcanakan clan dirancang dengan baik, (2) Kegiatan ibadah mahrthah hams berlalan dengan teratur, sehingga hiss membantu untuk mendatangkan kelchusyu’an bagi mereka yang beribadah di sana. Untuk itu segala kesucian, kebersihan, kewibawaan dan keanggunannya harus terus dijaga. (3) Sebagai pusat pendidikan, diarahkan untuk mendidik generasi muda Islam dalam pemantapan agidah, pengamalan syariah dan akhlak, terutama pada tingkat TK dan Sekolah Dasar, pendidikan non formal dilakukan di masjid dalam berbagai tingkatan, tidak terbatas pada sekolah menengah atau strata satu saja. Menyiapkan sarana audio visual untuk pendidikan sejarah Islam, dilengkapi dengan film, VCD, DVD, dan sebagainya. Sekolah manapun yang ingin mempelajari pendidikan sejarah Islam bisa menghubungi masjid untuk mengajak pars siswanya mengunjungi studio yang disiapkan di sana. Aktualisasi berikutnya (4) sebagai pusat informasi Islam, dikelola secara modem dengan media internet, termasuk dilengkapi dengan faks, email, website dan sebagainya. Dengan media ini diharapkan akan mempermudah masyarakat memperoIeh informasi Islam secara meluas dan mendalam (5) Pusat dakwah diwujudkan dengan pembenhikan lembaga da’wah, diskusi-diskusi rutin, kegiatan remaja masjid, penerbitan buku-buku, majalah, dan brosur dan media masa lainnya termasuk media elektronilc. (6) Pusat penyelesaian masalah (problem solver) bisa diwujudkan dengan merekrut pars pakar dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk pars ulama untuk memberikan solusi terhadap berbagai permasaahan yang timbul di tengah masyarakat. (7) Sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi dan politik, masjid didesain agar terasa dimiliki oleh semua golongan umat Islam dari kelompok, golongan dan partai apapun. Dengan demikian setiap orang muslim merasa memffilci masjid tersebut dan merasa mendapat naungan yang sangat bermanfaat.

Dalam aktivitas politik, hendaknya menghindari kegiatan politik rendahan yang hanya memenangkan kelompok ter tentu dan memihalc pada kepentingan politik sesaat. Untuk mewujudkan situasi yang kondusif ke arah itu perlu diprogram sebaik mungkin, pengurusnya direkrut dart berbagai kalangan umat Islam, para penceramah dan pengajamya jugs diambil dari berbagai organisasi Islam. Kegiatan ibadah maupun sosial dalam masalah furuiyah, hendaknya memperhatikan kelompok-kelompok yang ada pada masyarakat selarna memiliki pegangan yang mulamart. Urnat hares dididik agar bertoleransi para perbedaan Fiqh atau perbedaan­perbedaan lain yang bersifat famiyah.

  1. Pengelolaan Masjid

Pengelolaan atau idarah masjid, disebut juga Manajemen Masjid, pada garis besarnya clibagi menjadi dua bagian yaitu (1) Manajemen Pembinaan Fisik Masjid (Physical Management) dan (2) Pembinaan Fungsi Masjid (Functional Management)? Manajemen Pembinaan Fisik Masjid meliputi kepengurusan, pembangunan dan pemeliharaan fisik masjid, pemeliharaan kebersihan dan keanggunan masjid pengelolaan tarnan dan fasilitas-fasilitts yang tersedia. Pembinaan fungsi masjid adalah pendayagunaan peran masjid sebagai pusat ibadah, dakwah dan peradaban Islam sebagaimana masjid yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Sebagai pusat ibadah, masjid disiapkan sedemikian rupa sehingga pelaksanaan ibadah itu seperti shalat Lima waktu, shalat jum’at dan shalat-shalat sunnah berjatan dengan balk sesuai dengan ajaran Islam. Pengelolaan pelaksanaan zakat, ibadah puasa dan ibadah haji diberikan bimbingan pelaksanaannya melalui masjid. Sebagai pusat dakwah, masjid hendaknya memprakarsai kegia tan dakwah baik secara tulisan, lisan, elektronik dan dakwah bil hal. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan pembentukan lembaga dakwah. Untuk mengantisipasi perluasan kegiatan masjid bisa dilakukan dengan membentuk lembaga-lembaga yang bernaung di bawahnya. Lembaga-lembaga itu berfungsi sebagai kepanjangan tangan dari program yang telah ditetapkan. Mengenai jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan yang berkembang di lingkungan masjid seperti lembaga haji dan umrah, lembaga pembinaan, BMT dan sebagainya.

Kegiatan dan pengelolaan masjid memerlukan dana yang besar, karena itu tidak cukup bila hanya mengandalkan basil dari tromol yang diadakan setiap Jum’at dan setiap pengajian. Masjid haru memiliki sumber dana tetap dan bergengsi, misalnya rnengembangkan usaha-usaha tertentu dengan memanfaatkan pangsa pasar. Hal itu bisa dilakukan misalnya dengan penyewaan gedung untuk resepsi pernikahan, seminar, pelaksanaan kursus­kursus yang dibutuhkan di kalangan masyarakat, dan melakukan kegiatan bisnis lainnya. Termasuk dalam rangka mengumpulkan dana untuk kegiatan masjid adalah pembentukan BMT Iembaga haji dan umrah mem­buka mini market clan sebagainya.

Organisasi masjid dengan berbagai kebijaksanaannya termasuk masalah keuangan yang harus dikelola secara transparan, sehingga para jama’ah da pat mengikuti perkembangan masjidnya secara baik. Masjid yang dirasakan sebagai milik bersama dan dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh para jama’ah akan mends pat dukungan yang kuat, balk dari segi pembangunan maupun dana.

 

  1. Pengurus Masjid

Berhasil atau gagalnya pengelolaan sualu masjid, sangat bergantung pada kepengurusan yang dibentuk dart sistem yang diterapkan dalam manajemen dan organisasinya. Sebagai contoh sederhana pada makalah ini dikemukakan susunan pengurus masjid lengkap dengan seksi-seksi dan lembaga-lembaganya. Susunan pengurus dikemukakan hanya sebagai contoh saja. Masing-rnasing daerah bisa mengembangkannya lebih jauh atau lebih sederhana sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di daerah masing-masing. Pengurus masjid yang terdiri dan beberapa orang tersebut, dalam melaksanakan tugasnya tidak boleh berjahtn sendiri-sendiri. Koord Masi dan kerja sama merupakan sifat utama dalam praktek berorganisasi. Kekom­pakan dalam bekerja antar pengurus masjid sangat diperlukan balk dalam melaksanakan program maupun dalam upaya memecahkan berbagai kendala dan hambatart yang timbal. Kekompakan pengurus masjid sangat berpengaruh terhadap ke­hidupan masjid. Kegiatan-kegiatan masjid akan berjalan baik dan sukses apabila dilaksanakan oleh pengurus yang kompak bekerjasama. Berbagai kendala dan hambatan yang dijumpai dalam pelaksanaan kegiatan akan mudah diatasi oleh pengurus yang kompak bahu membahu. Tanpa pengurus masjid yang kompak, misalnya Ketua dan Sekretarisnya berjalan sendiri-sendiri atau salah satunya tidak aktif, maka yang terjadi adalah kepincangan dalam kepengurusan yang berakibat kegiatan masjid ter­ganggu dan lumpuh. Oleh karena itu, pengurus masjid paling tidak harus memiliki karakter saling pengertian, taking menolong clan mau nasehat menasehati agar semuanya berjalan dengan baik:

  1. Saling pengertian

Setiap pengurus perlu memiliki sikap saling pengertian, dengan menyadari perbedaan fungsi dan kedudukan masing-masing. Mereka dilarang saling mencampuri urusan dan wewenang, juga tidak dibenar­kan saling menghambat. Apabila seorang pengurus berhalangan dan tidak dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan penuh pengertian, pengurus yang lain menggantikannya. Sebaliknya, bila salah seorang pengurus bertindak kelku, yang lain meluruskannya. Yang diluruskan degan penuh pengertian harus menerimanya. Tumbuhnya saling pengertian di antara pengurus masjid, insya Allah, merekat kekompakan dan keutuhan sesama pengurus.

  1. Tolong menolong

Pengurus masjid juga perlu memiliki rasa tolong-menolong atau berusaha untuk saling menolong. Pralctek tolong-menolong itu pertama­tama tentu menyangkut hubungan kerja. Bila ada pengurus yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas, pengurus yang lain berusaha menolong dan membantunya jika suasana seperti itu tidak ada, terharnbatnya pelaksanaan tugas te-nha akan dirasakan clampak­nya oleh seluruh pengurus. Akan menjadi lebih harmonis jika iklim positip di dalam hubungan kerja itu diterapkan dalam hubungan pribadi dan keluarga. Ketika salah seorang pengurus tertimpa musibah, misalnya, pengurus yang lain ber­usaha menolong dan membantunya, sekurang-kurangnya mereka datang berkunjung.

  1. Nasehat menasehati

5esama pengurus masjid juga perlu saling menasehati. Apabila ada pengurus yang berbuat kesalahan dan kekeIiruan dalam melaksanakan tugas, is harus dengan senang hati menerima teguran dan saran-saran

dari pengurus yang lain. Dalam kapasitas sebagai Ketua, misalnya, is berwenang menegur dan menasehati stafnya, tetapi di sisi lain diapun harus bersedia dinasehati, menerima saran dan bila perlu kritik dari stafnya, tanpa hams merasa tersinggung dan marah

Hidupnya suasana saling pengertian, tolong-menalong dan sating menasehati sesama pengurus memungkinkan seluruh pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan balk, lancar dan mencapai sasaran yang telah digariskan. Kekompakan pengurus masjid akan terpelihara dengan ajeg jika seluruh personil bersungguh-sungguh membinanya dan melestarikan­nya. Sebaliknya, apabila pengurus mengabaikannya yang akan terjadi tentunya roda organisasi menggelinding secara terpatah-patah.

  1. Kesimpulan

Sebagai implementasi dari Manajemen Masjid dan pembinaan ummat, agar memperoleh hasil yang maksimal, menurut para ahli rnanajemen perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Tumbuh kembangkan kemampuan orang per orang baik secara individu maupun kelompok.
  2. Ruatkan ikatan sesame anggota masyarakat dan timbulkan kesungguhan mereka dalam bekerja.
  3. berikan informasi yang lengkap dan valid bagi siapa saja yang terlibat dalam suatu aktivitas.
  4. Kembangkan kesepakatan dan berikan semangat sesame mereka.
  5. Berariilah mengarnbil resiko dan selesaikan masalah secara kreatif.

DAFTAR  PUSTAKA

  1. Ike Kusdyah Rachmawati, 2004, Manajemen: Konsep-kansep Vasar den Pengantar Teari, Malang, LIMM Press.
  2. Jabrohim, ed., 2001, Menggapai Desa Sejahlera Menuju Masyarakat Utama, Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
  3. M. Ayub, dkk, 1996, Manajemen Masjid, Jakarta: Gema lnsani Press, Rosyad Sholeh, 1977, Manajemen Dakwah Islam, Jakarta: Bulan Bintang. Sidi Gazalba, 1994, Masjid Pusat Ibadah dun Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.