MALAPETAKA SISI LAIN DARI UJIAN NASIONAL

0
43

MALAPETAKA SISI LAIN DARI UJIAN NASIONAL

 Oleh: Marzal, M.Pd

Widyaiswara Ahli Madya BDK Palembang

 

Sejak terbitnya putusan Mahkamah Agung (MA) nomor 2596 K/PDT/2008 pada 14 September 2009 untuk menolak kasasi yang diajukan oleh pemerintah Indonesia atas perkara gugutan warga negara (citizen lawsuit), yang dilakukan oleh  Kristiono dkk, tentang pelarangan ujian nasional yang digelar oleh Depdiknas, maka banyak terjadi pro kontra atas putusan ini. Ada yang pro ujian nasional tetap dilaksanakan karena menganggap ujian nasional dapat memetakan mutu pendidikan nasional, dapat meningkatkan mutu pendidikan, dan dapat memotivasi pemangku pendidikan (stakeholders) untuk meningkatkan mutu pendidikan. Di sisi lain ada juga sebagian besar kalangan yang menolak ujian nasional dengan alasan karena belum meratanya kualitas guru, sarana prasarana pendidikan, serta informasi di berbagai daerah, alasan inil pula yang menjadi pertimbangan Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi yang diajukan oleh pemerintah. Selain itu menurut penulis, ujian nasional juga membawa efek domino bagi semua pihak. Efek-efek tersebut mulai dari yang biasa, fatal, dan tidak fatal terhadap perkembangan dan pembentukan karakter peserta didik. Ujian nasional yang dlaksanakan sejak tahun 2004 juga menjadi malapetaka, baik bagi siswa, guru, kepala sekolah, kepala dinas, maupun bupati/walikota.

Pertama, ujian nasional membawa malapetaka bagi siswa; siswa belajar dengan keterpaksaan bukan dengan merasa senang dan tanggungjawab sebagai peserta didik, siswa menghalalkan segala cara/kecurangan untuk mengejar nilai yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), mulai dari membeli kunci jawaban dari oknum yang tidak bertanggungjawab yang belum tentu benar jawaban yang diberikan sampai dengan mencontek saat mengikuti ujian nasional. Semua ini akan mempengaruhi perkembangan mental, karakter,  dan spiritual siswa. Padahal salah satu tujuan pendidikan secara inflisit adalah bukan hanya berusaha dalam bidang akademik nilai hasil ujian yang tinggi tetapi lebih penting dari itu adanya proses pembentukan karakter dalam proses pendidikan yang dilaksanakan. Dengan demikian, ketika kecurangan-kecurangan ini terus-menerus dilakukan oleh siswa sebagai peserta didik maka bukan hal yang mengagetkan jika dikemudian hari para siswa ini menjadi pengelola bangsa ini dimasa yang akan datang akan terjadi kasus-kasus yang tidak fair seperti terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sudah kita lihat ditayangan televisi, kita dengar di radio-radio dan dan kita baca di media massa cetak. Maka inilah malapetaka yang sangat hebat bagi bangsa kita dimasa yang akan datang. Disamping itu terjadinya frustrasi dalam diri siswa. Bagi siswa-siswi yang tidak lulus akan mengalami goncangan kejiwaan, mulai goncangan yang ringan sampai ke yang hebat, misalnya sekedar malu dengan teman, tetangga, sampai dengan aksi bunuh diri. Inilah salah satu penyebab mengapa Mahkamah Agung (MA) menolak upaya hukum yang dilakukan oleh pemerintah yaitu kasasi.

Kedua, ujian nasional membawa malapetaka bagi guru. Bagaimana malapetaka terjadi dengan dewan guru yang merupakan “pahlawan tanpa tanda jasa” ini. Mereka akan merasa beban moral yang sangat khawatir kalau ada siswa siswinya yang tidak lulus ujian nasional. Disamping itu mereka juga akan dicap sebagai “guru yang tidak becus” oleh kepala sekolah dan masyarakat umum, karena guru merupakan salah satu ujung tombak keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang tercerminkan dalam nilai hasil ujian nasional. Untuk “mengamankan”/menjaga kehormatan mereka dan sekolah tidak sedikit guru juga melakukan berbagai macam cara untuk meluluskan siswa siswinya dalam mengikuti ujian nasional yang tergabung dalam sebutan “tim sukses” kelulusan. Disinyalir, cara tim sukses ini bekerja antara lain dengan mengerjakan soal ujian nasional dan memberikan jawabannya kepada para peserta ujian nasional atau mengganti jawaban yang benar setelah lembar jawaban dikumpul/diserahkan kepada panitia sekolah sebagaimana yang terjadi di berbagai daerah pada ujian nasional tahun 2009. Dalam hal ini para “tim sukses” tidak menyadari kalau aksi mereka sebenarnya sudah mengajarkan kebohongan/kecurangan yang nyata kepada para siswa. Jadi mulai dari bangku sekolah para siswa sudah tidak asing lagi dengan aksi-aksi bohong dan curang maka tidak mengherankan juga ketika para siswa ini nantinya menjadi pejabat baik di swasta maupun pemerintahan, mereka juga akan melakukan kebohongan dan kecurangan.

Ketiga, ujian nasional membawa malapetaka bagi kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai manager/administrator, advisor, evaluator, dan Educator di sekolah merupakan simbol apakah berhasil atau tidaknya suatu sekolah. Dengan demikian jika terjadi banyak peserta didik yang tidak lulus dalam ujian nasional,maka kepala sekolah juga akan kena imbasnya dan akan dianggap sebagai kepala sekolah yang tidak berhasil dalam mengelola dan memimpin sekolahnya. Atas kejadian itu tidak sedikit kepala sekolah yang menjadi korban pencopotan dari jabatannya sebagai kepala sekolah oleh para bupati/wali kota melalui kepala dinas pendidikan masing-masing.

Keempat, ujian nasional membawa malapetaka bagi kepala dinas. Kepala dinas juga akan kena imbasnya akibat dari ketidak berhasilan para siswa dalam menempuh ujian nasional. Mereka akan menjadi sasaran pencopotan/rotasi dari jabatannya oleh bupati/walikota. Karena bupati/wali kota juga merasa malu kalau di daerah yang mereka pimpin banyak siswa yang tidak lulus, selain itu ketidak berhasilan siswa dalam mengikuti ujian nasional juga menunjukkan bahwa rendahnya mutu pendidikan di daerahnya.

Oleh karenanya, sungguh tepat upaya pemerintah yang mengajukan banding atas putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta ditolak kasasinya oleh Mahkamah Agung (MA) karena banyak sekali efek domino yang kalau tidak segera diselesaikan oleh pemerintah maka mutu pendidikan dan sumberdaya manusia Indonesia di masa yang akan datang menjadi masalah yang sangat besar dan menjadi malapetaka yang tak dapat dihindarkan. Sehingga bukan hal yang mustahil kalau para generasi penerus bangsa dimasa yang akan datang akan banyak menjadi pejabat yang mempunyai karakter dan mental pembohong dan curang. Inilah sebernarnya malapetaka yang hebat itu dimasa yang akan datang. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menyadarkan kita semua dari sisi lain ujian nasional yang dapat membentuk mental dan karakter generasi penerus bangsa yang penuh dengan kebohongan dan kecurangan. Dengan demikian kita berharap para siswa, guru, dan pemangku pendidikan (stakeholders) untuk melakukan evaluasi dan penilaian pendidikan secara murni dan adil (fair). Oleh sebab itu juga pemerintah diminta oleh berbagai pihak untuk meningkatkan dulu mutu semua guru di seluruh pelosok nusantara agar merata, melengkapi dan memperbaiki sarana prasarana pendidikan terlebih dahulu sebelum melakukan evaluasi dan penilaian berstandar nasional bagi seluruh siswa di negeri Indonesia tercinta ini. Dengan kata lain input, proses, output, dan out come pendidikan kita dapat berjalan pada relnya yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan etika. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.