MAKNA SEBUAH KEJUJURAN

0
108

Oleh

Taufiqurrohman

Abstraks

Jujur adalah sebuah kata yang indah didengar, tetapi tidak seindah mengaplikasikan dalam keseharian. Tidak pula berlebihan, bila ada yang mengatakan “jujur” semakin langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang di negeri ini. Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya. Yang lebih berbahaya lagi adalah ada orang yang ingin dan selalu bersikap jujur, tapi mereka belum sepenuhnya tahu apa saja sikap yang termasuk kategori jujur. Berkaitan dengan kejujuran Rasulullah saw bersabda: “Hendaknya kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kalian kepada kebajikan. Dan kebajikan itu menunjukkan kalian jalan ke surga.” (HR. Muslim)

Jadi yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokkan antara Informasi dengan fenomena atau realitas. Buah kejujuran adalah, anda akan dipandang sebagai seseorang yang bisa diandalkan dan akan mendapatkan kepercayaan penuh dari siapa saja yang mengenal anda.

Kata kunci: Jujur, langka.

Pendahuluan

Jujur sebuah nilai abstrak, sumbernya hati, bukan pada omongannya. Jadi “jujur” sebuah nilai kesadaran “imani”, dimulai dari suara hati, bukan di warung munculnya kejujuran (warung kejujuran). Kualitas imanlah yang dapat mengantarkan seseorang menjadi jujur. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sikap seseorang.

Jika ada seseorang berhadapan dengan sesuatu atau fenomena, maka orang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. Jika orang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan realitasnya) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. Dengan kata lain seseorang dikatakan jujur, bila ucapannya sejalan dengan perbuatannya.

Jadi yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokkan antara Informasi dengan fenomena atau realitas. Dalam agama Islam sikap seperti inilah yang dinamakan shiddiq. Makanya jujur itu ber-nilai tak terhingga. Karena semua sikap yang baik selalu bersumber pada “kejujuran”. Merupakan suatu keindahan bila setiap individu bersikap jujur terhadap dirinya, pedagang senantiasa jujur dalam usaha dagangannya, demikian pula pemimpin yang jujur dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Pengertian Jujur

Dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna:

(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;

(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;

(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan

(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.

Dalam bahasa Indonesia, jujur merupakan kata dasar dari kejujuran, menurut jenis katanya, jujur merupakan kata sifat sedangkan kejujuran merupakan kata benda. Menurut KBBI, kata “jujur” berarti lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya); 2 tidak curang (misal dalam permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas; Sedangkan “kejujuran” berarti sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan kejujuran anak muda itu.

Banyak pendapat yang menyatakan bahwa saat ini kejujuran sudah menjadi barang langka. Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, kita harus tetap optimis bahwa masih banyak kejujuran di sekeliling kita, dan kita harus tetap menggemakan semangat kejujuran. Contoh kisah nyata yang menarik diperlihatkan oleh Bapak Abdul Mukti dari Kediri. Ia mampu menggemakan semangat kejujuran tidak hanya dengan omongan, tapi dengan tindakan jujur yang nyata. Sejak tahun 2011, Pak Mukti menjual bensin dengan menaruhnya ke dalam botol-botol yang ditatanya di atas sebuah rak di depan rumahnya. Di rak tersebut ditulisnya tulisan ‘Kejujuran’, ‘Ambil sendiri’, ‘Bayar dengan pas dan masukkan ke dalam toples’, Kios bensin “kejujuran” tersebut tidak pernah dijaga, karena Pak Mukti percaya bahwa “kejujuran” masih banyak berada di sekelilingnya. (dikutip dari detik.com)

Pembagian Sifat Jujur

Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (shiddiq) sebagai berikut:

Jujur dalam niat atau berkehendak maksudnya adalah tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain karena dorongan dari Allah Swt.   Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan berita yang disampaikan. Setiap orang harus bisa memelihara perkataannya. Ia tidak berkata kecuali kata-kata yang jujur. Barangsiapa yang menjaga lidahnya dengan selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji juga termasuk jujur jenis ini.  Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya.

Kejujuran merupakan pondasi utama atas tegaknya nilai-nilai kebenaran karena jujur itu identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dala al-Qur’an yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb/33:70) Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya (jujur) karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. ash-shaff/61:2-3)

Pesan moral dari ayat tersebut tidak lain adalah untuk memerintahkan satunya perkataan dengan perbuatan, atau dengan kata lain berkata dan berbuat jujur. Dosa besar di sisi Allah Swt., jika mengucapkan sesuatu yang tidak disertai dengan perbuatannya. Perilaku jujur dapat menghantarkan manusia yang melakukannya menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Bahkan, sifat jujur adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap nabi dan rasul Allah. Orang-orang yang selalu istiqamah atau konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya ia telah mamiliki separuh dari sifat kenabian.

Jujur merupakan sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik itu berupa harta maupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanah disebut al-Amin, yakni orang yang terpercaya, jujur, dan setia. Dinamai al-Amin karena segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik gangguan yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat jujur dan terpercaya merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perusahaan, perniagaan, dan hidup bermasyarakat. Sifat-sifat dan akhlaknya yang sangat terpuji merupakan salah satu faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. berhasil dalam membangun masyarakat Islam. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayat beliau sehingga ia mendapat gelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya atau jujur).

Kejujuran akan membuat seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridhaan Allah Swt. Sedangkan kebohongan adalah kejahatan yang tiada tara, yang merupakan faktor terkuat yang dapat mendorong seseorang berbuat kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang api neraka.

Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman, yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini hingga diharapkan mereka dapat menjadi generasi yang meraih sukses dalam mengarungi kehidupan. Adapun kebohongan adalah sumber dari segala keburukan dan muara dari segala kecaman karena akibat yang ditimbulkannya adalah kejelekan, dan hasil akhirnya adalah kekejian. Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan adalah namimah (mengadu domba), dan namimah dapat melahirkan kebencian, sedangkan kebencian adalah awal dari permusuhan. Dalam permusuhan tidak ada keamanan, kenyamanan, dan kedamaian. Dapat dikatakan bahwa, “orang yang tidak jujur niscaya akan sedikit temannya dan lebih dekat kepada kesengsaraan.

Pentingnya Kejujuran Dalam Bekerja

Pentingnya kejujuran dalam bekerja akan membantu anda meraih masa depan menjadi jauh lebih baik. Dalam melakukan pekerjaan, memiliki sifat jujur dan loyalitas kepada pekerjaan sangatlah penting, Sifat yang jujur selain membawa kepada arah yang jauh lebih baik, juga akan memudahkan kita dalam melakukan berbagai pekerjaan. Dalam bekerja, kejujuran ini meliputi banyak hal. Salah satunya adalah loyalitas dalam melakukan pekerjaan harus diikuti dengan kejujuran. Jika anda bekerja sangat loyal pada perusahaan, tidak akan ada artinya jika anda tidak jujur. Jujur yang dimaksud disini adalah, jika anda diserahi tugas untuk melaksanakan sebuah tugas, maka anda harus menjalankannya sesuai perintah dengan tidak melakukan tindakan lain yang bisa merugikan perusahaan. Jika anda melakukan tindakan lain yang merugikan perusahaan, maka hukuman yang berat akan menanti anda.

Jujur dan Amanah

Jujur dapat diartikan bisa menjaga amanah. Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang mulia, orang yang memiliki sifat jujur biasanya mendapat kepercayaan dari orang lain. Sudah tentu setiap kita sangat tidak menyukai orang-orang yang suka berbohong atau berdusta. Sifat jujur merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan umum karena orang yang jujur senantiasa berusaha untuk menjaga amanah. Amanah secara etimologis (lughawi)  dalam bentuk mashdar dari (amina, amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia amanah berarti pesan, perintah, keterangan atau wejangan.

Berani Jujur Hebat

Kejujuran dalam berbisnis tidak hanya mutlak dibutuhkan oleh karyawan kepada perusahaan, namun para atasan atau boss juga sangat mutlak melakukan kejujuran. Jujur bagi seorang atasan yaitu memberikan hak-hak karyawan tanpa menutup-nutupinya ataupun melakukan tindak kecurangan demi kepentingan perusahaan. Dalam hal ini, agar sebuah perusahaan bisa berjalan terus dan memiliki hubungan yang baik dengan karyawan, maka kejujuran dari kedua belah pihak wajib untuk terus dijalankan.

Selain itu, jika anda bekerja dengan melakukan berbagai bisnis yang mana membutuhkan transaksi dengan banyak partner bisnis, maka kejujuran anda sangat diperlukan. Sebagai contoh, jika anda menjual suatu produk kepada customer anda, maka anda harus jujur dan terbuka mengenai produk anda. Jika produk yang anda jual memang bagus, maka akan semakin banyak pelanggan yang datang untuk membeli barang anda. Namun jika anda tidak jujur dengan barang anda, seperti barang yang sebenarnya tidak berkualitas baik namun anda katakan sangat baik, tentu saja pelanggan anda akan merasa kecewa, dan pada akhirnya mereka akan beralih kepada supplier lain yang memberikan info apa adanya.

Jika kejadian ini berlangsung terus menerus, maka anda akan mengalami masalah pada kelangsungan bisnis anda, yang jika dibiarkan akan berakhir pada gulung tikar. Selain itu, jika anda tidak jujur dalam melakukan bisnis, yang mana anda melakukan banyak berbagai tipuan supaya bisnis anda bisa tetap berjalan, maka hukum pidana bisa menjerat anda. Untuk itu berlaku jujur dalam bisnis sangatlah penting.

Image dari buah kejujuran adalah, anda akan dipandang sebagai seseorang yang bisa diandalkan dan akan mendapatkan kepercayaan penuh dari siapa saja yang mengenal anda. Bahkan partner bisnis yang belum pernah melakukan kerja sama dengan anda tidak akan khawatir untuk memulai bisnis yang baru dengan anda karena kredibilitas anda yang bisa dipertanggungjawabkan. Kejujuran selain membawa banyak dampak positif juga membawa kepada kehidupan yang jauh lebih baik. Pentingnya kejujuran dalam bekerja wajib kita terapkan sejak usia dini agar senantiasa bersikap jujur dalam berbagai tindakan.

Refrensi:

Abdul Aziz, 2013, Etika Bisnis Perspektif Islam , Alfabeta, Bandung.

Buchari Alma, Donni Juni Priansa, 2014, Manajemen Bisnis Syariah, Alfabeta,  Bandung.

Departemen Agama, 1997, al-Qur’an dan Tafsirnya, Jakarta,.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Muhammad Abdul Aziz Al Khuly, 1989, Akhlaq Rasulullah SAW, Wicaksana, Semarang.

Muhammad Sula dan Hermawan Kertajaya, , 2006, Syariah Marketing , Mizan,  Bandung.

M.Nafik Ryandono, Bursa Efek dan Investasi Syariah, (: Amanah Pustaka, Surabaya

Sunarto, 2008, Tuntunan Da’wah dan Pembina Pribadi Muslim,  Pustaka Amani , Semarang.

Toto Tasmara, 2001, Kecerdasan Ruhaniyah (Transcedental Intelligence), Gema Insani, Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.