LOGIKA, INDUKTIF, DEDUKTIF, DAN SILOGISME

0
27

LOGIKA, INDUKTIF, DEDUKTIF, DAN SILOGISME

Oleh: Hodidjah

Widyaiswara BDK Palembang

ABSTRAK

Dalam kajian filsafat, teori pengtahuan mendasaekan pembuktian suatu kebenaran pada rasio dan fakta yang dialami. Kebenararan yang didasarkan pada rasio dalam teori pengetahuan disebut aliran rasionalisme, Kaum rasionalis mengembangkan pengetahuan dengan cara berfikir deduktif, yaitu berawal dari hal yang umum menuju ke hal yang khusus. Sedangkan kaum empiris mendasarkan pada cara berfikir induktif, yaitu berawal dari pernyataan khusus menuju kepada hal yang umum. Dalam koresponden suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkoresponden (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Maksudnya jika seseorang mengatakan bahwa “ibu kota republic Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu benar sebab pernyataan itu berkorespondensi  (berhubungan) dengan objeknya yang bersifat factual.

 

Pendahuluan

Doubt thou the stars are fire; doubt thou the sun doth move doubt truth to be

           liar; but  never doubt ilove.

                                                                        (William Shakespeare, Hamiet)

Kalimat di atas merupakan penggalan percakapan Hamiet kepada Ophelia, ragukan bahwa bintang itu api;ragukan bahwa matahari itu bergerak;ragukan bahwa kebenaran itu dusta; ragukan bahwa kebenaran dusta; tetapi jangan ragukan cintaku padamu!

Demikianlah orang mencari kebenaran, pembuktian kebenaran memang berawal dari keragu-raguan. Dari sanalah orang memenuhi rasa keingintahuannya hingga pada akhirnya muncul “pengetahuan”.

Dalam kajian filsafat, teori pengtahuan mendasaekan pembuktian suatu kebenaran pada rasio dan fakta yang dialami. Kebenararan yang didasarkan pada rasio dalam teori pengetahuan disebut aliran rasionalisme, pengikutnya dinamakan kaum rasionalisme, sedangkan kebenaran yang didasarkan pada fakta yang dialami dalam teori pengetahuan disebut aliran empirisme, pengikutnya dinamakan kaum empiris.

Kaum rasionalis mengembangkan pengetahuan dengan cara berfikir deduktif, yaitu berawal dari hal yang umum menuju ke hal yang khusus. Sedangkan kaum empiris mendasarkan pada cara berfikir induktif, yaitu berawal dari pernyataan khusus menuju kepada hal yang umum.

Pertanyaan sekarang adalah apakah criteria sebuah kebenaran itu? Dimanakah kedudukan logika dalam cara berfikir induktif, deduktif, dan silogisme itu?

  1. . Kriteria Kebenaran

Menurut Jujun (1982:55-59) sebuah kebenaran harus didasarkan kepada tiga hal, yaitu; memiliki koherensi, memiliki korespondensi, dan memiliki fungsi pragmatis. Sebuah pernyataan disebut koheren bila pernyataan itu memiliki hubungan (kinsisten) dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap bahwa”semua manusia pasti akan mati) adalah pernyataan yang benar maka pernyataan bahwa “si Mr X adalah seoang manusia dan si Mr X pasti akan mati adalah benar pula. Pernyataan kedia ini memiliki koherensi dengan pernyataan pertama.

Dalam koresponden suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkoresponden (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Maksudnya jika seseorang mengatakan bahwa “ibu kota republic Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu benar sebab pernyataan itu berkorespondensi  (berhubungan) dengan objeknya yang bersifat factual.

Pragmatis mengukur kebenaran suatu pernyataan dan fungsinya dalam kehidupan praktis. Artinya, sesuatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

Metode ilmiah memiliki criteria kebenaran yang disbutkan di atas, dapat dilihat dari bagan berikut.

(lihat Lampiran)

   MASALAH
DITOLAK
DITERIMA
PENGAJIAN HIPOTESIS
PERUMUSAN HIPOTESIS
KHASANAH PENGETAHUAN ILMIAH

 

 

PENYUSUNANA KERANGKA BERFIKIR
    MASALAH

 

  1. Logika

Beberapa ahli memberikan batasan tentang logaika. Jan (1995:9) menyebutkan bahwa,”secara etimologis kata logika berasal dari bahasa Latin, yaitu logikos yang berasal dari kata benda logos berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa.”Poedjawijatna (2004:14) menyebutkan bahwa logika mengutarakan teknik berpikir, yaitu yang sebenaranya untuk berfikir, logis artinya menurut aturan logika. Hal senada juga disampaikan Jujun (1982:46) yang menjeaskan bahwa logika adalah pengajian untuk berfikir secara sahh.

Dari penggertian tersebut dalam tulisan ini logika dapat  didefinisikan sebagai pengajian untuk berfikir secara sahih. Logika dipakai untuk menarik simpulan melalui proses berfikir berdasarkan cara tertentu. Proses berfikir tersebut merupakan suatu penalaran untuk menghasilkan pengetahuan.

Jan (1995:12-15) menguraikan bahwa sejak Thales (624-548), filsuf Yunani pertama, meninggalkan segala dongeng , takhayul, dan cerita=cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta, sejak iyu pula ia meletakkan dasar-dasar berpikir logis. Bahkan ketika Thaes mengatakan bahwa air adalah alam semesta, ia telah memperkenalkan logika indutif;

Air adalah jiwa tumbhu-tumbuhan

Air adalah jiwa hewan

Air adalah jiwa manusia

Air jugalah uap, dan Air jugalah es

Jadi, air adalah segala sesuatu, yang berarti air adalah alam semesta.

  1. Logika Deduktif

Kaum rasionalis mengembangkan pengetahuan dengan cara berfikir deduktif, yaitu berawal dari hal yang umum menuju ke hal yang khusus. Francis Rene Descartes menggunakan metode deduksi dalam jelajah filsafatnya. Barangkali Descartes ini dikenal baik atas karya pionirnya untuk bersikap skeptic. Dialah yang pertama kali memperkenalkan metode sangsi dalam investigasi ter metode sangsi dalam menghadap  ilmu pengetahuan (http://id.wikipedia.orang/wiki/filsafatolmu) diunduh tanggal 8 September 2016.

Descartes yang kerap disebut sebagai Bapak Filsafat Modern ini dalam mengusung metode rasionalnya, dia menggunakan metode sangsi dalam menyikapi berbagai fenomena untuk menyerap ilmu pengetahuan. Postulat, Cogito rgo Sum adalah milik Descartes. Rumusan postulat ini yang menemaninya untuk menyingkap ilmu pengetahuan. Menurut Descartes segala sesuatu yang berada di dunia luar disangsikan dan diragukan.

Pandangan Descartes tentang manusia sering disebut sebagai dualistis. Ia melihat manusia sebagai dua substansi; jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Tubuh kita tidak lain adalah suatu mesin yang dijalankan jiwa. Hal ini dipenaruhi oleh epistemologinya yang memandang rasio sebagai hal yang paling utama pada manusia.

  1. Logika Induktif

Sebagaimana dijelaskan diawal, kaum empiris mendasarkan pada cara berpikir induktif, yaitu berawal dari pernyataan khusus menuju kepada hal yang umum.

Empirisme pertama kali diperkenalkan oleh filsuf dan negarawan Inggris Francis Bacon ada awal-awal abad ke-17, akan tetapi John Locke yang kemudian mendesignnya secara sitemik yang dituangkan dalam bukunya “Essay Conceming Human Understanding (1690).

John Locke memandang bahwa nalar seseorang nalar seseorang pada waktu lahirnya adalah ibarat sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis kosong tanpa isi, tanpa pengetahuan apapun. Lingkungan dan pengalamanlah yang menjadikannya berisi. Pengalaman indrawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya tentu saja lewat observasi serta pemanfaatan seluruh indra manusia. John Locke adalah orang yang tidak percaya terhadap konsepsi intuisi dan batin.

Fisluf empirisme lainnya adalah Humo. Ia memandang manusia sebaga sekumpulan persepsi. Manusia hanya mampu menangkap kesan-kesan saja lalu menyimpulkan kesan-kesan itu seolah-olah berhubungan. Pada kenyataannya, menurut Hume, manusia tidak mampu menangkap suatu substansi. Apa yang dianggap substansi oleh manusia hanyalah kepercayaan saja. Begitu pula dalam menangkap hubungan sebab-akibat. Manusia cendrung menanggap dua kejadian sebagai sebab dari akibat-akibat. Manusia cendrung menganggap dua kejadian sebagai sebab dan akibat hanya karena menyangka kejadian-kejadian itu ada kaitannya sebagai sebab-akibat hanya karena menyanga kejadian-kejadian itu ada kaitannya, padahal kenyataannya tidak demikian. Selain tu, Hume menolak ide bahwa manusia memiliki kedirian. Apa yang dianggap sebagai diri oleh manusia merupakan kumpulan persepsi saja (http://id.wikipedia.org//wiki/filsafatilmu, diunduh tanggal 8 September 2008),

  1. Silogisme

“Silogisme adalah penarikan kongklusi secara tidak langsung dengan menggunakan dua buah premis yang merupakan bentuk format penalaran deduktif,” (Jan, 1995:46), Contoh umum yang dapat diambil dari kongklusi silogisme adalah sebagai berikut.

Semua manusia akan mati

Si X manusia

Jadi si X akan mati

 

Menurut Poedjawiyatna (2004:74) sebuah kongklusi mempunyai dua term yang berfungsi sebagai S dan P. Pada contoh di atas si X merupakan S, sedangkan mati merupakan P. Term manusia menjadi penengah antara S dan P. dalam silogisme term tersebut diasingkan M.

Dalam kaitan term inilah, Jan (1995:52-53) memberikan empat figura dalam rumusan silogisme, sebagai berikut, Pertama, term M menjadi subjek dalam premis mayor dan prediket dalam premis minor. Contoh : semua manusia adalah berakal budi (MP); semua mahasiswa adalah manusia (SM), semua mahasiswa adalah akal budi (MP); semua mahasiswa adalah manusia (SM); semua mahasiswa adalah berakal budi (SP). Kedua, term M menjadi predikat dalam premis mayor dan premis minor. Contoh. Semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi (PM); Anton adalah lulusan perguruan tinggi (SM) Anton adalag bukan sarjana. (SM)., ketiga, term M menjad pendidik (MP), semua guru adalah manusia (MS); sebagian manusia adalah pendidik (SP), keempat, term M menjadi prediket dari premis mayor dan subjek dari premis minor. Contoh; semua filsuf a-raguan. (PM); semua pemikir adalah cendikiawan (MS); sebagian cendikiawan adalah filsuf (SP).

  1. Penutup

Pembuktian kebenaran berawal dari keragu-raguan. Dari sanalah orang memenuhi rasa keingintahuannya hingga pada akhirny muncul “pengetahuan”. Namun, sebab sebuah kebenaran harus didasarkan kepada tiga hal. Yaitu: memiliki fungsi pragmatis.

Logika dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berfikir secara  sahih. Kaum rasionaisme mengembangkan pengetahuan dengan cara berfikir deduktif, yaitu berawal dari hal yang umum menuju ke hal yang khusus. Sebagaimana dijelaskan diawal , kaum empiris mendasarkan pada cara berfikir induktif, yaitu berawal dari pernyataan khusus menuju kepada hal yang umum.

Silogisme adalah penarikan kongklusi secara tidak langsung dengan menggunakan dua buha premis yang merupakan bentuk formla penarikan deduktif.

 

Daftar Pustaka

Hendrik Raapar, Jan, 1995. Pengantar Logika: Asas-Asas Penalaran Sistematis,

Yokyakarta; Kanisius.

Kamil, A.2008 :Epistemologi” Pengantar Memasuki Rabah Ontologi

(http://id.wikipedia.orang//wiki/filsafatimu, diunduh tanggal 8 September 2009).

Poejawijatna, I.R.2004. Logika Berfikir Filsafat , Jakarta. Rineka Cipta

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.