LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI KONSEP DASAR MEDIA  DAN SUMBER BELAJAR

0
52

LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI KONSEP DASAR MEDIA

 DAN SUMBER BELAJAR

Oleh: Hodidjah

Widysiswara Madya

Lingkungan hidup adalah sesuatu yang berada diluar makhluk hidup, atau sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup yang dapat berpengaruh pada kehidupan makhluk hidup. Lingkungan hidup adalah sesuatu yang berada diluar makhluk hidup, atau sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup yang dapat berpengaruh pada kehidupan makhluk hidup. Hubungan antara kependudukan dengan lingkungan misalnya seperti populasi manusia yang ada di bumi secara perlahan-lahan terus mengalami peningkatan jadi perlu di perhatiakn saat akan mengambil tindakan yang ada hubungannya dengan lingkungan supaya berhati-hati sehingga nantinya tidak merugikan lingkungan.

Pendidikan lingkungan hidup memasukkan aspek afektif yaitu tingkah laku, nilai dan komitmen yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan (sustainable). Pencapaian tujuan afektif ini biasanya sukar dilakukan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru perlu memasukkan metode-metode yang memungkinkan berlangsungnya klarifikasi dan internalisasinilai-nilai.

Kata Kunci: Lingkungan hidup, pendidikan

  1. PENDAHULUAN

Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya piker dan daya nalar serta mengembangkan kreatifitas yang dimiliki. Pendidikan merupakan suatu wadah atau tempat peserta didik memperoleh ilmu, melalui pendidikan peserta didik dapat menumbuhkan, mengembangkan dan menggali potensi yang ada dalam dirinya.

Guru sebagai orang yang sangat berperan dalam dunia pendidikan dapat berperan dalam menangani untuk memperkecil permasalahan pemanasan global dengan melalui mekanisme perubahan prilaku belajar sejak dini untuk bersikap bijaksana terhadap lingkungan melalui pendidikan lingkungan.

Pendidikan lingkungan hidup adalah upaya mengubah prilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan  generasi sekarang  dan yang akan datang.

Pendidikan lingkungan dapat mempermudah pencapaian keterampilan tingkat tinggi seperti berfikir kritis, berfikir kreatif, berfikir secara integrative dan memecahkan masalah.[1][1] Tujuan Pendidikan lingkungsn hidup adalah mewyjudkan manusia yangb bewawasan lingkungan, maka metoda yang digunakan harus lebih dahulu membidik bagaimana membangkitkan rasa akan pentingnya memiliki wawasan lingkungan.

Penyelesaian terhadap krisis-krisis lingkungan tidak sekedar melalui pendekatan teknis saja, tetapi juga melalui pendekatan moral yang disampaikan oleh guru  pada bidang studi yang diajarkannya. Dengan membangun moral yang baik, akan menjadi modal utama bagi manusia untuk berprilaku etis dalam mengatur hubungan antara dirinya dengan alam semesta. Penanaman fondasi pendidikan lingkungan sejak dini menjadi solusi utama yang harus dilakukan, agar generasi muda memiliki bekal pemahaman tentang lingkungan hidup yang kokoh. Pendidikan lingkungan hidup dihatrapkan mampu menjembatani dan mendidik manusia agar berperilaku bijak.

  1. PEMBAHASAN

    Kata pendidik secara bahasa datang dari pedagogik yaitu “pait” yang artinya anak serta “agogos” yang artinya menuntun, menuntun anak. Sedang secara istilah pengerian pendidikan adalah satu sistem pengubahan sikap serta prilaku seseorang atau kelompok da;lam usaha mendewasakan manusia atau peserta didik lewat usaha pengajaran atau kursus.

Yang dimaksud dengan kependudukan adalah hal-hal yang berhubungan dengan struktur, jumlah, jenis kelamin, umur, perkawinan, kehamilan, kelahiran, kematian dan lain-lain hingga ketahan yang berhubungan dengan ekonomi sosial dan politik. Sedangkan yang dimaksud dengan penduduk yaitu warga negara dan orang asing yang tinggal dinegara tersebut.

Lingkungan hidup adalah sesuatu yang berada diluar makhluk hidup, atau sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup yang dapat berpengaruh pada kehidupan makhluk hidup.

Hubungan antara kependudukan dengan lingkungan misalnya seperti populasi manusia yang ada di bumi secara perlahan-lahan terus mengalami peningkatan jadi perlu di perhatiakn saat akan mengambil tindakan yang ada hubungannya dengan lingkungan supaya berhati-hati sehingga nantinya tidak merugikan lingkungan.

Adapun Pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH) adalah suatu program pendidikan untuk membina anak atau peserta didik agar memiliki pengertian, kesadaran, sikap dan prilaku yang merasional serta bertanggung jawab pengaruh timbal balik antara penduduk dengan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

         PERAN PKLH DALAM PENDIDIKAN

Menurut menteri Pendidikan lingkungan hidup adalah upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan akan dating.

Salah satu puncak perkembangan pendidikan lingkungan adalah dirumuskannya tujuan pendidikan lingkungan hidup menurut UNCED adalah sebagai berikut: Pendidikan lingkungan Hidup (environmental education – EE) adalah suatu proses untuk membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk bekerja sama , baik secara individu maupun secara kolektif , untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, dan mencegah timbulnya masalah baru [UN – Tbilisi, Georgia – USSR (1977            )dalam  Unesco,1989.
Pendidikan lingkungan hidup memasukkan aspek afektif yaitu tingkah laku, nilai dan komitmen yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan (sustainable). Pencapaian tujuan afektif ini biasanya sukar dilakukan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru perlu memasukkan metode-metode yang memungkinkan berlangsungnya klarifikasi dan internalisasi       nilai-nilai.

      URGENSI PKLH DALAM PENDIDIKAN

Kerusakan lingkungan yang terjadi akibat adanya perubahan iklim dan pemanasan global dapat diantisipasi dengan berbagai cara. Salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan dapat dijadikan sasaran utama untuk menyampaikan informasi dan pembelajaran mengenai kelestarian lingkungan dengan sistematika yang terencana. Hal ini sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan yang dimaksud dalam memahami fenomena lingkungan hidup adalah suatu pendidikan yang dapat memupuk kesadaran lingkungan pada peserta didik melalui proses pembelajaran didalam lingkup sekolah, sehingga pendidikan mengenai lingkungan yang diajarkan tersebut akan menumbuhkan kemampuan seseorang untuk menyadari hubungan antara aktifitas manusia dengan keadaan lingkungan sekitarnya untuk menciptakan lingkungan yang lestari.

Pendidikan lingkungan itu berada dalam koridor untuk meningkatkan kesadaran, kepedulian tentang lingkungan serta permasalahannya. Melalui pengetahuan, keterampilan, sikap, motivasi dan komitmen untuk berkerja secara individu dan kolektif, terhadap permasalahan dan mempertahankan kelestarian fungsi-fungsi lingkungan.

Siswa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pendidikan dan sebagai subjek sekaligus objek di dalam pelaksanaan pendidikan. Dengan demikian kondisi psikis seperti kecerdasan (knowledge), bakat (talent), minat (interest), motivasi (motivation), dan kepribadian (persolality) siswa sangat berkaitan dengan pencapaian hasil belajarnya. Setiap anak didik mempunyai bakat yang berbeda. Bakat pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar berkembang. Kemampuan merupakan daya untuk melakukan sesuatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan yang menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang. Bakat dan kemampuan lah nantinya yang menentukan keberhasilan anak didik. Keberhasilan seseorang juga ditentukan oleh tingkat kecerdasan (intelegensi) dan intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan berfikir dan menyesuaikan diri.

Tujuan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup itu sendiri adalah pembinaan peningkatan pengetahuan, kesadaran, sikap, nilai dan prilaku lingkungan hidup yang bertanggung jawab. Perilaku dalam hal ini berhubungan langsung dengan niat untuk bertindak (intention to act).

Namun sebelum sampai pada ketetapan bertindak, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu :

1)      Kesiapan dalam bertidak,

2)      Pengetahuan tentang sterategi bertindak,

3)      Pengetahuan tentang isu, dan

4)      Faktor-faktor kepribadian seperti sikap, lokus kontrol, dan tanggung jawab individu.

Tugas guru dalam pembelajaran pendidikan lingkungan hidup adalah selain membentuk siswa untuk memiliki niat bertindak positif terhadap lingkungan hidup, juga memberikan kondisi yang mendukung kea rah perilaku yang sesuai dengan niat tadi. Hal ini disebabkan, untuk mencapai kearah keberlanjutan lingkungan hidup, niat saja tidak cukup tanpa perilaku yang mendukung.

Pendidikan lingkungan hidup secara umum bertujuan untuk membangun individu dan masyarakat yang mampu merawat dan mengembangkan lingkungan yang berkualitas dan mencegah permasalahan lingkungan di masa depan. Secara khusus, pendidikan lingkungan menekankan kepada 5 tujuan :

Kesadaran

Membantu para siswa memperoleh sebuah kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan dan berbagai permasalahannya; Membangun kemampuan untuk merasakan dan membedakan di antara stimuli; mengolah, menyaring dan memperluas pandangan-pandangan (perceptions) ini; dan menggunakan kemampuan baru ini dalam berbagai macam konteks

Pengatahuan

Membantu para siswa memperoleh sebuah pengertian mendasar tentang bagaimana fungsi-fungsi lingkungan, dan begaimana orang-orang berinteraksi dengan lingkungan, dan bagaimana timbulnya isu-isu dan masalah-masalah berkaitan dengan lingkungan dan bagaimana mereka dapat diselesaikan.

Sikap

Membantu para siswa untuk memperoleh seperangkat nilai dan perasaan-perasaan kepedulian kepada lingkungan dan motivasi dan komitmen untuk berperan dalam perawatan dan perbaikan lingkungan.

Keterampilan

Membantu para siswa memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk mengidentifikasikan dan menyelidiki permasalahan lingkungan dan berkontribusi untuk pemecahan permasalahan ini.

Partisipasi

Membantu para siswa memperoleh pengalaman dalam menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh dan keterampilan dalam pengambilan keputusan (kebijaksanaan) tindakan-tindakan positif yang mengarah pada pemecahan isu-isu dan permasalan       lingkungan.

     FAKTOR-FAKTOR YANG MENGDUKUNG DAN PENGHAMBAT PKLH DALAM PENDIDIKAN.

Pendidikan lingkungan hidup, pengembangan pendidikan lingkungan hidup, dan untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat kebijakan sekolah tentang pendidikan lingkungan hidup.

(1) [2][3]Kebijakan sekolah tentang Pendidikan Lingkungan memuat 5 komponen yaitu:

  1. tujuan
  2. rencana
  3. program
  4. keputusan
  5. dampak

 

(2) Proses kebijakan pendidikan lingkungan hidup dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler dan kegiatan aksi lingkungan

(3) Pengembangan pendidikan lingkungan hidup meliputi:

  • pengembangan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan
  • pengembangan kurikulum berbasis lingkungan hidup
  • pengembangan kegiatan berbasis partisipasi
  • pengembangan dan pengelolaan sarana pendukung sekolah

(4) Faktor pendukung dan faktor penghambat kebijakan sekolah tentang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yaitu faktor pendukungnya meliputi:

  1. faktor internal yaitu semangat warga sekolah, sarana prasarana, dan pendanaan
  2. faktor eksternalnya yaitu adanya kerjasama, dan adanya pemberian bantuan. Sedangkan faktor penghambatnya meliputi:
  • faktor internalnya yaitu ada alat-alat pendukung PLH yang sudah rusak, masih ada siswa yang kurang memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan, dan beban mengajar guru selama 24 jam dalam 6 hari kerja yang harus dipenuhi.
  • faktor eksternalnya yaitu karakter siswa yang sudah terbentuk dari lingkungan rumah, kurangnya komunitas pecinta alam, dan belum konsisten antara kehidupan siswa di rumah dan di sekolah.
  1. PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP MELALUI PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA (Student Centered Learning)

Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered} menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Melalui proses pembelajaran dengan keterlibatan aktif siswa ini berarti guru tidak mengambil hak anak untuk belajar dalam arti yang sesungguhnya. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitasi urtuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.

Pembelajaran yang inovatif dengan metode yang berpusat pada siswa (Student centerd learning) memiliki keragaman model pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dari siswa. Metode-metode tersebut diantaranya adalah:

(a). Berbagi informasi (Information Sharing) dengan cara: curah gagasan (brainstorming), diskusi kelompok (group discussion), diskusi panel (panel discussion), simposium, dan seminar

(b). Belajar dari pengalaman (Experience Based) dengan cara: simulasi, bermain peran froleplay), permainan (game), dan kelompok temu

(c). Pembelajaran melalui Pemecahan Masalah (Problem Solving Based) dengan cara: Studi kasus, tutorial, dan lokakarya.

Metode pembelajaran berpusat pada siswa (Student Centered Learning) kini dianggap lebih sesuai dengan kondisi eksternal masa kini yang menjadi tantangan bagi siswa untuk mampu mengambil keputusan secara efektif terhadap problematika yang dihadapinya. Melalui penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa maka siswa harus berpartisipasi secara aktif, selalu ditantang untuk memiliki daya kritis, mampu menganalisis dan dapat memecahhkan masalah-masalahnya sendiri. Tantangan bagi guru sebagai pendamping pembelajaran siswa, untuk dapat menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa perlu memahami tentang konsep, pola pikir, filosofi, komitmen metode, dan strategi pembelajaran. Untuk menunjang kompetensi guru dalam proses pembelajaran berpusat pada siswa maka diperlukan peningkatan pengetahuan, pemahaman, keahlian, dan ketrampilan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran berpusat pada siswa. Peran guru dalam pembelajar berpusat pada siswa bergeser dari semula menjadi pengajar (teacher) menjadi fasilitator. Fasilitator adalah orang yang memberikan fasilitasi. Dalam hal ini adalah memfasilitasi proses pembelajaran siswa. Guru menjadi mitra pembelajaran yang berfungsi sebagai pendamping (guide on the side) bagi siswa.

Persiapan menjadi fasilitator memerlukan upaya khusus yang berkesinambungan. Selain bekal pengetahuan, juga diperlukan latihan-latihan yang terus menerus agar supaya pengetahuan itu menjadi ketrampilan. Ibarat orang membuat kue, tidak cukup hanya dengan mengumpulkan bahan-bahan dan membaca resep, tetapi juga harus meramu sesuai resepnya, kemudian memasaknya. Bahkan kadang-kadang diperlukan cara yang berbeda, dan penambahan bahan-bahan dengan prosedur yang tepat sehingga dihasilkan kue yang lezat. Demikian pula menjadi fasilitator, selain persiapan pengetahuan, latihan-latihan, juga perlu pengalaman. Melalui pengalaman dan praktek menjadi fasilitator maka akan diperoleh tambahan bekal yang semakin banyak sehingga kita akan dapat menemukan sendiri cara yang tepat, efektif, dan efisien ddlam memfasilitasi proses pembelajaran siswa.

       PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP (PLH) KEPDA SISWA SEKOLAH AGAR SALAH SATU ALTERNATIF MASALAH LINGKUNGAN

Pendidikan lingkungan hidup perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun ketrampilan yang dapat meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah. Beberapa ketrampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah adalah sebagai berikut ini :

  1. Berkomunikasi: mendengarkan, berbicara di depan umum, menulis secara persuasive, desain grafis;
  2. Investigasi (investigation): merancang survey, studi pustaka, melakukan wawancara, menganalisa data;
  3. Ketrampilan bekerja dalam kelompok (group process): kepemimpinan, pengambilan keputusan dan kerjasama.

Dalam melakukan Pendidikan lingkungan hidup haruslah:

  1. Mempertimbangkan lingkungan sebagai suatu totalitas alami dan buatan, bersifat teknologi dan sosial (ekonomi, politik, kultural, historis, moral, estetika);
  2. Merupakan suatu proses yang berjalan secara terus menerus dan sepanjang hidup, dimulai pada jaman pra sekolah, dan berlanjut ke tahap pendidikan formal maupun non formal;
  3. Mempunyai pendekatan yang sifatnya interdisipliner, dengan menarik/mengambil isi atau ciri spesifik dari masing-masing disiplin ilmu sehingga memungkinkan suatu pendekatan yang holistik dan perspektif yang seimbang.
  4. Meneliti (examine) issue lingkungan yang utama dari sudut pandang lokal, nasional, regional dan internasional, sehingga siswa dapat menerima insight mengenai kondisi lingkungan di wilayah geografis yang lain;
  5. Memberi tekanan pada situasi lingkungan saat ini dan situasi lingkungan yang potensial, dengan memasukkan pertimbangan perspektif historisnya;
  6. Mempromosikan nilai dan pentingnya kerjasama lokal, nasional dan internasional untuk mencegah dan memecahkan masalah-masalah lingkungan;
  7. Secara eksplisit mempertimbangkan/memperhitungkan aspek lingkungan dalam rencana pembangunan dan pertumbuhan;
  8. Memampukan peserta didik untuk mempunyai peran dalam merencanakan pengalaman belajar mereka, dan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut;
  9. Menghubungkan (relate) kepekaan kepada lingkungan, pengetahuan, ketrampilan untuk memecahkan masalah dan klarifikasi nilai pada setiap tahap umur, tetapi bagi umur muda (tahun-tahun pertama) diberikan tekanan yang khusus terhadap kepekaan lingkungan terhadap lingkungan tempat mereka hidup;
  10. Membantu peserta didik untuk menemukan (discover), gejala-gejala dan penyebab dari masalah lingkungan;
  11. Memberi tekanan mengenai kompleksitas masalah lingkungan, sehingga diperlukan kemampuan untuk berfikir secara kritis dengan ketrampilan untuk memecahkan masalah.
  12. Memanfaatkan beraneka ragam situasi pembelajaran (learning environment) dan berbagai pendekatan dalam pembelajaran mengenai dan dari lingkungan dengan tekanan yang kuat pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya praktis dan memberikan pengalaman secara langsung (first – hand experience).

Persoalan lingkungan hidup merupakan persoalan yang bersifat sistemik, kompleks, serta memiliki cakupan yang luas. Oleh sebab itu, materi atau isu yang diangkat dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan lingkungan hidup juga sangat beragam. Sesuai dengan kesepakatan nasional tentang Pembangunan Berkelanjutan yang ditetapkan dalam Indonesian Summit on Sustainable Development (ISSD) di Yogyakarta pada tanggal 21 Januari 2004, telah ditetapkan 3 (tiga) pilar pembangunan berkelanjutan yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Ketiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan yang bersifat saling ketergantungan Menurut dan saling memperkuat. Adapun inti dari masing-masing pilar adalah :

  1. Pilar Ekonomi: menekankan pada perubahan sistem ekonomi agar semakin ramah terhadap lingkungan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Pola konsumsi dan produksi, Teknologi bersih, Pendanaan/pembiayaan, Kemitraan usaha, Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Pertambangan, Industri, dan Perdagangan
  2. Pilar Sosial: menekankan pada upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Kemiskinan, Kesehatan, Pendidikan, Kearifan/budaya lokal, Masyarakat pedesaan, Masyarakat perkotaan, Masyarakat terasing/terpencil, Kepemerintahan/kelembagaan yang baik, dan Hukum dan pengawasan
  3. Pilar Lingkungan: menekankan pada pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Pengelolaan sumberdaya air, Pengelolaan sumberdaya lahan, Pengelolaan sumberdaya udara, Pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir, Energi dan sumberdaya mineral, Konservasi satwa/tumbuhan langka, Keanekaragaman hayati, dan Penataan ruang

Memahami tentang pendidikan pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari keadaan lingkungan, mengingat dari sejak dilahirkannya manusia sampai tumbuh dan berkembang menjadi dewasa telah banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitarnya. Sehingga di akui atau tidak pondasi bangunan pemikiran sikap, tindakan manusia dan lain sebagainya telah dikontruk sedemikian rupa oleh hal-hal yang terjadi di lingkungan.

Menurut Idris shaleh (2007) pendidikan harus diselaraskan dengan nilai-nilai yang terjadi di lingkungan, agar disatu sisi pendidikan mampu menjawab dan memberikan sebuah solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam lingkungan. Dimana lingkungan merupakan tempat berpijak bahkan merupakan tempat kita untuk mengasah diri, baik secara sikap, intelektual maupun tindakan. Pendidikan juga mempunyai peranan penting untuk menciptakan sistem  yang bisa mengantarkan peserta didik pada sebuah kesadaran akan makna pentingnya sebuah lingkungan.

KEUNTUNGAN PKLH DALAM PENDIDIKAN                            

Dengan adanya pendidikan lingkungan hidup, adapun keuntungannya adalah:

  1. Dapat memberikan informasi-informasi kepada siswa-siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup
  2. Dapat memberikan kesadaran kepada siswa-siswa akan pentingnya lingkungan hidup.
  3. Dapat mengetahui seberapa besar rasa  sensitifitas siswa-siswa terhadap kondisi lingkungan sekitarnya
  4. Memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan, sikap/perilaku, motivasi dan komitmen, yang diperlukan untuk bekerja secara individu

 

  1. KESIMPULAN

Pemanasan global dapat dicegah melalui pendidikan lingkungan hidup dengan mengubah perilaku yang buruk menjadi lebih bijaksana dalam mengelola lingkungan hidup.

Dalam memecahkan  permasalahan lingkungan sangat dibutuhkan kehadiran model pendidikan lingkungan yang sejak dini dilakukan dimulai dari sekolah oleh guru yang berkompetensi. Pendidikan lingkungan di sekolah merupakan proses pembelajaran yang efektif melalui sistem penyampaian dengan pengintegrasian pada bidang studi yang diajarkan. Hal ini diyakini dapat mempengaruhi pelajar sebagai masyarakat atas nilai-nilai dan isu permasalahan lingkungan.

 

 

Tamrin, Agusti. 2008. Pendidikan Lingkungan Hidup Sebagai Salah Satu Mata

            Pelajaran di Sekolah. Artikel lingkungan.

Amos Neolaka, Kesadaran Lingkungan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2007, hlm. 101.

Proceding. 2009.Enlarging Teacher’s Perspective On Global Warming Issues, To Prepare Students’ Global Mindset: Carbon Trade And CCB. Medan. USU Press.

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

1][1] Tamrin, Agusti. 2008. Pendidikan Lingkungan Hidup Sebagai Salah Satu Mata Pelajaran di Sekolah. Artikel lingkungan.

[2][3] Proceding. 2009.Enlarging Teacher’s Perspective On Global Warming Issues, To Prepare Students’ Global Mindset: Carbon Trade And CCB. Medan. USU Press. Hal: 41

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.