LESSON STUDY (LS) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

0
42

LESSON STUDY (LS) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU 

 

Oleh : Lilis Suryani
Widyaiswara Madya BDK Palembang

 

Abstrak

Guru harus peka dan tanggap terhadap perubahan­perubahan , apalagi di era globalisasi saat ini. Pembaharuan dan teknologi yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Disinilah tugas guru untuk senantiasa meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Melalui Lesson study, guru dapat secara kolaboratif berupaya menerjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di kelas. Atas dasar hal-hal di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan  Profesionalisme Guru Matematika melalui Lesson Study. Metodologi penelitian yang dipakai adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini adalah bahwa siswa lebih memahami masalah materi matematika pemusatan data melalui lesson study. Lesson study sebagai suatu strategi dalam meningkatkan keprofesionalan guru oleh para guru, yang sudah tentu merupakan gerakan dari para guru untuk mewujudkannya.

Key word : Lesson study, guru, profesional

PENDAHULUAN

Profesi guru pada saat ini masih banyak dibicarakan orang, atau masih saja dipertanyakan orang, baik dikalangan para pakar pendidikan maupun diluar pakar pendidikan. Bahkan dalam dasawarsa terakhir ini hampir setiap hari, media massa baik media cetak maupun elektronik selalu memuat berita tentang guru. Ironisnya berita­berita tersebut banyak cenderung melecehkan posisi guru baik yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai kepada hal-hal yang sifatnya pribadi, sedangkan dari pihak guru sendiri nyaris tak mampu membela diri.

Masyarakat / orang tua muridpun cenderung mencemooh dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan sebagaimya, manakala putra putrinya tidak bisa menyelesaikan persoalan yang ia hadapi sendiri atau memiliki kemampuan tidak sesuai dengan keinginannya.

Dari kalangan bisnis / industrialispun memprotes para guru karena kualitas para lulusannya dianggap kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaannya. Di mata murid-muridpun khususnya di sekolah menengah pada umumnya cenderung menghormati gururnya hanya karena ingin mendapatkan nilai yang baik. Tentu saja tuduhan dan protes dari berbagai kalangan tersebut akan merongrong wibawa guru, bahkan cepat atau lambat, pelan tapi pasti akan menurunkan martabat guru. Akankah demikian nasibmu wahai pahlawan tanpa tanda jasa ?

Sikap dan perilaku masyarakat itu memang bukan tanpa alasan, memang ada sebagian kecil oknum guru yang melanggar / menyimpang dari kode etiknya. Anehnya sekecil apapun kesalahan yang diperbuat guru mengundang reaksi yang hebat di masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan adanya sikap demikian menunjukan bahwa memang guru seyogyanya menjadi anutan bagi masyarakat di sekitarnya.

Lebih dari sekedar panutan , hal ini menunjukan bahwa guru sampai saat ini masih dianggap eksis. Sebab sampai kapanpun posisi / peran guru tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan mesin canggih, karena guru menyangkut pembinaan sikap mental manusia.

Hanya saja masalah sekarang, sebatas manakah pengakuan masyarakat terhadap profesi guru, sebab kenyataan masyarakat masih tetap mengakui profesi dokter atau hakim lebih tinggi dibandingkan dengan profesi guru. Kita akui profesi guru paling mudah tercemar dalam arti masih ada saja orang yang memaksakan diri menjadi guru walaupun sebenarnya yang bersangkutan tidak dipersiapkan untuk itu. Hal ini karena masih ada saja pandangan masyarakat bahwa siapapun dapat menjadi guru.

Menurut Nana Sudjana dalam Made Pidarta, rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru disebabkan beberapa hal :

  1. Adanya pandangan sebagian masyarakat, bahwa siapapun dapat menjadi guru.
  2. Kekurangan guru di daerah terpencil, memberi peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian untuk menjadi guru
  3. Banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan kompetensi profesinya itu. Perasaan rendah diri karena menjadi guru, penyalahgunaan profesi untuk kepuasan dan kepentingan pribadinya, sehingga wibawa guru semakin merosot

Dari kenyataan-kenyataan ini sekalipun pahit bagi guru, sudah saatnya kompetensi guru perlu ditingkatkan. Guru harus peka dan tanggap terhadap perubahan­perubahan , apalagi di era globalisasi saat ini. Pembaharuan dan teknologi yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Disinilah tugas guru untuk senantiasa meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, sikap dan ketrampilan sehingga apapun yang diberikan kepada siswanya tidak terlalu ketinggalan dengan perkembangan zaman. Bahkan tidak cukup dengan itu saja, untuk membangun kembali puing-puing kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru yang hampir tumbang diterjang kemajuan zaman, maka guru perlu tampil di setiap kesempatan di masyarakat terhadap baik sebagai pendidik, pengajar, pelatih, innovator maupun dinamisator pembangunan masyarakat yang bermoral sekaligus mencerdaskan bangsa.

Dengan bermodalkan kewibawaan dan kemampuan mengembangkan diri, Insya Allah guru akan senantiasa dihormati serta mendapat kepercayaan dari masyarakat. Kapan lagi jika bukan saat ini untuk meningkatkan kompetensi professional dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari persyaratan minimal. Sehingga diharapkan akan menjadi guru yang professional.

Dalam meningkatkan professional guru ada banyak faktor yang harus diperhatikan seperti: pendidik (guru), siswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan, dan manajemennya. Namun pada kesempatan ini hanya akan dilihat dari segi pendidik (guru) dan siswa yang merupakan dua komponen terpenting, yang berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran, dengan tidak mengesampingkan komponen atau faktor-faktor lainnya.

Dalam era sentralisasi pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran dari segi pendidik (guru) biasanya dilakukan dengan kegiatan inservice teacher training yang berupa penyetaraan, pendidikan dan pelatihan, penataran, seminar atau lokakarya, atau kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, diharapkan guru dapat menerapkan hasil training tersebut dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan­kegiatan tersebut telah banyak dilaksanakan oleh kementerian agama dengan biaya yang tidak kecil. Menurut Sukirman (2006), kebanyakan setelah kegiatan inservice teacher training, hasil monitoring yang mempersoalkan apakah ada peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta tidak tampak nyata hasilnya. Padahal pada dasarnya, hakikat pelaksanaan kegiatan inservice teacher training selain meningkatkan kualitas guru, yang lebih penting adalah guru peserta inservice teacher training mampu menerapkan hasil training dalam proses pembelajaran di kelasnya dan mengimbaskan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya atau di kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Namun masih banyak guru setelah mengikuti kegiatan inservice teacher training, mereka tidak mengubah cara pembelajaran untuk para siswanya. Hal ini sangat dimungkinkan karena dalam kegiatan training tersebut tidak diberikan contoh kongkret cara pembelajarannya di kelas nyata.

Mulai tahun 2000, Indonesia menerapkan sistem otonomi daerah atau desentralisasi, di mana setiap daerah diberikan wewenang mengatur daerahnya masing­masing sesuai kemampuan termasuk juga kewenangan dalam hal pendidikan. Apakah dalam era otonomi ini strategi peningkatan kualitas pembelajaran dari segi guru akan tetap sama seperti dalam sebelumnya ? Dalam era desentralisasi pendidikan, posisi guru berada pada titik sentral dengan tanggung jawab yang luas dan menjadi tumpuan vital dalam pengembangan pembelajaran yang dilakukan. Guru bukan lagi sebagai pelaksana pengajaran seperti yang tertulis dalam Garis garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan di masa lalu. Dalam era desentralisasi pendidikan, guru harus menyusun sendiri jabaran kurikulum. Kurikulum sekarang sangat sederhana, secara garis besar hanya berisi standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaiannya. Guru harus menjabarkannya menjadi silabus yang sesuai dengan karakteristik siswa, kemampuan sekolah, dan lingkungannya.

Pada era desentralisasi ini, guru harus lebih aktif mengambil prakarsa sendiri, karena tidak akan ada lagi intervensi dari luar yang harus dipatuhi secara mutlak. Bukan karena sesuatu yang datang dari luar dianggap pasti tidak sesuai. Tetapi yang lebih penting adalah bahwa guru lebih leluasa berperan sebagai seorang profesional. Kini guru ditantang tampil dengan kemampuan yang terbina dari dalam dirinya, guru harus mampu membuktikan kemampuan profesionalnya untuk menerima amanah sebagai pendidik yang tangguh. Secara singkat, jika pada era sentralisasi pendidikan, guru sebagai pelaksana dari apa yang telah dipikirkan oleh para birokrat, tapi kini guru ditantang untuk berfikir logis, kritis, kreatif, dan refleksif dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, dan melaksanakan hasil pemikirannya ini dalam pembelajaran di kelas.

Penyelenggaraan proses belajar mengajar (PBM) menuntut guru untuk menguasai isi atau materi bidang studi yang akan diajarkan serta wawasan yang berhubungan dengan materi tersebut. Selain itu guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik, sehingga guru dapat memainkan perannya sebagai fasilitator bagi pembelajaran siswanya. Sebagai penyelenggara PBM guru juga harus dapat mengembangkan sikap positif siswa dan dapat merespons ide-ide mereka. Guru harus dapat menerapkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan khususnya inovasi pembelajaran di kelas sebagaimana yang telah direkomendasikan para pakar pendidikan agar dapat memenuhi tuntutan kurikulum.

Matematika yang merupakan salah satu mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas. Adapun tujuannya adalah untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi itu diperlukan sebagai bekal agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, dan kompetitif.

KTSP mengisyaratkan agar tiap pembelajaran matematika di sekolah dimulai dengan memberikan materi-materi yang kontekstual. Namun kenyataannya masih sering ditemui adalah masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika. Beberapa penyebab kesulitan tersebut antara lain pelajaran matematika tidak tampak kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, cara penyajian pelajaran matematika yang monoton dari konsep abstrak menuju ke kongkrit, tidak membuat anak senang belajar. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa pembelajaran yang selama ini dilakukan terpaku pada kebiasaan urutan sajian pembelajaran sebagai berikut :

  1. Diajarkan teori / teorema / definisi
  2. Diberikan contoh-contoh soal dan
  3. Diberikan latihan soal-soal

Akibatnya timbul persepsi yang agak keliru terhadap matematika. Matematika dianggap sebagai pengetahuan yang pasti, terurut dan prosedural. Jarang sekali siswa diajak menganalisis, mematematisasi, serta menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan guru masih banyak bergantung pada buku ajar yang beredar di pasaran.

Bergantinya sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi pendidikan secara mendadak seperti saat ini tidak akan serta merta mengubah pola pikir guru yang semula sebagai pelaksana pengajaran langsung menjadi pemrakarsa pembelajaran, seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi beragamnya kualitas dan profesionalitas guru, dari guru yang bermotivasi peribadahan hingga karena keterpaksaan, dari guru yang selalu menggerutu hingga yang senantiasa tawakkal. Untuk itu perlu tersedianya pendukung yang memadai dan proses yang panjang dalam program pendidikan dan pembinaan guru. Perlu adanya gerakan dari bawah, dari para guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dirinya dalam meningkatkan kompetensinya, agar dapat mengembangkan mutu pembelajaran pada siswanya. Bertolak dari pandangan tersebut, ditawarkan suatu sistem pembinaan guru melalui lesson study dalam rangka peningkatan keprofesionalan guru. Melalui lesson study, guru dapat mengamati pelaksanaan pembelajaran yang diteliti (research lesson) dan juga dapat mengadopsi pembelajaran sejenis setelah mengamati respons siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksanakan pada kegiatan lesson study ini. Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran ini dapat dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap pembelajaran yang diteliti maupun melalui laporan tertulis, video, ataupun forum diskusi untuk berbagi pengalaman dengan kolega. Sehingga dengan adanya Lesson study, guru dapat memperbaiki mutu pengajarannya di kelas serta meningkatkan keprofesionalannya.

Melalui Lesson study, guru dapat secara kolaboratif berupaya menerjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di kelas. Kolaborasi yang dilakukan bertujuan untuk merancang pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa dapat mencapai kompetensi dasar yang diharapkan akan mereka kuasai. Dalam kolaborasi ini, guru-guru yang tergabung dalam kelompok lesson study berupaya merancang suatu skenario pembelajaran yang memperhatikan kompetensi dasar, pengembangan kebiasaan berpikir ilmiah, dan strategi pembelajaran yang digunakan sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan tertentu yang terkait dengan materi yang dibelajarkan. Guru-guru dalam kelompok lesson study juga harus membuat perangkat-perangkat lain yang diperlukan dalam pembelajaran seperti LKS, panduan guru (teaching guide), media pembelajaran, instrumen evaluasi pembelajaran. Atas dasar hal-hal di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Lesson Study sebagai Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Matematika   “ dengan materi ukuran pemusatan data.

Profesionalisme Guru

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pada bab II pasal 3, jelas tertulis fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab ”. Jelas terlihat bahwa pendidik mempunyai peranan yang sangat besar dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional tersebut. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tentu diperlukan seorang pendidik yang professional.

Pendidik mempunyai dua arti yaitu arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas pendidik adalah semua orang yang berkewajiban membina manusia, sedangkan dalam arti sempit pendidik adalah orang-orang yang yang disiapkan untuk menjadi tenaga pendidik. Siapa sajakah yang disebut pendidik ? Bab I pasal 1 UU No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa “ Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”.

Guru sebagai salah seorang tenaga pendidik tentu dituntut keprofesionalismenya. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya dibutuhkan sumber daya manusia yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada Bab I dalan UU Guru dan Dosen tertulis Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi ”.

Sedangkan menurut Uzer Usman (1996), Guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Dari pendapat para ahli seperti Schein ( 1972 ), Imran Manan ( 1989 ), Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia I (1988 ), ISPI (1991 ), dan Manap Somantri ( 1996 ) dalam Made Pidarta (1990) bahwa ciri-ciri seorang professional adalah sebagai berikut

  1. Pekerjaan berdasarkan motivasi yang kuat
  2. Memiliki seperangkat pengetahuan, ilmu dan ketrampilam khusus yang bersifat dinamis dan terus berkembang.
  3. Ilmu, pengetahuan, dan ketrampilan itu diperoleh melalui studi dalam waktu lama
  4. Membuat keputusan sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya.
  5. Pekerjaan berorientasi pada pelayanan, bukan material semata
  6. Tidak mengarvetensikan keahliannya untuk mendapatkan klien
  7. Menjadi anggota organisasi profesi
  8. Memiliki kode etik profesi
  9. Punya kekuatan dan status yang tinggi sebagai ekspect yang diakui oleh masyarakat
  10. Berhak mendapatkan imbalan yang layak

Kompetensi Guru

Untuk menjadi guru yang profesional tentu diharuskan memiliki kompetensi­kompetensi yang digariskan. Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang direflesikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadai kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Sementara itu , menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045 / U / 2002 yang dikutip dari direktorat profesi pendidik mengatakan bahwa “kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu ”.

Kompetensi guru (teacher competency) merupakan kemampuan seorang guru dalam dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Jabatan guru termasuk salah satu jenis pekerjaan professional. Hal ini mendapat pengakuan dari pemerintah dan masyarakat. Pengakuan pemerintah antara lain diimplementasikan pada pembayaran tunjangan professional guru, walaupun pembayaran itu belum mencapai standar yang diharapkan. Hal ini terkait dengan keterbatasan anggaran yang dapat direalisasikan.

Menurut PP I No. 19 / 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28, pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi yaitu

  1. Kompetensi paedagogik
  2. Kompetensi Profesional
  3. Kompetensi Kepribadian
  4. Kompetensi Sosial

Keempat jenis kompetensi guru yang disyaratkan beserta subkompetensi dan indicator esensialnya diuraikan sebagai berikut

1. Kompetensi Paedagogik

Kompetensi paedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantive kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara rinci masing-masing elemen kompetensi paedagogik tersebut dapat dijabarkan menjadi subkompetensi dan indicator sebagai berikut

a. Memahami peserta didik. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta

b. Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

c. Melaksanakan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : Menata latar ( setting ) pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

d. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : Melaksanakan evaluasi ( assessment ) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode, menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk meningkatkan tingkat ketuntasan belajar( Mastery level ) , dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk pebaikan kualitas pogram pembelajaran secara

e. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan sebagai potensi yang dimilikinya. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik.

2. Kompetensi Profesional

Kompetensi professional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut serta menambah wawasan keilmuan bagi guru. Secara rinci masing-masing elemen kompetensi tersebut memiliki subkompetensi dan indicator esensial sebagai berikut.

a. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami strukstur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep­konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk menambah wawasan dan memperdalam pengetahuan / materi bidang studi.

3. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci tiap setiap elemen kepribadian tersebut dapat dijabarkan menjadi subkompetensi dan indicator esensial sebagai berikut :

a. Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : bertindak sesuai dengan norma hokum, bertindak sesuai dengan norma social, bangga sebagai pendidik, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma.

b. Memiliki kepribadian yang dewasa. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : menampilkan kemandirian bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai pendidik.

c. Memiliki kepribadian yang arif. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : menampilkan tindakan yang didasarkan pada kekemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat dan menunjukan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

d. Memiliki kepribadian yang berwibawa. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : memiliki perilaku yang berpengaruh, positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

e.  Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan . Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : bertindak sesuai dengan norma religius ( imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong ) , memiliki peilaku yang diteladani peserta didik.

4. Kompetensi Sosial

Kompetensi social berkenaan dengan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame guru, dan masyaarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indicator esensial sebagai berikut :

a. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Subkompetensi ini memiliki indicator esensial : Berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.

b. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.

c. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua / wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Pengembangan Profesi Pendidik

Pengembangan profesi pendidik bertalian dengan organisasi profesi pendidik. Sebab pengembangan profesi itu, disamping dilakukan oleh pendidik secar individu, secar konsep dibantu , diawasi, dan dikoordinasi oleh organisasi profesinya. Adapun tugas utama organisasi profesi bertalian dengan pengembangan profesi pendidik adalah mengkoordinasi kesempatan yang ada untuk meningkatkan profesi, menilai tingkat profesionalisme pendidik, mengawasi pelaksanaan pendidikan dan perilaku pendidik sebagai seorang profesional, dan menjatuhkan sangsi terhadap mereka yang melanggar kode etik profesi pendidikan.

Bagaimana cara mengembangkan profesi pendidik ? Ada sejumlah cara dan tempat mengembangkan profesi pendidik, yaitu :

  1. Dengan belajar sendiri di rumah
  2. Belajar di perpustakaan khusus untuk pendidik atau di perpustakaan umum.
  3. Dengan membentuk persatuan pendidik sebidang studi atau spesialisasi yang sama
  4. Mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah, diklat, seminar dan lainnya
  5. Belajar secara formal di lembaga-lembaga pendidikan
  6. Mengikuti pertemuan organisasi profesi pendidikan
  7. Ikut mengambil bagian dalam kompetensi ilmiah

Penyelenggaraan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari profesional pendidik. Yang dimaksud dengan penyelenggara adalah mereka yang menduduki jabatan struktural, seperti kepala sekolah, ketua jurusan, dekan, rektor, dan lainnya. Adapun kewajiban-kewajiban penyelengara pendidikan adalah :

  1. Menjadi menejer lembaga pendidikan
  2. Sebagai supervisor atau pengawas
  3. Sebagai pencipta iklim dan lingkungan bekerja dan belajar yang kondusif
  4. Menjadi administrator lembanga pendidikan dengan tugas menyelenggarakan kegiatan rutin yang dioperasikan oleh para personalia lembaga
  5. Menjadi koordinator kerjasama lembaga pendidikan dan masayarakat

Pengertian Lesson Study

Lesson Study (LS) pada awalnya dimulai dengan pengkajian materi kurikulum (kyouzai kenkyuu) yang berfokus pada pengajaran matematika bagi guru-guru di Jepang. Kajian tersebut mendasarkan diri pada kurikulum matematika di U.S yang dirancang berbasis temuan-temuan penelitian unggul. Kajian tersebut melahirkan suatu perubahan paradigma tentang materi kurikulum dari ”memanjakan” menuju pada ”pemberdayaan” potensi siswa. Paradigma ”memanjakan” mengalami anomali, karena materi kurikulum sering tidak memperhatikan karakteristik siswa, sehingga substansi materi sering lepas konteks dan tidak relevan dengan kebutuhan siswa. Akibatnya, siswa kurang tertarik, pembelajaran menjadi tidak bermakna, siswa sering menyembunyikan ketidakmampuan. Hal ini terjadi sebagai akibat koreksi dan perhatian guru yang lemah terhadap potensi mereka. Sementara, paradigma ”pemberdayaan” bertolak dari potensi siswa yang mampu ”mengada”, sehingga materi kurikulum seyogyanya dikembangkan berbasis kebutuhan siswa, materi seyogyanya menyediakan model pedagogi yang mampu menampilkan aspek kemenarikan pembelajaran. Paradigma tersebut dapat berkembang jika pembelajaran dihasilkan dari kerja tim mulai dari perencanaan, pelaksanaan, diskusi, kolaborasi, dan refleksi secara berkesinambungan. Cara seperti ini melahirkan konsep Lesson Study (LS).

LS merupakan terjemahan dari bahasa Jepang jugyou (instruction =pengajaran, atau lesson = pembelajaran) dan kenkyuu (research = penelitian atau study = kajian). Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnya jugyou kenkyuu, adalah sebuah pendekatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran di Jepang. Perbaikan­perbaikan pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses-proses kolaborasi antar para guru.

Lesson Study adalah suatu metode analisis kasus pada praktek pembelajaran , ditujukan untuk membantu membantu pengembangan profesionalisme guru dan membuka kesempatan bagi mereka untuk saling belajar berdasarkan praktek-praktek nyata di tingkat kelas (Pelita, 2009). Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson Study bukan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan Lesson Study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik. Lesson study dapat merupakan suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu perencanaan (planning), implementasi (action) pembelajaran dan observasi serta refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

1 . Tahap perencanaan ( Plan )

Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah dalam rangka perencanaan pemecahan masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan dengan kelas dan jadwal pelajaran, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media, alat peraga, dan evaluasi proses dan hasil belajar.

Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok lesson study) tentang pemilihan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik siswa, serta jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru dan pakar dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, pakar dapat mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh para guru, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan life skill, Realistic Mathematics Education, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.

Hal yang penting pula untuk didiskusikan adalah penyusunan lembar observasi, terutama penentuan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas :

  1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  2. Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran (Teaching Guide)
  3. Lembar Kerja Siswa (LKS)
  4. Media atau alat peraga pembelajaran
  5. Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran.
  6. Lembar observasi pembelajaran.

Penyusunan perangkat pembelajaran ini dapat dilakukan oleh seorang guru atau beberapa orang guru atas dasar kesepakatan tentang aspek-aspek pembelajaran yang direncanakan sebagai hasil dari diskusi. Hasil penyusunan perangkat pembelajaran tersebut perlu dikonsultasikan dengan dosen atau guru yang dipandang pakar dalam kelompoknya untuk disempurnakan.

Perencanaan itu dapat juga diatur sebaliknya, yaitu seorang atau beberapa orang guru yang ditunjuk dalam kelompok mengidentifikasi permasalahan dan membuat perencanaan pemecahannya yang berupa perangkat-perangkat pembelajaran untuk suatu pokok bahasan dalam suatu mata pelajaran yang telah ditetapkan dalam kelompok. Selanjutnya, hasil identifikasi masalah dan perangkat pembelajaran tersebut didiskusikan untuk disempurnakan.

  1. Tahap Implementasi dan Observasi ( Do )

Pada tahap ini seorang guru yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompoknya, melakukan implementasi rencana pembelajaran (RP) yang telah disusun tersebut, di kelas. Pakar dan guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Selain itu (jika memungkinkan), dilakukan rekaman video (audio visual) yang mengclose-up kejadian-kejadian khusus (pada guru atau siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna nantinya sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi atau pada seminar hasil lesson study, di samping itu dapat digunakan sebagai bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.

  1. Tahap Refleksi ( See )

Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh Kepala Sekolah, Koordinator kelompok, atau guru yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya observer (guru lain dan pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer. Hal yang penting pula dalam tahap refleksi ini adalah mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

Metodelogi Penelitian

  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX/B Semester I di SMP I Jetis Jogyakarta tahun ajaran 2009 / 2010. Sedangkan guru yang menjadi model adalah Sumartini, S.Pd.

  1. Prosedur Penelitian Penelitian ini melalui tiga tahapan yaitu :

– perencanaan (Plan)

– Pelaksanaan (Do)

– Refleksi (See)

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

– Data observasi

– Data dokumentasi

Pelaksanaan Lesson Study

Lesson Study adalah suatu model peningkatan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip­prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Oleh karena itu lesson study dapat dilaksanakan dalam satu sekolah, kelompok sekolah, kelompok guru mata pelajaran sejenis atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Suatu sekolah dapat melaksanakan school based lesson study, jika banyaknya guru mata pelajaran sejenis atau serumpun minimal 3 (tiga) orang, untuk mata pelajaran yang akan diterapkan lesson study. Mereka dapat secara rutin bersama dan berkelanjutan dalam melaksanakan lesson study, baik dalam perencanaan (plan), implementasi (do) dan observasi serta refleksi (see) pada suatu mata pelajaran. Dalam pelaksanaan lesson study di suatu sekolah, agar tidak mengganggu kewajiban guru dalam tugas mengajarnya, perlu penyusunan jadwal pelajaran yang menyediakan pertemuan rutin guru mata pelajaran sejenis/serumpun.

Lesson study dapat pula dilaksanakan dengan cara: seorang guru menyusun seluruh perangkat pembelajaran secara lengkap untuk suatu topik tertentu (yang bermasalah) untuk didiskusikan dengan beberapa teman sejawat. Selanjutnya ia tampil sebagai guru model dan teman sejawat melakukan observasi, lalu melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilakukan.

Hal-hal di atas dapat dilaksanakan dalam kelompok sekolah, kelompok guru mata pelajaran sejenis, atau MGMP. Sekali lagi, lesson study dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan, oleh karena itu pelaksanaannya perlu diatur sedemikian hingga tidak mengganggu kewajiban mengajar dan diusahakan keberlanjutannya. Berikut ini adalah hasil penelitian lesson study di SMP I Jetis.

  1. Perencanaan (plan)

Dalam penelitian ini pelaksanaan Lesson Study adalah yang berbasis MGMP matematika, di mana pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran dibuat bersama dengan :

Standar Kompetensi : Melakukan pengolahan dan penyajian data

Kompetensi Dasar         : Menentuka rata-rata, median, modus data tunggal serta penafsirannya

Indikator                     : Menentukan nilai rata-rata, median dan modus data tunggal

Selain rencana pelaksanaan pembelajaran, juga dibuat lembar kerja siswa (LKS) dan lembar observasi termasuk mempersiapkan media yang akan dipakai dalam pembelajaran. Selanjutnya dipilih satu guru model yang bernama ibu Sumartini, S.Pd, guru lain dan pakar bertindak sebagai observer

  1. Implementasi dan Observasi ( Do )

Pada tahap ini guru model mengajarkan tahap pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat dengan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut :

1. Pendahuluan

Pada tahap pendahuluan guru model memberikan apersepsi tentang materi sebelumnya yaitu cara pengumpulan data, kemudian memberikan motivasi kepada siswa berupa tujuan pembelajaran dan menginformasikan betapa pentingnya materi ini untuk kehidupan sehari-hari.

2. Kegiatan inti

Guru model membagi siswa dalam beberapa kelompok siswa, selanjutnya membagikan permen kepada tiap kelompok dimana jumlah permen berbeda­beda. Kemudian tiap kelompok berdiskusi mengerjakan LKS yang telah diberikan guru model. Setelah siswa menyelesaikan LKS, siswa disuruh presentasi hasil diskusi kelompoknya. Guru model melibatkan siswa dengan peragaan di depan kelas untuk menentukan nilai rata-rata, median dan modus.. Pada akhirnya guru memberikansoal latihan untuk dikerjakan oleh masing­masing kelompok.

Pada saat pembelajaran berlangsung , teman-teman sejawat dan pakar melakukan observasi terhadap proses pembelajaran. Para observer hanya diperbolehkan mendekati siswa yang sedang berdiskusi kelompok, namun tidak diperkenankan mendekati siswa jika guru sedang memberikan penjelasan. Observer mencatat hal-hal yang penting selama proses pembelajaran berlangsung dengan merujuk pada format yang telah dipersiapkan sebelumnya.

3. Penutup

Guru model bersama siswa membuat rangkuman tentang materi pembelajaran pada hari itu yaitu tentang rata-rata, modus, dan median. Pada akhirnya guru model memberikan pekerjaan rumah untuk siswa.

  1. Refleksi (See)

Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru model yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh Koordinator kelompok. Pertama guru model yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya observer (guru lain dan pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran. Tabel berikut adalah tanggapan hasil observasi teman sejawat dan pakar.

NO KOMPONEN KEGIATAN SISWA DESKRIPSI PENGAMATAN WAKTU
1 Interaksi antara siswa dan siswa (berdiskusi, ngobrol atau mengganggu teman) – Guru                         hanyamemberikan           2     LKSpada     tiap     kelompok,
sehingga ada kelompok

yang      siswanya     asyik
dengan dirinya sendiri

–    Student centre

Menit ke 12
2 Interaksi     antara   siswa    dengan
guru
–    Sebagian   besar    (80%)siswa              berinteraksi
dengan guru
Menit       ke
14-15

 

(mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan lain-lain)
3 Interaksi       antara     siswa     dansumber              belajar/media/LKS(membaca      buku,    mengerjakan

tugas,          menggunakan        alat
percobaan, dsb)

–  Siswa tidak mempunyai
buku pegangan-  Siswa           mengerjakan
LKS & tugas- Pola untuk median dan modus tidak di gali dari siswa
Menit 60
4 Siswa pasif (melamun, dsb) atau bermain-main (jari, pensil, dsb) –    Siswa    tidak    mencatathasil               pembelajaran,padahal      mencatat    itu
penting
Selama PBM
5 Siswa diam karena berpikir dan perhatian                (mendengarkan
pertanyaan guru, memperhatikan penjelasan guru, memperhatikanpertanyaan         atau       menjawab
pertanyaan teman, dsb)
–    Kelompok            pascal,aljabar       dan     fibonaci
menemukan pola untukmencari          median     dan

modus       jika      jumlah
datanya genap

Menit 65 – 80

Tabel 1. Hasil pengamatan open lesson

Hal yang penting dalam tahap refleksi ini adalah mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan­pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

PEMBAHASAN

Lesson study mempunyai pengertian belajar pada suatu pembelajaran. Seseorang (guru atau calon guru) bisa belajar tentang bagaimana melakukan pembelajaran pada mata pelajaran tertentu melalui tampilan pembelajaran yang ada (live/real atau rekaman video). Guru bisa mengadopsi metode, teknik, ataupun strategi pembelajaran, penggunaan media, dan sebagainya yang diangkat oleh guru model untuk ditiru atau dikembangkan di kelasnya masing-masing. Guru lain/pengamat perlu melakukan analisis untuk menemukan positif-negatifnya kelas pembelajaran tersebut dari menit ke menit. Hasil analisis ini sangat diperlukan sebagai bahan masukan bagi guru penampil untuk perbaikan atau lewat profil pembelajaran tersebut, guru/pengamat bisa belajar atas inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru lain.

  1. Perencanaan (Plan)

Pada perencanaan lesson study di SMP I Jetis pada prinsipnya telah sesuai dengan panduan LS, dalam kegiatan ini idealnya seluruh peserta yang hadir mempersiapkan perangkat pembelajaran yang dikenal dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) bersama-sama. Kegiatan bersama ini sebagai perwujudan komitmen untuk memperoleh RPP yang benar-benar sesuai dengan situasi dan kondisi audien. Pembahasan diutamakan tentang materi pembelajaran dalam hal ini tentang rata-rata, median dan modus, rencana pelaksanaan pembelajaran dan media serta metode yang akan digunakan untuk melaksanakan pembelajaran. Sebelum membahas langkah-langkah tersebut, tahap awal adalah membahas tentang keadaan kelas beserta fasilitas ruangannya dan karakter siswanya. Data-data awal ini harus merupakan rujukan guna menyusun kegiatan utama tersebut sehingga dapat diperoleh RPP sesuai dengan kondisi dan situasi ketika pembelajaran berlangsung. Bila perlu calon guru model mempresentasikan skenario pembelajaran yang akan diterapkan pada kegiatan Do nantinya, sedangkan peserta lainnya memberikan masukan berdasarkan pengalaman pribadi yang telah mereka miliki. Pertanyaannya adalah sudahkah RPP yang dibuat selama kegiatan Plan sesuai dengan idealisme di atas, ataukah hanya menyalin RPP yag sudah jadi dari MGMP?. Jika hanya menyalin tentu akan membosankan, karena tidak ada yang perlu dibahas dan tidak ada suatu keinginan untuk memgetahui keberhasilan RPP yang telah dibuat sebagai komitmen bersama. Jika merasa turut aktif membuat RPP tentu ada rasa keingintahuan bagaimana implementasi pelaksanaan RPP nantinya di waktu Do.

  1. Implementasi dan Observasi ( Do )

Pada tahap ini guru model telah melakukan atau melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang di buat, namun ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan antara lain :

  1. Hendaknya seluruh siswa memperoleh LKS sehingga mereka dapat lebih focus
  2. Siswa tidak diberikan kesempatan untuk mencatat, padahal mencatat itu cukup penting dalam proses pembelajaran
  3. Guru model masih kurang mengeksplore kemampuan siswa
  4. Guru memerlukan LKS yang memancing siswa untuk menemukan sendiri pola median dan modus
  5. Siswa kurang memilki sumber belajar lain

Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai uji coba efektivitas RPP yang telah disusun ersama. Sebagai perwujudan komitmen, guru model harus mengimplementasikan pembelajaran pada sekolah yang menjadi tuan rumah berdasarkan skenario RPP yang telah dibuat bersama, kecuali ada kendala atau kejadian tertentu yang memang harus mengubah skenario pembelajaran yang telah dibuat. Tindakan guru semacam ini sesuai dengan pendapat Sudrajat, bahwa seorang guru dituntut pula untuk menunjukkan keterampilannya secara unggul dalam bidang pendidikan dan pembelajaran (kemampuan pedagogik), seperti: keterampilan menerapkan berbagai metode dan teknik pembelajaran, teknik pengelolaan kelas, keterampilan memanfaatkan media dan sumber belajar, dan sebagainya. Keterampilan pedagogik inilah yang justru akan membedakan guru dengan ahli lain dalam bidang sains yang terkait. Untuk memperoleh keterampilan pedagogik ini, di samping memerlukan bakat tersendiri juga diperlukan latihan secara sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan pengamat (observer) pembelajaran yang pertama seharusnya mengamati aktivitas siswanya dan yang kedua tidak kalah pentingnya, pengamat seharusnya ikut belajar dengan mengamati jalannya rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dikerjakan guru model. Pertanyaannya adalah sudahkah pengamat pembelajaran benar-benar telah melakukan pengamatan yang kedua ini ataukah hanya melakukan pengamatan yang pertama di atas? Jika hanya pengamatan yang pertama, tentu kurang memperoleh hasil yang maksimal. Tetapi jika ada keinginan yang kuat untuk mengetahui tepat tidaknya RPP yang telah dibuat bersama tentu akan melakukan pula pengamatan yang kedua di atas, inilah yang menurut saya harus menjadi komitmen bersama guna meningkatkan kualitas LS.

  1. Refleksi (See)

Pengumpulan data-data masing-masing pengamat yang dilakukan pada kegiatan Do, selanjutnya didiskusikan sebagai kegiatan See (refleksi). Sepertinya selama ini diskusi berlangsung hanya pada pembahasan aktivitas siswa, tetapi tidak menyinggung bagaimana implementasi RPP yang telah dibuat bersama, jika memang RPP telah dibuat bersama-sama. Jelaslah bahwa RPP berikutnya harus disusun dengan mempertimbangkan implementasi RPP sebelumnya, oleh karena itu seharusnya kita berkomitmen untuk selalu hadir dalam setiap kegiatan LS sehingga ada kesinambungan, kita benar-benar ingin memperoleh sesuatu yang baru dari kegiatan ini, bukan sekedar hadir karena tugas.

Kesimpulan

Profesional sangat penting, tidak ada orang lain yang bisa melaksanakan tugas mendidik kecuali pendidik profesional. Seorang profesional bukan hanya mengajar saja namun juga mendidik dan melatih.

Lesson study sebagai suatu strategi dalam meningkatkan keprofesionalan guru oleh para guru, yang sudah tentu merupakan gerakan dari para guru untuk mewujudkannya. Lesson study dapat diimplementasikan dalam pembelajaran melalui siklus plan-do-see. Oleh karena itu, perlu komitmen dari para guru yang didukung oleh kebijakan para pengambil keputusan, agar gerakan itu terwujud.

Adapun efek Lesson Study terhadap profesionalisme guru adalah :

  1. Kompetensi Paedagogi

– Pada kompetensi ini terlihat peningkatan proses belajar mengajar dengan membuat suatu rancangan pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan pengalaman hidup siswa.

– Guru menentukan strategi pembelajaran dengan mengaitkan kontektual pada materi ukuran pemusatan data.

– Pelaksanaan proses belajar mengajar yang membuat siswa memahami konsep dari ukuran pemusatan data.

– Mengevaluasi proses belajar mengajar dengan melalkukan refleksi

 

  1. Kompetensi Profesional

Memahami materi ajar statistika khususnya ukuran pemusatan data dengan menggabungkan materi-materi yang didapat dari berbagai referensi dan masukan dari teman-teman MGMP

  1. Kompetensi Kepribadian

–     Keterbukaan terhadap pendapat-pendapat para observer pada saat refleksi.
4. Kompetensi Sosial

  • Melakukan komunikasi dengan sesama guru MGMP dan siswa secara
  • Merumuskan kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai dasar untuk

pengembangan belajar siswa;

  • Melaksanakan diskusi setelah pembelajaran bersama dalam kelompok
  • kolaboratif mereka untuk mendiskusikan dan merevisi rencana

pembelajaran.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, dapat direkomendasikan beberapa hal yaitu :

  1. Lesson study merupakan salah satu proses pembelajaran yang dapat meningkatkan profesionalisme guru.
  2. Pihak yang berwenang (kepala sekolah, kepala kantor kementerian agama kabupaten/kota, kepala kantor wilayah kementerian agama) hendaknya dapat memberikan dukungan pada pelaksanaan lesson study ini dalam upaya peningkatan profesionalisme guru.
  3. Balai Diklat hendaknya memberikan dukungan berupa pendidikan dan pelatihan tentang Lesson Study.

 

REFERENSI

 

Depdiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan : Standar Kompetensi Matematika. Jakarta : Depdiknas

Direktorat Profesi Pendidik, 2006. Bahan Sosialisasi Sertifikasi Guru. Jakarta : Depdiknas.

Pidarta, Made, 1990. Landasan Kependidikan : Stimulus Ilmu Pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta

Sukirman, 2006. Kumpulan Makalah : Pelatihan Lesson study bagi Guru-guru Berprestasi dan Pengurus MGMP MIPA SMP se-Indonesia. Jogyakarta : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNY

Uzer Usman, 1996. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya .

______ . 2006. Undang-Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen.
Jakarta, Citra Umbara.

.2006. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Jakarta, Citra Umbara.

_ .2009. Panduan untuk Lesson Study Berbasis MGMP dan Lesson Study Berbasis Sekolah. Jakarta : Pelita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.