Landasan Filosofis dalam Pengembangan Kurikulum

0
117

L

Oleh Agustina, S.Pd., M.Pd.

  1. PENDAHULUAN

Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Ada beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, serta pengembangan ilmu dan teknologi. Artikel ini akan membahas pengembangan kurikulum ditelaah dari landasan filosofisnya.

Secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan (philien berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan dalam bahasa Yunani). Filsafat ini sendiri mengandung dua pengertian, yakni sebagai proses(berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat (sistem teori atau pemikiran). Sukmadinata (1997) menjelaskan bahwa secara akademik, filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komperehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia didalamnya. Terdapat perbedaan pendekatan antara ilmu dengan filsafat dalam mengkaji atau memahami alam semesta ini. Ilmu menggunakan pendekatan analitik, yaitu berusaha menguraikan keseluruhan dalam bagian-bagian kecil dan lebih kecil. Sedangkan filsafat berupaya merangkum atau mengintegrasikan bagian-bagian kedalam satu kesatuan yang menyeluruh dan bermakna. Ilmu berkenaan dengan fakta-fakta sebagaimana adanya (das sein), berusaha melihat sesuatu secara objektif. Sedangkan filsafat melihat segala sesuatu dari sudut bagaimana seharusnya (das sollen), faktor-faktor subjektif sangat berpengaruh. Namun demikian, filsafat dan ilmu saling melengkapi, filsafat memberikan landasan-landasan dasar bagi ilmu. Keduanya dapat memberikan bahan-bahan bagi manusia untuk membantu memecahkan berbagai masalah dalam kehidupannya.

  1. Kurikulum dan Filsafat Pendidikan

Pandangan-pandangan filsafat sangat dibutuhkan dalam pendidikan terutama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Dan karena itulah kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau pandangan hidup yang dianut sebuah bangsa. Indonesia menggunakan Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka kurikulum pendidikanpun disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Perumusan tujuan pendidikan, penyusunan program pendidikan, pemilihan dan penggunaan pendekatan atau strategi pendidikan, peranan yang harus dilakukan pendidik dan peserta didik senantiasa harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Nilai-nilai filsafat Pancasila yang dianut Bangsa Indonesia dicerminkan dalam tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem UUD Negara RI tahun 1945. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggungjawab (Pasal 2 dan 3).

  1. Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum

Landasan filosofis merupakan asumsi asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum, dimana ia berimplikasi pada rumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidikan.

Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum ialah pentingnya rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analisis, logis, sistematis dalam merencanakan, melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum baik dalam bentuk kurikulum sebagai rencana (tertulis), terlebih kurikulum dalam bentuk pelaksanaan di sekolah.

Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran–aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.

Di bawah ini diuraikan tentang isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, terkait dengan pengembangan kurikulum.

Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan: bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?

Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.

Lalu Rekonstruktivisme yang merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.

Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.

Sedangkan menurut Redja Mudyahardjo (1989) dalam buku Kurikulum dan Pembelajaran oleh Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2013), terdapat tiga sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan pada umumnya dan di Indonesia khususnya yaitu Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme.

Aliran  filsafat Idealisme mendasarkan tujuan pendidikan formal dan informal pada adalah pengembangan kemampuan berpikir melalui pendidikan liberal atau pendidikan umum, penyiapan keterampilan bekerja sesuatu mata pencaharian melalui pendidikan praktis. Sedangkan metode pendidikannya adalah dialektik/dialogis. Peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya. Tugas utama pendidik adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat belajar secara efisien dan efektif.

Lalu aliran filsafat Realisme mendasarkan tujuan pendidikan agar peserta didik dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup dan dapat melaksanakan tanggungjawab sosial. Isi pendidikannya adalah kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna bagi penyesuaian diri dalam hidup dan tanggungjawab sosial. Kurikulumnya berisi unsur-unsur pendidikan liberal/pendidikan umum untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan pendidikan praktis untuk bekerja. Metode pendidikan didasarkan pada pengalaman langsung maupun tak langsung dengan berurutan terutama menggunakan pembiasaan.

Pada aliran filsafat Pragmatisme, tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Kurikulumnya berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji serta minat-minat dan kebutuhan-kebutuhan anak, dan pendidikan liberal yang menghilangkan pemisahan antara pendidikan umum dan pendidikan praktis/vokasional. Berpikir reflektif atau metode pemecahan masalah merupakan metode utamanya, terdiri atas langkah-langkah penyadaran suatu masalah, observasi kondisi-kondisi yang ada, perumusan dan elaborasi tentang suatu kesimpulan, pengetesan melalui eksperimen.

  1. Kesimpulan

Landasan filosofis, yaitu asumsi asumsi tentang hakikat realitas, hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi pada rumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidikan

Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme dengan masing-masing memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme. Ada juga yang berpendapat sistem pemikiran filsafat yang sangat besar pengaruhnya dalam pemikiran pendidikan di Indonesia adalah Idealisme, Realisme, dan Pragmatisme. Namun kurikulum yang dikembangkan juga harus disesuaikan dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Daftar Pustaka

Ansyar, Mohammad dan Nurtei. Pengembangan dan inovasi kurikulum. Bandung:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan & Dirjen Dikti. 1993.

Karyadi, Benny dan Ibrahim. Pengembangan 0inovasi dan kurikulun modol 1-6.

Jakarta : Universitas Terbuka, Departemen  Pendidikan dan Kebudayaan. 1996.

Syadodih, Sukmadina Nana. Pengembangan kurikulum, teori dan praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1997

Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Kurikulum dan Pembelajaran. Rajawali Pers Divisi Buku Perguruan Tinggi PT RajaGrafindo Persada. 2013.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.