Kurikulum PAI dalam Tinjauan Implimentasi Harapan dan Tantangan

0
38

Kurikulum PAI dalam Tinjauan Implimentasi Harapan dan Tantangan

By.Drs.Suberia

Abstrac. kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Dalam pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan sejumlah mata pelajaran yang harus disampaikan oleh guru dan dipelajari oleh siswa. Pandangan ini menekankan pengertian kurikulum pada segi isi. Dalam pandangan yang muncul kemudian, penekanan terletak pada pengalaman belajar. Dengan titik tekan tersebut, kurikulum diartikan sebagai segala pengalaman yang disajikan kepada para siswa dibawah pengawasan atau pengarahan sekolah.

Kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeluruh aspek pribadi siswa, yaitu aspek jasmani, akal dan rohani. Untuk  pengembangan menyeluruh ini kurikulum harus berisi mata pelajaran yang banyak, sesuai dengan tujuan pembinaan setiap aspek itu. Oleh karena itu, di perguruan tinggi diajarkan mata pelajaran seperti ilmu-ilmu Al-Qur`an termasuk tafsir dan qiro`ah serta mata pelajaran lainnya

Kata kunci : Kurikulum, pendidikan islam

  1. PENDAHULUAN

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu program yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan kata manhaj yang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh pendidik bersama anak didiknya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka. Selain itu, kurikulum juga dapat dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai pendidikan.

Kata “Kurikulum” mulai dikenal sebagai istilah dalam dunia pendidikan lebih kurang sejak satu abad yang lalu. Istilah kurikulum muncul untuk pertama kalinya dalam kamus Webster tahun 1856. Pada tahun itu kata kurikulum digunakan dalam bidang olahraga, yakni suatu alat yang membawa orang dari start sampai ke finish. Barulah pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran disuatu perguruan (Umar, 2010:162).

program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya tidak hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah.

Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.

  1. PEMBAHASAN

Kurikulum Pendidikan Islam tidak akan terlepas dari asas Islam itu sendiri yakni Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka ciri utama kurikulum pendidikan Islam yang bisa diketahui yaitu pada kurikulum pendidikan Islam mencantumkan Al-Qur`an dan Al-Hadits sebagai sumber utama.

Ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam menurut Al-Syaibani, yaitu:

Kurikulum pendidikan Islam harus menonjolkan mata pelajaran agama dan akhlak. Agama dan akhlak itu harus diambil dari Al-Qur`an dan Al-Hadit serat contoh-contoh dari tokoh terdahulu yang saleh.

Kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan pengembangan menyeluruh aspek pribadi siswa, yaitu aspek jasmani, akal dan rohani. Untuk  pengembangan menyeluruh ini kurikulum harus berisi mata pelajaran yang banyak, sesuai dengan tujuan pembinaan setiap aspek itu. Oleh karena itu, di perguruan tinggi diajarkan mata pelajaran seperti ilmu-ilmu Al-Qur`an termasuk tafsir dan qiro`ah serta mata pelajaran lainnya.

Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, dunia dan akhirat, jasmani, akal dan rohani manusia.

Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan juga seni halus seperti ukir, pahat, tulis-indah, gambar dan sejenisnya. Selain itu, memperhatikan juga pendidikan jasmani, latihan militer, teknik, keterampilan dan bahasa asing sekalipun semuanya ini diberikan kepada perseorangan secara efektif berdasar bakat, minat dan kebutuhan.

Kurikulum pendidikan Islam mempertimbangkan perbedaan kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan juga perbedaan zaman. Kurikulum dirancang sesuai dengan kebudayaan itu.

Adapun ciri-ciri khusus kurikulum pendidikan Islam, yaitu:Dalam kurikulum pendidikan Islam, tujuan utamanya adalah pembinaan anak didik untuk bertauhid. Oleh karena itu, semua sumber yang dirunut berasal dari ajaran Islam;

Kurikulum harus disesuaikan dengan fitrah manusia, sebagai makhluk yang memiliki keyakinan kepada Tuhan;

Kurikulum yang disajikan merupakan hasil pengujian materi dengan landasan Al-Qur`an dan Al-Hadits;

Mengarahkan minat dan bakat serta meningkatkan kemampuan akliah peserta didik serta keterampilan yang akan diterapkan dalam kehidupan konkret;

Pembinaan akhlak peserta didik, sehingga pergaulannya tidak keluar dari tuntunan Islam; dan

Tidak ada kadaluarsa kurikulum karena ciri khas kurikulum Islam senantiasa relevan dengan perkembangan zaman bahkan menjadi filter kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya didalam kehidupan masyarakat (Basri dan Saebani, 2010:182).

Dari beberapa ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam yang telah disebutkan diatas, maka dapat dipahami bahwa kurikulum pendidikan Islam menekankan aspek spiritual tinggi dan akhlak yang mulia. Sumber utama di buatnya kurikulum pendidikan Islam ialah AlQuran dan Hadits, hal tersebutlah yang enjadi ciri atau pembeda antara kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum lainnya.

Prinsip kurikulum pendidikan Islam menurut Mujib

Menurut Mujib, prinsip-prinsip kurikulum pendidikan yaitu sebagai berikut:

Prinsip yang berorientasi pada tujuan. “Al-umur bi maqashidiha” merupakan adagium ushuliyah yang berimplikasi pada aktivitas kurikulum yang terarah, sehingga tujuan pendidikan yang tersusun sebelumnya dapat tercapai. Disamping itu, perlu adanya persiapan khusus bagi para penyelenggara pendidikan untuk menetapkan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh peserta didik seiring dengan tugas manusia sebagai hamba dan khalifah Allah swt.

Prinsip relevansi. Implikasinya adalah mengusulkan agar kurikulum yang ditetapkan harus dibentuk sedemikian rupa, sehingga tuntutan pendidikan dengan kurikulum tersebut dapat memenuhi jenis dan mutu tenaga kerja yang dibutuhkan masyarakat, serta tuntutan vertical dalam mengeban nilai-nilai ilahi sebagai rahmatan li al-alamin.

Prinsip efisiensi dan efektifitas. Implikasinya adalah mengusulkan agar kegiatan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, biaya, dan sumber-sumber lain secara cermat dan tetap sehingga hasilnya memadai dan memenuhi harapan sera membuahkan hasil sebanyaknya. Islam mengajarkan agar seorang muslim menghargai waktu sebaik-baiknya (QS. Al-‘Ashr: 1, Adh-Dhuha: 1, Al-lail: 1, Asy-Syams: 1-9), sehingga tidak ada hari libur untuk beraktivitas (QS. Al-Jumu’ah: 9-10), serta menghargai tenaga dan aktivitas manusia. Baik tidaknya seseorang ditentukan oleh nilai kerjanya (QS. An-Najm: 39-40). Di samping itu, Islam juga mengajarkan agar seseorang sedapatnya menggunakan hartanya sesederhana mungkin, tidak bolos, dan tidak menggunakannya untuk sesuatu yang kurang bermanfaat (mubadzir). (QS. Al-Isra’: 26-27).

Prinsip fleksibilitas program. Implikasinya adalah kurikulum disusun begitu luwes, sehingga mampu disesuaikan dengan situasi setempat, waktu dan kondisi yang berkembang, tanpa mengembang tujuan pendidikan yang diinginkan. Prinsip ini tidak hanya dilihat dari salah satu faktor, tetapi juga dilihat dari totalitas ekosistem kurikulum, baik yang berkenaan dengan perkembangan peserta didik (kecerdasan, kemampuan, dan pengetahuan yang diperolah), metode yang digunakan, fasilitas yang tersedia, serta lingkungan yang mempengaruhinya.

Prinsip integritas. Implikasinya adalah mengupayakan kurikulum agar menghasilkan manusia yang seutuhnya, manusia yang mampu mengintegrasikan antara fakultas dzikir dan fakultas fikir, serta manusia yang mampu menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat. Di samping itu, pengupayaan kurikulum tersebut menghasilkan peserta didik yang mampu menguasai ilmu-ilmu qur’ani (din Allah) dan ilmu-ilmu kawni (sunnah Allah) yang bertujuan untuk mencari ridha Allah swt. Prinsip ini dilakukan dengan cara memadukan semua komponen kurikulum tanpa adanya penggalan satu dengan lainnya.

Prinsip kontinuitas (istiqamah). Implikasinya adalah bagaimana susuna kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkesinambungan dengan kegiatan-kegiatan kurikulum lainnya, baik secara vertikal (penjenjangan, tahapan), maupun secara horizontal.

Prinsip sinkronisme. Implikasinya adalah bagaimana suatu kurikulum dapat seirama, searah dan setujuan, serta jangan sampai terjadi kegiatan kurikulum lain yang menghambat, berlawanan, atau mematikan kegiatan lain.

Prinsip objektivitas. Implikasinya adalah adanya kurikulum tersebut dilakukan melalui tuntutan kebenaran ilmiah yang objektif, dengan mengesampingkan pengaruh-pengaruh emosi yang irasional. (QS. Al-Ma’idah: 8).

Prinsip demokrasi. Implikasinya adalah pelaksanaan kurikulum harus dilakukan secara demokrasi. Artinya, saling mengerti, memahami keadaan dan situasi tiap-tiap subjek dan objek kurikulum. Segala tindakan sebaiknya dilakukan melalui musyawarah untuk mufakat, sehingga kegiatan itu didukung bersama dan apabila terjadi kegagalan maka tidak meyalahkan satu dengan yang lain.

Prinsip analisis kegiatan. Prinsip ini mengandung tuntutan agar kurikulum dikonstruksikan melalui proses analisis isi bahan mata pelajaran, serta analisis tingkah laku yang sesuai dengan materi pelajaran.

Prinsip individualisasi. Prinsip kurikulum yang memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi peserta didik, seperti perbedaan jasmani, watak, inteligensi, bakat, serta kelebihan dan kekurangannya.

Prinsip pendidikan seumur hidup. Konsep ini diterapkan dalam kurikulum mengingat keutuhan potensi subjek manusia sebagai subjek yang berkembang dan perlunya keutuhan wawasan (orientasi) manusia sebagai sukbjek yang sadar akan nilai (yang menghayati dan yakin akan cita-cita dan tujuan hidup). (Tim Depag RI, 1979; 18). Semua hal tersebut tidak akan tercapai tanpa adanya belajar yang berkesinambungan (Umar, 2010:167—170).

 Syarat Perumusan Kurikulum Pendidikan Islam

Sebelum mengetahui apa saja isi kurikulum pendidikan Islam, terlebih dahulu harus diketahui mengenai syarat-syarat yang diajukan dalam perumusan kurikulum, yaitu sebagai berikut.

Materi yang tersusun tidak menyalahi fitrah manusia.

Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu sebagai upaya mendekatan diri dan beribadah kepada Allah swt dengan penuh ketakwaan dan keikhlasan.

Disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia peserta didik.

Perlunya membawa perta didik kepada objek empiris, praktik langsung, dan memiliki fungsi pragmatis, sehingga mereka mempunyai keterampilan-keterampilan yang nyata.

Penyusunan kurikulum bersifat integral, terorganisasi dan terlepas dari segala kontradiksi antara materi satu serta materi lainnya.

Materi yang disusun memiliki relevansi dengan masalah-masalah yang mutakhir, yang sedang dibicarakan dan relevan dengan tujuan Negara setempat.

Adanya metode yang mampu menghantar tercapainya materi pelajaran dengan memperhatikan perbedaan masing-masing individu.

Materi yang disusun mempunyai relevansi dengan tingkat perkembangan peserta didik.

Memperhatikan aspek-aspek sosial, misalnya Da`wah Islamiyah.

Materi yang disusun mempunyai pengaruh positif terhadap jiwa peserta didik, sehingga menjadikan kesempurnaan jiwanya.

Memperhatikan kepuasan pembawaan fitrah, seperti memberikan waktu istirahat dan refreshing untuk menikmati suatu kesenian.

Adanya ilmu alat untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.

Setelah syarat-syarat tersebut dipenuhi, disusunlah isi kurikulum pendidikan Islam. Ibnu Khaldun, sebagaimana yang dikutip oleh Al-Abrasyi (1969: 285-287), membagi isi kurikulum pendidikan Islam dengan dua tingkatan, yaitu sebagai berikut:

Tingkat Pemula (manhaj ibtida’i)

Materi kurikulum pemula difokuskan pada pembelajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibnu Khaldun memandang bahwa Al-Qur’an merupakan asal agama, sumber berbagai ilmu pengetahuan, dan asas pelaksanaan pendidikan Islam. Disamping itu, mengingat isi Al-Qur’an mencakup materi penanaman akidah dan keimanan pada jiwa peserta didik, serta memuat akhlak mulia, dan pembinaan pribadi menuju prilaku yang positif.

Tingkat atas (manhaj ‘ali)

Kurikulum ini mempunyai dua kualifikasi; pertama, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dzatnya sendiri, seperti ilmu syariah yang mencakup fiqih, tafsir, hadis, ilmu kalam, ilmu bumi, dan ilmu filsafat. Kedua, ilmu-ilmu yang ditunjukan untuk ilmu-ilmu lain, dan bukan ilmu yang berkaitan dengan dzatnya sendiri. Misalnya ilmu bahasa (linguistik), ilmu matematika, dan ilmu mantiq (logika).

Ibnu Khaldun kemudian membagi ilmu dengan tiga kategori, yaitu sebagai berikut.

Ilmu-ilmu naqliyah, yaitu ilmu yang diambil dari Al-qur’an dan ilmu-ilmu agama lain. Seperti ilmu fiqih untuk mengetahui kewajiban-kewajiban beribadah; ilmu tafsir untuk mengetahui maksud-maksud Al-Qur’an; ilmu usul fiqhi untuk meng-istibath-kan hukum berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta ilmu-ilmu lainnya.;

Ilmu-ilmu aqliyah, yaitu ilmu yang diambil dari daya pikiran manusia, seperti ilmu filsafat, ilmu-ilmu mantiq (logika), ilu bumi, ilmu kalam, ilmu teknik, ilmu matematika, ilmu kimia, dan ilmu fisika; dan

Ilmu-ilmu lisan (linguistik), seperti ilmu nahwu, ilmu bayan, ilmu adab (sastra).

Al-Ghazali membagi isi kurikulum pendidikan Islam dengan empat kelompok dengan mempertimbangkan jenis, dan kebutuhan ilmu itu sendiri, yaitu sebagai berikut:

Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama, misalnya ilmu fiqih, As-Sunnah, tafsir dan sebagainya;

Ilmu-ilmu bahasa sebagai alat untuk mempelajari ilmu Al-qur’an dan ilmu agama;

Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah, seperti ilmu kedokteran, matematika, industri, pertanian, teknologi dan sebagainya;

Ilmu-ilmu beberapa cabang ilmu filsafat. Komponen Kurikulum Pendidikan Islam

Menurut Ahmad Tafsir (2012:83), dalam kurikulum terdapat komponen-komponen yang tidak boleh diabaikan keberadaannya, komponen-komponen yang dimaksud adalah:

Tujuan;

Isi atau program;

Metode atau proses pembelajaran; dan

Adapun dalam mendesain kurikulum pendidikan Islam berdasarkan komponen-komponen kurikulum diatas, yaitu harus dimulai dari penyusunan atau perumusan tujuan menurut Islam. Dan tujuan pendidikan Islam tidak lain sebagai berikut:

Jasmaninya sehat dan kuat; Akalnya cerdas dan pandai; Hatinya dipenuhi iman kepada Allah.

Untuk mewujudkan muslim seperti itu, pendesainan kurikulum dapat dilakukan dengan kerangka sebagai berikut:

Untuk jasmani yang sehat dan kuat disediakan mata pelajaran dan kegiatan olahraga dan kesehatan.

Untuk otak yang cerdas dan pandai disediakan mata pelajaran dan kegiatan yang dapat mencerdaskan otak dan menambah pengetahuan seperti logika dan berbagai sains.Untuk hati yang penuh iman isediakan mata pelajaran dan kegiatan agama.

Sementara itu, mata pelajaran dapat didesain sesuai dengan:

Perkembangan kemampuan siswa yang bersangkutan;

Kebutuhan individu dan masyarakatnya menurut tempat dan waktu.

Dan pendesainan kurikulum itu dengan memberikan pertimbangan, yaitu sebagai berikut:

Prinsip berkesinambungan;

Prinsip berurutan; dan

Prinsip integrasi pengalaman.

Karena tujuan pendidikan disegala tingkatan dan jenis pendidikan berintikan iman, maka seluruh mata pelajaran dan kegiatan belajar haruslah bertolak dari dan menuju kepada keimanan kepada Allah. Dengan cara begitu maka kesatuan pengalaman siswa akan terbentuk dan kesatuan pengalaman itu dikendalikan oleh otoritas Allah. Dalam keadaan seperti itu, manusia akan mampu menempati posisinya sebagai kholifah Allah yang memiliki otoritas tak terbatas dalam mengatur alam ini.

Jadi, inti (core) kurikulum pendidikan Islam adalah kehendak Allah. Dengan ini maka kesatuan pengetahuan dan pengalaman akan berpusat pada Allah, pengaturan kehidupan akan sesuai dengan kehendak Allah.

Kerangka kurikulum Islam sebagaimana dilukikan diatas adalah kurikulum yang umum, dapat dan dijadikan acuan oleh orang islam dalam mendesain kurikulumpendidikan disekolah, dimasyarakat, dan didalam rumah tangga.

Langkah-Langkah Mendesain Kurikulum Pendidikan Islam

Prinsip-prinsip dalam penyusunan atau pembuatan kurikulum pendidikan Islam harus memperhatikan prinsip-prinsip yang akan dijadikan pegangan atau landasan dalam penyusunan kurikulum. Dalam merumuskan kurikulum pendidikan Islam akan di ambil pemikiran para pakar yang kemudian di tambah dan di sesuaikan dengan esensi kurikulum pendidikan Islam yaitu:

Prinsip berasaskan Islam termasuk ajaran-ajaran dan nilainya.

Prinsip mengarah kepada tujuan.

Prinsip (integritas) antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum.

Prinsip relevansi adanya kesesuaian dengan lingkungan, kehidupan masa sekarang dan akan datang dan tuntutan dengan pekerjaan.

Prinsip pleksibilitas, adalah terdapat ruang dan gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak, baik pada pemilihan program maupun mengembangkan program pengajaran.

Prinsip integritas yaitu kurikulum tersebut mengembangkan manusia seutuhya, manusia yang mampu mengintegrasikan potensi fakultas zikir dan fakultas fikir serta menghasilkan manusia yang dapat menyelaraskan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Prinsip efesiensi, kurikulum yang dapat mendayagunakan waktu, tenaga , dan sumber secara cermat dan tepat.

Prinsip kontinuitas.

Prinsip Individualitas, bagaimana kurikulum memperhatikan perbedaan pembwaan anak didik dan lingkungan pada umumnya.

Prinsip kesamaan dalam memperoleh kesempatan dan demokratis.

Prinsip kedinamisan artinya kurikulum dapat megikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.

Prinsip keseimbangan artinya bagaimana kurikulum dapat mengembangkan sikap potensi peserta didik secara harmonis.

Prinsip efektivitas, agar kurikulum dapat menunjang efektivitas guru yang mengajar dan peserta didik yang belajar dan di ajarkan oleh pendidik.

Dari semua lingkup penjelasan di atas secara garis besar tentang kurikulum pendidikan Islam maka orientasinya (kurikulum pendidikan Islam) sebenarnya adalah dalam upaya pelestarian nilai yang terdapat dapat wahyu Allah dan nilai yang tumbuh dan berkembang dari peradaban manusia. Kemudian juga orientasi yang tertuju pada peserta didik dan pada sosial demand sekaligus masa depan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tenaga kerja dan yang tidak kalah pentingnya penciptaan lapangan kerja. Oleh sebab itu dalam upaya menciptakan dan menghasilkan output yang berkualitas dalam pendidikan Islam sudah saatnya kita bangkit menginovasi dan merekstrukturisasi.

Jika kita diterapkan teori itu dalam mendesain kurikulum, maka langkah-langkahnya kira-kira sebagai berikut:

Kita hendak melaksanakan suatu pendidikan, sekolah, anak dirumah, atau kursus computer. Langkah pertama: rumuskanlah tujuannya sejelas mungkin. Tujuan yang biasanya masih umum itu perlu dijabarkan (ditaksonomi) atau di-break-downmenjadi tujuan yang kecil-kecil. Akhirnya kita memperoleh rumusan tujuan yang banyak, mungkin ratusan item.

Bila tujuan sudah dirumuskan sampai kepada rumusan operasional (yang kecil-kecil itu), maka langkah kedua ialah menentukan isi kurikulum isinya ialah materi pengetahuan atau mata pelajaran dan berbagai kegiatan (kokurikuler dan ekstra kulikuler). Dari sini kita dapat mebuat daftar mata pelajaran dan kegiatan serta silabus nya masing-masing.

Langkah selanjutnya ialah menentukan cara mencapai tujuan itu. Disini banyak sekali teori yang harus dipertimbangkan, sebab metode belajar-mengajar itu merupakan racikan teori-teori dari disiplin ilmu lain seperti, psikologi, metodologi, pengajaran, teknik evaluasi, didaktik pada umumnya, pengetahuan tentang alat-alat pengajaran, pertimbangan, tentang waktu, tempat, suasana dan lain-lain. Dalam bentuknya yang operasional, proses belajar-mengajar itu ditulis dalam persiapan mengajar atau lesson plan. Agar dapat membuat lesson plan. Agar dapat membuat lesson plandengan benar, hendaklah dikuasai lebih dahulu teori-teorinya dalam disiplin metodik khusus.

Langkah terakhir ialah menentukkan teknik dan alat evaluasi. Langkah ini tidak bersangkutan langsung dengan isi dan proses belajar mengajar.

Evaluasi Kurikulum Pendidikan Islam

Evaluasi kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam dunia pendidikan, karena pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah selesai/berakhir demikian pendapat Olivia, sebagaimana yang dikutip oleh Asep Sudarsyah dalam manajmen pendidikan. Proses tersebut meliputi perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Merujuk pada pendapat tersebut dalam konteks pengembangan kurikulum evaluasi merupakan bagian yang tidak bisa di pisahkan dari pengembangan kurikulum itu sendiri.Dalam evaluasi dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakan suatu kurikulum dapat di pertahankan atau tidak serta bagian-bagian mana yang harus di sempurnakan. Disamping itu pula evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapain tujuan. Demikian halnya dalam konteks pengembangan kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk memberikan informasi dan pertimbangan yang berkenaan dengan upaya untuk memperbaiki suatu kurikulum . Oleh sebab itu dalam evaluasi kurikulum inilah dapat dilihat apakah tujuan yang diharapkan telah tercapai atau tidak atau dengan kata lain evaluasi kurikulum digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan.

  1. PENUTUP

Kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dalam kurikulum memiliki bagian-bagian penting sebagai penunjang yang dapat mendukung operasinya dengan baik. Bagian-bagian ini disebut komponen. Dan komponen-komponen tersebut saling berkaitan, berintraksi satu sama lain dalam mencapai tujuan.

Dalam komponen kurikulum pendidikan Islam haruslah bersifat fungsional yang tujuannya mengeluarkan dan membentuk manusia muslim yang kenal agama dan Tuhannya, berakhlak mulia al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia dalam masyarakat bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu dan mendorong mengembangkan kehidupan melalui pekerjaan tertentu yang di kuasainya.

. Dalam penyusunannya, kurikulum pendidikan Islam haruslah memperhatikan dasar-dasar yang menjadi kekuatan utama dalam mempengaruhi dan membentuk materi, susunan serta organisasi kurikulum.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Toumy Al-Syaibani Omar Muhammad. 1979. Falsafah Pendidikan Islam.  Jakarta: Bulan Bintang

Bekker,Anton.1996. pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Daradjat, Zakiah dkk. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. III. Jakarta: Bumi  Aksara.

Langgulung, Hasan. 2000. Asas-Asas Pendidikan Islam. Cet. 1. Jakarta: Alhusna    Zikra.

Muhaimin. 2007. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta:  RajaGrafindo Persada

Nasution. 2006. Kurikulum dan Pengajaran. Cet. IV. Jakarta: Bumi Aksara.

Noer Aly, Hery. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos.

Riduan, (ed). 2009. Manajemen Pendidikan. Alfabeta. Bandung: Alfabeta.

Tafsir, Ahmad. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Umar, Bukhori. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.

Zed, Mestika. 2004. Metodologi Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Al-Toumy Al-Syaibani Omar Muhammad. 1979. Falsafah Pendidikan Islam.  Jakarta: Bulan Bintang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.