KOMPETENSI PENGOLAHAN PEMBELAJARAN

0
41

Oleh

Elsy Zuriyani

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan bagian dari kehidupan manusia di mana setiap orang yang telah lahir akan mendapat pendidikan dari orang tuanya. Mendidik seorang anak sejak kecil adalah bagian dari pendidikan yang diberikan oleh keluarga yang lambat laun akan memperoleh pendidikan di institusi tertentu dan masyarakat.

Pendidikan bukan saja berhenti sampai masa bersekolah tapi juga berlanjut saat memasuki jenjang lapangan kerja. Apalagi lapangan pekerjaan berhubungan dengan proses pembelajaran disekolah-sekolah maka proses pendidikan tetap berlanjut dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan sumber daya manusia (SDM).

Proses peningkatkan SDM pegawai pada dunia pekerjaan dihandel oleh suatu badan yaitu balai salah satunya diklat keagamaan dalam bentuk pelatihan.

Lembaga pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan salah satu kunci pembangunan sumber daya manusia dalam sebuah organisasi. Diklat yang baik akan membentuk SDM yang siap bersaing dan pada akhirnya akan membawa kemajuan bagi organisasi itu sendiri. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi kualitas suatu diklat diantaranya adalah peran widyaiswara atau pendidik dalam Diklat. Sebagaimana tercantum dalam menyelenggarakan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No 66 Tahun 2005 menjelaskan bahwa widyaiswara memiliki tugas pokok, yaitu mendidik, mengajar, dan melatih PNS. Dari tugas pokok tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa widyaiswara bertindak layaknya guru dalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Seperti halnya guru di sekolah, widyaiswara merupakan ujung tombak sekaligus salah satu unsur penentu keberhasilan sebuah Diklat. Karena widyaiswara adalah orang atau pihak yang berinteraksi langsung dengan peserta Diklat dalam proses belajar mengajar. Widyaiswara harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga peserta Diklat dapat optimal dalam mencapai hasil belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Kompetensi widyaiswara yang berkaitan dengan permasalahan tersebut yaitu mengenai kompetensi pengelolaan pembelajaran.

Oleh karena itu dalam makalah ini maka penulis mencoba membahas tentang kompetensi pengelolaan yang dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan diklat khususnya hasil belajar peserta diklat.

PEMBAHASAN

1.  PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT)

Balai diklat adalah salah satu lembaga yang melaksanakan pendidikan dan pelatihan sebagai bagian dari kementerian agama, pendidikan serta perusahaan lain balai diklat melaksankan tugasnya untuk melatih para pegawainya. Dalam pelaksanaan kegiatan Diklat, banyak unsur yang terlibat, ada panitia penyelenggara, kurikulum, widyaiswara, metode pembelajaran, media, sarana dan prasarana, serta peserta diklat sendiri.

Banyak teori yang telah disampaikan oleh para ahli tentang bagaimana seharusnya proses belajar dalam sebuah kediklatan. Proses belajar dalam sebuah diklat berbeda dengan proses belajar di sekolah atau perguruan tinggi. Pada diklat, peserta didiknya adalah orang dewasa, yang telah memiliki pengalaman, pengetahuan serta wawasan tentang suatu materi. Sehingga materi apapun yang disampaikan oleh widyaiswara, harus mampu menjembatani dan menghubungkan pengetahuan, pengalaman dan wawasan peserta diklat diklatnya. Sehingga, peserta merasakan kebermaknaan dalam pembelajaran.

Diklat merupakan wadah pengembangan SDM aparatur dan non aparatur sebagai sosok individu profesional untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan sesuai tuntutan kerja. Proses belajar yang dimaksudkan adalah untuk mengubah kompetensi kerja seseorang sehingga ia dapat berprestasi lebih baik dalam jabatannya. Kompetensi diklat mencangkup 3 (tiga) ranah utama yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap dan perilaku) dan ranah psikomotorik (keterampilan). Kegiatan diklat akan bermuara kepada peningkatan kualitas peserta diklat dengan kompetensi yang dipersyaratkan untuk mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Lulusan diklat diharapkan mampu berperan sebagai pembaharu, memiliki sikap dan pengabdian dan berorientasi pada pelayanan prima organisasi.

Diklat dipandang sebagai bagian dari pendidikan yang mengkaitkan pengetahuan, keterampilan dan sikap di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan metode yang lebih mengutamakan praktik daripada teori (Atmodiiwiro;2001), dengan empat kata kunci yaitu:

1) Proses belajar (learning) adalah usaha aktif seseorang yang dilakukan secara sadar untuk mengubah perbuatan, prilaku atau kemampuannya dimana hasilnya bisa benar atau salah.

2) Kinerja/kemampuan kerja (performance) adalah perubahan atau prestasi hasil kerja seseorang pekerja secara konkrit dan dapat diukur (dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan)

3) Pekerja/karyawan/pegawai (people) adalah seseorang yang sudah dewasa yang mensuatu jabatan tertentu dalam suatu organisasi yang memerlukan suatu organisasi yang memerlukan suatu diklat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mentalnya untuk meningkatkan hasil-hasil pekerjaannya.

4) Pekerjaan/jabatan (job) adalah sejumlah tugas-tugas spesifik yang dilakukan oleh pekerja/karyawan/pegawai dimana tugas-tugas tersebut mempunyai tingkat kerumitan dan kesulitan serta berhubungan satu dengan lainnya.

Secara umum diklat merupakan pelatihan praktis yang biasanya berlangsung dalam jangka pendek yang bertujuan meningkatkan dan memperbaiki sikap perilaku, keterampilan dan pengetahuan peserta diklat sesuai tujuan.

2.  KOMPETENSI WIDYAISWARA  

Dalam peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No 14 tahun 2009 BAB I pasal 1 ayat (2) tentang Ketentuan Umum “Widayiswara adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih pegawai negeri sipil pada Lembaga Diklat Pemerintah”. Dengan demikian tugas dari widyaiswara ini sendiri adalah mendidik, mengajar, dan atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah. Secara lebih rinci tugas dan tanggung jawab widyaiswara adalah menyusun analisis kebutuhan Diklat, menyusun kurikulum, menyusun bahan pembelajaran, menyusun tes hasil belajar Diklat yang diselenggarakan, melaksanakan Diklat, dan melaksanakan evaluasi program diklat. Peran utama widyaiswara dalam penyelenggaran diklat adalah mengaktualisasikan rancangan Diklat menjadi kegiatan pengelolaan pembelajaran.

Peran widyaiswara sebagai tenaga kependidikan sangat penting dalam mewujudkan tujuan dan sasaran Diklat. Dalam hal ini Oemar Hamalik (2001:44) menemukakan; “Pelatih adalah orang yang ditugaskan memberikan pelatihan dan diangkat sebagai tenaga fungsional, yang disebut Widyaiswara”.

Kemudian menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 14 tahun 2009 tentang jabatan fungsional Widyaiswara dan angka Kreditnya, pasal 1 (2) menjelaskan; Widyaiswara adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS pada Lembaga Diklat Pemerintah.

Memperhatikan kedua pendapat tersebut, menunjukan bahwa Widyaiswara termasuk salah satu tenaga kependidikan yang tugas pokoknya melaksanakan pengembangan serta pelaksanaan pendidikan dan pelatihan. Oemar Hamalik (2001:144) mengemukakan;

Tugas dan fungsi widyaiswara sebagai tenaga kependidikan menuntut kemampuan sebagai tenaga profesional, yakni kemampuan dalam proses pembelajaran (kemampuan profesional), kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan. Kemampuan-kemampuan ini mengandung aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan pengalaman lapangan.

Oleh karena itu widyaiswara harus memiliki spesialisasi yang mengacu pada standar kompetensi tertentu sebagaimana Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No 14 Tahun 2009 Pasal 1 (8) mengatakan bahwa: spesialisai widyaiswara adalah keahlian yang dimiliki oleh widyaiswara yang didasarkan pada rumpun keilmuan tertentu sesuai latar belakang pendidikan dan atau pengalaman kerjanya.

Kemudian dalam Pasal 1 (9) dikemukakan, bahwa; Standar Widyaiswara adalah kemampuan minimal yang secara umum dimiliki oleh widyaiswara dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk mendidik, mengajar dan/atau melatih PNS, yang terdiri dari kompetensi pengelolaan pembelajaran, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi substansif.

Seperti hanya guru di sekolah, widyaiswara merupakan ujung tombak sekaligus salah satu unsur penentu keberhasilan sebuah Diklat. Karena widyaiswara adalah orang atau pihak yang berinteraksi langsung dengan peserta diklat dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara No 5 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara yang terdiri dari:

1) Kompetensi pengelolaan pembelajaran

Kompetensi pengelolaan pembelajaran adalah kemampuan yang harus dimiliki Widyaiswara dalam merencanakan, menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Kompetensi yang harus dikembangkan adalah: (a) membuat Garis-Garis Besar Program Pembelajaran Program Pembelajaran (GBPP)/Rancangan Bangun Pembelajaran Mata Diklat (RBPMD)  dan Satuan Acara Pembelajaran (SAP)/Rencana Pembelajaran (RP). (b) menyusun bahan ajar; (c) menerapkan pembelajaran orang dewasa; (d) melakukan komunikasi efektif dengan peserta diklat; (e) memotivasi semangat belajar peserta dan (e) mengevaluasi pembelajaran

2) Kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang harus dimiliki Widyaiswara mengenai tingkah laku dalam melaksanakan tugas jabatannya yang dapat diamati dan dijadikan teladan bagi oeserta Diklat. Kompetensi kepribadian ini meliputi: (a) penampilan yang dapat diteladani; (b) melaksanakan kode etik dan menunjukan etos kerja sebagaimana widyaiswara yang profesional

3) Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial adalah harus dimiliki Widyaiswara dalam melakukan hubungan dengan lingkungan kerjanya. Kompetensi sosial mencangkup: (a) membina hubungan dan kerjasama dengan semua widyaiswara dan (b) menjalin hubungan dengan penyelenggara/pengelola lembaga diklat

4) Kompetensi Substantif

Kompetensi substantif adalah kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara di bidang kelimuan dan keterampilan dalam mata Diklat yang diajarkan. Yang tercangkup dalam kompetensi substantif adalah: (a) menguasai keilmuan dan keterampilan mempraktekkan sesuai dengan materi diklat yang diajarkan; (b) menulis karya tulis ilmiah yang terkait dengan lingkup kediklatan dan/atau pengembangan spesialisasinya.

Selain kometensi yang dijelaskan di atas, adda beberapa keterampilan lain yang dapat menunjang kompetensi Widyaiswara menjadi lebih profesional dikutip berdasarkan pendapat Andrew Singh dalam Kokom Komala (2015), seseorang pakar manajemen dari Singapura, yang menyatakan bahwa sumberdaya manusia dikatakan berkualitas di era modern ini apabila memiliki enam keterampilan, yaitu speking skill, thinking skill, interpersonal skill, network skill growth dan discipline. Mengadopsi pendapat pakar tersebut keterampilan-keterampilan tersebut dapat pula diaplikasikan kedalam profesional widyaiswara.

3. PESERTA DIKLAT

Peserta pelatihan adalah orang yang datang ke program pendidikan (diklat) dengan tujuan untuk mendapatkan nilai tambah berupa peningkatkan pengetahuan dan keterampilan atau kompetensi.

Setiap peserta pelatihan memiliki niat, minat, motivasi, harapan dan kebutuhan yang berbeda pada saat datang ke ruang pelatihan. Semua perbedaan tersebut tentunya dapat mempengaruhi mempengaruhi perilaku peserta diklat selama mengikuti diklat. Ada yang serius untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, ada yang serius untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, ada yang marah karena ditugaskan untuk mengikuti pelatihan, ada yang santai dan tidak peduli karena menganggap pelatihan sbagai sebuah rekreasi dari kesibukan rutin atau peserta yang bosan karena materi pelatihan dibawah dari pengetahuan yang sudah dimilikinya serta perilaku lainnya yang bisa jadi, jika ada 30 orang peserta pelatihan, maka ada 30 perilaku yang berbeda yang harus dihadai oleh widyaiswara atau fasilitator pelatihan

Setiap kejadian memerlukan penanganan dan pengelolaan yang berbed, ada beberapa kejadian dapat dilakukan dengan penanganan dan pengolahan yang hampir sama.

4.  KOMPETENSI PENGELOLAAN PEMBELAJARAN MENIGKATKAN HASIL DIKLAT

Pendidikan dan pelatiahan (Diklat) merupakan upaya dalam mengembangkan sumber daya pegawai terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian pegawai. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam pengembangan pegawai diperlukan program pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan analisis jabatan agar pegawai mengetahui tujuan pendidikan dan pelatihan yang dijalankannya. Salah satu faktor penting dalam pelaksanaan diklat adalah sang pengajar atau biasa disebut dengan widyaiswara.

Widyaiswara merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang diangkat sebagai pejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan tugas, tanggung jawab, wewenang untuk melatih, mengajar, dan/atau melatih PNS pada lembaga diklat, seorang widyaiswara yang berkompeten harus menguasai beberapa kompetensi seperti yang tercantum dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara No 5 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara. Dari beberapa kompetensi yang tercantum didalamnya, kompetensi pengelolaan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting dalam hal pembelajaran di kelas Diklat. Hal ini disebabkan dalam kompetensi pengelolaan pembelajaran mencangkup beberapa hal yang sangat erat kaitannya dengan proses pembelajaran di kelas Diklat, dimulai dari proses persiapan sampai dengan evaluasi pembelajaran diklat.

Berikut ini adlah penjabaran kompetensi pengelolaan pembelajaran widyaiswara menurut Peraturan LAN No 5 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Widyaiswara

1)  Membuat GBPP/RBPMD

Menurut Atwi Suparman (2001;3) GBPP atau Course Outline adalah rumusan tujuan dan pook-pokok isi mata pelajaran. Idealnya GBPP berisi deskripsi mata pelajaran, tujuan umum dan khusus dari pembelajaran tersebut, pokok dan sub pokok pembahasan, metode, dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2). Membuat SAP/RP

SAP adalah rencana kegiatan pembelajaran yang digunakan untuk setiap pembelajaran. Menurut Atwi Saprman (2001:16) SAP mengandung komponen-komponen yang lebih lengkap dibandingkan dengan GBPP, karena dalam SAP juga terdapat komponen kegiatan belajar mengajar, media dan alat pembelajaran serta evaluasi pembelajaran. Manfaat SAP adalah memberikan petunjuk secara teknis mengenai tujuan, ruang lingkup, media dan hal lainnya yang mendukung pembelajaran di tiap pertemuan

3). Menyusun bahan ajar. Salah kompetensi yang perlu dimiliki seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya adalah mengembangkan bahan ajar. Menurut Sungkono dkk (2003:1) bahan ajar merupakan materi atau isi pelajaran berupa ide, fakta, konsep, prinsip, kaidah atau teori yang tercakup dalam pembelajaran. Suhartono dkk (dalam Sungkono dkk,2003:1) dengan menyimpulkan apa yang dikemukakan Doll, menyatakan bahwa pengembangan bahan ajar bukanlah pekerjaan yang dilakukan oleh sembarangan orang. Guru merupakan salah satu individu yang berwenang dan berkewajiban untuk mengembangkan bahan ajar, yaitu pendidik (educator) dan ahli bidang studi (subject matter expert). Pengembangan bahan ajar penting dilakukan oleh pendidik (widyaiswara) agar pembelajaran lebih efektif, efisien dan tidak melenceng dari kompetensi yang ingin dicapainya

4)  Menerapkan pembelajaran orang dewasa. Dalam lembaga diklat, pelaksanaan pembelajaran pembelajaran menggunakan model pembelajaran orang dewasa. Seorang widyaiswara harus mampu menerapkan model pembelajaran tersebut. Agar pembelajaran pada orang dewasa berhasil, sang pendidik (pelatih, instruktur) idealnya orang dewasa berhasil, sang pendidik (pelatih, instruktur) idealnya harus mengetahui hal-hal berikut ini secara baik

(a) Bagaimana menimbulkan motivasi belajar

(b) Tahap proses belajar orang dewasa

(c) Ciri-ciri belajar orang dewasa

(d) Suasana belajar yang kondusif untuk orang dewasa

(e) Teknik pembelajaran orang dewasa

(f) Kunci pembelajaran orang dewasa dan

(g) Gaya mengajar untuk orang dewasa

5)  Melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta

Komunikasi adalah penyampaian dari seorang kepada orang lain melalui saluran tertentu. Menurut Wilbur Schramm (dalam Sutirman, 2013: 78) komunikasi adalah tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima dengan bantuan pesan. Pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima. Dari definisi ini terkandung pengertian bahwa komunikasi itu tidak sekedar bertutur kata, tetapi seluruh perilaku membawa beberapa pesan, itulah bentuk komunikasi. Menurut Martiyono (2012:21) konukasi efektif dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Menggunakan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman dan menjaga partisipasi peserta didik
  2. Memberikan perhatian dan mendengarkan semua pertanyan dan tanggapan peserta didik, tanpa menginterupsi, kecuali jika diperlukan untuk mengklarifikasi tanggapan tersebut
  3. Menanggapi pertanyaan peserta didk secara tepat, benar, dan mutakhir, sesuai dengan tujuan pembelajaran dan isi kurikulum, tanpa mempermalukannya
  4. Menyajikan kegiatan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kerjasama yang baik antar peserta didik
  5. Mendengarkan dan memberikan perhatian terhadap semua jawaban peserta didik baik yang benar maupun yang dianggap salah untuk mengukur tingkat pemahaman peserta didik
  6. Memberikan perhatian terhadap pertanya  peserta didik dan meresponnya secara lengkap dan relevan untuk menghilangkan kebingunan pada peserta didik

6). Memotivasi semangat belajar peserta

Motivasi mempunyai peran pening dalam proses belajar mengajar baik bagi pendidik maupun peserta diklat. Bagi pendidik mengetahui motivasi belajar dari peserta didik saangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar peserta didik. Bagi peserta didik motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga peserta didik terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Menurut Haris Mudjiman (2009:41) sekurang-kurannya ada 8 faktor yang diperkirakan berpengaruh terhadap pembentukan motivasi beajar peserta didik

  1. Faktor pengetahui tentang kegunaan belajar
  2. Faktor kebutuhan untuk belajar
  3. Faktor kemampuan melakukan kegiatan belajar
  4. Faktor kesenangan terhadap ide melakukan kegiatan belajar
  5. Faktor pelaksanaan kegiatan belajar
  6. Faktor kepuasan terhadap hasil belajar
  7. Faktor karakteristik pribadi dan lingkungan

7) Mengevaluasi pembelajaran

Menurut Oemar Hamalik (2008:171), evaluasi pembelajaran adalah evaluasi terhadap proses belajar mengajar, Evaluasi pembelajaran diarahkan pada komponen-komponen sistem pembelajaran. Berarti evaluasi mencangkup mulai dari input, proses sampai output dari pembelajaran tersebut. Menurut Haris Mudjiman (2009:68) jenis-jenis penilaian atau evaluasi yang lazim digunakan dalam program pelatihan adalah pre test, evaluasi formatif, evluasi sumatif (post test), evaluasi plan of action, evaluasi terhadap instruktur, evaluasi terhadap program pelatihan, dan evaluasi pasca pelatihan. Jadi pada intinya evaluasi bukan hanya dibuat untuk peserta didik tetapi juga keseluruhan komponen pembelajaran.

Apabila kompetensi pengelolaan pembelajaran ini dikuasai dan dapat diterapkan dalam kelas diklat dengan baik oleh widyaiswara maka sudah seharusnya widyaiswara tersebut sudah dapat di kategorikan sebagai seorang widyaiswara yang berkompeten dalam mengelola pembelajaran.

PENUTUP

Kompetensi pengelolaan merupakan salah satu kompetensi widyaiswara yang dapat meningkatkan hasil belajar peserta diklat. Hal ini disebabkan dalam kompetensi pengelolaan pembelajaran mencangkup beberapa hal yang sangat erat kaitannya dengan proses pembelajaran di kelas Diklat, dimulai dari proses persiapan sampai dengan evaluasi pembelajaran diklat.

DAFTAR PUSTAKA

Bray, Tony. The training design manual : the complete practical guide to creating effective and successful training programmes, 2nd ed, Kogan Page, London, 2009

Buckley, Roger, Jim Caple., Theory and practice of training, 5th ed, Kogan Page, London, 2004.

Pike, Robert W, Creative Training Techniques Handbook, Tips, Tactics, and How-To’s for Delivering Effective Training, 3rd Ed, HRD Press, Inc. Amherst, 2003

Kemp, Jerrold E., Gary R. Morrison, and Steven Ross. Designing Effective Instruction. MacMillan College Publ. Co. New York 1994

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.