KIAT MEMBUKA PRESENTASI YANG MENARIK DALAM DIKLAT

0
16

K

Oleh: Riduwan

Pendahuluan

Muhammad Noer (2012) dalam bukunya yang berjudul “Presentasi Memukau” menjelaskan, bahwa orang cenderung mengingat lebih baik apa-apa yang paling awal mereka lihat dan dengarkan. Dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah efek awalan (primacy effect). Karena itu penting bagi pendidik, khususnya widyaiswara untuk membuka presentasi dengan baik dan menarik. Apalagi dalam penyajian materi diklat, membuka presentasi dengan baik dan menarik akan membuat perhatian peserta diklat terpokus. Lebih lanjut, apa yang disampaikan oleh widyaiswara di awal pembelajaran akan menjadi informasi yang paling diingat.

Medina (2011) seorang pakar kerja otak pernah melakukan sebuah studi kasus, ia membawa audiens melalui kelas lima puluh menit yang khas untuk mengetahui bagaimana otak benar-benar memperhatikan. Yang menarik di sini adalah otak audiens ternyata hanya dapat memperhatikan sesuatu selama sekitar sepuluh menit dan paling tinggi di 10 menit pertama. Kemudian perhatian dan audiens akan menurun, dan baru akan mulai naik lagi di 10 menit terakhir. Berdasarkan studi kasus ini, cukup beralasan bila pembukaan presentasi diformat sedemikian rupa agar menjadi baik dan menarik.

Tidak hanya itu, keberhasilan membuka presentasi akan memudahkan widyaiswara untuk melanjutkan sebuah presentasi, menyajikan materi pembelajaran sampai tuntas. Jika gagal, maka akan sulit untuk menarik perhatian peserta diklat pada menit-menit berikutnya.  Dalam tulisan ini akan diungkap bagaimana kiat-kiat dalam membuka presentasi dalam penyelenggaraan diklat agar menarik.

Fungsi dan Tujuan Membuka Presentasi

Keterampilan membuka presentasi di sini sama saja dengan keterampilan membuka presentasi dalam penyampaian materi diklat oleh widyaiswara pada lembaga diklat. Meminjam pengertian yang disampaikan oleh Zainal Aqib (2013) tentang keterampilan membuka pelajaran, maka yang dimaksud keterampilan membuka presentasi ialah kegiatan yang dilakukan oleh instruktur/presenter untuk menciptakan suasana siap mental dan penuh perhatian pada diri audience/peserta diklat. Sedangkan Abdul Majid (2015) memaknainya dengan “usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh presenter dalam kegiatan presentasi untuk menciptakan prakondisi bagi peserta diklat agar mental maupun perhatiannya terpusat pada yang dipresentasikan sehingga memberikan efek yang positif terhadap kegiatan presentasi.

Presentasi yang baik dimulai dengan pembukaan yang baik. Jika pembukaan sudah tersendat, biasanya mood presenter akan menjadi tidak nyaman dan keseluruhan presentasi bisa gagal. Karena itu seorang presenter (widyaiswara) mesti mengasah keterampilan membuka presentasi ini agar benar-benar siap ketika akan tampil di hadapan audience (peserta diklat).

Kegiatan ini merupakan kegiatan pendahuluan dalam kegiatan belajar mengajar, dan sangat menentukan keberhasilan kegiatan-kegiatan berikutnya, karena itu mesti diusahakan agar kegiatan pendahuluan ini diformat semenarik mungkin.

Menurut Muhammad Noer (2012) terdapat beberapa fungsi pembukaan dalam pelaksanaan presentasi sebagai berikut:

  1. Agar peserta diklat memahami tujuan pembelajaran. Karena itu pada saat membuka presentasi seorang widyaiswara hendaknya menjelaskan dengan gamblang tujuan presentasi yang disampaikan. Jika peserta diklat sudah tahu tujuan presentasi tersebut, mereka akan lebih tertarik untuk mengikutinya sampai selesai.
  2. Mendapat gambaran umum dari materi yang disampaikan. Pembukaan presentasi mirip dengan opening sebuah film. Ketika menonton film, 5 menit pertama sangat krusial karena akan menentukan apakah kita akan menonton film tersebut sampai selesai atau segera meninggalkannya. Seperti sebuah film, pembukaan presentasi berfungsi untuk memberikan gambaran umum kepada peserta diklat apa yang akan mereka dengarkan dalam beberapa waktu ke depan.
  3. Menciptakan motivasi dan rasa ingin tahu peserta diklat. Seseorang menghadiri suatu presentasi motivasi awalnya pasti berbeda. Ada yang ingin mendapatkan informasi baru, ada yang datang karena ingin sertifikat diklat untuk mendapatkan angka kredit. Dan ada pula yang sekedar datang karena surat tugas dari atasannya. Karena itu, inilah kesempatan bagi para widyaiswara untuk menciptakan motivasi yang sama bagi peserta diklat agar mereka merasa perlu mendengarkan presentasi sampai selesai. Pembukaan yang baik juga akan menciptakan rasa ingin tahu sehingga mereka akan terus mendengarkan presentasi sampai akhir.

Sedangkan pembukaan presentasi yang baik dan menarik bertujuan untuk:

  1. Menarik perhatian. Saat ini banyak sekali pengalihperhatian peserta diklat dalam suatu presentasi. Ada Blackberry, tablet, dan lain-lain. Belum lagi suasana siang hari yang panas, perut kenyang sehabis makan siang. Salah satu tujuan pembukaan presentasi yang baik dan menarik adalah menjauhkan semua pengalih tersebut, membuat peserta bersemangat dan membuat perhatian peserta diklat hanya tertuju kepada widyaiswara yang sedang tampil di depan kelas.
  2. Memperkenalkan topik dan tujuan presentasi. Mungkin belum semua peserta diklat mengerti dengan topik dan lingkup yang akan dipresentasikan, serta tujuan yang ingin dicapai. Makanya, perlu disampaikan saat pembukaan. Sebutkan manfaat apa saja yang akan mereka dapatkan dari mendengarkan presentasi yang akan disampaikan.
  3. Membangun hubungan dan kepercayaan dengan peserta diklat. Jelaskan siapa kita dan mengapa presentasi kita layak didengarkan.

Kiat Membuka Presentasi Yang Baik dan Menarik

Banyak kiat yang bisa digunakan oleh seorang widyaiswara dalam membuka presentasi agar menjadi menarik dan mendapatkan perhatian penuh dari peserta diklat saat berlangsungnya proses pembelajaran. Diantaranya adalah:

  1. Gunakan data dan fakta; Sebuah data atau statistik memang sering membosankan bagi audiens (peserta diklat), namun jika digunakan dengan benar, data bisa sangat efektif untuk membuka presentasi Anda. Data bisa mengajak orang untuk berpikir. Tidak hanya itu, data dan fakta mampu menciptakan efek dramatis tanpa harus didramatisir. Menggunakan data yang relevan akan membuat audiens tersentak. Apalagi jika data tersebut belum pernah mereka dengar sebelumnya dan mengungkap fakta yang dramatis.

Dengan data yang akurat maka pesan audiens tidak bisa membantah. Ini akan menjadikan audiens memahami betapa pentingnya apa yang dipresentasikan. Jika seorang widyaiswara dapat menyajikan sesuatu yang sangat besar dan sangat penting menggunakan data, maka sulit bagi audiens untuk mengabaikannya.

  1. Gunakan pernyataan atau kutipan; Menggunakan kutipan berarti kita menggunakan pendapat para ahli, orang bijak untuk memperkuat tema yang kita sampaikan. Mengapa ini efektif untuk membuka presentasi? Karena ketika kita menyampaikan kutipan dari orang-orang kredibel maka secara cepat audiens akan menangkap bahwa materi yang akan kita sampaikan penting. Sehingga secara cepat akan memperhatikan apa yang akan kita sampaikan.

Ketika memutuskan menggunakan kutipan untuk membuka presentasi, pastikan bahwa kutipan yang digunakan relevan. Kutipan harus bisa mencerminkan tema presentasi, menunjukkan pentingnya tema untuk didengarkan oleh audiens. Selain relevan, kutipan juga tidak boleh terlalu panjang, karena akan membuat audiens sulit mengingatnya. Paling baik gunakan kutipan ringkas sehingga mudah disampaikan dan mudah pula diingat oleh audiens.

Selain mengutip perkataan tokoh, dapat juga menggunakan pernyataan pribadi untuk membuka sebuah presentasi.

  1. Berikan pertanyaan; Memberikan pertanyaan yang tepat tidak hanya akan menarik perhatian, tapi juga mengarahkan fokus peserta diklat pada topik yang akan dibahas. Memberi pertanyaan akan membuat peserta diklat terlibat secara langsung dalam presentasi. Implikasinya para peserta diklat akan terfokus pada tema yang sedang dibahas dan membuat mereka memusatkan perhatian untuk menemukan jawabannya.
  2. Ceritakan sebuah kisah; Jika mahir dalam bercerita, seorang widyaiswara bisa juga menceritakan sebuah kisah yang relevan dengan topik presentasi dan tidak panjang untuk menarik perhatian peserta diklat. Membuka presentasi dengan cerita atau kisah ini akan mengajak peserta diklat membayangkan kisah tersebut. Secara mental mereka mulai terhubung dengan widyaiswara sebagai presenter dan siap untuk mendengarkan presentasi dengan lengkap.

Dalam bercerita seorang widyaiswara harus yakin tidak membuat peserta diklat justru merasa bosan dan mengalihkan perhatian mereka akibat cerita yang disampaikan. Pastikan kisahnya menarik, relevan dengan topik, dan presenter (widyaiswara) cocok menceritakannya.

Sebuah cerita yang relevan mampu menggugah emosi para peserta diklat. Mengajak mereka merenung dan menghayati cerita sebelum mendengarkan presentasi yang disampaikan.

Cerita yang disampaikan tidak harus cerita yang benar-benar terjadi. Bisa juga digunakan cerita rekaan sebagai ilustrasi. Selama cerita tersebut disampaikan dengan penuh penghayatan, secara emosional audiens akan ikut dalam cerita yang disampaikan.

Memang butuh persiapan lebih dan keterampilan menyampaikan cerita dengan baik agar pembukaan bisa berkesan. Namun jika seorang widyaiswara bisa melakukannya, maka hal ini tidak hanya menggugah aspek logika para peserta diklat, namun juga aspek emosional mereka.

  1. Gunakan humor atau anekdot; Cara ini juga dapat mencairkan suasana. Namun perlu diingat, jangan berlebihan. Seorang widyaiswara mungkin berhasil mencairkan suasana tapi gagal membawa perhatian audiens pada topik yang akan dipresentasikan.

Selain itu, juga harus dipastikan humor atau anekdot yang disampaikan tidak pasaran, karena efeknya akan berbeda jika humor tersebut sudah pernah mereka dengar sebelumnya. Bukan hanya efek ke peserta diklat, tapi juga ke widyaiswara sebagai presenter. Bayangkan saja, bagaimana perasaan presenter (widyaiswara) ketika berusaha melucu tapi tidak satupun yang tertawa.

George J. Kops menjelaskan ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan humor. Pertama, seberapa mahir kita menggunakan humor. Sebelum menggunakan humor pikirkan  dengan baik. Jika kita tidak termasuk orang yang memiliki selera humor yang baik, kita tidak perlu berspekulasi untuk melakukannya, karena jika kita menyajikan humor dan ternyata humor kita tidak lucu, maka ini akan menggagalkan semuanya. Kedua, seberapa baik kita mengenal audiens. Jika kita bermaksud menggunakan lelucon, maka kita harus yakin bahwa audiens akan merespon dengan baik. Yang lebih penting, kita harus tahu jenis humor yang mereka sukai. Banyak presenter berpikir lelucon yang disampaikannya lucu padahal hadirin mengangapnya sebaliknya. Ketiga, sejauh mana relevansi antara lelucon dengan pesan pokok yang akan kita sampaikan. Para presenter kadang-kadang membuka humor untuk mencairkan suasana tapi lelucon yang disampaikan tidak berhubungan dengan pesan pokok yang akan disampaikan.

  1. Perhatikan eye contact dan gestur; Jangan lupakan eye contact karena bisa membantu menjalin hubungan dengan orang-orang yang ada di hadapan kita. Lakukan hal ini secara wajar.

Begitu juga dengan gestur (gerak tubuh atau tangan (khususnya tangan) untuk menekankan sesuatu atau membantu mengekspresikan pikiran/perasaan).

  1. Menunjukkan manfaat; Menunjukkan sebuah manfaat secara singkat yang bisa menggambarkan keuntungan nyata yang akan didapat oleh para peserta diklat, juga merupakan alternatif pembukaan yang kuat. Dengan mengetahui keuntungan yang akan diterima, maka sangat sulit bagi peserta diklat menolak presentasi yang disampaikan.

Dalam hal ini coba pikirkan keuntungan apa yang akan diperoleh peserta diklat setelah mendengarkan presentasi yang disampaikan. Tapi, ingat jangan terlalu luas, maksimal 3 manfaat saja. Tapi ketiga-tiganya adalah manfaat yang pasti benar-benar akan mereka dapatkan.

Simpulan

Dari paparan di atas, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Menyajikan pembukaan presentasi yang baik dan menarik dalam penyampaian materi diklat merupakan hal yang sangat penting, karena audiens (peserta diklat) cenderung mengingat lebih baik apa-apa yang paling awal mereka lihat dan dengarkan.
  2. Beberapa kiat yang bisa ditempuh dalam membuka presentasi agar menjadi menarik dan mendapatkan perhatian penuh dari peserta diklat saat berlangsungnya proses pembelajaran adalah dengan menggunakan data dan fakta yang akurat, dengan menggunakan pernyataan, kutipan atau pendapat para ahli/orang bijak untuk memperkuat tema yang kita sampaikan, dengan memberikan pertanyaan yang tepat, dengan menceritakan sebuah kisah yang relevan dengan topik presentasi, dengan menggunakan humor atau anekdot yang segar dan tidak pasaran, dengan memperhatikan eye contact dan gestur, serta dengan menunjukkan manfaat dari apa yang akan dipresentasikan.

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Z. 2013. Model-model, Media dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Rama Widya.

Majid, A. 2015. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Medina, J. 2011. Brain Rules: 12 Kedahsyatan Otak di Tempat Kerja, Sekolah, dan Rumah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Noer, Muhammad. 2012. Presentasi Memukau (Bagaimana Menciptakan Presentasi Luar Biasa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.