KEWAJIBAN ANAK DIDIK TERHADAP ORANG TUA / PENDIDIK

0
94

MEMBANGUN KARAKTER ANAK DALAM ISLAM DAN KEWAJIBAN

TERHADAP ORANG TUA / PENDIDIK

Oleh

Drs.Suberia.MM

 ABSTRAK

Pendidikan anak adalah kewajiban orang tua  dan Islam mengajarkan kepada kita bahwa setiap orang tua itu mempunyai kewajiban dan tanggung jawab atas anak didiknya masing-masing termasuk mendidik dan memberi nafkah atau rizki yang khalal dan baik.

Tapi sebagai timbal baliknya hak bagi anak-anak yang menjadi kewajiban orang tua itu menjadikan kewajiban anak-anak terhadap orang tuanya. Sebenarnya yang menjadi kewajiban anak-anak menurut hukum Islam Adalah wajib berbakti dan berbuat baik serta menghormat kepada orang tua sebagai tanda syukur anak.

A. PENDAHULUAN

Pendidikan sebagai suatu aktivitas sudah barang tentu mempunyai motif dan tujuan, dan kedua hal ini terutama berada pada pihak pendidik.

Orang tua sebagai pendidik, tentu dalam aktivitas dan geraknya didorong oleh motif-motif tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Apakah motif itu bersifat tunggal ataukah Kompleks (banyak) bukanlah soal.

Timbul suatu pertanyaan : mengapa justru orang tua atau pendidik pada umumnya itu mau melakukan aktifitas pendidikan? Jawabnya adalah karena terdorong oleh rasa kewajiban dan tanggung jawab terhadap nasib hidup anak didiknya. Inilah merupakan dorongan/alasan yang kodrati bagi setiap orang tua.

Dalam ajaran Islam, motif seperti itu terutama dikarenakan adanya motif yang “theogenetis”. Artinya sifat Ketuhanan, yang ada pada setiap manusia. Sebab setiap manusia sadar atau tidak, lahir dalam keadaan fithrah yakni mempunyai benih-benih dan dasar-dasar ke Tuhanan dan keyakinan adanya Tuhan. Sebagaimana sabda Rasul  saw, :

“Ma min mauludin illa yuuladu ‘alal fithroh . . . . (H. Mutafak alaihi) Yakni “tak ada dari kelahiran manusia, kecuali lahir atas fithrah” . . . .

Orang-orang yang demikian kuat atas fithrohnya, tentu menyadari dan mudah sekali didorong oleh rasa kewajiban Ketuhanannya, khususnya untuk melakukan aktivitas mendidik anak-anaknya. Apalagi kalau mereka mendapat rangsang berupa ajakan-ajakan atau pelajaran-pelajaran yang bersifat ke Tuhan Yang Maha Esa atau Agama. Maka hal ini merupakan motif untuk melakukan aktivitas mendidik anak-anaknya. Mereka mudah taat untuk melakukan ajakan-ajakan tersebut karena fithrahnya. Inilah yang dimaksu dalam pengertian “Motiv theogenetis”, sebagai pendorong utama.

B. KEWAJIBAN ANAK

Kewajiban-kewajiban anak untuk berbakti, berbuat baik dan menghormat sebagai tanda syukur ini anatara lain dapat berupa :

  1. Taat kepada orang tua dalam batas-batas selagi orang tua itu tidak mengajak atau memerintahkan berbuat musyrik atau maksiat kepada Allah atau menentang syare’at Islam. Tapi apabila ajakan dan perintah itu untuk berbuat musyrik, maksiat, atau menentang syari’at Islam, maka anak-anak tidak wajib taat kepadanya.

Firman Allah : Wain jaahadaahu ‘ala antusyrika bil maalaisalaka bihi Ilmun falaa tuthl ‘humaa, washaahibhumaa fiddunya ma’rufan (S, Luqman : ayat 15). Artinya : Dan jika kedua orang tua memaksamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang lain yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu taati perkataan (perbuatan) kedua orang tuamu, dan pergauilah kedua orang tuamu baik-baik didunia (menurut sepatutnya)”.

Nabi saw. Bersabda : “Innamaththaatu filma’rifli” artinya : “Sesungguhnya taat itu adalah hal yang baik”.

Dalam sabda yang lain : “Laa thaa’ata Ilmachluqin fiima’siatil kholiq”. Artinya : Tidak ada taat kepada machluq dalam keadaan maksiat kepada Tuhan.

Dari ayat dan hadits –hadits tersebut jelas bahwa anak itu diwajibkan taat kepada orang tua asalkan orang tua itu tidak memerintahkan kepada maksiat tanpa alasan ilmu-ilmu yang dibenarkan oleh Tuhan. Apabila demikian (maksiat) maka kewajiban anak hanyalah berbuat baik dikala orang tua hidup didunia ini yaitu :

  1. Memberi makan dan pakaian apabila dia memerlukannya, bersilaturahim, berkata-kata yang tidak menyakitkan hati orang tua, atau tingkahlaku yang menyakitinya.

Sehubungan dengan ketaatan anak yang terbatas kepada hal-hal yang tidak musyrik dan tidak maksiat ini ada beberapa riwayat hadits untuk memperkuat keterangan tersebut, yaitu antara lain :

  1. Dari Al-Khafidz Ibnu Katair dari Sa’id bin Abi Waqas ra, berkata Sa’id : Saya seorang lelaki yang berbuat kepada ibu saya. Pada waktu saya masuk agama Islam, ibu berkata : Hai Sa’id, apakah yang menyebabkan kamu itu masuk agama baru itu ? tinggalkanlah agamamu itu ataukah saya tidak makan atau minum sampai mati, lalu namamu cemar dan kemudian hal ini dikatakan orang : Hai lelaki pembunuh Ibu. Maka jawab saya kepada Ibu : Hai Ibu, janganlah bersikap demikian, sungguh saya tidak akan meninggalkan agamaku ini selama-lamanya. Maka Ibu dalam waktu sehari semalam berdiam diri tidak makan dan tidak minum sampai pagi hari. Dia nampak dalam keadaan payah. Dihari-hari malam-malam berikutnya (sampai tiga hari tiga malam) dia secara terus menerus tidak mau makan dan tidak mau minum. Dalam hari –hari terakhir dia nampak semakin payah. Ketika saya mengetahui keadaan Ibu saya demikian itu, berkatalah saya : Hai Ibu, taukah kamu, demi Allah seandainya kamu mempunyai seratus nyawa dan nyawa-nyawa itu keluar satu persatu (sampai habis) saya tidak akan meninggalkan agamaku ini selama-lamanya.

Maka apabila kamu mau makan makanlah, apabila tidak mau, tinggalkanlah.

Ketika Ibu Sa’id itu melihat kekerasan hati yang ada pada anaknya yaitu karena tidak bersedia meninggalkan agamanya itu,  maka makanlah dia.

Dari ceritera kasus Said ini maka justru Alloh swt. Berkenan menurunkan ayat 15 surat Luqman sebagaiman tsb. Diatas

Dan dari kasus inilah, dapatlahkita ambil pengertian bahwa Islam itu mewajibkan bertaat anak kepada orang tua (Ibu) tetapi dalam keadaan batas-batas tidak maksiat dan musyrik.

Hal ini bukan saja berlaku dan terbatas pada orang tua saja, tetapi juga terhadap para pemimpin atau penguasa. Apabila mereka mengajak yang baik-baik tidak maksiat dan musyrik kepada yang dipimpinnya maka harus ditaati sebagai Ulil Amri, tetapi sebaliknya apabila mereka mengajak berbuat maksiat dan musyrik, atau hal/hal yang dilarang oleh agama, maka tidak perlu ditaati.

Untuk memperkuat keterangan tsb. Yakni tidak wajib taat kepada para pemimpin atau penguasa yang bermaksiat, ada suatu hadits juga sebagai berikut :

  1. Konon dikala Nabi saw. masih hidup beliau memerintahkan seorang lelaki (Abdullah Bin Khudzaifah), untuk memimpin sepasukan tentara.

Dan dikala pasukan tsb keluar bersamanya, maka ada sesuatu yang menyulitkan pasukan itu yaitu karena lelaki tadi berkata kepada mereka : Bukankah Rasulullah memerintahkan kepada kamu sekalian agar taat kepadaku ? jawab mereka : Ya demikian. Berkata lelaki tadi, kumpulkan kayu-kayu kepadaku. Kemudian lelaki tadi meminta api dan terus menyalakan kayu-kayu tsb. Sambil berkata ; Saya bermaksud agar kamu sekalian masuk kedalam unggun api ini. Lalu seorang pemuda di kalangan mereka menjawab/berkata kepada temannya ; Seharusnya kamu sekalian lari (mengadu) kepada Rasulullah saw tentang perintah masuk api ini, jangan tergesa-gesa sampai menghadap Rasulullah saw. Apabila beliau memerintahkan untuk masuk ke dalam api maka masuklah kamu sekalian. Maka mereka mengadukan masalah itu kepada Rasulullah saw. dan berceritalah mereka kepada beliau. Jawab Rasulullah saw. “Apabila kamu sekalian masuk kedalam api, maka kamu sekalian tidak akan keluar selama-lamanya (mati), sesungguhnya pendengaran dan taat itu dalam hal yang ma’ruf” (H.R Buhari dan Muslim dari ‘Amasy).

Dari kedua riwayat Hadits tersebut, mengandung hukum didalamnya tentang wajib taat dan tidak wajib taat atas ajakan-ajakan :

  1. Orang tua, bila tidak mengajak maksiat dan musyrik wajib ditaati, tetapi bila tidak demikian maka tidak wajib ditaati.
  2. Pemimpin bila tidak menyuruh berbuat maksiat atau yang bertetangan dengan Nabi maka wajib kita taati. Tetapi sebaliknya apabila tidak demikian halnya, maka tidak wajib kita taati.

Yang menjadi problim dalam pendidikan/pengajaran adalah : jika seandainya pihak orang tua atau pendidik itu mengajak atau memerintahkan anak didiknya kepada hal-hal yang menjurus perbuatan maksiat dan musyriq. Anak-anak biasanya ikut-ikutan dan menuruti apa saja yang diperintahkan oleh orang tuanya. Mungkin karena takut, mungkin pula karena akan kehilangan kasih sayang dari keduanya, dan mungkin pula karena tindakan-tindakan kekerasan lainnya, sehingga anak-anak ikut berbuat maksiat dan musyrik karenanya.

Padahal setiap anak lahir itu dalam keadaan fitrah, yakni membawa benih benih Tauhid dan yang baik baik dari Tuhan. Ini merupakan sifat-sifat bawaan yang asli bagi setiap anak dilahirkan didunia. Tetapi sifat-sifat yang demikian ini, dapat terpengaruh kearah yang negatif atau bertentangan dengan fitrahnya akibat perintah dan tindakan orang tua sebagai pendidik yang mempengaruhinya. Akibatnya anak didik menjadi korban.

Nabi saw. bersabda : “Maamin Mauluudin Illa Yuuladu ‘alal fitroti, fabawahu yuhawwidani au yumajjisaanihi” (Hadits Mutafaqqun ‘alailhi).

Artinya ; “Tidak ada manusia lahir didunia ini, kecuali dalam keadaan fitrah maka kedua orang tuanyalah menjadikan dia kafir yahudi atau kafir nasrani atau kafir majusi.

Didalam ilmu pendidikan sifat fitrah anak-anak, sebagai sifat bawaan asli dari Tuhan, ini seharusnya dikembangkan, dibimbing, dan dididik kearah tujuan tertentu. Dan tujuan mutakhir daripada pendidikan/pengajaran Islam sebagaimana diternagkan diatas, adalah untuk membentuk manusia berpribadi Muslim. (lihat tujuan pendidikan dimuka).

Padahal perkembangan sifat-sifat bawaan ini masih dapat dipengaruhi oleh lingkungan atau faktor-faktor yang berisfat exstern. Dalam hal ini orang tua atau pendidik pada umumnya adalah merupakan faktor exstern yang fdapat mempengaruhi perkembangan anak didik. Akibatnya, fitrah anak yang mestinya harus dikembangkan menuju ketujuan tertentu mengalami kesulitan dan tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya. Akhirnya anak-anak kurang atau tidak mencerminkan sifat fitrahnya dalam perkembangan-perkembangan selanjutnya akibat pengaruh-pengaruh exstern tsb.

Didalam mengahadapi kemungkinan-kemungknan seperti diterangkan itu, lalu bagaimana cara menghindarkan diri agar supaya kemungkinan itu tidak terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali kepada rumus dan hukum pendidikan yaitu bahwa kepribadian manusia pada umumnya dan kepribadian Muslim pada khususnya itu merupakan hasil perpaduan antara dasar dan ajar antara bakat/bawaan dan pengalaman dari luar. Dengan perpaduan antara dua faktor tsb. Yakni faktor bawaan dan pengalaman, maka terbentuklah suatu kepribadian manusia.

Meskipun bawaan setiap anak itu baik tetapi apabila keadaan faktor dari luar itu tidak baik atau bertentangan dengannya, maka yang terjadi adalh kepribadian anak yang kurang dan tidak baik.

Dengan berlandasan dalil-dalil pendidikan ini maka agar sifat fitrah manusia dapat berkembang baik sebagaimana diharapkan oleh maksud dan tujuan pendidikan Islam, diperlukan usaha-usaha antara lain sbb. :

  1. Milieu atau alam sekitar yang baik :
  2. Pengaruh orang tua yang baik-baik dalam lingkungan rumah tangga sehari-hari.
  3. Pengalaman diluar rumah tangga harus baik.
  4. Pengawasan orang tua/pendidik mutlak diperlukan.
  5. Lingkungan alam sekolah tidak bertentangan dengan alam keluarganya.
  6. Organisasi pemuda, dimana anak kita menjadi anggotanya harus mencerminkan unsur-unsur pendidikan dan pengajaran Islam.
  7. Anak-anak harus banyak dibawa-bawa ketempat ibadah Islam, seperti masjid-masjid, langgar, dlsb.
  8. Adanya kerja sama yang baik antara orang tua dan guru-guru sekolah dan pemimpin organisasi pemuda.
  9. Mengikuti kegiatan-kegiatan lain yang mencerminkan Da’wah dan tarbiyah Islamiyah.
  10. Kesadaran anak didik tentang berbuat baik kepada orang tua menurut tuntunan agama Islam.
  11. Nasehat-nasehat agama kepada anak didik.

C. BERBUAT BAIK KEPADA OARANG TUA/PENDIDIK

Berbuat baik kepada orang tua atau pendidik menurut tuntunan agama Islam, sudah barang tentu harus berlandaskan atas norma-norma atau hukum-hukum Islam. Sebab tidak setiap norma yang dianggap baik oleh manusia atau masyarakat tentu baik menurut Islam. Sebagian norma-norma yang bersumber kebudayaan paralel dengan norma-norma yang bersumber dari ajaran Tuhan, tetapi sebagian daripada norma-nrma tidak paralel atau bertentangan dengannya.

Contoh  I : Perbuatan seperti mencuri, berzina, berjudi, minum-minuman keras adalah paralel dengan ajaran Islam, yakni sama-sama dilarang baik oleh norma-norma masyarakat maupun oleh agama Islam.

Contoh II : Dalam pergaulan pemuda pemudi misalnya, ajaran Islam membatasi sedemikian rupa kecuali sudah jelas-jelas resmin menjadi pasangan suami istri. Tapi dalam kehidupan masyarakat tertentu norma-norma dalam kehidupan masyarakat mengizinkan untuk tidak begitu membatasi diri dalam pergaulan muda mudi. Hubungan antara pacar dengan calon suami istri sudah dianggap baik, seolah-olah menjadi khalalnya. Akibatnya meskipun baru taraf tunangan, masyarakat membiasakan kedua oknum clon suami istri pergi bersama, entah kemana tanpa disertai muhrimnya (dari pihak calon istri). Demikian ini tidak dibenarkan dan tidak baik menurut ajaran agama Islam yang bersumber dari Tuhan.

Berbuat baik anak-anak terhadap orang tua mempunyai ukuran dan norma-norma tersendiri yang ditetapkan oleh Agama Islam. Berikut ini adalah contoh norma-norma yang menyangkut berbuat baik kepada orang tua menurut bersumber dari Tuhan.

Firman Allah swt. dalam surat An-Nisa ayat 36 : “Wa’budullaha walaa tusyriku bihi syalan wabil waalidaini ikhsaanaa”. Dan sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu yang lain, berbuat baliklah kepada dan orang tua (bapa ibu).

Firman Allah swt. dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24 :

“Waqadla Rabbuka alla ta’buduu illa Iyyahhu wabil waalldaini ikhsanaa wakullahuma Imma yablughonna indakalkibara akhaduhuma au kilahuma fala taqul lahuma uffin walaa tanharhumma qaulan kariman. Wakhfifi lahuma janaakhadzdzulli minairahmati, waqarrabbir khamhumma kama robbayaani shaghliran”.

Artinya ; Tuhanmu memerintahkan, agar kamu jangan menyembah selain kepada Nya, dan berbuat baik kepada orang tuanya, jika seseorang diantara keduanya atau kedua-duanya telah tua, jangan kamu mengeluarkan kata-kata kasar kepada keduanya dan jangan pula kamu hardik, dan hendaklah kamu ucapkan kata-kata yang mulia (lemah lembut). Kepada keduanya rendahkanlah sayap kerendahanmu karena cinta kepadanya dan hendaklah kamu katakan : Hai Tuhanku berilah rahmat kepada keduanya sebagaimana keduanya telah mendidikmu dikalah masih kecil,

Al Hadits dari Ibnu Mas’ud dia berkata : Aku bertanya kepada Nabi saw. mana amal yang paling disenangi oleh Alloh taala? Jawab Nabi : Sholat pada waktunya, kata aku : Kemudian yang mana ? Jawab Nabi : berbuat baik kepada kedua orang tua, berkata aku : Kemudian yang mana ? jawab Nabi : berjuang dijalan Alloh (HR. Buhari dan Muslim).

Berlandaskan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits tsb., dapatlah diambil kesimpulan-kesimpulan bahwa :

  1. Agama Islam mengajak dan mendidik anak-anak ntuk menepati hak-hak kedua orang tuanya agar supaya mereka baik-baik dan berbuat kepada Alloh swt. dan mendapatkan pahalaNya.
  2. Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sebagai imbalan (tanda syukur) atas berbuat baik kedua orang tuanya terhadap anak-anak, dan sebagai balasan atas keutamaan kedua orang tua terhadap anak-anak dan termasuk juga perintah beribadah.
  3. Alloh swt melarang berkata keras dan kasar terhadap kedua orang tua meskipun hanya dengan kata-kata “Uffin” (=Najis). Kalau kepada kedua orang tua anak melakukan larangan-larangan itu, apalagi kepada orang lain.
  4. Wajib hukumnya bagi anak-anak untuk memilih kata-kata yang paling baik dan ibarat-ibarat yang lembut dan mulia tanpa disertai kata-kata kasar.
  5. Larangan-larangan seperti tsb. Bukan khusus untuk ditujukan kepada sikap takabur saja tapi juga kepada sikap-sikap lain yang tidak baik.
  6. Wajib hukumnya bagi anak-anak untuk bersikap rendah diri terhadap orang tua degan rasa kasih sayang.
  7. Sebagian daripada hak orang tua (yang menjadi kewajiban anak) adalah anak mendo’akan kepada Alloh swt. Agar Alloh melindungi orang tua dengan diberi rakhmat Nya, yang uas seperti segala sesuatunya, dan seraya mengucapkan do’anya : Ya Alloh, berilah rajhmat kepada keduanya sebagaimana keduanya telah mendidikku dikala aku masih kecil (Roobirkhamhumma kamaarabbayani shoghiiran).

 

KEPUSTAKAAN

Al-Qur-an dan Terjemahnya

Al-Hadits Shoheh Bukhori dan Shoheh Muslim

Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyah al-AuladFil Islam, Kairo, 1981

Abu Bakar Jabir, Min hasjul, Darul Fikri Beirut 1972

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia,Jkt, 2008.

Sayid Sabiq, Islamuha, Darul Kitabi, Beiru, tt.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.