KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

0
20

KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Oleh : Weldan Firnando Smith, S.Pd.,M.AP

 

Abstrak : Kepemimpinan dalam definisi diatas memiliki konotasi general, bisa kepemimpinan negara, organisasi politik, organisasi sosial, perusahaaan, perkantoran, maupun pendidikan. Madhi selanjudnya menegaskan bahwa diantara jenis kepemimpinan yang paling spesifik adalah kepemimpinanan pendidikan (qiyadah tarbawiyah atau  educative leadership), karena kesuksesan mendidik generasi, membina umat, dan berusaha membangkitkannya terkait erat dengan pemenuhan kepemimpinan pendidikan yang benar.

Kata Kunci : Kepemimpinan, Kepala Madrasah, Lembaga Pendidikan Islam

PENDAHULUAN

Kepemimpinan dalam pengertian umum adalah suatu proses ketika seseorang memimpin, membimbing, memengaruhi, atau mengontrol pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain. Beberapa definisi kepemimpinan yang dikemukan oleh para ahli.[1]

  1. Harsey dan Blanchard (1969:85) mengemukakan pandangan George R Terry yang berpendapat bahwa kepemimpinan adalah aktivitas memengaruhi orang lain untuk sukarela berjuang mencapai tujuan kelompok. Sejalan pernyataan ini, ada dua materi yang utama yang saling berhubungan satu sama lainya, yakni: (1) adanya usaha (dari si pemimpin) memengaruhi orang lain, dan (2) tujuan-tujuan yang diharapkan oleh kelompok.
  2. Harold Koartz dan Cyril O’Danneli mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah upaya memengaruhi orang lain untuk ikut serta dalam pencapaian suatu tujuan bersama. Kedua pendapat tersebut jelas menunjukkan adanya satu arah komunikasi dari si pemimpin kepada para pengikutnya (the followers).
  3. Pandangan Robert Tonnenboun lebih mengarah pada adanya proses komunikasi dua arah dalam memberikan definisi kepempinan. Ia berpendapat bahwa “kepemimpinan merupaka suatu interpersonal influence yang dilakukan dalam suatu situasi dan diarahkan melalui proses komunikasi dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam proses kepemimpinan terdapat upaya saling memengaruhi antarindividu, proses yang berkaitan denga situasi tertentu, dan tujuan yang hendak dicapai.
  4. Menurut Harsey, kepemimpinan merupakan suatu proses upaya memengaruhi aktivitas-aktivitas seseorang dalam suatu pencapaian tujuan dalam situasi tertentu. Oleh karena itu, dalam prosesnya ada Interdependensi antara tiga unsur utama, yakni: (1) pemimpin, (2) pengikut, dan (3) situasi kepemimpinan merupakan fungsi dari ketiga unsur tersebut.

Kepemimpinan Pendidikan Islam

Ada hubungan antara manajemen dengan kepemimpinan. Sondang P. Siagian menegaskan bahwa inti manajemen ialah kepemimpinan. Manifestasi yang paling nyata dari manajemen ialah kepemimpinan. Dengan pengertian lain, manajemen lebih luas dari pada kepemimpinan, atau kepemimpinan berada dalam lingkup manajemen.[2]

Dalam bahasa Arab, kepemimpnan sering diterjemahkan sebagai al-riayah, al-imarah, al-qiyadah, ataual-za’amah. Kata-kata tersebut memiliki satu makna sehingga disebut sinonim atau murodif, sehigga kita bisa menggunakan salah satu dari keempat kata tersebut untuk menerjemahkan kata kepemimpnan. Sementara itu, untuk menyebut istilah kepemimpinan pendidikan, para ahli lebih memilih istilah qiyadah tarbawiyah.[3]

Dalam Islam, kepemimpinan begitu penting sehingga mendapat perhatian yang sangat besar. Begitu pentingnya kepemimpinan ini, mengharuskan setiap perkumpulan untuk memiliki pimpinan, bahkan perkumpulan dalam jumlah yang kecil sekalipun. Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Dari Abu Said dari Abu Hurairah bahwa keduanya berkata, Rasulullah bersabda, “Apabila tiga orang keluar bepergian hendaklah mereka menjadikan salah satu sebagai pemimpin.”

(HR. Abu Dawud)[4]

Model keberadaan seorang pemimpin sebagaimana terdapat dalam hadis tersebut adalah model pengangkatan. Model ini merupakan model yang paling sederhana karena populasinya hanya tiga orang. Jika populasinya banyak, mungkin saja modelnya lebih sempurna karena ada beberapa model perwujudan pemimpin. Jamal Madhi melaporkan:

Hasil studi menyatakan bahwa yang terbaik dalam pelaksanaan tugas adalah pemimpin yang dipilih langsung, selanjutnya pemimpin yag memenangkan suara terbanyak, lalu yang terakhir pemimpin yang diangkat.

Hal ini terkait dengan pemetaan variabel penyebab (independent variable) dan variabel akibat (dependedent variable). Dalam bahasa penelitian, variabel penyebab adalah variabel yang menentukan variabel akibat sehingga variabel penyebab bisa menempati posisi subjek. Sedangkan  variabel akibat menjadi objek yang ditentukan atau menjadi target tertentu sehingga menenpati posisi objek. Kedua variabel itu harus mendapat perhatian atau pengondisian sejak awal.[5]

Dalam mengikuti alur pemetaan tersebut, maka kepemimpinanan pendidikan merupakan variabel penyebab yang diharapkan dapat membawa perubahahan yang baik pada aspek-aspek lainnya baik ekonomi, hukum, politik, sosial, budaya, kesehatan, dan lain sebagainya. Aspek-aspek ini dapat mengalami perubahan positif-konstruktif manakala pendidikan memiliki kepemimpinan yang berkualitas, suatu kepemimpinan yang benar-benar profesional yang didasari pengalaman, pedidikan, dan keterampilan. Ini berarti kepemimpinan pendidikan diyakini sebagai pilar utama dalam merealisasikan kemajuan peradaban bangsa dan negara.[6]

Menurut Soebagio Atmodiwirio, kepemimpinan pendidikan memerlukan perhatian utama karena melalui kepemimpinan yang baik diharapkan dilahirkannya tenaga-tenaga yang berkualitas dalam berbagai bidang, baik sebagai pemikir maupun pekerja. Intinya, melalui pendidikan, dapat menyiapkan tenaga-tenaga yang berkualitas, tenaga yang siap latih dan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tenaga-tenaga profesional inilah yang menjadi penggerak dilapangan dalam menjawab atau merespon tantangan-tantangan modernitas yang semakin berat.[7]

Secara operasional, untuk mewujudkan produk pendidikan menjadi tenaga-tenaga profesional, dibutuhkan figur pemimpin yang andal. Figur pemimpin ini menurut Atmodiwirio adalah pemimpin-pemimpin pendidikan yang mampu melahirkan berbagai konsep pendidikan yang bisa mewadahi dan mengadaptasi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, sehingga mereka siap menghadapi akibat terjadinya perubahan-perubahan pada era globalisasi. Era globalisasi senantiasa menghadirkan perubahan-perubahan yang menyebabkan pola pikir dan pola hidup masyarakat sekarang turut berubah untuk melakukan penyesuaian. Dalam dunia pendidikan, perubahan-perubahan itu harus dihadapi oleh para pemimpin pendidikan memalui strategi tertentu.[8]

Kepemimpinan diperlukan untuk membawa perubahan-perubahan konstruktif dalam program-program pengajaran sesuai dengan berbagai nilai dan tujuan para pembuat keputusan. Ujung tombak pendidikan adalah pembelajaran. Gedung sekolah boleh sederahana, demikian juga fasilitas perkantoran, alat transportasi, bangku, meja, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pembelajaran harus mendapat perhatian yang lebih besar dari pada aspek lainnya. Kualitas pendidikan akan dipertaruhkan melalui proses pembelajaran itu. Sementara itu, kualitas proses pembelajaran melibatkan pengondisian baik profesionalisme guru, kesadaran siswa untuk belajar dengan rajin, media pendidikan atau pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran.[9]

Didalam lembaga pendidikan islam, pemimpin benar-benar yang harus disiapkan dan dipilih secara selektif, mengingat peran yang dimainkan pemimpin dapat memengaruhi kondisi keseluruhan organisasi. Maju mundurnya lembaga pendidikan lebih ditentukan oleh faktor pemimpin dari pada faktor-faktor lainnya. Memang ada keterlibatan faktor-faktor lain dalam memberikan kontribusi kemajuan lembaga atau kemunduran suatu lembaga, tetapi posisi pemimpin masih merupakan faktor yang paling kuat dan paling menentukan nasib kedepan dari suatu penddikan islam.[10]

Dengan demikian, jika memerhatikan keadaan pendidikan Islam sebaiknya melihat tiologi pemimpinnya. Dari tipologi pemimpin ini segera didapatkan gambaran tentang kualitas pendidikan Islam tersebut. Ismail Raji’ al-Faruqi menegaskan, “pemimpin-pemimpin pendidikan didunia Islam adalah orang-orang yang tidak mempunyai ide, kultur, atau tujuan.” Gambaran tipologi pemimpin seperti ini melambangkan pemimpin yang pasif, jauh dari kreativitas, solusi, inovasi, produktivitas, dan lain sebagainya. Dengan pengertian lain, pemimpin-pemimpin yang hanya secara formalitas menduduki jabatannya sebagai pemimpin dan bekerja secara rutin meneruskan tradisi yang telah berjalan, merupakan pemimpin yang kontraproduktif bagi kelangsungan apalagi kemajuan lembaga pendidikan Islam.[11]

Pernyataan al-Faruqi itu dilontarkan pada era 1980-an dan ternyata pernyataan tersebut terbukti benar dalam realita dilapangan. Hal ini tentunya harus menjadi keprihatinan para pemikir pendidikan Islam, bahwa ternyata pendidikan Islam terbelenggu justru oleh pemimpinnya sendiri yang seharusnya secara idealis menjadi tumpuan harapan umat untukmembawa perubahan-perubahan yang benar-benar menjanjikan masa depan pendidikan Islam. Hal ini merupakan tragedi bagi dunia Islam.[12]

Menurut H.A.R. Tilaar, “Pemimpin adalah jenderal lapangan yang mengendalikan berbagai strategi dan taktik untuk melaksanakan program yang telah disepakati.” Lebih dari itu pemimpin seharusnya memiliki gagasan yang terus berkembang terutama yang terkait dengan strategi untuk memajukan organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin seharusnya berkonsentrasi pada pemikiran, lalu bertindak memajukan lembaga pendidikan Islam sehigga mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang maju, serta dapat menjaga kualitas.[13]

Dalam situasi darurat, pemimpin bahkan harus mempu mengambil tindakan yang berani, cepat dan tepat kendati tanpa musyawarah lebih dahulu. Keberanian, kecepatan dan ketepatan pemimpin dalam menyelesaikan masalah yang mendesak memang tidak mudah, tindakan itu membutuhkan kecermatan yang tinggi. Maka, pemimpin lembaga pendidikan Islam dalam level apapun harus senantiasa cermat “membaca” situasi sekitar yang berkembang dengan cepat. Dalam mengaendalikan organisasi, pemimpin acapkali dihadapkan pilihan tindakan yang serba salah. Memilih A salah, memilih B salah, memilih keduanya salah, tidak memilih keduanya juga salah. Dalam situasi seperti ini, biasanya pemimpin kembali pada kaidah untuk memilih pilihan yang memiliki risiko paling kecil (akhaffu al-dhararain).[14]

Oleh karena itu, kegiatan memimpin organisasi memiliki nilai seni. Sering kali yang terjadi adalah tindakan yang sifatnya situasional, tergantung tuntutan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mengabaikan kecenderungan umum. Maka E. Mulyasa bisa dibenarkan ketika dia mengemukakan, “Dalam hal tertentu sifat kepemimpinan otoriter lebih cepat digunakan dalam pengambilan suatu keputusan.” Padahal dalam era demokrasi sekarang ini, pola kepemimpinanan yang paling ditentang adalah pola kepemimpinnaan otoriter karena tidak memberi peluang pada masyarakat untuk terlibat dalam  menentukan nasibnya sendiri, suatu kesempatan berpartisispasi yang menjadi intisari dari demokrasi. Jadi, demokrasi yang telah menjadi kecenderungan umum, ternyata dilapangan tidak berjalan secara efektif. Yang lebih banyak berlaku justru sikap otoriter dalam mengatasi masalah-masalah yang darurat.[15]

Menurut para ahli, tipe dasar kepemimpinan adalah otoriter, demokratis, dan laissez-faire. Dari ketiga tipe dasar kepemimpinan itu timbul tipe kepemimpinan yang lain, misalnya tipe instruktif, konsultatif, partiispatif, dan delegatif. Dibandingkan dengan tipe-tipe  kepemimpinan yang lain, biasanya yang menjadi kecenderungan umum sekarang ini adalah tipe kepemimpinan demokratis, sedangkan pada tipe pengembanagan adalah tipe kepemimpinan partisipatif karena kedua tipe ini saling sesuai dengan selera dan tuntutan masyarakat modern yang menginginkan transparansi dalam organisasi.[16]

Tipe kepemimpinan demokratis dan partisipatif tersebut sebenarnya menjadi kecenderungan orang-orang yang dipimpin, karena tipe ini lebih menguntungkan mereka dari pada tipe-tipe lainnya. Namun, dari sisi kecenderungan pemimpin, kedua tipe itu tidak menjadi harapan. Dalam mengemban amanat, bagi pemimpin yang terpenting adalah kondisi aman, stabil, dan kuat atau berkualitas. Konsep kepemimpinan yang kuat ini mungkin berbeda-beda jika ditinjau dari perspektif yang berlainan. Daniel C. Neale dan kawan-kawan sebagaimana dikutip Edward F. DeRoche, menyatakan “Hasil penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa ‘kepemimpinan yang kuat adalah yang dapat menciptakan perubahan.’” Hal yang hampir sama dinyatakan Hadari Nawawi menyatakan bahwa pemimpin yang berkualitas selalu berusaha untuk tidak kehilangan kreativitas, inisiatif, gagasan dan lain-lain. Meskipun sudah cukup lama bertugas disuatu lingkungan organisasi. Namun Nawawi menambahkan, pemimpin yang berkualitas bukanlah pemimpin yang senang bekerja sendiri, baik untuk mencapai tujuan organisasinya maupun tujuan pribadinya. Tetapi pemimpin yang mampu membina dan mengembangkan kerja sama dilingkungan orang-orang yang dipimpinya.[17]

Pada satu sisi, ada kesamaan pandangan antara Neale dengan Nawawi tentang perlunya menciptakan perubahan maupun kreativitas. Sebab, perubahan dan kreativitas itu setidaknya diyakini dapat mengantarkan kemajuan lembaga yang dipimpin. Tidak ada organisasi atau lembaga yang mampu mencapai kemajuan tanpa perubahan dan kreativitas. Kedua kondisi ini (perubahan dan kreativitas) sebagai lambang dinamika aktif-positif yang dapat menggerakkan organisasi atau lembaga dari posisi semula bergeser ke posisi mengembang, menguat dan membaik. Akan tetapi, Nawawi saat menegaskan bahwa labang dinamika itu adalah kemampuan membina dan mengembangkan kerja sama, tampaknya disebabkan oleh pengamalan selama ini menunjukkan bahwa tugas-tugas organisasi dapat diselesaikan dengan cepat jika terjalin kerja sama dengan baik dan kompak diantara para pegawai.[18]

Selanjutnya, untuk mencapai kesuksesan dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi atau lembaga, maupun kesuksesan dalam interaksi sosial dengan orang lain, terutama para bawahan. Seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat ideal yang bervariasi. Adakalanya sifat itu terkait dengan jenis organisasi atau perusahaan, orang lai, keadaaan pemimpin sendiri, tuntutan sosial, dan lain sebagainya. Idealnya, semua sifat yang baik dapat terkumpul pada diri seorang pemimpin sehingga dapat memberikan jaminan perbaikan suatu lembaga atau organisasi yang dikendalikannya.[19]

Ali Muhammad Taufiq menjelaskan macam-macam sifat kondusif yang harus dimiliki oleh pemimpin berikut ini.

  1. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk mengendalikan perusahaan auat organisasimya.
  2. Memfungsikan keistimewaan yang lebih dibandingkan orang lain (QS. Al-Baqarah: 247).
  3. Memahami kesaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya (QS. Al-Ibrahim: 4).
  4. Mempunyai karisma dan wibawa dihadapan manusia atau orang lain (QS. Hud: 91).
  5. Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu (QS. Shad: 26).
  6. Bermuamalah dengan lembut dan kasih sayang terhadap bawahannya, agar orang lain simpatik kepadanya (QS. Ali Imran: 159).
  7. Menyukai suasana saling memaafkan antara pemimpin dan mengikutnya, serta membantu mereka agar segera terlepas dari kesalahan (QS. Ali Imran: 159).
  8. Bermusyawarah dengan para pengikut serta mintalah pendapat dan pengalaman mereka (QS. Ali Imran: 159).
  9. Menertibkan semua urusan dan membulatkan tekad untuk bertawakal kepada Allah (QS. Ali Imran: 159).
  10. Membangun kesadaran akan adanya pengawasan dariAllah (muraqabah) sehingga terbina sikap ikhlas dimana pun kendati tidak ada yang mengawasi kecuali Allah.
  11. Memberikan santunan sosial (takaful ijtima’) kepada para anggota, sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial yang menimbulkan rasa dengki dan perbedaan strata sosial yang merusak (QS. Al-Hajj: 41).
  12. Mempunyai power dan pengaruh yang dapat memerintah serta mencegah karena seorang pemimpin harus melakukan kontrol pengawasan atas pekerjaan anggota, meluruskan kekeliruan, serta mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS. Al-Hajj: 41).
  13. Tidak membuat kerusakan dimuka bumi, serta tidak merusak ladang, keturunan, dan lingkungan (QS. Al-Baqarah: 205).
  14. Bersedia mendengar nasihat dan tidak sombong karena nasihat dari orang yang ikhlas jarang sekali diperoleh (QS. Al-Baqarah: 206).[20]

Sebenarnya, jabatan pemimpin merupakan jabatan “istimewa”. Sebab pemimpin organisasi apapun dipersyaratkan memiliki berbagai kelebihan menyangkut pengetahuan, perilaku, sikap, maupun keterampilan dibanding orang lain. Pada pemimpin iitu juga dibebankan berbagai tingkah laku yang serba baik, serba memberi contoh, serba menjadi tumpuan harapan, dan sera bertanggung jawa atas perbuatan pribadi maupun perbuatan kolektif para bawahannya. Secara dassollen (ideal), figur pemimpin merupakan figur seseorang yang hampir sempurna sehingga tidak banyak orang yang dapat memenuhi harapan-harapan itu. Pada umumnya, seseorang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, tetapi sebaliknya juga memiliki  memiliki kelemahan-kelemahan tertentu. Masyarakat berharap para pemimpin setidaknya memiliki dominasi kelebihan dengan hanya sedikit kelemahan, bahkan kalau bisa hanya memiliki kelebihan tanpa kekurangan atau kelemahan.[21]

Figur pemimpin  yang ideal tersebut sangat diharapkan lantaran pemimpin menjadi panutan masyarakat atau umat. Pemimpin menjadi contoh terbaik dalam segala ucapan, perbuatan dan kebiasaan, termasuk dalam hal berpakaian. Ada ungkapan dalam bahasa Arab, libas al-muluk, muluk al-libas (pakaian para raja atau para pemimpin itu menjadi rajanya pakaian). Karena itu, kecenderungan model pakaian pemimpin saja sudah cukup kuat untuk mengundang perhatian masyarakat untuk menirunya. Apalagi perkataan dan perbuatannya, niscaya lebih memiliki pengaruh pada masyarakat luas. Karena itu, pemimpin harus berhati-hati dalam segala perilakunya. Bahkan, pemimpin juga dituntut mampu menghadirkan contoh kehidupan dari keluarganya. Apabila ada pemimpin yang baik, tetapi keluarganya melakukan tindakan yang tidak baik akan mendegradasi citra pemimpin itu.[22]

Dalam konteks pendidikan Islam, pemimpin harus memiliki keunggulan yang lebih lengkap. Dasar filosofinya adalah pendidikan Islam selama ini mengklaim sebagai lembaga yang berupaya keras membangun kecerdasan intelektual, kesalehan sosial, dan kemantapan spiritual. Pada tingkat siswa saja, harus memiliki keunggulan diketiga bidang itu. Apalagi figur-figur yang menjadi pemimpin lembaga kepemimpinan Islam. Mereka mestinya harus lebih hebat dari pada pemimpin lembaga lain. Mereka harus memiliki potensi seperti potensi pemimpin lembaga pendidikan pada umumnya plus potensi-potensi khusus yang terkait dengan karakter keislaman.[23]

Oleh karena itu, pemimpin lembaga pendidikan Islam jangan dipilih kemudian diangkat hanya berdasarkan kebijakan “urut kacang”. Martinya, pemilihan dan pengangkatan pemimpin hanya didasarkan pada urutan lamanya masa pengabdian atau masa kerja. Siapa saja diantara para guru yang paling lama masa kerjanya, maka dialah yang harus dipilih dan diangkat menjadai pemimpin lembaga pendidikan Isalam. Kebiasaan ini menjadi tidak baik dan bisa mengancam harapa kemajuan lembaga tersebut, mengingat pemimpin itu adalah figur yag terpilih diantara sekian banyak orang sehingga siapapun yang menjadi pemimpin lembaga pendidikan Isla, harusnlah sebagai hasil dari seleksi yang sangat ketat. Ibarat shalat berjamaah, pemimpin adalah imam shalat itu. Makmumnya tidak perlu diseleksi, tetapi yang menjadi imam harus pribadi yang terpilih dari orang-orang yang ada disuatu masjid atau mushala.[24]

Berdasarkan alur berpikir itu, maka pemimpin lembaga pendidikan Islam harus memiliki syarat-syarat tertentu yang cukup ketat. Menurut Mulyasa, pemimpin dituntut untuk memiliki kemampuan membangkitkan motivasi para tenaga pendidik yang bekerja dilembaga yang dia pimpin, sehingga mereka dapat meningkatkan kinerja dalam berkarya. Sedangkan menurut Tilaar, “kepemimpinan pendidikan Islam dalam era reformasi dewasa ini haruslah diserahkan pada figur yang berwawasan luas sehingga dapat mengakomodasikan berbagai pikiran dan pandangan masyarakat yang semakin dewasa.” Dari sini tampak perbedaan orientasi, tetapi saling melengkapi. Mulyasa menghendaki tuntutan pemimpin untuk memperbaiki kondisi internal organisasi, sedangkan Tilaar lebih menekan tuntutan untuk merespon kondisi eksternal dimasyarakat luas. Sebagai pemimpin, kedua tuntutan tersebut memang harus diperhatikan dan dipenuhi secara berimbangan agar organisasi pendidikan Islam bisa berjalan secara kondusif.

Dalam menghadapi kehidupan terbuka abad 21 ini, diperlukan pemimpin yang profesional, yaitu pemimpin yang bukan hanya menguasai kemampuan dan keterampilan untuk memimpin tetapi juga harus:

  1. Dapat mengejawantahkan nilai-nilai Islam didalam sistem pendidikan Islam, dan
  2. Menguasai nilai-nilai ilmu pegetahuan dan teknologi sesuai dengan permintaan zaman.[25]

Profil profesional tersebut berbatas dalam konteks kemampuan sebagai pemimpin. Sementara itu, dalam konteks kemampuan sebagai pengelola, pemimpin yang profesional memiliki tuntutan yang berbeda lagi. Dalam kaitan ini menurut Tilaar, seorang pemimpin profesional tidak hanya harus menguasai visi, misi, serta program-program yang telah disepakati tetapi juga strategi yang sesuai dngan potensi masyarakat untuk melaksanakan program-program tersebut. Kemampuan manajerial ini mengharuskan penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan manajemen, khususnya manajemen pendidikan. Sedangkan penguasaan strategi harus memerhatikan bahwa suatu strategi yang mantap hanya dapat dilaksanakan didalam suatu organisasi yang efisien. Maka seorang pemimpin yang profesional harus menguasai dan mengembangkan struktur organisasi pendidikan Islam yang efisien sehingga sumber daya yang tersedia, baik sumber daya manusia maupun sumber dayna serta infrastruktur lainnya dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.[26]

Dari paparan tersebut tampak perbedaan antara tuntutan profesional dalam konteks kemampuan sebagai pemimpin dengan tuntutan profesional dalam konteks kemampuan sebagai pengelola. Tuntutan yang pertama  lebih menekankan pada pengamalan pribadi sekaligus mengandung proses bimbingan kepada orang lain. Tuntutan kedua lebih menekankan pada keterampilan mengelola organisasi. Tuntutan yang pertama lebih mengarah pada keharmonisan kerja dalam organisasi pendidikan Islam, sedangkan tuntutan kedua lebih mengarah pada kelancaran sistem kerja dalam organisasi tersebut. Kedua kondisi ini diharapkan berkembang bersama-sama untuk mengantarkan pencapaian tujuan pendidikan Islam.[27]

Dalam kaitannya dengan pengamalan pribadi, Madhi mengajukan resep keteladaan melalui seruan sebagai berikut,”Wahai pemimpin, suaya Anda dapat menjadi teladan dan contoh serta dapat memetik hasilnya, jadilah orang yang diisplin, proaktif, rendah hati, realistis dan penyayangan. Agaknya seruan ini merupakan penjabaran dari ungkapan singkat ynag menjadi pegangan sahabat Nabi dan ulama berikutnya, yaitu ibda’binafsik (mulailah dengan dirimu sendiri). Jika telah dimuai atau diberi contoh keteladanan, orang lain akan mengikutnya. Cara ini merupakan sikap konsisiten antara apa yang diinginkan dari para bawahan dengan apa yang dipraktikkan sebagai keteladanan. Keinginan dan keteladanan harus berjalan seiring, bahkan keteladanan harus didahulukan baru keinginan itu akan tercapai.[28]

Bagi manajer pendidikan Islam, tidak bisa sekedar memiliki keinginan yang harus diikuti oleh bawahan tanpa bisa menunjukkan keteladanan bagi mereka. Dalam Islam antara ucapan dan perbuatan haruslah relevan. Bila seseorang berani menyeru kepada orang lain untuk melakukan kebaikan, maka dia harus menjalankan seruan itu juga. Bahkan, seharusnya praktik kebaikan dalam kehidupan sehari-hari lebih dahulu dilakukan sebelum dia menyeru orang lain untuk melakukannya. Sebab, orang-orang yang mendengar seruannya itu akan senantiasa akan memerhatikan perilaku orang yang menyerukan kabaikan; apakah penyeru tersebut benar-benar mempraktikkan seruan itu yang berarti dia layak menyerukan dan layak diikuti, atau justru penyeru itu orang yang selalu mengingkari ucapannya sendiri. Bila kenyataan yang kedua ini yang terjadi, maka orang lain tidak akan mengikutinya. Sikap yang demikian ini yang dibenci Allah. Berfirman’

“Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan…” (QS. Al-Shaff:2-3)[29]

Inspirasi yang dapat ditangkap dari ayat tersebut adalah:

  1. Anjuran bagi orang-orang yang beriman untuk menjaga konsistensi antara keyakinan, lisan dan perbuatan
  2. Larangan bersikap inkonsisten antara perkataan dan perbuatan
  3. Peringatan supaya berhati-hati dalam menyerukan sesuatu
  4. Keharusan untuk mengukur atau mengevaluasi diri sendiri
  5. Anjuran untuk menjadi teladan terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu[30]

Pada bagian lain, ada tipe kemampuan dasar yang harus dimiliki pemimpin (penyelenggara) lembaga pendidikan:

  1. Kemampuan manajerial dalam kaitannya dengan chief officer.
  2. Sense of business. Kemampuan ini berhubungan dengan pencarian sumber dana yang akan menjamin tetap terlaksananya operasional pendidikan.
  3. Sense of educated. Kemampuan dalam mendidik.[31]

Disini perlu ada catatan bagi kemampuan kedua, yaitu Sense of business (kemampuan atau naluri bisnis). Kemampuan-kemampuan tersebut harus dikerahkan oleh pemimpin hanya untuk kepentingan lembaga. Sebab, jika digunakan untuk kepentingan pribadi justru akan menjerumuskan lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sebagaimana dipaparkan didepan bahwa ada dua profesi yang merusak perjalanan pendidikan, yaitu piolitisi dan pebisnis pribadi. Keduanya sama-sama membahayakan keberadaan pendidikan karena keduanya memiliki watak menggerogoti potensi yang dimilikk lembaga pendidikan, baik potensi fisik seperti keuangan maupun potensi nonfisik, seperti rasa sosial, kedamaian, kerukunan dan lain sebagainya.[32]

Selanjutnya, dalam kelompok manapun seorang pemimpin harus memiliki power atau pengaruh, diantaranya sebagai berikut:

  1. Power eksekutif pelaksanaan, yaitu pengaruh yang dapat menimbulkan kharisma dan wibawa untuk mengatur anggota kelompok atau orang lain.
  2. Power legislatif pembuat hukum, yaitu pengaruh untuk mengatur hubungan antar kelompok (satu kelompok dengan kelompok lainnya).
  3. Power pembuat keputusan, yaitu pengaruh untuk mendamaikan perselisihan yang terjadi dalam penerapan hukum.

Tiga pengaruh ini jika dicermati ternyata mencerminkan kekuasaan untuk mengatur hubungan antara pemimpin dengan bawahannya. Maka masih diperlukan pengaruh lainnya bagi pemimpin lembaga pendidikan Islam yang berguna sebagai pengatur interaksi lembaga dengan dunia luar. Misalnya, pengaruh ketokohan sehingga merefleksikan daya tarik bagi orang lain untuk menjadi santri, siswa maupun mahasiswa dalam lembaga pendidikan Islam atau memasukkan putra-putrinya kelembaga tersebut, maupun pengaruh dalam menjalin kerja sama yang menguntungkan lembaga dengan orang atau instansi diluar.[33]

Tipe-Tipe Kepemimpinan

Jones Owens (dalam Soejono. 1995:18) menyatakan matrik gaya kepemimpinan dalam bentuk suatu model analisis yang persisnya data dipandang sebagai model baku (standar) sehingga dalam matriks tersebut dikelompokkan menjadi:

  1. Tipe pemimpin autokratis, yang memiliki wewenang (authority) dari suatu sumber (posisinya), pengetahuan, kekuatan, atau kekuasaan.
  2. Tipe kepemimpinan birokraliss yang dijalankan sesuai dengan kebijaksanaan, prosedur organisasi, dengan berpandangan bahwa kebijaksanaan tersebut merupakan obsolut).
  3. Tipe kepemimpinan diplomatis, seorang diplomat adalah seniman (artist), sebagaimana halnya kesenian, yang melalui seninya berusaha mengadakan persuaisi secara pribadi.
  4. Tipe Partisipatif (perticipavate leader), yang selalu mengajak, secara tetbuka para pengikutnya unuk berpartisipasi; dan
  5. Tipe pemimpin yang disebut free rein leader, seakan-akan seperti menunggang kuda yang melepaskan kedua tali kedali kudanya.[34]

Berdasarkan  macam-macam kewibawaan, menururt Weber, (lihat Sills, 1972:104) ada tiga tipe kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan Kharismatik adalah kepemimpinan yang tidak diciptakan secara formal. Kewibawaan seseorang dapat disebabkan oleh keilmuwannya yang tinggi, misalnya seorang kiai, atau karena keturuna raja-raja dan berbagai sebab yang sifatnya melekat kuat secara alamiah.
  2. Kepemimpinan tradisonal biasanya memiliki oleh pemimpin adat atau pemimpin suku.
  3. Kepemimpinan formal adalah tipe kepemimpinan yang diciptakan secara struktural, sebagaimana seorang presiden yang dipilih oleh rakyat yang sangat bergantung pada masa jabatannya. Jika ia pension, kepemimpinanya tidak mendapatkan perhatian masyarat. [35]

Gaya kepemimpinan mengacuh pada pengelompokkan tingkah laku pemimpin dalam cara memimpin (style of leadership) yang akan menimbulkan cara-cara interaksi yang berbeda. Levin, Lippit, dan White (dalam Sears et al., 1995:139-136) telah melakukan penelitian mengenai tipe kepemimpinan suatu kelompok. Ada tiga tipe kepemimpinan yang diteliti yang menimbulkan corak interaksi serta suasana kelompok yang berbeda yaitu:

  1. tipe kepemimpinan otoriter
  2. tipe kepemimpinan demokratis; dan
  3. tipe kepemimpinan laissez faire.

Bagi Barker (1984:179-181), ketiga tipe kepemimipinan ini juga mendapatkan perhatian dalam pembahasan perilaku interaksi individu dalam kelompok. Tipe kepemimpinan demokratis dapat ditempatkan dalam urutan pertama, sedangkan urutan kedua dan ketiga adalah gaya kepemimpinan otoriter dan laissez faire.[36]

Goldberg dan Pearson (1985:162-163) menambahkan satu macam tipe kepemimpinan selain dari tiga tipe kepemimpinan tersebut, yaitu tipe kepemimpinan nondirektif. Tipe-tipe pemimpin tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Tipe kepemimpinan demokratis

Kepemimpinan demokratis merupakan suatu pola yang memandang manusia mampu mengarahkan dirinya sendiri dan berusaha untuk memberikan kesempatan kepada anggota untuk tumbuh dan berkembang serta bertindak melalui partisipasinya dalam mengendalikan diri mereka sendiri dan memberi kesempatan kepada kelompok untuk ikut serta mengambil bagian dalam proses pembuatan keputusan. [37]

Pandangan seorang pemimpin yang demokratis terhadap orang lebih optimis dan positif dan tidak otoriter. Ia mendukung interaksi diantara para anggota kelompok dengan cara memotivikasi mereka untuk menentukan sendiri kebijaksanaan dan kegiatan kelompok.

Tipe kepemimpinan demokratis ini memang paling sesuai dengan konsep Islam Yang mana di dalamnya banyak menekankan prinsip musyawarah untuk mufakat. Hal ini sebagaimana terdapat dalam Q.S Ali Imron ayat 159, yang berbunyi:

Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(Q.S Ali Imron: 159)

Dari ayat di atas disebutkan bahwasannya kita diperintahkan untuk melakukan musyawarah dalam mengambil keputusan. Hal ini mengingat bahwa didalam musyawarah silang pendapat selalu terbuka. Apalagi jika orang-orang yang terlibat terdiri dari banyak orang. Oleh sebab itu kita dianjurkan untuk bersikap tenang dan hati-hati yaitu dengan memperhatikan setiap pendapat, kemudian mentarjihkan suatu pendapat dengan pendapat lain yang lebih banyak maslahat dan faidahnya bagi kepentingan bersama dengan segala kemampuan yang ada.

Berdasarkan ayat di atas, tepat sekali apabila kepemimpinan demokratis itu diterapkan dalam lembaga pendidikan. Hal ini dikarenakan dalam kepemimpinan demokrasi ini setiap personal dapat berpartisipasi secara aktif dalam mengembangkan misi kedewasaan anak.

2. Tipe kepemimpinn otoriter

Bagi kepemimpinan otoriter, partisipasi anggota tidak dikehendaki karena tugas-tugas dan posedur-prosedur didiktekan oleh pemimpin. Pemimpin akan mengekspolitasi rasa ketergatungan pengikut-pengikutnya dan berusaha untuk membina kendali penuh. Dalam proses membuat keputusan, pemimpin secara individual mengarahkan dan mendominasi anggota kelompok  dan ia langsung mengambil keputuan.

Pandangan pemimpin yang otoriter cenderung mencerminkan gambaran tentang manusia yang negatif, pesimis, dan mengecilkan hati, karena ia selalu mendekte anggota kelompok secara subjektif serta menganut sikap mengambil jarak dn formal. Interkasi dalam kelompok yang dipimpin oleh pemimpin otoriter pada dasarnya dilakukan melalui pemimpin sedangkan para anggota kelompok tidak dianjurkan untuk berinteraksi secara langsung satu sama lain. [38]

Adapun ciri-ciri dari pemimpin otokratis itu antara lain:

1) Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi.

2) Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.

3) Menganggap bawahan sebagai alat semata mata.

4) Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat.

5) Terlalu tergantung pada kekuasaan formalnya.

6) Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan approach yang mengandung unsur paksaan dan punitif (bersifat menghukum).

3. Tipe kepimpinan laissez faire

Kepemimpin laissez fair, juga disebut sebagai kepemimpinan liberal, merupakan suatu pola pengabaian (abrogation) sehingga pemimpin berusaha menghindari tanggung jawab terhadap pengikutnya. Dalam proses pengambilan keputusan pemimpin tidak mengarahkan dan memberikan perintah kepada para pengikutnya menentukan sendiri. Ia bisa jadi hanya mengamati dan memerhatikan tanpa berpartisipasi langung. Seorang pemimpin yang liberal menyebabkan para pengikutya menjadi manusia yang penuh kreatif, dan dapat menentukkan pilihannya masing-masing dalam mencapai tujuannya. Interaksi dalam kelompok yang dipimpin oleh pemimpin tipe ini tidak ada sama sekali karena ia meganut sikap yang tak acuh terhadap pengikutnya dan menghindari tanggung jawab terhadap mereka. [39]

Bentuk kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari bentuk kepemimpinan otoriter. Kepemimpinan ini pada dasarnya tidak melaksanakan kegiatan dengan cara apapun. Pemimpin berkedudukan sebagai simbol dan tidak pernah memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggota-anggotanya. Pembagian tugas dan kerjasama diserahkan kepada anggota-anggota kelompoknya tanpa petunjuk atau saran-saran dari pemimpin. Sehingga kekuasaan dan tanggungjawab menjadi simpang siur dan tidak terarah.

Kepemimpinan seperti ini pada dasarnya kurang tepat bila dilaksanakan secara murni di lingkungan lembaga pendidikan. Karena dalam hal ini setiap anggota kelompok bergerak sendiri-sendiri sehingga semua aspek manajemen administratif tidak dapat diwujudkan dan dikembangkan.

4. Tipe kepemimpinan nondirektif

Pemimpin yang nondirektif menolak untuk memberikan pengarahan pada kelompok, tetapi sebaiknya mencoba untuk mengerti tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh anggota kelompok agar ia dapat mewujudkan pengertian tersebut. Dengan demikian, kelompok diberi tanggung jawab untuk menetukkan dan mencapai sasaran mereka sendiri. Dalam proses menetukkan suatu keputusan, ia lebih cenderung menerapkan sistem kebersamaan dalam keserasian antara pemimpin dan pengikutnya.

Seorang pemimpin nondirektif menjadikan anggota pengikutnya, sebagai manusia yang memiliki eteramplan sama, menganggap bahwa setiap individu itu sangat penting dan masing-masing memiliki kelebihan. Interaksi pemimpin dengan anggota kelompok berlangsung dalam suasana kebersamaan yang penuh saling pengertian dan persaudaraan.[40] 

Pemimpin Lembaga Pendidikan Islam

Istilah kepala madrasah memiliki makna umum. Pengertian kepala madrasah ini dimaksudkan berlaku bagi seluruh pengelola lembaga pendidikan yang bisa meliputi kepala sekolah, kepala madrasah, direktur akademi, rektor dan sebagainya.

Mereka adalah pemimpin pendidikan atau lebih konkretnya sebagai pemimpin lembaga pendidikan, apa pun jenis atau coraknya. Sebab, mereka membawahi atau mengendalikan orang banyak sebagai bawahan yang secara struktural maupun tradisional mengikuti langkah-langkah pemimpinnya dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan, mulai dari tahap perencanaan hingga tahap evaluasi. Kinerja dalam mengendalikan bawahan memang tidak jarang berbeda.[41]

Terlepas dari perbedaan model kepemimpinan ini mereka, tetap saja merupakan pihak yang paling penting dalam lembaga pendidikan Islam. Mereka yang memiliki kewenangan mengendalikan lembaga pendidikan Islam dan menentukan arah atau strategi pengelolaan serta pengembangan lembaga tersebut. Dalam pelaksanaan pendidikan, pihak lain memang terlibat tetapi kewenangan paling besar berada ditangan kepala madrasah mengingat kapasitas mereka sebagai pemimpin.[42]

Oleh karena itu, posisi kepala madrasah merupakan penentu masa depan sekolah, E. Mulyasa mengatakan kegagalan dan keberhasilan banyak ditentukan oleh kepala madrasah karena mereka merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh sekolah menuju tujuannya. Madrasah yang efektif, bermutu dan favorit tidak lepas dari peran kepala madrasahnya. Pada umumnya, sekolah tersebut dipimpin oleh kepala madrasah yang efektif. Studi keberhasilan menunjukkan bahwa kepala madrasah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah.[43]

Posisi sebagai penentu menyebabkan perhatian para tenaga pendidikan begitu besar tercurah pada suksesi kepemimpinan yang berlangsung disuatu lembaga. Hal ini karena mereka mengharapkan sejumlah perubahan positif-kontruktif atau kemajuan serta pengembangan yang dapat diperankan oleh kepala madrasah, sehingga prospek lembaga pendidikannya lebih terjamin. Begitu pula bagi calon kepala madrasah, mereka memiiki perhatian yang tidak kalah besar terhadap proses suksesi, karena jika mereka berhasil menjadi kepala madrasah tentunya mereka dapat mengangkat status sosial, meningkatkan pendapatan, dan memegang peranan yang paling strategis didalam lembaga pendidikan.[44]

Peranan strategis bagi kepala madrasah ini, menimbulkan dua kemungkinan bagi madrasah (lembaga pendidikan). Bila figur kepala madrasah benar-benar profesional, maka dapat menghasilkan berbagai keuntungan bagi lembaga pendidikan, seperti stabilitas, kemajuan, pengembangan, citra baik, respons positif dari masyarakat, penghargaan dari negara, peningkatan prestasi dan sebagainya. Bila figur kepala madrasah tidak profesional, maka justru menjadi musibah bagi lembaga pendidikan yang akan mendatangkan berbagai kerugian. Misalnya, kemerosotan kualitas, penurunan prestasi, citra buruk, respons negatif dari masyarakat, kondisi labil, konflik yang tidak sehat, dan berbagai fenomena yang kontra-produktif.

Untuk itu, kepala madrasah sebagai pemimpin yang membawa kemajuan lembaga pendidikan yang dipimpinnya harus memiliki karakter dan kriteria tertentu. Wahjusumijo menyatakan kepala madrasah yang berhasil adalah mereka yang memahami keberadaan madrasah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksankan peranannya sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin madrasah. Sedangkan, Dede Rosyada menegaskan bahwa sekolah akan mencapai performa terbaik jika dipimpin oleh seorang kepala madrasah yang kuat, visioner, konsisten, demokratis, dan berani mengambil putusan-putusan strategis.[45]

Keberanian mengambil keputusan strategis ini dalam prakteknya seringkali keluar dari peraturan-peraturan yang kaku dari atasan. Made Pidarta menyarankan bahwa kepala madrasah tidak perlu terpaksa pada peraturan dalam mengendalikan sekolah. Dinamika guru-guru dalam berinisiatif, mengkreasikan sesuatu atau menciptakan ide-ide perlu dipacu bila menginginkan madrasah menjadi maju. Beberapa kasus, membuktikan bahwa lembaga pendidikan yang dipimpin dengan cara-cara kreatif dalam menerjemahkan peraturan, bahkan tidak jarang keluar dari aturan, justru mampu mencapai kemajuan lebih cepat dari pada lembaga pendidikan yang dipimpin dengan cara terikat pada peraturan. Fleksibilitas terhadap peraturan itu senantiasa diorientasikan pada pencarian terobosan pengembangan lembaga pendidikan sehingga pengelolaan lembaga bersifat kewirausahaan justru makin menjanjikan masa depan yang cerah bagi lembaga pendidikan Islam.[46]

Dalam praktek di lapangan, kepala madrasah selaku pemimpin, memang tidak selalu menjalankan roda organisasi berdasarkan perilaku kepemimpinan semata. Karena, secara umum kepemimpinan lebih memiliki dimensi kemanusian daripada pengelolaan apalagi kekuasaan. Namun, dalam keadaan tertentu, boleh jadi tindakan kepala madrasah hanya berdasarkan kekuasaan. Sudarman Danim mengatakan bahwa kegagalan kepala madrasah untuk tampil berbeda secara berkeunggulan, menyebabkan madrasah tidak mampu berbuat optimal. Adakalanya, kepala madrasah sesekali lebih menampakkan kekuasaan daripada kepemimpinan. Akan tetapi, dalam kondisi yang menghadapkan kepala madrasah pada kesulitan-kesulitan tertentu, agaknya sikap otoriter justru lebih tepat digunakan daripada cara demokratis yang mengayomi, asalkan menghasilkan perubahan-perubahan positif.[47]

Tugas kepala madrasah adalah menjadi agen utama perubahan yang mendorong dan mengelola agar semua pihak yang terkait menjadi termotivasi dan berperan aktif dalam perubahan tersebut. Dalam pandangan Wahjosumidjo, keberhasilan kepala sekolah berarti keberhasilan sekolah. Maka, efektivitas madrasah sebagai agen pembaharuan tidak akan terjadi tanpa pengertian dan dukungan kepala madrasah. Kepala madrasah harus memahami dan mengembangkan keterampilan dalam melaksanakan perubahan, apabila mereka menginginkan sekolahnya menjadi lebih efektif.

Sebagai pemimpin pendidikan yang profesional, kepala madrasah dituntut untuk selalu mengadakan perubahan. Mereka harus memiliki semangat berkesinambungan untuk mencari terobosan-terobosan baru demi menghasilkan suatu perubahan yang bersifat pengembangan dan penyempurnaan dari kondisi-kondisi yang memprihatinkan menjadi kondisi yang lebih dinamis, baik dari segi fisik maupun akademik, seperti perubahan semangat keilmuan, atmosfer belajar, dan peningkatan strategi pembelajaran.[48]

Di samping itu, kepala madrasah harus berusaha keras menggerakkan para bawahannya untuk berubah, setidaknya mendukung perubahan yang dirintis kepala sekolah secara proaktif, dinamis bahkan progresif. Sistem kerja para bawahannya harus lebih kondusif, kinerja mereka harus dirangsang supaya meningkat, disiplin mereka harus dibangkitkan, sikap kerja sama mereka lebih dibudayakan dan suasana harmonis di antara mereka perlu diciptakan. Perubahan kondisi ini sebagai syarat untuk mendukung perubahan-perubahan sekolah yang lebih besar secara signifikan. Tentu saja perlu ditanamkan sense of innovation (kesadaran untuk melakukan pembaharuan) pada mereka sebagai satu keniscayaan dalam memajukan lembaga pendidikan Islam.[49]

Pada bagian lain, sebagai konsekuensi dari prinsip ibda’ binafsih (mulailah dengan dirimu sendiri), menurut E. Mulyasa wibawa kepala sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan menumbuhkan sikap kepedulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan, dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerj yang kondusif. Dengan demikian, kepala sekolah memiliki kekuatan moral menggerakkan bawahan untuk melakukan perubahan secara maksimal. Kekuatan moral ini bagi kepala sekolah diperoleh dari perilaku diri sendiri. Manakala mereka telah memberikan contoh dalam perilaku kesehariannya, maka contoh itu setidaknya menjadi modal awal untuk menggerakkan para bawahannya agar mengikuti langkahnya. Kekuatan moral ini dapat memperkuat kekuatan kekuasaan atau kekuatan politik ( political power) yang selama ini dimiliki dalam kapasitasnya sebagai kepala sekolah/madrasah, sebagai pemimpin lembaga pendidkan Islam.[50]

Tugas dan Fungsi Kepala Madrasah

Kepala madrasah merupakan orang terpenting di suatu madrasah dan merupakan kunci bagi pengembangan serta peningkatan suatu madrasah. Indikator dari keberhasilan madrasah adalah kalau madrasah tersebut berfungsi dengan baik, terutama kalau prestasi belajar murid-murid dapat mencapai makasimal. Untuk mewujudkannya diperlukan seorang kepala madrasah yang profesional, berpengalaman dan faham tentang kepemimpinan. Selain itu juga perlu adanya dukungan dari pihak-pihak terkait seperti guru, orang tua murid dan masyarakat di tunjang juga dengan fasilitas yang memadai.[51]

Kepala madrasah harus memiliki kemampuan atau kompetensi dalam menjalankan tugas-tugasnya.Menurut Mintzbergyang dikutip oleh yaitu :

  1. Impersonal, yaitu kepala madrasah menjalankan fungsi sebagai figur, pemimpin, dan juru runding.
  2. Informational, yaitu kepala madrasah menjalankan fungsi sebagai pemantau, penyebar dan perantara.
  3. Decisional, yaitu kepala madrasah menjalankan fungsi sebagai wiraswastawan, disturbance-handler, pengalokasi sumber-sumber, dan negosiator.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya, kepala madrasah harus memiliki kemampuan melakukan hubungan dengan guru, karyawan serta dengan masyarakat secara baik. Sehingga tercipta suasana keharmonisan, sebab dengan adanya hubungan yang harmonis dalam madrasah akan mewujudkan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk bersama-sama dalam memajukan atau meningkatkan keberhasilan tujuan pendidikan madrasah.[52]

Syarat-Syarat Kepemimpinan Kepala Madrasah

Pemimpin pada dasarnya harus memiliki kemampuan lebih dari orang atau anggota yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus memiliki kepribadian yang harmonis, jiwa yang mantap serta kesadaran yang tinggi terutama untuk memperjuangkan tujuan yang hendak dicapai. Seorang pemimpin merupakan panutan atau suri tauladan bagi bawahannya. Adapun syarat-syarat yang setidaknya harus dimiliki oleh seorang pemimpin sebagai berikut:

  1. Beriman dan bertakwa
  2. Memiliki ilmu pengetahuan
  3. Mempunyai kemampuan menyusun perencanaan dan evaluasi
  4. Mempunyai kekuatan mental melaksanakan kegiatan
  5. Mempunyai kesadaran dan tanggung jawab moral serta mau menerima kritik[53]

Sedangkan menurut Indrafachrudi syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (kepala madrasah) adalah:

  1. Memiliki kesehatan jasmani dan rohani
  2. Berpegang teguh pada tujuan yang hendak dicapai
  3. Bersemangat
  4. Cakap di dalam memberikan bimbingan
  5. Cepat serta bijaksana di dalam memberikan keputusan
  6. Jujur dan cerdas
  7. Cakap dalam hal mengajar dan menaruh kepercayaan yang baik serta berusaha untuk mencapainya.

Disamping itu, kepala madrasah harus mempunyai kelebihan dalam bidang pemikiran dan kelebihan dalam bidang rohani dan jasmani. Telah disadari bahwa tidak ada orang yang lengkap memiliki keseluruhan sifat itu, akan tetapi diharapkan agar setiap pemimpin untuk memiliki sifat-sifat baik.

Adapun syarat-syarat kepemimpinan secara khusus yang berlaku dalam kepemimpinan kepala madrasah, seperti yang dikemukakan oleh Dirawat yaitu:

  1. Karakter dan moral yang tinggi
  2. Semangat dan kemampuan intelek
  3. Kematangan dan keseimbangan emosi
  4. Kematangan dan penyesuaian sosial
  5. Kemampuan kepemimpinan
  6. Kesehatan dan penampakan jasmani
  7. Kemampuan mendidik dan mengajar[54]

Abu Hasan mengutip Burhanuddin, persyaratan  kepribadian kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah:

  1. Personality, yang mana melalui sifat-sifat kepribadian tersebut, seseorang dapat memperoleh pengakuan dari orang lain sekaligus menjadi penentu bagi kepemimpinannya.
  2. Purposes, yaitu seorang Kepala Madrasah harus benar-benar memahami tujuan pendidikan itu sendiri secara jelas.
  3. Knowledge, yaitu suatu kelompok akan menaruh kepercayaan pada sang pemimpin, apabila mereka menyadari bahwa otoritas kepemimpinannya dilengkapi dengan skop pengetahuan yang luas dan mampu memberikan keputusan yang mantap.
  4. Profesional skill, yaitu Kepala Madrasah  harus memiliki ketrampilan-ketrampilan profesional yang efektif dalam fungsi-fungsi administrasi pendidikan.[55]

Abu Hasan juga mengutip pendapat Thomas B. Santoso bahwa Kepala madrasah harus memiliki beberapa persyaratan untuk menciptakan sekolah yang mereka pimpin menjadi semakin efektif,antara lain:

  1. Memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang baik
  2. Berpegang teguh pada tujuan yang dicapai
  3. Bersemangat
  4. Cakap di dalam memberikan bimbingan
  5. Cepat dan bijaksana di dalam mengambil keputusan
  6. Jujur
  7. Cerdas
  8. Cakap di dalam hal mengajar dan menaruh kepercayaan yang baik dan berusaha untuk mencapainya

 Kepemimpinan Kepala Madrasah yang Efektif

Kepala madrasah merupakan seorang pemimpin pendidikan, oleh karena itu dalam mewujudkan tujuan pendidikan, maka di perlukan suatu kepemimpinan yang efektif. Keefektifan dalam memimpin suatu lembaga pendidikan menuntut kepala madrasah agar semaksimal mungkin dalam menjalankan suatu kepemimpinan yang efektif.[56]

Kepala madrasah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan madrasah, yang akan menentukan bagaimana tujuam-tujuan madrasah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan. Sehubungan dengan itu, kepemimpinan kepala madrasah yang efektif bisa dilihat dari kriteria berikut:

  1. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif
  2. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah di tetapkan
  3. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan madrasah dan pendidikan
  4. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di madrasah
  5. Bekerja dengan tim manajemen
  6. Berhasil mewujudkan tujuan madrasah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah di tetapkan

[57]Adapun beberapa hal yang perlu dipahami dan diupayakan untuk dikuasai secara maksimal agar menjadi kepala madrasah yang efektif yaitu:

  1. Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)

Seorang kepala madrasah harus dapat mempunyai kompetensi untuk mengelola segala sumber daya yang dimiliki oleh madrasah secara maksimal agar dapat mencapai tujuan madrasah, karena sumber daya yang dimiliki madrasah merupakan modal dasar dan penentu keberhasilan mencapai tujuan madrasah.

Sumber daya manusia di madrasah meliputi guru, karyawan, siswa, masyarakat sekitar. Mereka inilah yang dapat diarahkan untuk menjadi penentu keberhasilan program madrasah. Oleh karena itu, kepala madrasah harus mempunyai kemampuan menciptakan kondisi kerja yang kondusif pada kepemimpinannya. Dengan kondisi yang kondusif , akan dapat meningkatkan kinerja seluruh sumber daya yang ada demi tercapainya tujuan pendidikan di madrasah.

  1. Hubungan Madrasah dengan Masyarakat

Keberhasilansuatu lembaga pendidikan dalam hal ini madrasah, hal yang tak kalah penting karena adanya peran serta masyarakat oleh karena itu seorang kepala sekolah harus menjaga dan membina hubungan dengan masyarakat. Manajemen hubungan madrasah dengan masyarakat secara luas meliputi hubungan dengan orang tua siswa, hubungan dengan seluruh aspek kehidupan yang ada di sekitar madrasah.

Sealin itu, Madrasah perlu membina hubungan yang baik serta harmonis dengan masyarakat di sekitar madrasah, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menunjang kegiatan pembelajaran misalnya tokoh masyarakat, pejabat pemerintah dan lain-lain. Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai seorang kepala madrasah untuk mengembangkan sikap hidup sosial yang seluas-luasnya dan mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan semua unsur masyarakat dan mampu memberikan pengertian atau pemahaman kepada masyarakatan secara lengkap dan obyektif tentang madrasah yang dipimpinnya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepemimpinan Pada Kepala Madrasah 

Dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, seseorang yang menduduki profesi sebagai pemimpin pendidikan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mewarnai pola kepemimpinan Pengharapan dan perilaku atasan. Abu hasan mengutip Thomas B, Santoso sebagai berikut

  1. Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pimpinan.hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang, dan pengalamannya akan memengaruhi pilihan akan gaya.
  2. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan memengaruhi terhadap gaya
  3. kepemimpinan
  4. Kebutuhan tugas ; setiap tugas bawahan juga akan memengaruhi gaya
  5. kepemimpinan  Iklim dan kebijakan organisasi memengaruhi harapan dan perilaku bawahan
  6. Harapan dan perilaku rekan[58]

Hal  lain juga  abu hasan mengutip  oleh Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto, sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor legal yang berpengaruh dalam kependidikan.
  2. Kondisi sosial ekonomi dan konsep-konsep pendidikan sebagai pengaruh dalam kepemimpinan.
  3. Hakekat dan atau ciri sekolah sebagai pengaruh kepemimpinan.
  4. Kepribadian pemimpin pandidikan dan latihan-latihan sebagai faktor yang mempengaruhi kepemimpinan.  Perubahan-perubahan yang terjadi dalam teori pendidikan sebagai faktor yang mempengaruhi kepemimpinan.

Disamping itu pula, Abu Hasan Mengutip M. Ngalim Purwanto mengemukakan adanya faktor-faktor yang pada umumnya sangat dominan mempengaruhi perilaku seorang pemimpin, diantaranya:

  1. Keahlian dan  kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin untuk menjalankan kepemimpinannya.
  2. Jenis pekerjaan atau lembaga tempat pemimpin itu melaksakan tugas jabatannya.
  3. Sifat-sifat kepribadian pemimpin.
  4. Sifat-sifat kepribadian pengikut atau kelompok yang dipimpinnya.
  5. Sangsi-sangsi yang ada di tangan pemimpin.[59]

 

PENUTUP

Kepemimpinan lembaga pendidikn Islam dalah seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan  menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran, agar segenap kegiatan dapat berjalan efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran pada suatu wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan islam. Kepemimpinan dikonsepkan sebagai suatu kekuasaan yang ditandai dengan adanya kewibawaan. Artinya kepemimpinan ialah suatu kekuasaan yang berwibawa, yang karena kewibawaannya si pemimpin memperoleh respon dari masyarakat berupa ketaatan. Selain itu pemimpin juga harus memberikan teladan bagi semua bawahannya, cerdas, bijaksana, sabar, tegas, dan bertanggung jawab.

Pemimpin pada dasarnya harus memiliki kemampuan lebih dari orang atau anggota yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus memiliki kepribadian yang harmonis, jiwa yang mantap serta kesadaran yang tinggi terutama untuk memperjuangkan tujuan yang hendak dicapai. Seorang pemimpin merupakan panutan atau suri tauladan bagi bawahannya. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, kepala madrasah harus memiliki kemampuan melakukan hubungan dengan guru, karyawan serta dengan masyarakat secara baik. Sehingga tercipta suasana keharmonisan, sebab dengan adanya hubungan yang harmonis dalam madrasah akan mewujudkan rasa tanggung jawab yang tinggi untuk bersama-sama dalam memajukan atau meningkatkan keberhasilan tujuan pendidikan madrasah.

Kepemimpinan merupakan faktor paling peling dalam sebuah Lembaga pendidikan Islam, dengan Kepemimpinan yang tepat maka Lembaga akan tumbuh dan berkembang dalam sebuah kepemimpinan, dalam mencari pemimpin harus memenuhi kereteria-keteria sehingga kepemimpinan dapat berjalan dengan baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Wahjosumidjo, 2002. Kepamimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Abbas, Syahrizal. 2008. Manajemem PerguruanTinggi. Jakarta: Kencana.

Dirawat. 1986. Pengantar Kepemimpinan Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Herabudin. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.

Kayo, Khatib Pahlawan. 2005. Kepemipinan Islam Dan Dakwah. Jakarta: Amzah.

Mulyasa. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Professional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Nasroh, Mohamad. 2014. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran. Skripsi. Salatiga: Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Qomar, Mujamil. 2008. Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: Erlangga.

Saroni, Muhamad. 2006. Manajemen Madrasah. Yogyakarta: Ar Russ.

Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty.1984. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Surabaya: Bima Aksara.

(1]. Herabudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung , CV Pustaka Setia,2009) hlm 218

[2].  Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 269

[3]. Ibid

[4].  Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 269

[5]. Ibid

[6].  Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 270

[7]. Ibid, hlm 271

[8].  Ibid

[9]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 271-272

[10].  Dirawat. Pengantar Kepemimpinan Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1986) hlm 213

[11]. Ibid

[12]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 274

[13]. Ibid

[14] Ibid hln 275

[15]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 275

[16]. Ibid

[17]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 275-276

[18]. Ibid

[19]. Kayo, Khatib Pahlawan. Kepemipinan Islam Dan Dakwah (Jakarta: Amzah, 2005) hlm 118

[20]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 277-278

[21]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 279

[22]. Ibid

[23]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 280

[24]. Ibid

[25]. Abbas, Syahrizal. Manajemem PerguruanTinggi (Jakarta: Kencana, 2008) hlm 293

[26]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 281

[27]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 282

[28]. Ibid

[29]. Ibid hlm 283

[30]. Soetopo, Hendiyat dan Soemanto, Wasty. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan (Surabaya: Bima Aksara, 1984) hlm 63

[31]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 284

[32]. Ibid

[33]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 286

[34]. Herabudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung , CV Pustaka Setia,2009) hlm 219-220

[35]. Ibid

[36]. Ibid, hlm 221

[37]. Herabudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung , CV Pustaka Setia,2009) hlm 221

[38]. Herabudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung , CV Pustaka Setia,2009) hlm 222

[39]. Herabudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung , CV Pustaka Setia,2009) hlm 222

[40]. Herabudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung , CV Pustaka Setia,2009) hlm 223

[41]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 285-286

[42]. Ibid

[43]. Ibid , hlm 287

[44]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 287

[45].  Saroni, Muhamad. Manajemen Madrasah (Yogyakarta: Ar Russ, 2006) hlm 267

[46]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 288

[47]. Ibid, hlm 289

[48]. Mulyasa. Menjadi Kepala Sekolah Professional (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007) hlm 89

[49]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 289-290

[50]. Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2008) hlm 291

[51]. Mohamad Nasroh. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran (Fakultas Tarbiyah, STAIN, 2014) hlm 27

[52]. Wahjosumidjo. Kepamimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya). (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002) hlm 32

[53]. Mohamad Nasroh. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran (Fakultas Tarbiyah, STAIN, 2014) hlm 28

[54]. Mohamad Nasroh. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran (Fakultas Tarbiyah, STAIN, 2014) hlm 29

[55]. Ibid

[56]. Mohamad Nasroh. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran (Fakultas Tarbiyah, STAIN, 2014) hlm 33

[57]. Mohamad Nasroh. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran (Fakultas Tarbiyah, STAIN, 2014) hlm 27

[58]. Mohamad Nasroh. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran (Fakultas Tarbiyah, STAIN, 2014) hlm 27

[59]. Mohamad Nasroh. Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Keberhasilan Kegiatan Pembelajaran (Fakultas Tarbiyah, STAIN, 2014) hlm 36

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.