KECERDASAN SPIRITUAL DALAM PERSFEKTIF ISLAMI

0
142

Oleh  :  A b u   B a k a r

Widyaiswara Madya

 

Abstrak :

Dalam versi agama kecerdasan spiritual adalah kecerdasan ruhaniah, Tasmara (2001) mengatakan kecerdasan ruhaniah adalah kecerdasan yang paling sejati tentang kearifan dan kebenaran serta pengetahuan Ilahi. Kecerdasan ini dapat menimbulkan kebenaran yang sangat mendalam terhadap kebenaran, sehingga dapat melahirkan kemampuan atau kapasistas seseorang untuk pengunaan nilai-nilai agama baik dalam berhubungan secara vertikal dengan Allah SWT  dan hubungan secara horizontal sesama manusia yang dapat dijadikan pedoman suatu perbuatan yang bertangung jawab didunia maupun diakhirat,  sedangkan kecerdasan lainnya lebih bersifat pada kemampuan untuk mengelola segala hal yang berkaitan dengan bentuk lahiriah (duniawi).

 

Keyword: Kecerdasan spiritual, kecerdasan ruhaniah, jujur,

 

 

  1. PENDAHULUAN

 

Ahir-ahir ini masalah spiritual quotient (kecerdasan spiritual) banyak dikelola oleh kelompok dengan memberi lebel masing-masing, sebut saja contohnya ESQ dengan menampilkan pelatihannya dan di Indonesia sudah menjamur, sayangnya ada kesan lain dari program ini.

Empat belas abad silam Alquran telah diturunkan dan dinobatkan didalamnya kesempurnaan agama (Islam), kesempurnaan nikmat Allah bagi makhlukNya, dan keridhoan Allah akan Islam sebagai agama umatnya, tentu sepatutnyalah penganut Islam terlebih bagi kelompok atau perorangan yang mendalami dan mengembangkan ilmu-ilmu baik yang bersifat duniawiyah maupun ukhrowiyah, termasuk para praktisi diberbagai sigmen kehidupan masyarakat memiliki pemahaman yang benar atau paling tidak mendekati benar pemahamannya di seputar kecerdasan spiritual (spiritual quotient)

Bicara spiritual banyak masalah yang teridentifikasi, sebutkan saja. setiap orang menyimpan potensi besar ini, inilah yang menjadi masalah saya dalam tulisan ini, bahwa masayarakat Islam (pembaca) belum memahami secara benar apa sesungguhnya spiritual quotient (kecerdasan spiritual) menurut tinjauan Islami.

  1. PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan (dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan hahasa Arab disebut al-dzaka`) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (alqudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi, menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (al-badl) (Mujib, 2001).

Binet ketika mengadakan tes kecerdasan individual menekankan pada masalah penalaran, imajinasi, wawasan (insight), pertimbangan, dan daya penyesuaian sebagai proses mental yang tercakup dalam tingkah laku kecerdasan. Namun pada penelitian yang, lain, pengukuran kecerdasan ditekankan pada kemampuan penyesuaian diri secara cepat dan efektif terhadap situasi yang baru. Penelitian yang berbeda memberikan penekanan pada kemampuan memecahkan masalah-masalah abstrak.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, J.P. Chaplin (1999) kemudian merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: (1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif; (2) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengkritik; dan (3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat.

Dalam pengertian yang lebih luas, William Stern, yang dikutip oleh Crow and Crow (1984), mengemukakan bahwa inteligensi berarti kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan ruhaniah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problema dan kondisi yang baru di dalam kehidupan.Pengertian ini tidak hanya menyangkut dunia akademik, tetapi lebih luas, menyangkut kehidupan non-akademik, seperti masalah-masalah artistik dan tingkah laku sosial.

Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal al- ma’rifi). Namun pada perkembangan berikutnya, disadari hahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur qalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif (al-majal al-infi’ali), seperti kehidupan emosional, moral, Spiritual, dan agama. Karena itu, jenis-jenis kecerdasan pada diri seseorang sangat beragam seiring dengan kemampuan atau potensi yang ada pada dirinya.

Karena sebuah dimensi yang tidak kalah pentingnya didalam kehidupan manusia bila dibandingkan dengan kecerdasan emosional, karena kecerdasan emosional lebih berpusat pada rekonstruksi hubungan yang bersifat horizontal (sosial), sementara itu dimensi kecerdasan Spiritual bersifat vertikal yang sering disebut dengan kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient), Danah Zohar dan Marshall (Najati, 2002) sebagai pengembang pertama tentang kecerdasan Spiritual tapi mereka melihat ini berkisar pada wilayah biologis dan psikologis.

Lebih lanjut diterangkan di Najati (2002) Danah dan Marshall mendefinisikan kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan inti menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan lebih kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan Spiritual adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan kecerdasan Spiritual merupakan kecerdasan tertinggi manusia.

Sebelum membicarakan lebih jauh tentang kecerdasan Spiritual disini akan diterangkan tentang agama, dimana agama adalah salah satu kebutuhan manusia. Manusia disebut sebagai mahluk yang beragama (homo religious) Yamani (dalam Jalaludin, 2002) mengemukakan tatkala Allah membekali insan itu dengan nikmat berpikir dan daya penulisan, diberikan pula rasa bingung dan bimbang untuk memahami dan belajar mengenai alam sekitarnya sebagai imbangan atas rasa takut terhadap kegarangan dan kebengisan alam itu.

Dalam ajaran agama Islam bahwa adanya kebutuhan terhadap agama disebabkan manusia selaku mahluk Tuhan yang dibekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang dibawa sejak lahir. Salah satu fitrah itu adalah kecenderungan terhadap agama, dan ini sesuai dengan firman Allah SWT. Berikut, yang artinya;

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui   (QS-al-Rum:30)

 

Prof. Dr. Hasan Laggulung (dalam Jalaludin, 2002) menyatakan “ Salah satu ciri fitrah ini adalah, bahwa manusia menerima Allah sebagai Tuhan, dengan kata lain, manusia itu pada awalnya mempunyai kecenderungan beragama, sebab agama itu sebagian dari fitrah-Nya”

Tasmara (2001) Mengatakan kecerdasan ruhaniah sangat erat kaitannya dengan cara dirinya mempertahankan prinsip lalu bertangung jawab untuk melaksanakan prinsipnya itu dengan tetap menjaga keseimbangan dan melahirkan nilai manfaat yang berkesesuaian. Prinsip merupakan fitrah paling mendasar bagi harga diri manusia. Nilai takwa atau tanggung jawab merupakan ciri seorang profesional.

Bagi mereka melangar prinsip dan menodai hati nurani merupakan dosa kemanusiaan yang paling ironis. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Gandhi (Tasmara, 2001), yang membuat daftar tujuh dosa orang-orang yang menodai prinsip atau nuraninya sebagai berikut:

  1. Kekayaan tanpa kerja (wealth Without work).
  2. Kenikmatan tanpa suara hati (pleasure without conscience).
  3. Pengetahuan tanpa karakter (knowledge without caracter).
  4. Perdagangan tanpa etika (moral) (commerce without morality).
  5. Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan (science without humanity).
  6. Agama tanpa pengorbanan (religion without sacrifice).
  7. Politik tanpa prinsip (politic without principle).

Suharsono (dalam Tasmara,2001) mengatakan kecerdasan spiritual dari sudut pandang keagamaan ialah suatu kecerdasan yang berbentuk dari upaya menyerap kemahatahuan Allah dengan memanfaatkan diri sehingga diri yang ada adalah Dia Yang Maha Tahu dan Maha Besar. Spiritual merupakan pusat lahirnya gagasan, penemuan, motivasi, dan kreativitas yang paling fantastik, masih menurut Tasmara (2001) dia  mengatakan kecerdasan ruhaniah adalah kecerdasan yang paling sejati tentang kearifan dan kebenaran serta pengetahuan Ilahi. Kecerdasan ini dapat menimbulkan kebenaran yang sangat mendalam terhadap kebenaran, sedangkan kecerdasan lainya lebih bersifat pada kemampuan untuk mengelola segala hal yang berkaitan dengan bentuk lahiriah (duniawi). Oleh sebab itu mujib (2001) mendefinisikan kecerdasan Spiritual sebagai “kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebih manusiawi, sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal fikiran manusia”.

Kecerdasan ruhaniah merupakan inti dari seluruh kecerdasan yang dimilki manusia karena kecerdasan ruhaniah dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan yang lain diantranya yaitu:

  1. Kecerdasan Intlektual, b. Kecerdasan Emosional, c. Kecerdasan Sosial,
  2. Kecerdasan Physical.
  3. Aspek-Aspek kecerdasan Spiritual
  4. Shiddiq

Salah satu dimensi kecerdasan ruhaniah terletak pada nilai kejujuran yang merupakan mahkota kepribadian orang-orang mulia yang telah dijanjikan Allah akan memperoleh limpahan nikmat dari-Nya, dengan indikasi 1) Jujur pada diri sendiri, 2) jujur pada orang lain, 3) jujur terhadap Allah.

  1. Istiqamah

Istiqamah diterjemahkan sebagai bentuk kualitas batin yang melahirkan sikap konsisten (taat azas) dan teguh pendirian untuk menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi yang lebih baik, sebagai mana kata taqwin merujuk pula pada bentuk yang sempurna(qiwam).

 

 

  1.   Fathanah

Fathanah diartikan sebagai kemahiran, atau penguasaan terhadap bidang tertentu, pada hal makna fathanah merujuk pada dimensi mental yang sangat mendasar dan menyeluruh. Seorang yang memilki sikap fathanah, tidak hanya menguasai bidangnya saja begitu juga dengan bidang-bidang yang lain, Keputusan-keputusannya menunjukkan warna kemahiran seorang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur, memilki kebijaksanaan, atau kearifan dalam berpikir dan bertindak.

  1. Amanah

Amanah menjadi salah satu dari aspek dari ruhaniah bagi kehidupan manusia, seperti halnya agama dan amanah yang dipikulkan Allah menjadi titik awal dalam perjalanan manusia menuju sebuah janji. Janji untuk dipertemukan dengan Allah SWT, dalam hal ini manusia dipertemukan dengan dua dinding yang harus dihadapi secara sama dan seimbang antara dinding jama’ah didunia dan dinding kewajiban insan diakhirat nanti. Sebagai mahluk yang paling sempurna dari ciptaan Allah SWT dibandingkan dengan mahluk yang lain, maka amanah salah satu sifat yang dimilki oleh manusia sebagai khalifah dimuka bumi.

  1. Tabligh

Fitrah manusia sejak kelahirannya adalah kebutuhan dirinya kepada orang lain.Kita tidak mungkin dapat berkembang dan survive kecuali ada kehadiran orang lain.Seorang muslim tidak mungkin bersikap selfish, egois, atau anamiyah hanya mementingkan dirinya sendiri’. Bahkan tidak mungkin mensucikan dirinya tanpa berupaya untuk menyucikan orang lain. Kehadirannya di tengah-tengah pergaulan harus memberikan makna bagi orang lain bagaikan pelita yang berbinar memberi cahaya terang bagi mereka yang kegelapan.

 

  1. KESIMPULAN

 

Dalam bahasa agama (versi Alquran) kecerdasan spiritual dinamakan kecerdasan ruhaniah, seperti yang dikemukakan oleh Tamara (2001), bahwa kecerdasan ruhaniah adalah kecerdasan yang paling sejati tentang kearifan dan kebenaran serta pengetahuan Ilahi. Kecerdasan ini dapat menimbulkan kebenaran yang sangat mendalam terhadap kebenaran yang di perluas dari makna  (Shiddiq, Istiqamah, Fathanah, Amanah,Tabligh), sehingga dapat melahirkan kemampuan atau kapasistas seseorang untuk pengunaan nilai-nilai agama baik vertikal/hubungan dengan Allah SWT (Hab lum minallah) maupuan  horizontal atau hubungan sesama manusia (hab lum minannas) yang dapat dijadikan pedoman suatu perbuatan yang bertangung jawab didunia maupun diakhirat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ancok, D dan Suroso, F. N. 2001. Psikologi Islami, Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar

Ancok. Dj. 2004. Psikologi Terapan: Mengupas Dinamika Kehidupan Manusia. Cetakan I : Yogyakarta. Penerbit Darussalam.

Anshari. H., 1996. Kamus Psychologi. Surabaya. Usaha Nasional

Caroline, C. 1999. Hubungan antara Religiusitas Dengan Tingkat Penalaran Moral PadaPelajar Madrasah Mu”Allimat Muhammadiyah Yogyakarta, Yoyakarta: Fakultas Psikologi UGM

Chaplin, J.P., 2000. Kamus Lengkap Psikologi (terjemahan). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Darwati, T.E., 2003, Hubungan Antara Kemasakan Sosial Dengan Kompetensi Interpersonal Pada Remaja, Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Dister, N.S. 1988. Psikologi Agama. Yogyakarta : Kanisius

Echols, J.M, and Shadily, H. 1983. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta :Penerbit P.T. Gramedia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.