KARYA ILMIAH; KENDALA DAN SOLUSI UNTUK NAIK GOLONGAN BAGI GURU MADRASAH

0
147

Oleh: Riduwan

 Pendahuluan

Salah satu syarat bagi guru untuk dapat naik golongan dimulai dari III/b ke atas adalah dengan melaksanakan pengembangan profesi dalam bentuk membuat karya ilmiah. Hal ini didasarkan pada regulasi Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, dan Peraturan Bersama antara Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 6 Mei tentang petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Regulasi ini diterbitkan dalam rangka membiasakan para guru untuk membuat karya ilmiah sejak dini, karena mereka sudah S-1 atau D/IV dan profesional, sehingga mereka terbiasa untuk menulis dan di masa depan bisa menghasilkan produk karya ilmiah yang berguna bagi peningkatan proses pembelajaran yang akan berdampak pada kualitas lulusan peserta didik.

Namun sayangnya kemampuan membuat karya ilmiah bagi guru masih tergolong rendah. Suyono dan Masnur Muslich (2008) mengatakan, “Jujur, harus diakui bahwa mayoritas guru kita sepertinya masih sangat jauh dari dunia penelitian, penulisan karya ilmiah, dan pertemuan ilmiah”. Hal ini dibuktikan pula dengan sulitnya para guru naik pangkat yang salah satu syaratnya adalah harus membuat karya ilmiah. Dari masalah yang dihadapi oleh guru di atas, lantas apakah solusi yang bisa ditawarkan bagi mereka untuk dapat naik pangkat dengan mudah dan lancar?

Karya Ilmiah Dan Permasalahan Yang Dihadapi Guru

Karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Karya ilmiah ini ada yang berbentuk laporan penelitian, karangan ilmiah, tulisan ilmiah populer, prasaran seminar, buku, diktat, dan terjemahan. Karya ilmiah dapat dipilah dalam dua kelompok yaitu (a) Karya ilmiah yang merupakan laporan hasil pengkajian /penelitian, dan (b) Karya ilmiah yang berupa tinjauan/ulasan/gagasan ilmiah. Keduanya dapat disajikan dalam bentuk buku, diktat, modul, karya terje­mahan, makalah, tulisan di jurnal, atau berupa artikel yang dimuat di media masa. Karya ilmiah juga berbeda bentuk penyajiannya sehubungan dengan berbedanya tujuan penulisan serta media yang menerbitkannya. Karena berbedanya macam karya ilmiah ser­ta bentuk penyajiannya, maka berbeda pula penghargaan angka kredit yang diperoleh. Namun demikian, semua karya ilmiah mempunyai beberapa kesamaan (Suyono dan Masnur Muslich, 2008), yaitu:

  1. Hal yang dipermasalahkan berada pada kawasan pengetahuan keilmuan;
  2. Kebenaran isinya mengacu kepada kebenaran ilmiah;
  3. Kerangka sajiannya mencerminan penerapan metode ilmiah; dan
  4. Tampilan fisiknya sesuai dengan tata cara penulisan karya ilmiah.

Pengembangan kemampuan menulis karya ilmiah bagi guru tidak terlepas dari tujuan yang hendak dicapai.  Adapun tujuan kemampuan menulis karya ilmiah bagi guru adalah:

  1. Guru (lebih) terampil dalam menulis karya ilmiah;
  2. Guru dapat menyebarluaskan gagasan dan temuannya melalui karya ilmiah;
  3. Guru lebih percaya diri dalam komunitasnya dan di hadapan siswanya;
  4. Guru produktif dalam mengembangkan gagasannya secara tertulis;
  5. Guru terhindar dari perilaku plagiat; dan
  6. Guru lebih cepat dalam mengembangkan karirnya.

Lebih lanjut, adanya pengembangan kemampuan menulis karya ilmiah bagi guru akan mempunyai dua dampak utama, yakni: (a) guru memperoleh tambahan peng­hasilan dari menulis ilmiah (bila diterbitkan oleh penerbit atau dipublikasikan melalui media massa dan memenangi kompetisi), dan (b) wawasan dan pema­haman guru mengenai sesuatu (terutama yang terkait dengan dunia pendidikan) lebih mendalam dan komprehensif.

Salah satu bentuk karya ilmiah yang cenderung banyak dilakukan adalah karya ilmiah hasil penelitian mandiri yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sekolah dalam bentuk makalah. Niat guru untuk menggunakan laporan penelitian sebagai karya ilmiah sangatlah tinggi. Namun, ada sebagian guru yang masih merasa belum memahami tentang apa dan bagaimana pe­ne­litian pembelajaran itu. Akibatnya, kerja penelitian dirasakan sebagai kegiatan yang sukar, memerlukan biaya, tenaga dan waktu yang banyak, walaupun hal ini tentu tidak sepenuhnya benar.

Permasalahan ini mereka rasakan sejak diberlakukannya Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 yang dalam kenyataannya memang banyak terdapat perbedaan mendasar dalam sistem kenaikan pangkat guru berdasarkan dengan peraturan sebelumnya yang menjadi dasar sistem kenaikan pangkat guru. Bila berdasarkan Kepmenpan Nomor 83 Tahun 1994, guru relatif mudah dalam proses pengumpulan angka kredit, sehingga lebih cepat dan mudah naik pangkat ke jenjang yang setingkat lebih tinggi. Sebelum diterapkannya regulasi baru, para guru dapat naik pangkat rata-rata dua tahun sekali. Artinya, dalam waktu dua tahun, guru mampu mengumpulkan angka kredit minimal yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat dengan relatif mudah. Hal ini tidak berlaku lagi ketika Permenpan yang baru ini mulai diterapkan, mengingat dalam peraturan ini sistemnya lebih rumit dan kompleks mencakup Penilaian Kinerja Guru (PKG) serta Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Dan dampak lebih lanjut banyak guru yang pangkat dan golongannya terhenti pada golongan dan ruang IV/a  dan mendapatkan golongan ruang IV/b setelah mereka pensiun sebagai “penghargaan”.

Sebagaimana dimaklumi, guru yang akan naik golongan harus mengumpulkan angka kredit dari aspek publikasi ilmiah atau karya inovatif sebagai berikut: untuk kenaikan pangkat dari III/b ke III/c sebanyak 4 poin, dari III/c ke III/d sebanyak 6 poin, dari III/d ke IV/a sebanyak 8 poin, dan dari IV/a ke IV/b harus mengumpulkan angka kredit sebanyak 10 poin.

Bagi para guru yang sudah terbiasa dengan menulis karya ilmiah, hal ini bukan menjadi permasalahan yang berat, akan tetapi bagi yang belum terbiasa (dan ini merupakan mayoritas), hal ini menjadi persoalan yang rumit. Dan dalam dunia pendidikan kita, hal ini sudah menjadi masalah nasional. Sebagian besar guru mengalami kesulitan memperoleh angka kredit yang diperoleh dari kegiatan membuat karya tulis imiah. Akibatnya, proses kenaikan jenjang kepangkatan menjadi stagnan pada jenjang pangkat tertentu.

Keterbatasan kemampuan guru dalam menulis ilmiah dan melakukan penelitian disinyalir menjadi masalah utama yang dihadapi. Di samping keterbatasan kemampuan juga disebabkan oleh keterbatasan waktu. Para guru yang tersertifikasi bahkan wajib mengajar minimal selama 24 jam perminggu. Di sisi lain, untuk membuat karya tulis hasil penelitian, semisal penelitian tindakan kelas (PTK) butuh waktu yang cukup panjang. Proses PTK mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan hasil membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Selain masalah keterbatasan waktu, para guru memiliki kendala dalam pelaksanaan PTK, membuat laporan PTK dan menuangkan hasil PTK tersebut dalam bentuk naskah publikasi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah maupun karya ilmiah populer yang dimuat pada surat kabar.

Akhirnya, dampak yang muncul sebagai implikasi negatif dari diberlakukannya Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 adalah, guru menggunakan jasa pihak lain untuk menulis karya tulis ilmiah dengan sistem upah. Padahal karya tulis ilmiah bersifat melekat sebagai pertanggungjawaban tertulis dari kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh guru berkaitan dengan tugas mengajar di ruang kelas. Yang lebih parah lagi, para guru dengan nekat membuat hal-hal yang tidak terpuji lainnya yaitu dengan melakukan plagiasi dari karya tulis orang lain. Yaitu hanya dengan mengganti identitas penulis, locus, dan tanggal pelaksanaan dari karya ilmiah yang asli.

 

Solusi Bagi Guru Madrasah Dalam Membuat Karya Ilmiah

Pemberlakuan Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 dalam sistem kenaikan golongan bagi guru adalah suatu kenyataan, maka bagi seorang guru yang mau naik golongan, mau tidak mau dan suka tidak suka, harus mengindahkan regulasi tersebut di atas, yang diantaranya harus membuat karya ilmiah. Kenaikan golongan harus berdasarkan pada sistem yang diberlakukan sesuai aturan. Pada tulisan ini diketengahkan beberapa solusi bagi guru agar termotivasi dalam membuat karya ilmiah, yaitu:

  1. Top of Form

Bottom of Form

  1. Guru harus segera membiasakan diri untuk menulis karya ilmiah secara otodidak dan menguasai cara menulis karya ilmiah. Hal ini bisa ditempuh dengan membeli atau meminjam buku tentang metodologi penelitian, dan bisa juga dengan banyak membaca berbagai tulisan para ahli tentang penulisan karya tulis ilmiah di internet. Para guru tidak boleh apatis karena merasa tidak mampu menulis karya ilmiah sehingga enggan, malas bahkan pasrah ketika menghadapi sebuah tuntutan dalam membuat karya ilmiah. Wijaya Kusumah (2011) mengatakan dalam bukunya “Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya”, ada 8 resep yang akan membuat guru mampu membuat karya ilmiah yaitu: pertama adalah memahami profesinya sebagai guru; kedua, rajin membaca buku; ketiga, rajin berlatih menulis; keempat, menghargai waktu dengan baik; kelima, tidak terjebak rutinitas kerja; keenam, guru lebih kreatif dan inovatif; ketujuh, mau meneliti; dan kedelapan, memahami PTK yang bertujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru. Pepatah mengatakan “bisa karena biasa”, mudah-mudahan dengan terbiasa menulis karya ilmiah, maka akan menjadi bisa.
  2. Membiasakan bersahabat dengan orang yang memiliki hobby menulis ilmiah. Kata hikmah menyatakan “seseorang itu dikenal berdasarkan dengan siapa dia bersahabat”, artinya bila seseorang bersahabat dengan seorang yang memiliki hobby menulis karya ilmiah, maka sedikit banyaknya seseorang tersebut akan mendapatkan wawasan/informasi/pengetahuan tentang menulis ilmiah. Bersahabat dengan seseorang yang memiliki hobby menulis karya ilmiah ini sekaligus juga bisa dimanfaatkan untuk membandingkan apa yang telah dipahami oleh guru tentang kaedah penulisan karya ilmiah, dengan apa yang diketahui oleh sahabatnya.

Lebih lanjut, walaupun kita telah memiliki wawasan/pengetahuan tentang kaedah cara menulis ilmiah, terkadang mengalami kebuntuan pikiran ketika akan menulis. Nah, di sinilah peran sahabat yang memiliki hobby menulis ilmiah tadi, dia akan membimbing kita dalam menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan ilmiah.

  1. Mengikuti program diklat yang relevan dengan masalah yang dihadapi pada Balai Diklat Keagamaan, khususnya diklat teknis substantif Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan diklat teknis substantif Publikasi Ilmiah. Dalam program kegiatan diklat terdapat materi yang bersifat teori dan ada yang bersifat praktik. Pada diklat PTK, materi yang bersifat teori seperti; Konsep Penelitian Tindakan kelas, Proposal Penelitian Tindakan Kelas, Instrumen Penelitian Tindakan Kelas, Pra karya Ilmiah Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Pengolahan Data Hasil Penelitian Tindakan Kelas, dan Penyusunan Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas. Dan pada diklat Publikasi Ilmiah materi yang bersifat teori seperti; Konsep Dasar Publikasi Ilmiah, Publikasi Ilmiah Bentuk Laporan Hasil Penelitian, Publikasi Ilmiah Bentuk Makalah Tinjauan ilmiah, Publikasi Ilmiah Bentuk Buku, dan Publikasi Ilmiah Bentuk Tulisan Ilmiah Populer. Dengan bimbingan widyaiswara/instruktur maka semua materi yang bersifat teori diimplementasikan dalam bentuk praktik. Memang mustahil bila dalam waktu lebih kurang 7 hari kita mampu membuat beragam bentuk karya ilmiah. Akan tetapi paling tidak dalam waktu sepekan tersebut kita mampu membuat satu atau dua bentuk karya ilmiah. Berikutnya segala kesulitan yang ditemui dalam kegiatan praktik, bisa dikonsultasikan secara langsung ke widyaiswara/instruktur yang membimbing.
  2. Dalam membuat karya ilmiah, para guru dapat bekerjasama atau berkolaborasi dengan widyaiswara dan dosen. Dalam hal ini anggota KKG atau MGMP dikumpulkan dan diberikan pemahaman secara kolektif. Forum seperti ini sebetulnya dapat membuat guru menjadi lebih mudah untuk menghasilkan kredit atau poin dari unsur publikasi ilmiah.

Simpulan

Payung hukum yang berlaku tentang kenaikan pangkat dan golongan bagi guru adalah Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, ditambah lagi dengan Peraturan Bersama antara Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 6 Mei. Diberlakukannya regulasi di atas membuat para guru merasa sulit untuk naik pangkat ketimbang regulasi sebelumnya. Permasalahan yang dihadapi adalah karena disyaratkannya mengumpulkan angka kredit dari aspek publikasi ilmiah atau karya inovatif. Sementara itu di saat yang sama para guru memiliki keterbatasan kemampuan dalam menulis ilmiah dan melakukan penelitian, di samping keterbatasan waktu, karena para guru yang tersertifikasi wajib mengajar selama 24 jam perminggu.

Karena itu perlu ditawarkan solusi kepada para guru agar dapat naik angkat secara lancar sebagaimana diberlakukannya regulasi yang lama. Solusi tersebut antara lain; pertama, guru harus segera membiasakan diri untuk menulis karya ilmiah secara otodidak dan menguasai cara menulis karya ilmiah. Hal ini bisa ditempuh dengan membeli atau meminjam buku tentang metodologi penelitian, dan bisa juga dengan banyak membaca berbagai tulisan para ahli tentang penulisan karya tulis ilmiah di internet. Kedua, membiasakan bersahabat dengan orang yang memiliki hobby menulis ilmiah, agar sedikit banyaknya pengetahuan/wawasan tentang penulisan karya ilmiah dari seseorang tersebut akan kita dapatkan. Ketiga, mengikuti program diklat yang relevan dengan masalah yang dihadapi pada Balai Diklat Keagamaan, khususnya diklat teknis substantif Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan diklat teknis substantif Publikasi Ilmiah. Keempat, Dalam melaksanakan tugas penelitiannya, para guru dapat bekerjasama atau berkolaborasi dengan widyaiswara dan dosen. Widyaiswara dan dosen bisa kita jadikan sebagai tempat berkonsultasi dari berbagai kendala yang dihadapi dalam penulisan karya ilmiah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kusumah, Wijaya. 2011. Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya. Jakarta: Indeks

Permennegpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009

Suyono dan Masnur Muslich. 2008. Makalah Seminar Nasional: Urgensi Kompetensi Karya Tulis Ilmiah Bagi Guru (Kenyataan, Harapan, pengembangan): Probolinggo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.