KAJIAN ISLAM TEKNIK PENYEMBELIHAN HEWAN SECARA MEKANIK

0
165

KAJIAN ISLAM 

TEKNIK PENYEMBELIHAN HEWAN SECARA MEKANIK

Oleh

Dr. H. Nawawi Nurdin, M.Pd.I

 Pengertian Penyembelihan Hewan

Menurut bahasa menyembelih artinya baik dan suci. Maksudnya, bahwa hewan yang disembelih sesuai dengan aturan syara menjadikan hewan yang disembelih itu baik dan suci serta halal untuk dimakan.

Sedangkan menyembelih menurut istilah adalah mematikan atau melenyapkan roh hewan dengan cara memotong saluran napas dan saluran makanan serta urat nadi utama dilehernya dengan dengan pisau, pedang, atau alat lain yang tajam sesuai dengan ketentuan syara’, selain tulang dan kuku, agar halal dimakan.

Penyembelihan binatang tidak sama dengan mematikan. Mematikan binatang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dipukul, disabet dengan senjata, disiram dengan air panas atau dibakar. Namun cara-cara tersebut tidak dicontohkan oleh Rosululloh SAW dan termasuk tindakan kejam.

Maka dari itu dalam melakukan penyembelihan harus dilakukan dengan baik dan benar. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW:

إن الله كتب الإحسان على كل شيئ فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة فإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح وليحد أحدكم شفرته فليرح ذبيحته ( رواه مسلم(

Artinya : Dari Saddadi Ibnu Aus Rosululloh saw. bersabda; “Sesungguhnya Alloh menetapkan supaya berbuat baik terhadap segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, bunuhlah dengan baik. Apabila kamu hendak menyembelih, sembelihlah dengan baik dan hendaklah mempertajam pisaunya dan memberikan kesenangan terhadap binatang yang disembelih. (HR. Muslim).

Sebagai orang yang beriman, kita tidak boleh menyembelih binatang secara sembarangan. Kita harus mengikuti tata cara dan ketentuan-ketentuan syarat dalam menyembelih binatang.

  1. Rukun Dan Syarat Penyembelihan Hewan.
  2.      Penyembelih, syarat orang yang menyembelih adalah :

1)      Beragama Islam atau ahli kitab.

Mengkonsumsi sembelihan Ahli Kitab (Orang Yahudi dan Nasrani) adalah halal hukumnya. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 5, yang artinya : Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka…. (QS A1-Maidah/5:5). Sebagian ulama menyatakan bahwa mengkonsumsi daging hewan sembelihan Ahli Kitab sama saja mengkonsumsi sembelihan orang kafir dan musrik Jadi mengkonsumsi daging sembelihan orang kafir dan musyrik adalah haram hukumnya.

2)      Baligh dan berakal

3)      Menyebut Nama Allah SWT.

Alloh SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat : 121, yang artinya: “Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang ketika disembelih tidak menyebut nama Alloh, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan……(QS. Al-An’am/6:121) Sebagian ulama menyatakan bahwa menyebut nama Alloh SWT tidak termasuk syarat apabila penyembelihan binatang tersebut orang muslim.

4)      Menyembelih dengan sengaja

5)      Bisa melihat (tidak buta)

Hewan yang disembelih, syarat hewan yang disembelih adalah :

1)      Binatang yang akan disembelih masih dalam keadaan hidup. Binatang yang mati bukan karena disembelih berarti sudah menjadi bangkai.

2)      Binatang yang akan disembelih adalah binatang yang halal, baik zatnya maupun cara memperolehnya.

Binatang yang disembelih itu ada dalam dua keadaan, yaitu keadaan binatang yang mudah disembelih dilehernya dan keadaan binatang yang susah disembelih di lehernya. Binatang yang mudah disembelih di lehernya, hendaklah disembelih di lehernya, yaitu dipotong urat saluran makan (kerongkongan) dan saluran napas (tenggorokan), kedua urat ini harus putus.

Sedangkan binatang yang susah disembelih dilehernya karena liar atau karena terperosok ke dalam lubang sehingga tidak bisa disembelih di lehernya, maka penyembelihan bisa dilakukan di bagian badan yang mana saja asal bisa menyebabkan mati karena lukanya itu.

Perlu dijelaskan pula bila di dalam binatang yang disembelih terdapat janin atau anak binatang dan didapatkan dalam keadaan mati dalam perut induknya setelah induknya disembelih, maka anaknya juga halal untuk dimakan, karena kematiannya itu disebabkan kematian induknya yang disembelih.

 

  1. Alat yang digunakan Menyembelih, syaratnya adalah :

1)      Benda tajam dan dapat melukai

2)      Benda teresebut terbuat dari batu, bambu, besi, dan benda logam lainnya.

3)      Benda tersebut tidak terbuat dari kuku, gigi, dan tulang

Hal itu berdasarkan sabda Nabi Muhammmad SAW sebagai berikut :

ما أنهر الدم وذكر إسم الله عليه فكل ليس السن والظفر وسأخبركم عنه أما السن فعظم وأما الظفر  فمدى الحشة  ) رواه البخارى(

Artinya: ” Apa saja yang dapar mengalirkan darah dan disebut nama Alloh, maka boleh kamu makan, bukan gigi, dan kuku dan aku akan beritahukan kepada kalian tentangya, adapun gigi itu adalah tulang, sedangkan kuku itu adalah senjata orang Habsyi. (H.R Al Bukhari dari Raft’ bin Khadis : 5074).

  1. Cara-cara Penyembelihan Hewan

Ada dua cara penyembelihan hewan yaitu dengan cara tradisional dan mekanik. Kedua cara ini diperbolehkan dan hasil sembelihannya halal dimakan dengan catatan syara-syarat yang telah ditentukan syara’ harus terpenuhi, seperti ketentuan hewan yang disembelih, alat yang dipergunakan, dan ketentuan orang yang menyembelih semuanya harus memenuhi syarat yang telah ditentukan syara’.

Penyembelihan secara tradisional adalah penyembelihan yang biasa dilakukan oleh masyarakat dengan mempergunakan alat sederhana seperti pisau yang tajam.

Biasanya dalam penyembelihan tradisional jumlah hewan yang disembelih sangat sedikit dan hanya untuk dikonsumsi kalangan terbatas.

Sedangkan penyembelihan secara mekanik adalah penyembelihan dengan cara menggunakan mesin dan alat-alat moderen. Karena dalam penyembelihan ini menggunakan mesin maka hasil yang diperolehpun cukup banyak dan beban kerja lebih ringan, dan yang mengkonsumsipun bukan kalangan terbatas tetapi masyarakat luas.

  1. a) Cara menyembelih binatang dengan cara tradisional :

1)        Menyiapkan terlebih dahulu lubang penampung darah.

2)        Peralatan yang akan digunakan untuk menyembelih disiapkan terlebih dahulu.

3)        Binatang yang akan disembelih dibaringkan menghadap kiblat, lambung kiri bawah.

4)        Leher binatang yang akan disembelih diletakkan di atas lubang Penampung darah yang sudah disiapkan.

5)        Kaki binatang yang akan disembelih dipegang kuat-kuat atau diikat, kepalanya ditekan ke bawah agar tanduknya menancap ke tanah.

6)   Mengucap basmalah, kemudian alat penyembelihan digoreskan pada leher binatang yang disembelih sehingga memutuskan, jalan makan, minum, nafas, serta urat nadi kanan dan kiri pada leher binatang.

  1. b) Cara menyembelih binatang secara mekanik

1)        Mempersiapkan peralatan terlebih dahulu.

2)        Memasukkan hewan ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi gas sehingga hewan tersebut tidak sadarkan diri dan mati.

3)        Dengan mengucap basmalah, binatang yang telah pingsan tersebut disembelih dengan alat penyembelihan yang sudah disiapkan sebelumnya.

4)        Penyembelihan binatang dengan alat mekanik dibolehkan dan halal dagingnya, asalkan memenuhi persyaratan dalam penyembelihan.

 

Binatang yang dapat disembelih lehernya, dipotong urat tempat makanan dan urat tempat keluar nafasnya, kedua urat ini harus diputus.

Binatang yang tidak dapat disembelih lehemya, karena liar atau jatuh ke dalam lubang, sehingga tidak dapat disembelih lehernya, maka menyembelinya dilakukan dimana saja dari badanya, asal dia mati karena luka itu.

عن رافع قال كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فى سفر فند بعير من إبل القوم ولم يكن معهم خيل فرماه رجل بسهم فحبسه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن لهذه البهائم أوابد كأوابد الوحش فما فعل منها هذا فأفعلوا به هكذا ) رواه الجماعة(

Artinya :”Dari Rafi” ia berkata: Kami bersama Rosululloh SAW dalam perjalanan kami bertemu seekor unta milik seseorang kaum (unta itu sedang lari) sedang mereka tidak menunggang kuda untuk mengejarnya maka seorang laki-laki telah melempar dengan anak panahnya dan matilah unta itu, maka Nabi SA W bersabda : Sesunggunya binatang ini mempunyai tabiat binatang liar, terhadap binatang-binatang seperti ini berbuatlah kamu demikian.” (HR. Jama’ah)

  1. Kewajiban dalam Menyembelih Binatang
  2. Hendaknya binatang itu dipotong / disembelih pada pangkal leher (leher bagian bawah).
  3. Yang dipotog adalah bagian tenggorokan binatang itu yaitu jalan pernafasan.
  4. Selain tenggorokan harus juga dipotong kerongkongan yang merupakan jalan makanan.
  5. Dua buah urat nadi binatang itu (kiri dan kanan) harus dipotong juga.
  6. Pada waktu menyembelih harus menyebut nama Alloh SWT.
  1. Sunah dalam Menyembelih Binatang
  2. Binatang diihadapkan ke kiblat
  3. Menyembelih pada bagian pangkal leher binatang, terutama apabila bina tang nya berleher panjang. Hal itu dimaksudkan agar pisau tidak mudah bergeser dan urat-urat leher serta kerongkongan cepat putus.
  4. Menggunakan alat yang tajam agar dapat mengurangi kadar sakit.
  5. Memotong dua urat yang ada di kiri kanan leher agar cepat mati.
  6. Binatang yang disembelih, digulingkan ke sebelah kiri rusuknya, supaya mudah bagi orang yang menyembelihnya.
  7. Membaca basmalah.
  8. Membaca Shalawat Nabi.
  9. Mempercepat proses penyembelihan agar binatang tidak tersiksa.

 

  1. Hal-hal yang dimakruhkan ketika menyembelih
  2. Menyembelih dengan alat tumpul
  3. Memukul binatang waktu akan menyembelih
  4. Memutuskan lehernya atau mengulitinya sebelum binatang itu benar­-benar mati
  5. Tata cara menyembelih hewan ada 2:
  6. Nahr [arab: نحر],

Menyembelih hewan dengan melukai bagian tempat kalung (pangkal leher). Ini adalah cara menyembelih hewan unta.

Allah berfirman,

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ الله لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ الله

عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا

Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah… (QS. Al Haj: 36)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjelaskan ayat di atas, (Untanya) berdiri dengan tiga kaki, sedangkan satu kaki kiri depan diikat. (Tafsir Ibn Katsir untuk ayat ini)

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih unta dengan posisi kaki kiri depan diikat dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud dan disahihkan Al-Albani).

  1. Dzabh [arab: ذبح], menyembelih hewan dengan melukai bagian leher paling atas (ujung leher). Ini cara menyembelih umumnya binatang, seperti kambing, ayam, dst.

Pada bagian ini kita akan membahas tata cara Dzabh, karena Dzabh inilah menyembelih yang dipraktikkan di tempat kita -bukan nahr-.

Beberapa adab yang perlu diperhatikan:

  1. Hendaknya yang menyembelih adalah shohibul kurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan shohibul kurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.
  2. Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadis dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ

وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْح وَ ليُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim).

  1. Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum disembelih. Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).

d   Menghadapkan hewan ke arah kiblat.

Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyah:

Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:196).
Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.

  1. Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri.

Imam An-Nawawi mengatakan, Terdapat beberapa hadis tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri, pen.) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:197).

Penjelasan yang sama juga disampaikan Syekh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan, “Hewan yang hendak disembelih dibaringkan ke sebelah kiri, sehingga memudahkan bagi orang yang menyembelih. Karena penyembelih akan memotong hewan dengan tangan kanan, sehingga hewannya dibaringkan di lambung sebelah kiri. (Syarhul Mumthi’, 7:442).

  1. Menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ضحى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بكبشين أملحين، فرأيته واضعاً قدمه على صفاحهما يسمي ويكبر

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah …. (HR. Bukhari dan Muslim).

g   Bacaan ketika hendak menyembelih.

Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman,

وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ..

Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am: 121).

  1. Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah
    Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir…. (HR. Al Bukhari dan Muslim).
  2. Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan dikurbankannya herwan tersebut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, ‘bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan disahihkan Al-Albani).
Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:

hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud, no. 2795) Atau
hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shohibul kurban). Jika yang menyembelih bukan shohibul kurban atau berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shohibul kurban).”

Catatan: Bacaan takbir dan menyebut nama sohibul kurban hukumnya sunnah, tidak wajib. Sehingga kurban tetap sah meskipun ketika menyembelih tidak membaca takbir dan menyebut nama sohibul kurban.

  1. Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa yang dialami hewan kurban.
    Sebagaimana hadis dari Syaddad bin Aus di atas.
  2. Pastikan bahwa bagian tenggorokan, kerongkongan, dua urat leher (kanan-kiri) telah pasti terpotong.

Syekh Abdul Aziz bin Baz menyebutkan bahwa penyembelihan yang sesuai syariat itu ada tiga keadaan (dinukil dari Salatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni):

  • Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini adalah keadaan yang terbaik. Jika terputus empat hal ini maka sembelihannya halal menurut semua ulama.
  • Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan salah satu urat leher. Sembelihannya benar, halal, dan boleh dimakan, meskipun keadaan ini derajatnya di bawah kondisi yang pertama.
  • Terputusnya tenggorokan dan kerongkongan saja, tanpa dua urat leher. Status sembelihannya sah dan halal, menurut sebagian ulama, dan merupakan pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكل، ليس السن والظفر

“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

  1. Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga hewan lebih cepat meregang nyawa.

Imam An-Nawawi mengatakan, “Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan…(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8:408)

  1. Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati.
    Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan kurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.

Dinyatakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, “Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembalih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam Mukhtashar-nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan,

وتعمد إبانة رأس

“Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 93893).

Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal.

Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan, “Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan.”Imam Syafi’i mengatakan,

فإذا ذبحها فقطع رأسها فهي ذكية

“Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya yang sah” (Al-Hawi Al-Kabir, 15:224).

  1. Pengertian Penyembelihan Hewan Secara  Mekanikز

Menyembelih hewan secara mekanik dengan pemingsanan adalah salah satu istilah tekhnis dalam ilmu perternakan yang banyak dipraktekkan dalam penyembelihan.  Yaitu dengan cara memingsankan binatang yang akan disembelih dengan menggunakan mesin, yang kalau dibiarkan binatang akan siuman dan bisa kembali seperti biasa, baru kemudian disembelih di saat pingsan.

Penggunaan mesin untuk pemingsanan dimaksudkan untuk mempermudah roboh dan jatuhnya hewan yang akan disembelih di tempat pemotongan dan meringankan rasa sakit hewan dan penyembelihannya dilakukan dengan pisau yang tajam memutuskan huqum (tempat berjalan nafas), mari’ (tempat berjalan makanan), dan wadajain (dua urat nadi) hewan yang disembelih oleh juru sembelih Islam yang terlebih dahulu membaca basmalah.

Bahwa hewan yang roboh dipingsankan di tempat penyembelihan apabila tidak disembelih akan terbangun sendiri lagi segar seperti semula keadaannya, dan, penyembelihan dengan sistem ini tidak mengurangi keluarnya darah mengalir, bahkan akan lebih banyak dan lebih lancar sehingga dagingnya lebih bersih.

Ada beberapa metode

  1. Pembiusan dengan karbondioksida
  2. Captive bolt pistols
  3. Setrum listrik

Proses penyembelihan hewan secara mekanais adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum disembelih hewan dipingsankan terlebih dahulu.
  2. Setelah dipingsankan, hewan harus tetap dalam keadaan hidup (bernyawa) sehingga jika tidak jadi disembelih tetap dalam keadaan hidup secara normal
  3. Hewan tersebut disembelih menggunakan pisau tajam sehingga dapat memutuskan saluran pernafasan, saluran makanan, dan dua urat leher
  4. Pemotong hewan beragama Islam dan terlebih dahulu mambaca basmallah ”Bismillahir rahmanirrahim”
  5. Sesudah disembelih dan darahnya telah berhenti mengalir, maka isi perut hewan tersebut dikeluarkan semua dan selanjutnya dagingnya dipotong-potong
  6. Selain itu waktu untuk menyembelih juga harus dilakukan secara tepat. Jarak waktu yang ideal antara proses stunning dengan proses penyembelihan antara 20 hingga 30 detik. Kurang dari itu akan mempersulit melakukannya, sementara lebih dari iru akan menghasilkan dampak kurang baik.
  7. Penyembelihan  Hewan Secara Mekanik dalam Perspektif Islam

Binatang yang mati tidak melalui metode dan tata cara penyembelihan yang benar menurut syariat adalah haram untuk dimakan. Sembelihan yang benar (untuk selain unta yang syariatnya cukup ditusuk pada lehernya) menurut hadits riwayat ad-Daruquthni dan al-Thabrani harus sempurna memutuskan empat urat leher, yaitu hulqum (kerongkongan nafas), mari’ (urat jalur makan), widjan (dua urat darah di kanan kiri leher). Demikian ini menurut madzhab Hanafi.

 

Adapun menurut Maliki cukup memutuskan urat kerongkongan dan dua urat leher. Sementara mazhab Syafi’i dan Hanbali hanya mewajibkam terputusnya kerongkongan dan urat makan. Semuanya spekat bahwa pemotongan ini tidak boleh dilakukan sekaligus dengan membabat kepala darahnya berhenti keluar.

Majelis Ulama Indonesia menetapkan/menfatwakan bahwa penyembelihan hewan secara mekanis pemingsanan merupakan modernisasi berbuat ihsan kepada hewan yang disembelih sesuai dengan anjuran Nabi dan memenuhi persyaratan ketentuan syari’i dan hukumnya sah dan halal, dan oleh karenanya, diharapkan supaya kaum Muslim tidak meragukannya.

Allah swt memerintahkan seorang yang hendak menyembelih binatang sembelihannya untuk berlaku ihsan (baik) terhadapnya dan tidak menyakitinya. Untuk itu Rasulullah saw memerintahkan penggunaan pisau yang tajam untuk penyembelihan agar mempercepat kematiannya, membahagiakan dan tidak membuatnya stress dengan memperlihatkan penyembelihan maupun binatang yang telah disembelih kepada binatang lainnya yang akan disembelih berikutnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (kebaikan) terhadap segala sesuatu. Apabila engkau membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik dan apabila engkau menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisau dan membahagiakan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Rahasia Penyembelihan dan Hikmahnya

Rahasia penyembelihan, menurut yang kami ketahui, yaitu melepaskan nyawa binatang dengan jalan yang paling mudah, yang kiranya meringankan dan tidak menyakiti. Untuk itu maka disyaratkan alat yang dipakai harus tajam, supaya lebih cepat memberi pengaruh.

Di samping itu dipersyaratkan juga, bahwa penyembelihan itu harus dilakukan pada leher, karena tempat ini yang lebih dekat untuk memisahkan hidup binatang dan lebih mudah.

Dilarang menyembelih binatang dengan menggunakan gigi dan kuku, karena penyembelihan dengan alat-alat tersebut dapat menyakiti binatang. Pada umumnya alat-alat tersebut hanya bersifat mencekik. Nabi memerintahkan, supaya pisau yang dipakai itu tajam dan dengan cara yang sopan.

Masalah makanan adalah masalah yang sangat prinsip karena berdampak pada pertumbuhan jasmani dan rohani seseorang dan keluarga yang ditanggungnya. Oleh karena itu, islam sangat menganjurkan pada umuat islam untuk mencari makanan yang halal dan baik dari segi zatnya (intrinsiknya) makanan maupun dari segi proses dan tata cara dan cara memperolehnya. Rasulullah saw, bersabda, ” Tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari (makanan) yang haram, neraka lebih pantas baginya.” (HR Ahmad)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Jaih Mubarok dan Drs. Maman Abd.Djaliel, Fiqih Kontemporer, halal haram bidang perternakan, Bandung: CV. Pustaka Setia. Cet I th 2003

Dr. KH. M. Hamdan Rasyid, M.A. Fiqih Indonesia. Himpunan fatwa-fatwa actual. Jakatra: PT. Al-Mawardi Prima, cet 1 th 2003,

M.B.Hooker. Islam Madzhab Indonesia. Cet I. 2002.

Abdurrahman Al-Jaziri, Fiqih Empat Madzhab, Jakarta. Cet 4. 1996

  1. Yusuf Qordhawi, Halal Haram Dalam Islam, Solo: Cet: 2. 2001

Sabiq, Sayyid. 1987. Fikih Sunnah 12. Bandung: Al-Ma’arif.

Yusuf, Muhammad Qardhawi. 2007.  Halal dan Haram dalam Islam. Surabaya: Bina Ilmu

MUI . 2003. Himpunan Fatwa Manjelis Ulama Indonesia. Surabaya.

Setiawan Budi Utomo. 2003.  Fiqh Aktual: Jawaban Tuntas  Masalah Kontemporer. Jakarta: Gema Insani.

Arifin, Zaenal, dkk. 2012. LKS PAI SANTRI. Pekalongan: Adi Siwi

http://senja-pantai.blogspot.com/2012/05/hukum-menyembelih-hewan-secara-mekanik.html

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.