Kaidah Pemerolehan Bahasa pada Anak Berdasarkan Teori “Natural Grammak” Chomsky

0
57

Oleh

Hodidjah

Widyaiswara Muda

ABSTRAK

Kaidah pemerolehan bahasa pada anak berdasarkan teori “natural grammak” Chomsky ini membahas tentang bagaimana sesungguhnya pemerolehan bahasa pada anak itu terjadi, bagaimana sesungguhnya penguasaan dan memproduksi bahasa itu terjadi dengan tujuam untuk mengetahui daya tangkap anak, proses pengetahuan suara menjadi pesan serta mampu memperoleh pesan itu sendiri ke dalam bahasa dengan pendekatan teori Chomsky yaitu teori tata bahasa alami (sebuah tata bahasa kebenara Tuhan) Hasilnya pemerolehan bahasa pada anak telah dikondisikan dalam ingatan sehingga anak siap mempelajari kaedah bahasa.

Kata kunci: kaidah, pemahaman, memproduksi, ujaran dan bahasa

 

A. Pendahuluan

Pertumbuhan dan perkembangan manusia memerlukan waktu yang lama dan panjang serta terdiri atas fese-fase yang memiliki cirri-ciri sendiri. Diantara fase-fase itu, fase pertumbuhn awal atau tingkat pertumbuhan anak-anak merupakan fase yang perlu mendapat perhatian karena memiliki arti penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia pada masa selanjutnya terutama pada aspek pemerolehan bahasa.

Mengingat pemerolehan bahasa merupakan aspek penting yang menandai fase dan cirri perkembangan dan pertumbuhan seorang anak, Dardjowidjoyo (1996) melakukan penelitian terhadap pemerolehan bahasa  cucunya sendiri yang bernama Echa. Penelitian pemerolehan bahasa Echa dimulai dari usia 0-5 tahun.

Pembicaraan tentang pemerolehan bahasa pada anak ini semakin menarik untuk dibahas mengingat tidak banyak orang mencermati (terutama masyarakat awam termasuk para orang tua yang membesarkan anaknya). Bagaimana sesungguhnyan pemerolehan bahasa pada anak itu terjadi. Kita hanya tahu tiba-tiba seorang anak sudah dapat bicara. Tidak pernah terbayang sebelumnya bagaimana ujaran-ujaran itu diperoleh dan akhirnya digunakan oleh seorang anak sebagai alat berkomunikasi.

B. PERMASALAHAN

Berdasarkan fenomena di atas, masalah dalam tulisan ini adalah: “Bagaimana Sesungguhnya proses penguasaan dan pemproduksian bahasa (ujaran) itu terjadi?”

C. PEMBAHASAN

Teori-teori tentang pemerolehan bahasa sudah banyak ditulis para ahli

(linguis barat). Teori yang dipakai dalam tuisan ini menggunakan teori Chomsky yaitu tata bahasa alami (sebuah tata bahasa kebenaran Tuhan).

2. Tata Bahasa Alami: Sebuah Tata Bahasa Kebenaran Tuhan

Ahli bahasa ‘Kebenaran Tuhan mecoba menjelaskan bahasa dalam kaitannya dengan psikologi. Ini berbeda dengan Hocus-Pocus atau pendekatan permainan ‘matematika’, Pendekatan ini menggunakan teori kecerdasan artificial oleh sebab itu teori tersebut memperagakan kemampuan pembicara bukan dalam istilah manusia (sebagai mahluk yang menggunakan perasaan) tetapi istilah proses computer (kerja mesin). Sebuah kalkulator dapat memecahkan masalah matematika yang dilakukan manusia, tanpa ingin mengatasi bahwa teori kecerdasan artificial tidak ada gunanya.

Menurut teori ini kemampuan linguistic anak dilakukan melalui proses kompetensi yaitu penguasaan tata bahasa tanpa disadari- kompetensi meliputi tiga kemampuan berbahasa yaitu, fonologi, sintaksis, dan semantic- dan proses performans yang terbagi menjdi dua, yaitu pemahaman dan menghasilkan kalimat-kalimat.

Teori tata bahasa alami beranjak dari prinsip-prinsip tata bahasa berkembang dalam ketiadaan produksi suara dan pemahaman bahasa lebih dahulu berkembang daripada pemproduksian ujaran bahasa.

Ada banyak anak yang dilahirkan bisu. Orang seperti ini lahir dengan lumpuh (karena otak yang luka) atau  pada beberapa kelainan yang lain yang terdapat pada organ artikulasi sebagai alat ucap. Anak yang bisu tetapi mendengar dapat mengembangkan kemampuannya untuk menghasilkan ujaran, tetapi, bagaimana anak tersebut dapat memahami kalimat? Baiklah, kalimat yang dapat mereka pahami mencerminkan karakteristik utama bahasa, yaitu pemahaman dari suatu jumlah kalimat tata bahasa yang tidak terbatas.

Pemahaman dan proses produksi yang selalu mecoba untuk mengikuti pemahaman karena anak memperoleh sebuah aspek bahasa dalam pemahaman, kemudian anak bisa mencoba memikirkan bagaimana menggunakannya di dalam produksi. Oleh sebab itu, anak mencoba untuk menyelaraskan pemproduksian bahasa dengan mengaitkan system yang telah dikembangkan untuk dipahami (Clark dan Hecht dalam Steinberg, 2001:37).

Huttenlocher (dalam Steinberg, 2001:37) yang mengadakan penelitian terhadap empat orang anak yang berusia 10 sapai 13 bulan dan di atas periode enam bulan. Ia menemukan bahwa anak-anak dapat memahami suara pada suatu tingkatan melebihi yang telah , melebihi yang telah mereka kembangkan di dalam produksi. Dapat disimpulkan bahwa bagi anak normal, seperti halnya anak-anak yang bisu, pemahaman ujaran adalah dasar bagi pembentukan tata  bahasa di dalam pikiran, ini tidak dikatakan bahwa produksi suara bukan suatu yang tidak penting. Ini jelas sekali, namun demikian, produksi adalah proses kedu (tambahan) dan ini kemungkinan berasal dari tata bahasa yang berdasarkan paa proses pokok (utama) pemahaman ujaran.

Dalam suatu tata bahasa pemahaman kebenaran tuhan-selanjutnya tersebut tata bahasa dasar (alami)-performance pemahaman suara akan Nampak seperti skema di bawah ini.

Proses pembentukan pemahaman bunyi ujaran tata b ahasa alami.

Bunyi ujaran——– memahaman tata bahasa——–arti

 

3. Pemerolehan Bahasa Anak Berdasarkan Tata Bahasa Alami

Berdasarkan tata bahasa alami Chomsky pemerolehan bahasa anak telah dikondisikan dalam ingtan sehingga anak siap dikondisikan dalam ingatan sehingga anak siap mempelajari kaidah bahasa. Selanjutnya kaidah berkembang pada pemahaman ujaran bahasa dan pada akhirnya mampu memproduksi ujaran bahasa dan pada akhirnya mampu memperoduksi ujaran bahasa. Atas dasar kaidah tersebut, prinsip tata bahasa alami adalah sebagai berikut.

(1) Anak Berusaha Memahami “Dunia” mereka

Anak yang baru lahir menemukan dirinya (entitas) dalam dunia fisik eksternal dan internal, masing-masing berusaha untuk dipahami. Bayi megenali dunia fisik melalui perasaannya dan memahami sejumlah kesatuan dasar, benda, peristiwa, dan keadaan. Melalui pelaksanaan psikologi bayi melengkapi dan menilai sebuah entitas. Entitas yang dikenal umum dan tugas psikologi adalah pemahaman bayi dengan mencari pengertian pemahaman mental mengenai rasa lapar, haus, sakit, merumuskan dorongan, dll. Dalil ini seperti predikat, argument, penunjuk, dan hubungan dengan dalil yang lain yang lain menjadi esensi dari sebuah system yang teratur dan dapat dimodifikasi melalui cara yang berbeda. Kaidah tersebut berlaku secara umum (universal) untuk semua manusia. Setelah bayi memiliki persepsi yang banyak tentang berbagai aspek mengenai dunia, mereka mulai belajar bahasa. Anak-anak mulai saat belajar melalui mendengar ujaran berupa objek, situasi, dan pengenalan lingkungan. Pada gilirannya motivasi anak terhadap dalil dan struktur tata bahasa dalam memahami makna ujaran orang lain menjadi lebih baik.

(2) Wujud Mental Dasar Berasal dari Dunia Fisik

Mari kita memikirkan beberapa kesatuan mental dasar yang berkaitan dengan dunia fisik yang akan dipelajari bayi. Kami akan memberikan beberapa contoh dari tiap-tiap penggunaan ketentuan terlampir dalam tanda petik tunggal, hal yang menunjukkan gagasan: (1) objek, ‘ibu’, ‘ayah’, ‘tangan’, ‘anjing’, ‘selimut’, ‘bola’, ‘pisang’; (2) pelengkap objek (penunjuk sifat): ‘besar’, ‘kecol’, ‘hitam’, ‘lembut’, ‘bauk’, ‘busuk’; (3) peristiwa yang menunjukkan benda terlibat dalam suatu tindakan atau gerakan: ‘ibu sedang berjalan’, ‘anjing menggonggong’, ‘bola berputar’: (4) keadaan yang menunjukkan objek terlibat dalam hubungan yang statis (tidak aktif): ‘pisag di atas meja’ , ‘anjing berada di belakang kursi’, ibu sedang berdiri dekat pintu’ , (5) atribut yaitu kata yang menentukan sifat dan evaluasi peristiwa dan keadaan, begitu banyak ragam atribut, modifikasi dan evaluasi, seperti ‘baik bagi saya’ dan ‘buruk bagi saya’ dapat ditentukan dengan peristiwa dan keadaan.

Pemahaman anak terhadap realita dunia fisik membangun wujud mental dasar, seperti anjing menggonggong <jahat melakukan saya> dan pisang itu di atas meja <bagus, rasanya manis>, jadi, gagasan melibatkan benda sebagai argument berkembang pada anak disertai dengan sikap anak, evaluasi, dan lain-lain dari kata yang membentu suatu jaringan pengetahuan yang meliputi banyak hal, Steinberg (2001:37).

 

(3) Anak-Anak Mewaspadai dan Memahami Dunia Mentalnya Sendiri.

Pada saat yang sama anak-anak berusaha untuk memahami dunia luar, mereka juga berusaha untuk mengerti dan mengatur dunia subjektifnya sebagai bagian dari pengalaman mental dan pemikiran. Mereka belajar untuk membedakan ide tertentu menyangkut pengalaman tertentu seperti panas, dingin, gatal, luka, rasa, nyaman. Mereka juga merumuskan pikiran (untuk tidak bingung dengan kalimat, yang mencerminkan pemikiran) dengan menggunakan ide-ide ini atau lainnya yang dapat mereka petik dari pengalaman dunianya. Pemikiran itu dapat berupa ‘kompor itu panas <buruk, melukai jari saya>.

(4) Anak-Anak Menggabungkan dan Mengatur Pengetahuan dari Dunia Fisik

     dan Mental

            Karena waktu berlalu dan pengalaman anak semakin lama semakin banyak, anak menggabungkan banyak pengetahuan mengenai dunia fisiknya. Anak belajar mengenali ragam benda, atribut dan bagaimana mereka menggambarkan ke dalam peristiwa dan keadaan. Gagasan dan pemikiran ini berkaitan dengan pengalaman anak lebih jauh. Seperti hewan, anak bisa belajar banyak tentang lingkungan bahkan dalam ketiadaan bahasa. Namun demikian, karena waktu berjalan terus, satu gambaran unik terhadap lingkungan yang menarik perhatian anak adalh bunyi ujaran. Anak memperhatikan benda-benda, peristiwa dan keadaan di lingkungannya, memaknai bunyi ujaran sebagai bahaya atau bunyi ujaran sebagai tantangan yang harus diwaspadai.

 

4. Perkembangan Tata Bahasa

(1) Pembentukan Kosa Kata

            Dalam mengamati lingkungannya, anak-anak pada dasarnya heran mengapa orang membuat bunyi ujaran yang mereka lakukan dan mereka cari untuk membuat arti fenomena ini. Mereka mencari keseragaman dan pada akhirnya mereka perhatikan bahwa bunyi ujaran tertentu terjadi dalam ubungannya yang dekat dengan benda tertentu, peristiwa atau keadaan yang asing bagi mereka. Contohnya, mereka memperhatikan bahwa bunyi ‘pisang’ diucapkan oleh seseorang ketika pisang diberikan kepada mereka, kemudian bunyi ‘mama’ dibuat ketika seorang wanita tertentu masuk ke dalam ruangan, anak khususnya belajar kata-kata yang artinya sudah ada dalam pikirannya sebagai contoh, konsep ;kucing’, Anak juga bisa belajar kata-kata ketika gagasan baru seperti gajah yang dialami dengan bunyi suara <gajah>.

Anak yang tidak memiliki gagasan mengenai ‘kucing’ atau gagasan lain tidak bisa diharapkan untuk memperoleh arti. Bunyi suara ‘kucing’ tidak masalah berapa kali dikatakan kepada mereka tanpa benda (kucing) atau beberapa petunjuk terhadapny. Tidak ada kualitas khusus pada bayi kata yang member kunci sebagai arti. Bahkan pada gagasan yang dimiliki anak, seperti ‘kucing’ gagasan apa yang dapat ditunjukkan. Anak membutuhkan beberapa hubungan terhadap bunyi suara yang diamati dari sebelum anak tersebut bisa memulai untuk menghubungkan arti pada bunyi itu.

Apabila anak-anak belajar memahami arti kata yang diucapkan seperti ‘dog’, ‘run’, dan ‘jump’ mereka menyimpan pengetahuan bahasa ini dalam sebuah kosa kata ‘mental yang termasuk tidak hanya kata-kata tetapi frase yang terjadi dan kalimat-kalimat, seperti ‘roti dan mentega’, ‘anak yang baik, ‘jangan sentuh’, dan ‘kemari’.

Pada awalnya, anak adalah penerima bunyi suara yang pasif, contohnya ‘kucing’, dengan satu cara, dari bunyi konsep. Jadi pada kosa kata dalam pikiran anak yang masuk pada dasarnya dari bentuk:

Masukkan kosa kata: bunyi ujaran…..konsep

 

Konsekuensinya, apabila anak mendengar tanda yang asing dalam dunia fisik, anak dapat menemukan konsepnya dengan cara menunjukkan bunyi suara yang telah dia simpan dalam pikirannya. Dengan cara ini, tidak hanya arti kata tetapi dari seluruh frase dan kalimat dapat dimengerti dengan langsung tanpa proses tata bahasa. Untuk hal yang asing dan benda-benda novel sebuah analisis bahasa diperlukan.

(2) Perkembangan Morfologi

            Pada saat melalui pengalaman suara dan analisis anak terhadap lingkungan fisik dam jiwa, anak-anak belajar memahami arti kata-kata umum, anak-anak belajar bagian dan memahami ragam bagian kata terus-menerus, inpleksidan dan morfem kata, yang berkaitan dengan kata-kata. Pelajaran ini berdasarkan pada analisa infut bunyi ujaran. Anak membuat hipotesis berkaitan dengan suara yang dia dengar dan dengan menggunakan hipotesis berkaitan dengan suara yang dia dengar dan dengan menggunakan hipotesis pada bentuk suara asal, asal mula arti morfem. Ini adalah aturan dasar yang digunakan anak ketika anak itu kemudian mencoba untuk berbicara.

Setelah anak mulai berbicara, kesalahan sering menunjukkan pernyataan pada pemahaman anak yang  yang menyangkut morfologi. Oleh karena itu, apabila anak mengatakan sesuatu seperti “breaked, ‘goed, “mouses, dan “sheeps, ini menunjukkan mental anak terhadap aturan-aturan yang mendasari kata aturan lampau (past tense) dan aturan jamak (plural dan singular). Oleh karena itu, pada saat kita menggunakan data produksi untuk menunjukkan pengetahuan pemahaman, itu harus selalu hadir dalam ingatan bahwa data produksi suara adalah pencerminan yang terbik dari pengetahuan bahasa abstrak yang telah didapat sebelumnya oleh anak melalui pemahaman.

(3) Perkembangan Sintaksis

            Dalam ingatannya, anak-nak memiliki pikiran dan wawasan terhadap lingungan dan diri mereka. Anak selamanya memikirkan tentang dunianya, benda, dan kehidupa di dalamnya. Oleh karena itu apa yang harus dilakukan anak dalam belajar untuk memahami struktur sintaksis dari ujaran itu adalah mengenali: (1) predikat-kata kerja, kata sifat dan yang berkenan dengan preposis dan konjungsi; (2) argument-kata benda dan frase kata benda dengan peranan semantiknya, (3) hipotesis, sintaksis untuk unsure-unsur ini dari sebuah kalimat diungkapkan.

Pengethuan arti kat benda sebelumny adalah sangat penting karena tanpa pengetahuan itu anak akan memiliki sedikit kesempatan dalam menebak hubungan predikat yang diungkapkan dalam preposisi suara.

(4) Kata Benda, Sususnan Kata, Preposisi sebagai Indikator dari Peran dan

      Argumen.

Sebagai sebuah bahasa, bahasa Inggris umumnya mengandalkan arti kata benda (klausa kalimat) untuk  menandakan sebuah argumen dan pada susunan kata dan preposisi untuk menandakan sifat argument tertentu. Contoh di dalam kalimat: ‘Mary member permen kepada monyet’; mary, permen dan monyet adalah kata benda atau frase benda dengan arti yang menunjukkan status argument.

Tiap-tiap (frase benda)  menyajikan peranan yang berbed dengan kata kerja predikat ‘memberi’, keterangan struktur pada anak bahwa frase benda yang pertama sebelum kata kerja, ‘mery’ adalah sebuah argument, frase kta benda secara langsung mengikuti kata kerja dan tanpa preposisi, permen, adalah sebuah objek argument, sedangkan frase kata benda mengikuti kata kerja dan dengan preposisi <ke> ‘monyet’ adalah argument penerima,

Pada awalnya, anak hanya dapat menafsirkan beberapa tanda sintaksis dan mengandalkan arti kata benda dan kata kerja, jadi, dengan struktur kalimat yang umum yaitu frase benda + kata kerja + (frase kata benda). , contohnya, ‘anjing melompat’, ‘anjing memburu kucing’, juga untuk argument nama diri identifikasi, arti preposisi seperti halnya susunan frase kata benda harus dipeljari.

Fungsi kata-Kata Lainna dan Infleksia

Ini terdapat dalam konteks yang mencoba untuk memahami frase dan kalimat yang beragam dengan fungsi lain reposisi lainnya. Pengenalan sesuatu disertai peristiwa atau situasi yang dirasakan di dalam lingkungan, anak harus menebak arti dan fungsi kata. Ini termasuk kata kerja bantu (will, can), fakor (the a this), kata bantu (do, be, have) dan konjungsi (and, but, if). Sudah lama hal tersebut sudah dimengerti.

Ucapan  yang tidak memiliki efek yang diinginan anak yang bisa menyebabkan anak membuat hipotesa lain. Mengenal bahasa dan maksud dari orang lain. Dalam pengertian ini , produksi, proses skunder (kedua) dapat memiliki pengaruh yang baik/berakibat baik pemahaman, proses kedua.

Perkembangan Struktur Kompleks

Anak-anak belajar memahami kompleksitas yang mendasari kalimat negate, kalimat pertanyaan, kalimat dengan klusa relative, pasif, dan lain-lain. Kemudian dengan proses penebakan arti dari susunan suara yang tidak dikenal, hanya kemudian anak bisa mencatat bagaimana arti tersebut diungkapkan dalam ujaran ini adalah susunan kalimat yang aitannya dengan benda yang relevan, peristiwa, dan keadaan di dalam lingkungan yang memberikan nk kunci seagai arti.

Pada masa hipotesis anak mengenai prinsip dan aturan yang mendasari peristiwa suara membawa buah-buahan. Dalam hal ini pengetahuan dari struktur sintaksis kompleksitas dibentuk ke dalam tata bahasa di dalam ingatan anak. Harus diatat bahwa tata bahasa tersebut dilengkapi dengan pemahamn-ada suatu petunjuk dimana suara diberikan sebagai infut pada tata bahasa tersebut supaya arti dalam hubungannya dengan kerangka proposisi dapat diberikan sebagai output.

Setelah anak memahami banyak bentuk negative, gambaran tersebut akan muncul dalam produksi. Karena anak maju dalam pengethun pemahmn sintaksis, maka kemajuan ini akan dicerminkan dalam kualitas dari ucapan negatifnya. Kemudian, pengertian proses pemahaman kalimat adalah sebagai berikut:

Proses pembentukan pemahaman surara dalam tatabahasa dasar/alami

Ujaran—–pemahaman tata bahasa——arti

 

5. Pemproduksian Ujaran

(1) Kosa Kata

Seperti kosa kata yang sudah kita tulis sebelumnya untuk pemahaman, sebuah kosa kata pada awalnya masuknya dalam ujaran dan berakhir dengan arti, yaitu: suara—arti.  Kosa kata harus disusun berdasarkan bunyi suara untuk tujuan suara yang jelas. Urutan bunyi yang serupa atau berbeda dari yang lainnya akan lain dan terdaftar pada sebuah basis. Untuk memahami ujaran yang diucapkan dalam nilai normal, yang cukup tepat, orang harus memiliki yang diucapkan dalam nilai normal, yang cukup tepat, orang harus memilki akses ujaran, tanpa itu arti yang berkaitan akan tidak mungkin dapat ditemukan.

Sebaliknya, sebuah kosa kata yang disusun untuk tujuan produksi harus memberikan arti—susunan dasar. Orang yang ingin mengucapkan sebuah kalimat akan memiliki kosa kata yang berkaitan dengan artinya supaya ujaran yang jelas serupa dapat dilihat bagi produksi.

Untuk tujuan produksi kita akan mengakses menggunakan kerangka proposional, sebagai pedoman. Kita tahu apa yang kita pikirkan untu mengungkapkan tetapi kita harus menemukan cara untuk mengucapkannya dengan suara. Kita menginginkan kosa kata kita untuk masuk daftar pada basis arti, yaitu: arti—–suara. Sebenarnya, kita memerlukan jenis semua mental/jiwa.

Kita dapat mengatakan bahwa masuknya kosa kata berkaitan dengan bunyi dan arti, dan itu bukan petunjuk yang dipakai. Kenyataannya kita mendengar suara lebih banyak daripada bunyi yang kita buat terhada hubungan arti.

Namun demikian,, agar menghsilkan bunyi suara, arti—–bunyi, kita harus mengakses kosa kata yang sama. Bagaimanapun, arti harus disusun  dengan kaitannya pada ragam komunikasu dan bidang semntik. Itu harus menjadi jaringan arti bahwa pemikian bisa menerima dan dari arti itu memperoleh suara yang didatangkan oleh arti tersebut.

(2) Perkembangan Artikulas dan Tahapan Perkembangan Suara

Ada variable besar seperti ketika anak-anak mulai mengucapkan kata-katanya. Seorang anak kemungkinan bisa mengatakan kata pertamanya pad usi 5 bulan sedangkan yang lainnya tidak bisa mengatakan kata pertamanya sampai sekitar 2 tahun. Kenyataan tersebut buanlah cara yang menunjukkan bahwa anak yang tertunda memliki sedikit susunan konseptual dari dunia atau memahami sedikit kata.

Tanpa diragukan lagi, beberapa variable harus dibuat dengan perkembngan fisik dengan kaitannya pada pengucapan suara dan hubungannya harus dibentuk di dalam otak (Bates et al..,1992). Ini tidak mudah membuat bunyi suara tertentu. Otak anak harus membentuk hubungan untuk memilih rangaian kata dan untuk megucapkannya dalam suatu tahapan. Pemahaman bunyi ujaran tidak sulit karena tahpn itu sendiri diberikan sebagai infut. Seorang anak memasukkan satu tingkatan kata atau sejumlah kata-kata tunggal yang terpsah (Scolion, 1976, Bloom, 1973)

(3) Produksi dari Pemahmn: Perkembangan dari Sebuah Modul Produksi Kat

     Kerja Bantu

Memiliki sintaksis yang berdasarkan pada pemahaman untuk memakainya karena untuk memungkinkan proses produksi suara adalah penting bagi anak dalam menhasilkan banyk kalimat. Ini bukan suatu perihal dari pembalikan fungsi, operasi, dan aturan ini (fungsi/operasi/prinsip) tidak akan memberikan hasil yang diinginkan.

Ini adalah aplikasi modul produksi terhadap pemhaman tata bahasa dan interaksinya yang membolehkn anak untuk menghasilkan kalimat suara secara sintaksis. Karena pengetahuan ilmu bahasa pada anak dalam pemahaman tata meningkat, dan anak mencoba menggunakan pengetahuan itu dalam produksi, isi modul akan disesuaikan.

6. Bagan Tatabahasa Alami

Proses pemahaman suara dan produksi bunyi ujaran disampaikan oleh tata bahasa alami. Dalam pemahaman proses, bunyi suara adalah input yang diproses dengan pemahaman tata bahasa untuk untu memberikan arti yang disajikan sebagai input pada modul produksi kata, yang strateginya berhubungan dengan pemahaman tata bahasa untuk memberikan bunyi seperti output. Proses ini digabungkan dalam tata bahasa alami.

 

D. KESIMPULAN  

            Berdasarkan tata bahasa alami Chomsky pemerolehan bahasa anak telah dikondisikan dalam ingatan sehingga siap mempelajari kaidah bahasa selanjutnya berkembang pada pemahaman ujaran bahasa dn pada akhirnya mampu memperoduksi ujarn bahasa.

Dalam mengkondisikan ingatan untuk mempelajari kaidah bahasa anak (1) anak berusaha memahami “dunia” mereka; (2) wujud mental dasar berasa dari dunia fisik; (3) anak-anak mewasadai dan memahami dunia mentalnya sendiri (4) anak-anak menggabungkan dan mengatur pengetahuan dari dunia fisik dan mental.

Perkembangan tata bahasa anak berkembang melalui; (1) pembentukan kosa kata; (2) perkembangan morfologi; (3) perkembangan sintaksis; dan (4) kata benda, susunan kata, preposisi sebagai indicator dan peranan frase benda dan argument.

Sedangkan perkembangan pemproduksian ujaran bahasa anak berkembang melalui: (1) kosa kata; (2) perkembangan artikulasi dan tahapan perkembangan suara; dan (3)  produksi dari pemahaman perkembangan dari sebuah modul produksi kata kerja bantu.

DAFTAR  BACAAN

Clark dan Hecht dalam Steinberg, 2001. Instructional Strategy Philadelfia JohnWiley & Sons.

 Dick, Walter and Lou Carrey, 1995. The Sistematic Disain of Instruction. London.

England. Scott Foresman and Company.

 Damono, Sapardi Djoko, 1994. Hujan Bulan Juni, Jakarta:Grasindo

1998. Nasib Sasra di Sekolah, Dalam Basis. No. 01.02

Januari-Februari, 1998.

Darma Budi, 1994, Solilokui, Jakarta:Gramedia.

Depdiknas, 2002a. Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Taman Kanak-

Kanak Sekolah Dasar, dan sekolah Menengah. Kebijakan Umum.

Jakarta.

Depdiknas, 2002b. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah

            Pembelajaran Kontekstual Jakarta.

Endaswara, Suwardi, 2003. Metode Peneltian Sastra. Yokyakarta.

Pustaka Widyatama

Steinberg, Danny D. Et All. 2001. Psycolingistics: language, Mind and Word.

England: Pearson Education.

Soedarso. 2006. Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakata

Gramedia Pustaka Utama.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.