IMPLIMENTASI DIKLAT SUBTANTIF BAHASA ARAB JENJANG PENDIDIKAN MI, MTs DAN MA

0
40

Oleh: Muhammad Tontowi, S.Ag.

Abstract

Secara sosiolinguistik, bahasa dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkaitan, keduanya memiliki hubungan mutualistik; antara yang satu dengan yang lain saling ada ketergantungan, membutuhkan, dan menguntungkan. Ujaran dan bunyi jelas disebut sebagai bahasa jika berada dan digunakan oleh masyarakat. Demikian pula, masyarakat tidak dapat eksis dan bertahan (survive) tanpa adanya bahasa yang digunakan sebagai alat berinteraksi dan berkomunikasi di antaramereka.Bahkan, lembaga–lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat pun dipertahankan dan dikembangkan dengan menggunakan alat yang bernama bahasa.Peran bahasa bagi kehidupan manusia demikian penting sehingga pengajaran bahasa menuntut kecermatan, tujuannya agar bahasa bermakna fungsional. Oleh karena itu, terdapat perbedaan filosofi antara belajar berbahasa dengan belajar pengetahuan yang lain. Belajar pengetahuan pada umumnya, seseorang dituntut untuk mengetahui secara kognitif, afektif, dan psikomotor.

Kata Kunci: Implimentasi, Karakteristik, Metode, , Filosofi, Sistem, Makna, Nilai

  1. Pendahuluan

          Secara sosiolinguistik, bahasa dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkaitan, keduanya memiliki hubungan mutualistik; antara yang satu dengan yang lain saling ada ketergantungan, membutuhkan, dan menguntungkan. Ujaran dan bunyi jelas disebut sebagai bahasa jika berada dan digunakan oleh masyarakat. Demikian pula, masyarakat tidak dapat eksis dan bertahan (survive) tanpa adanya bahasa yang digunakan sebagai alat berinteraksi dan berkomunikasi di antara mereka.
Bahkan, lembaga–lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat pun dipertahankan dan dikembangkan dengan menggunakan alat yang bernama bahasa. Jadi, tiada aktivitas dalam kehidupan ini yang dapat dipisahkan dari bahasa.1

             Peran bahasa bagi kehidupan manusia demikian penting sehingga pengajaran bahasa menuntut kecermatan, tujuannya agar bahasa bermakna fungsional. Oleh karena itu, terdapat perbedaan filosofi antara belajar berbahasa dengan belajar pengetahuan yang lain. Belajar pengetahuan pada umumnya, seseorang dituntut untuk mengetahui secara kognitif, afektif, dan psikomotor.

         Urgensi suatu bahasa dapat dilihat dari fungsinya yang mempunyai peran penting bagi kehidupan manusia. Menurut Halliday (1976:43) ada tiga fungsi, yaitu ideational, interpersonal, social, dan textual. Dari fungsi ini, kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari bahasa. Bahasa dan manusia bagaikan dua sisi mata uang yang apabila hilang salah satunya, maka kehidupan ini tidak banyak memberi makna bagi dirinya dan orang lain. Oleh sebab itu, penciptaan manusia seiring dengan penciptaan kemampuan berbahasanya, dan hanya manusialah yang memiliki bahasa yang sebenarnya.

         Di sini akan terlihat bahwa bahasa memberi pengaruh yang kuat kepada masya-rakat,   hidup manusia. Kita tidak berhenti belajar bahasa selama masih ada manusia di muka bumi ini.

         Fungsi-fungsi bahasa Arab bagi pemelajar/mahasiswa merupakan kebutuhan yang penting, karena ia telah menjadi bahasa agama, bahasa komunikasi resmi antar bangsa (PBB), bahasa dunia Islam, bahasa perdagangan, bahasa ekonomi dan perbangkan Islam, bahasa kebudayaan, bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa hukum, bahasa gaul, dsb. Hal ini menarik para ahli untuk memperbincangkan dan melakukan studi sebagaimana layaknya bahasa-bahasa yang terkenal lainnya, seperti bahasa Inggris, Mandarin, dsb.

           Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk komunikasi Allah SWT dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa al-Quran. Bahasa yang telah dipilih oleh Allah SWT ini adalah bahasa yang paling kaya dan sempurna di antara bahasa-bahasa yang ada di bumi ini. Suatu bahasa yang tetap akan terjaga asholah-nya (keaslian) sampai hari qiyamat, tak akan terkontaminasi oleh lajunya peradaban dunia.

      Untuk itu kita mempunyai kewajiban untuk terus berusaha medalami dan mensyiarkannya dalam kehidupan sehari hari. Asy Syahid Hasan Al Banna telah mewasiatkan: takallamul lughatal arabiyatal fushkha fainnaha min syaairil islam (Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini merupakan bagian dari syiar Islam). Shahabat Umar bin Khattab RA. pernah mengatakan: taallamul lughatal arabiyah fainnaha min diinikum (Pelajarilah bahasa Arab karena dia adalah bagian dari dien kalian). Juga hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dengan sanad dari Malik: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab. Berpangkal dari problematika guru dalam hal mengajarkan  bahasa Arab perlu kiranya dideskripsikan ketrampilan bicara( ta’bir Syafahi ) guru bahasa Arab dipengaruhi oleh kemampuan ( Knowledge and  Skill ) terhadap fonologi / ilm al-Aswath, Metode yang digunakan harus tepat pada setiap tingkat satuan pendidikan ,karena akan berpengaruh pada daya serap pelajar/mahasiswa dalam mempelajari bahasa arab,disamping itu materi yang disampaikan sesuai dengan kemampuan pesera didik agar materi  yang mereka perolah dapat diukur dengan alat atau instrument penilaian yang berbasis pada tingkat kemampuan, hal ini untuk menghindari kesalahan dalam Penyampaian Pembelajaran bahasa Arab terhadap peserta didik Maka perlu kiranya :

  1. Setiap guru bidang studi  bahasa Arab pada setiap tingkat satuan pendidikan khususnya  harus menguasai makna Pembelajaran Bahasa Arab
  1. Peningkatan kemampuan dalam menggunakan Metode Pembelajaran Bahasa Arab disetiap jenjang strata pendidikan mulai tingkat dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi.
  2. Alat Ukur kemampuan dalam penilaian penguasaan bahasa Arab harus standar pada setiap jenjang pendidikan

      Ketiga hal diatas adalah salah satu dari alternatif pengembangan pendidkan bahasa Arab yang dapat dilakukan melalui pendikalatan guru bahasa Arab di  Balai Diklat  Kegamaan  Kementerian Agama Republik Indonesia.

B.Pembahasan

Memperhatikan fungsi-fungsi bahasa di atas, pembelajaran bahasa Arab yang efektif memerlukan paradigma baru dalam merancang materi ajar dan pembelajarannya.

             Teori-teori yang berkaitan tentang pembelajaran membicarakan dua hal, yaitu pembelajaran sebagai suatu sistem yang terdiri atas sejumlah sub sistem yang saling berkait dan mempunyai fungsi masing-masingnya. Di sini, pembelajaran bahasa Arab harus dapat merumuskan tujuan, pende-katan, metode, teknik, evaluasi, dan tenaga pengajar yang tepat.

Tujuan pembelajaran bahasa Arab yang dibutuhkan hari ini adalah :

1. Membentuk peserta didik terampil mendengar dan berbicara (maharah istima’-kalam)    

    dengan topik-topik yang komunikatif dan kontekstual

 2.Terampil membaca dan menulis bahasa Arab (maharah qira’ah-kitabah), yaitu membaca    

    Teks topik-topik tentang sosial keagamaan dan keprodian, serta menulis, yaitu           

     melambangkan huruf/ kata-kata bahasa Arab dengan baik dan benar) dalam konteks    

     kebutuhannya hari ini dan  ke depan.Tujuan ini terlihat bahwa fokus pembelajaran bahasa    

    Arab untuk berkomunikasi, yaitu pembentukan keterampilan berbahasa; bukan kepada   

    pengetahuan bahasa. Pengetahuan bahasa bersifat terapan; bukan teoritis.

           Sesuai dengan tujuan di atas, pendekatan pembelajaran yang efektif mencakup empat :

(1) Pendekatan humanistik melihat bahwa pembelajaran bahasa Arab memerlukan keaftifan peserta didiknya, bukan pengajar. Peserta didiklah yang aktif belajar bahasa dan pengajar berfungsi sebagai motivator, dinamisator, administrator, evaluator, dsb.Pengajar harus meman-faatkan semua potensi yang dimiliki peserta didik.

(2) Pendekatan komunikatif melihat bahwa fungsi utama bahasa adalah komunikasi.Hal ini berarti materi ajar bahasa Arab harus materi yang praktis dan pragmatis, yaitu materi ajar terpakai dan dapat dikomuni-kasikan oleh peserta didik secara lisan maupun tulisan. Materi ajar yang tidak komunikatif akan kurang efektif dan mem-buang waktu saja.

(3) Pendekatan kontekstual melihat bahasa sebagai suatu makna yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan seting-nya. Di sini, rancangan materi ajar harus berdasarkan kebutuhan lembaga, kebu-tuhan peserta didik hari ini dan ke depan.

(4) Pendekatan struktural melihat bahwa pembelajaran bahasa sebagai hal yang formal. Oleh sebab itu, struktur bahasa (qawaid) harus mendapat perhatian dalam merancang materi ajar. Namun struktur harus fungsional agar komunikatif dan praktis.

Qawaid/ grammar yang tidak praktis dan tidak komunikatif dalam

pembelajaran bahasa Arab telah gagal membentuk peserta didik terampil berbahasa, bukan saja bahasa Arab tetapi juga bahasa Inggris.

C. Metode Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran di atas memerlukan metode pembelajaran yang tepat. Plihan yang tepat adalah metode eklektik, yaitu metode gabungan yang mengambil aspek-aspek positifnya baik dari keterampilan maupun pengetahuan bahasa, sehingga mencapai tujuaan dan hasil pembelajaran yang maksimal. Metode eklektif dimaksud mencakup metode percakapan,membaca, latihan, dan tugas.

D. Rancangan Materi Ajar dan Desainnya

1. Materi Ajar Bahasa Arab

Jika kita amati suatu materi ajar bahasa terdiri atas (1) topik materi ajar dan (2) desainnya yang menggambarkan kegiatan pembelajarannya.

Topik materi ajar bahasa Arab yang efektif adalah topik-topik yang  komunikatif dan kontekstual tentang tema keseharian, keagamaan, iptek,

dan keprodian.

2. Desainya pembelajarannya mencakup :

(1) Keterampilan Mendengar dan Berbicara (Istima’-Kalam)

(a) Teks Percakapan yang komunikatif dan kontekstual

(b) Mufradat

(c) Tadribat (Pelatihan)

– Ajril Hiwar kama fil mitsal (Percakapkanlah sbg. contoh)

– Hawwil kama fil mitsal (Rubahlah sbg. contoh)

– Baddil kama fil mitsal (gantilah sbg. contoh)

(d) Al’ab lughowiyah (permainan bahasa)

(e) Wajib (Tugas)

(2) Keterampilan Membaca dan Menulis (Qira’ah-Kitabah)

(a) Teks bacaan yang komunikatif, pragmatik, dan kontekstual

(b) Mufradat

(c) Contoh-contoh teks yang struktural, komunikatif, dan kontekstual

(d) Penjelasan dan kesimpulan (oleh peserta didik atau pengajar)

(e) Latihan Membaca

– Bacalah dengan membunyikan semua baris akhirnya

– Terjemahkan teks bacaan ke dalam bahasa Indonesia standar

– Sebutkan jenis kata yang diberi garis bawah

– Jelaskan terjadinya perubahan baris akhir pada kata yang diberi garis bawah

– Jelaskan i’rab kata-kata yang diberi garis bawah dan alasannya

(setelah peserta didik mempelajari sejumlah materi ajar yang meng-antarnya ke arah ini)

(f) Wajib (Tugas)

E. Pelaksanaan Pembelajaran

Untuk mencapai hasil belajar bahasa Arab yang efektif dan maksimal, lembaga-lembaga pendidikan harus melakukan dua kegiatan, (1) pembe-lajaran, learning, dan (2) pemerolehan bahasa, langguage acquisition. Pembe-lajaran membentuk keterampilan berbahasa secara formal, sedangkan peme-rolehan membentuk pemakaian bahasa secara non formal. Kedua cara ini menuntut pengajar dan petugas untuk mempersiapkan rencana pembelajaran (RP) yang bermutu, yaitu pembelajaran yang terukur dan terkontrol serta adanya komitmen dari semua komponen terkait.

Minat dan motivasi peserta didik/mahasiswa akan tumbuh jika materi ajar didesai dengan baik dan tenaga pengajarnya profesional. Tenaga pe-ngajar tidak boleh mengajar sebelum ada pembelakalan yang diinginkan oleh komitmen lembaga. Sebab keterampilan mahasiswa dalam berba-hasa dan berpengetahuan bahasa berhubungan dengan keterampilan tenaga penga-jarnya.

Cara seperti inilah yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pengajaran bahasa yang ingin membentuk outcome-nya bermutu dan mempunyai ciri yang tampil beda dari yang lainnya

Kesimpulan

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan dalam tulisan ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa, bahasa sebagai sistem yang terdiri dari unsur-unsur fungsional menunjukan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan (integral). hal ini bertititik tolak dari :

1.Urgensi bahasa Arab dapat dilihat dari fungsi dan peranan bahasa Arab bagi kebutuhan    

    masyarakat, karena bahasa Arab telah menjadi bahasa komunikasi internasional, bahasa agama  

    Islam, bahasa ekonomi dan perbangkan syari’ah,bahasa kebudayaan, iptek, dsb.

2. Untuk menjadi pemelajar, ustadz, calon ulama yang bermutu sangat diperlukan

    pemahaman dan penguasaan bahasa Arab.Jika tidak, ia akan mengalami kesulitan untuk  

    membangun dirinya dalam kajian-kajian ilmu keagamaan Islam, dsb.

3. Pelaksanaan pembelaaran yang efektif memerlukan adanya seleksi terhadap materi ajar dan

   desain pembelajaran yang tepat

4. Urgensi bahasa Arab selain sebagai bahasa al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebagai bahasa

    komunitas kaum muslimin di seluruh dunia. Apabila kita menengok sejarah perkembangan

    Islam maka tidak terlepas dari bahasa arab. Hal ini bisa kita lihat pada beberapa negara di 

   Afrika yang sampai sekarang masih menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa ibu   ( bahasa

   sehari-hari). sebagaimana penulis jelaskan di atas.

SARAN

1.Lembaga pendidikan yang mempejarkan bahasa Arab harus merubah paradigmanya, dari

   yang tidak efektif, tidak komunikatid, tidak kontekstual kepada yang efektif, komunikatif,

   dan kontekstual

2. Materi ajar didesain untuk membentuk keterampilan berbahasa dan pengetahuan  

    praktis/terapan.

3. Tenaga pengajar harus terlatih, tidak boleh mengajar sebelum memenuhi syarat yang

    diinginkan lembaga. Maka lembaga pengajaran harus melakukan seleksi terhadap tenaga

     pengajarnya.

Daftar Pustaka

Abi Zakaria Yahya Ibn Syarf al-Nawawy al-Dimasyqy, Riyadh  al-Shalihin, (Beirut: Dar al-Fikr, 2005)

Buku Pedoman Kurikulum Pembelajaran  Membaca al-Qur’an TK. al-Qur’an Sunan, (Ngunut Tulung Agung: Emyu Com, Ltd, 1999)

Caine dan Cane, Educatinal on the Edge of Possibility, (Virginia: Assosiation for Supervision and Curriculum Development, 1997)

Dachlan Salim Zarkasyi,  Qira’aty,  Metode Praktis Belajar Membaca al-Qur’an, (Semarang: Yayasan Pendidikan al-Qur’an Raudhatul Mujawwidin, 1990) jilid I-VI

Nurcholish Madjid, Bilik-Bikip Pesantren, Sebuah Potren Perjalanan, (Jakarta: Paramadia, 1997)

Oemar Hamalik, Perencanaan Pembelajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002)

Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981)

Silberman, Mel., Active Learning, 101 stategies to Teach any Subject, (Boston: Allyn & Bacon, 1986)

Walster dan Berscheid, Equity: Theory and Research, (Boston: Allyn and Bacon, 1978)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.