IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN AKTIF PADA PEMBELAJARAN KIMIA

0
41

        Elsy Zuriyani

Abstrak

Proses pembelajaran kimia yang sering kali dapat menyebabkan kebosanan dan kejenuhan bagi siswa sehingga kurang berminat dan mengakibatkan aktivitas belajar siswa juga menurun. Karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang bisa membuat siswa bisa lebih aktif dalam kelas. Dalam kegiatan belajar mengajar Pembelajaran Berorientasi Aktifitas Siswa diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengarkan, berdiskusi, memproduksi sesuatu, menyusun laporan, memecahkan masalah, dan lain sebagainya. Akan tetapi juga ada yang tidak bisa diamati, seperti kegiatan mendengarkan dan menyimak. Kadar Pembelajaran Berorientasi Aktifitas Siswa tidak hanya ditentukan oleh aktivitas fisik semata, akan tetapi juga ditentukan oleh non fisik seperti mental, intelektual dan emosional. Agar PBAS dapat dilaksanakan dengan maksimal maka dipengaruhi oleh guru dan sarana belajar.

 Kata Kunci : Pembelajaran aktif

 PENDAHULUAN

Dalam proses pembelajaran kimia di beberapa sekolah selama ini terlihat kurang menarik, sehingga siswa merasa jenuh dan kurang memiliki minat pada pelajaran kimia, sehingga suasana kelas cendrung pasif, sedikit sekali siswa yang bertanya pada guru meskipun materi yang diajarkan belum dapat dipahami. Dalam pembelajaran seperti ini mereka merasa seolah-olah dipaksa untuk belajar sehingga jiwanya tertekan. Keadaan demikian menimbulkan kejengkelan, kebosanan, sikap masa bodoh, sehingga perhatian, minat, dan motivasi siswa dalam pembelajaran menjadi rendah. Hal ini akan berdampak terhadap ketidaktercapai tujuan pembelajaran kimia.

Hasil penelitian yang dilakukan selama ini (Sunyono, 2005), ternyata rendahnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang menyangkut reaksi kimia dan hitungan kimia, akibat rendahnya permasalahan yang menyangkut reaksi kimia dan hitungan kimia, akibat rendahnya pemahaman konsep-konsep kimia dan kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran kimia. Disamping itu, guru kurang memberikan contoh-contoh konkrik tentang reaksi-reaksi yang ada dilingkungan sekitar dan sering dijumpai siswa. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk mengoptimalkan pembelajaran kimia di kelas dengan menerapkan pendekatan dan metode yang tepat.

Berdasarkan uraikan di atas, dapat dikatakan bahwa rendahnya aktivitas, minat, dan hasil belajar kimia siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (1) penyampaian materi kimia oleh guru dengan metode demonstrasi yang hanya sekali-kali dan diskusi cendrung membuat siswa jenuh, siswa hanya dijejali informasi yang kurang konkrit dan diskusi yang kurang menarik karena bersifat teoritis; (2) Siswa tidak pernah diberi pengalaman langsung dalam mengamati suatu reaksi kimia, sehingga siswa menganggap materi pelajaran kimia adalah abstrak dan sulit dipahami; (3) Metode mengajar yang digunakan guru kurang bervariasi dan tidak menarik minat siswa. Hal ini menunjukan kompetensi guru kimia yang masih perlu ditingkatkan.

Rendahnya aktivitas belajar siswa dalam mempelajari kimia diduga disebabkan kimia merupakan ilmu yang tidak bermanfaat dalam kehidupannya kelak, selain adanya anggapan bahwa kimia adalah ilmu yang sukar dipelajari. Untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar kimia siswa, guru perlu melakukan upaya peningkatan kualitas pembelajaran melalui kegiatan yang kreatif dan inovatif.

Strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa panduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang. Dari konsep tersebut ada dua hal yang dipahami. Pertama, dipandang dari sisi proses pembelajaran, PBAS menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal, artinya PBAS menghendaki keseimbangan antara aktivitas fisik, mental, termasuk emosional dan aktivitas intelektual (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Artinya dalam PBAS pembentukan siswa secara utuh merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran.

Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi pada aktivitas (PBAS).

Ada beberapa asumsi perlunya pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa. Pertama, asumsi filosofi tentang pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar mengembangkan manusia menuju kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, sosial, maupun kedewasaan moral. Oleh karena itu, proses pendidikan bukan hanya mengembangkan intelektual saja, tetapi mencangkup seluruh potensi yang dimiliki anak didik. Dengan demikian, hakikat pendidikan pada dasarnya adalah: interaksi manusia, pembinaan dan pengembangan potensi manusia, berlangsung sepanjang hayat, kesesuaian dengan kemampuan dan tingkat perkembangan siswa, keseimbangan antara kebebasan subjek didik dan kewibawaan guru, dan peningkatan kualitas manusia.

Ke dua, asumsi tentang siswa sebagai subjek pendidikan, yaitu: siswa bukanlah manusia dalam ukuran mini akan tetapi manusia yang sedang dalam tahapan perkembangan, setiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda, anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif, kreatif, dan dinamis dalam menghadapi lingkungannya, anak didik memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Asumsi tersebut menggambarkan bahwa anak didik bukanlah objek yang harus dijejali dengan informansi, tetapi mereka adalah subjek yang memiliki potensi dan proses pembelajaran seharusnya diarahkan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak didih itu.

Ketiga, asumsi tentang guru adalah: guru bertanggungjawab atas tercapainya hasil belajar siswa, guru mempunyai kode etik keguruan, guru memiliki peran sebagai sumber belajar, pemimpin dalam belajar yang memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi siswa dalam belajar.

Ke empat, asumsi yang berkaitan dengan proses pengajaran adalah: bahwa proses pengajaran direncanakan dan dilaksanakan sebagai suatu sistem, peristiwa belajar akan terjadi manakala anak didik berinteraksi dengan lingkungan yang diatur oleh guru, proses pengajaran alam lebih aktif apabila menggunakan metode dan teknik yang tepat dan berdaya guna, pengajaran memberikan tekanan kepada proses dan produk secara seimbang, inti proses dan produk secara seimbang, inti proses pengajaran adalah adanya kegiatan belajar siswa secara optimal.

Dalam pandangan psikologi modern belajar bukan hanya sekedar menghapal sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi peristiwa mental dan proses berpengalaman. Oleh karena itu, setiap peristiwa pembelajaran menuntut keterlibatan intelektual-emosional siswa melalui asimilasi dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk keterampilan (motorik, kognitif, dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.

Seperti telah dikemukakan dimuka pada bab IV pasal 19 peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisifasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Hal ini menunjukan bahwa mengajar yang didesain guru harus berorientasi pada aktivitas siswa.

PEMBAHASAN

Konsep dan Tujuan Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS)

PBAS dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, dan psikomotor secara seimbang. Dari konsep tersebut ada dua hal yang harus dipahami.

Pertama, dipandang dari sisi proses pembelajaran, PBAS menekankan kepada aktivitas secara optimal, artinya PBAS menekankan kepada aktivitas secara optimal, artinya PBAS tidak hanya bisa dilihat dari aktivitas fisik saja, akan tetapi juga aktivitas mental dan intelektual. Seorang siswa yang tampaknya hanya mendengarkan saja, tidak berarti memiliki kadar PBAS yang rendah dibandingkan dengan seseorang yang sibuk mencatat. Sebab, mungkin saja yang duduk itu secara mental ia aktif, misalnya menyimak, menganalisis dalam pikirannya, dan mengenternalisasi nilai dari setiap informasi yang disampaikan. Sebaliknya, siswa yang sibuk mencatat tidak bisa dikatakan memiliki kadar PBAS yang tinggi jika yang bersangkutan hanya sekedar secara fisik aktif mencatat, tidak diikuti oleh aktivitas mental dan emosi.

Ke dua, dipandangkan dari sisi hasil belajar, PBAS mengehndaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan intelektual (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik). Artinya dalam PBAS pembentukan siswa secara utuh merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran.

Dari konsep diatas, maka jelas bahwa pendekatan PBAS berbeda dengan proses pembelajaran yang salama ini banyak berlangsung. Selama ini proses pembelajaran banyak diarahkan kepada proses mengahafal informasi yang disajikan guru. Ukuran keberhasilan pembelajaran adalah sejauhmana siswa dapat menguasai materi pelajaran pelajaran. Apakah materi itu dipahami untuk kebutuhan hidup setiap siswa, apakah siswa bisa menangkap hubungan materi yang dihafal itu dengan pengembangan potensi yang dimilikinya, bukan tidak menjadi soal, yang penting siswa dapat mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajarinya. Oleh sebab itu, tidak heran kalau proses pembelajaran yang selama ini digunakan tidak memperhatikan hakikat mata pelajaran yang disajikan.

Dari penjelasan tersebut maka PBAS sebagai salah satu bentuk inovasi dalam memperbaiki kualitas proses belajar mengajar bertujuan untuk membantu siswa agar bisa belajar mandiri dan kreatif, sehingga ia dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat menunjang terbentuknya kepribadian yang mandiri. Dengan kemampuan itu diharapkan lulusan menjadi anggota masyarakat yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang dicita-citakan. Sedangkan secara khusus pendekatan PBAS bertujuan:

  1. Meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih bermakna. Artinya, melalui PBAS siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan informasi, untuk kehidupannya.
  2. Mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Artinya, melalui PBAS diharapkan tidak hanya kemampuan intelektual saja yang berkembang, tetapi juga seluruh pribadi siswa termasuk sikap mental.

Peran Guru dalam Implementasi PBAS

Kekeliruan yang kerap kali muncul adalah adanya anggapan bahwa dengan PBAS peran guru semakin berkurang. Anggapan semacam ini tentu saja tidak tepat, sebab walaupun PBAS didesain untuk meningkatkan aktivitas siswa, tidak berarti mengakibatkan kurangnya peran dan tanggung jawab guru. Baik guru maupun siswa sama-sama harus berperan secara penuh, oleh karena peran mereka sama-sama harus berperan secara penuh, oleh karena peran mereka sama-sama sebagai subjek belajar. Adapun yang membedakannya hanya terletak pada tugas apa yang harus dilakukannya. Misalnya, ketika siswa melaksanakan diskusi kelompok atau mengerjakan tugas, tidak berarti guru hanya diam dan duduk di kursi sambil membaca Koran, akan tetapi secara aktif guru harus melakukan kontrol dan memberi bantuan kepada siswa yang memerlukannya.

Dalam implementasi PBAS, guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menfasilitas agar siswa belajar. Oleh karena itu, penerapan PBAS menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga mampu menyesuaikan kegiatan mengajarnya dengan gaya dan karakteristik belajar siswa. Untuk itu ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan guru, di antaranya adalah:

  1. Mengemukakan berbagai alternative tujuan pembelajaran yang harus dicapai sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Artinya, tujuan pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh guru, akan tetapi diharapkan siswa pun terlibat dalam menentukan dan merumuskannya tujuan pembelajaran tidak semata-mata ditentukan oleh guru, akan tetapi diharapkan siswa pun terlibat dalam menentukan dan merumuskannya.
  2. Menyusun tugas-tugas bersama siswa. Artinya, tugas-tugas apa yang sebaiknya dikerjakan oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, tidak hanya ditentukan guru akan tetapi melibatkan siswa. Hal ini penting dilakukan untuk memupuk tanggung jawab siswa. Biasanya manakala siswa terlibat dalam menentukan jenis dan tugas serta batas akhir penyelesaian.
  3. Memberikan informasi tentang kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan. Dengan pemberitahuan rencana pembelajaran, maka siswa akan semakin paham apa yang harus dilakukan. Hal ini dapat mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan kreatif
  4. Memberikan batuan dan pelayanan kepada siswa yang memerlukannya. Guru perlu menyadari bahwa siswa memiliki kemampuan yang sangat beragam. Oleh karena keragamaannya itulah guru perlu melakukan kontrol kepada siswa untuk melayani setiap siswa terutama siswa yang dianggap lambat dalam belajar.
  5. Memberikan motivasi, mendorong siswa untuk belajar, membimbing, dan lain sebagainya melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan
  6. Membantu siswa dalam menarik suatu kesimpulan

Implementasi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) dalam Proses Pembelajaran

 Dalam kegiatan belajar mengajar PBAS diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengarkan, berdiskusi, memproduksi sesuatu, menyusun laporan, memecahkan masalah, dan lain sebagainya. Akan tetapi juga ada yang tidak bisa diamati, seperti kegiatan mendengarkan dan menyimak. Kadar PBAS tidak hanya ditentukan oleh aktivitas fisik semata, akan tetapi juga ditentukan oleh non fisik seperti mental, intelektual dan emosional.

Namun demikian, salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk mengetahui apakah suatu proses pembelajaran memiliki kadar PBAS yang tinggi, sedang atau lemah, dapat kita lihat dari kriteria penerapan PBAS dalam proses pembelajaran.

1. Kadar PBAS dilihat dari Proses Perencanaan

1) Adanya keterlibatan siswa dalam merumuskan indikator sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan serta pengalaman dan motivasi yang dimiliki sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kegiatan pembelajaran

2) Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun rancangan pembelajaran

3) Adanya keterlibatan siswa dalam menentukan dan memilih sumber belajar yang diperlukan

4) Adanya keterlibatan siswa dalam menentukan dan mengadakan media pembelajaran yang akan digunakan

2. Kadar PBAS dilihat dari Proses Pembelajaran

1) Adanya keterlibatan siswa baik secara fisik, mental, emosional maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari tingginya perhatian serta motivasi siswa untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

2) Siswa belajar secara langsung. Dalam proses pembelajaran secara langsung, konsep dan prinsip diberikan melalui pengalaman nyata seperti merasakan, meraba, mengoperasikan, melakukan sendiri dan lain sebagainya.

3) Adanya keinginan siswa untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif

4) Keterlibatan siswa dalam mencari dan memanfaatkan setiap sumber belajar yang tersedia dan dianggap relevan dengan tujuan pembelajaran.

5) Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan

6) Adanya keterlibatan siswa dalam melakukan prakarsa seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan

3. Kadar PBAS ditinjau dari Kegiatan Evaluasi Pembelajaran

1) Adanya keterlibatan siswa untuk mengevaluasi sendiri hasil pembelajaran yang telah dilakukannya

2) Keterlibatan siswa secara mandiri untuk melaksanakan kegiatan semacam tes dan tugas-tugas yang harus dikerjakannya

3) Kemauan siswa untuk menyusun laporan baik tertulis maupun secara lisan berkenaan hasil belajar yang diperolehnya.

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan PBAS

Keberhasilan penerapan PBAS dalam proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

1. Guru

Dalam proses pembelajaran dalam kelas, guru merupakan ujung tombak yang sangat menentukan keberhasilan penerapan PBAS, karena guru merupakan orang yang berhadapan langsung dengan siswa. Ada beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan PBAS dipandang dari sudut guru, yaitu kemampuan guru, sikap profesionalitas guru, latar belakang pendidikan guru, dan pengalaman mengajar.

Kemampuan Guru

Kemampuan guru merupakan factor utama yang dapat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran dengan pendekatan PBAS. Guru yang memiliki kemampuan yang tinggi akan bersikap kreatif dan inovatif yang selamanya akan mencoba menerapkan berbagai penemuan baru yang dianggap lebih baik untuk membelajarkan siswa.

Sikap Profesional Guru

Sikap professional guru berhubungan dengan motivasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Guru yang professional selamanya akan berusaha untuk mencapai hasil yang optimal. Ia tidak akan merasa puas dengan hasil yang telah dicapai. Oleh karenanya ia akan selalu belajar untuk menambahkan wawasan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan

Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Mengajar Guru

Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar guru akan sangat berpengaruh terhadap implementasi PBAS. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, memungkinkan guru memiliki pandangan dan wawasan yang luas terhadap variable-variabek pembelajaran seperti pemahaman tentang psikologi anak, pemahaman terhadap unsur lingkungan dan gaya belajar siswa, pemahaman tentang berbagai model, dan metode pembelajaran.

2. Sarana Belajar

Keberhasilan implementasi PBAS juga dapat dipengaruhi oleh ketersedia sarana belajar. Ketersediaan sarana itu meliputi ruang kelas dan seting tempat duduk siswa, media, dan sumber belajar.

Penerapan Pembelajaran PBAS dalam Pembelajaran Kimia

Dilihat dari materi, dalam pembelajaran kimia bukan hanya membutuhkan pemahaman serta penguasaan konsep saja tetapi dalam mempelajari kimia di sini siswa di tuntut aktif bersama guru untuk menerapkan ilmu yang dipelajari ke dalam pengembangan diri. Siswa juga perlu melakukan suatu pratikum, karena ilmu kimia adalah ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat. Sehingga pelajaran kimia itu perlu diajarkan untuk tujuan yang lebih khusus yaitu membekali siswa pengetahuan, pemahaman, dan sejumlah kemampuan yang dipesyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Oleh Karen itu pembelajaran kimia menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui pengembangan dan keterampilan proses dan sikap ilmiah sehingga dalam mempelajarinya diperlukan suatu pembelajaran yang khusus.

Dalam kegiatan belajar mengajar PBAS diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengar, berdiskusi, memproduksi sesuatu atau melakukan pratikum, menyusun laporan dan memecahkan suatu masalah, karena berdasarkan tujuannya, secara khusus pendekatan PBAS bertujuan, pertama meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih bermakna. Artinya, melalui PBAS siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi untuk kehidupannya. Kedua mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Melalui PBAS diharapkan tidak hanya kemampuan intelektual saja yang berkembang, tetapi juga seluruhnya pribadi siswa termasuk sikap dan mental.

Pada pembelajaran kimia apabila diterapkan sistem pembelajarannya berdasarkan PBAS maka diharapkan bisa meningkatkan nilai dan hasil belajar siswa baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik, karena sistem belajar berdasarkan PBAS ini didesain untuk meningkatkan aktivitas dari siswa, tidak berarti mengakibatkan kurangnya peran dan tanggung jawab guru. Baik guru maupun siswa sama-sama berperan secara penuh, oleh karenanya peran mereka sama-sama sebagai subjek belajar.

Dalam implementasi PBAS terutama dalam pembelajaran kimia guru diharapkan tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar, akan tetapi yang lebih penting guru harus bisa menfasilitasi agar siswa belajar secara aktif. Di mana pada PBAS ini dalam pembelajaran kimia aktivitas dari guru yaitu:

  1. Merencanakan dan mendesain tahap scenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas
  2. Membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai adalah belajar dengan bekerja sama)
  3. Membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa selama pembelajaran pembelajaran berlangsung
  4. Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas belajar siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang setara dan seimbang
  5. Menilai siswa dengan cara transparan dan adil dan harus merupakan penilaian kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut psikomotorik)
  6. Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performatif (penampilan saat presentasi, debat, dll) dan penugasan atau melakukan pratikum
  7. Membuat portofolio pekerjaan siswa

Sedangkan aktivitas dari siswa dalam belajar yaitu:

  1. Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir
  2. Melakukan riset sederhana
  3. Mempelajari ide-ide serta konsep-konsep baru dan menantang
  4. Memecahkan masalah (problem solving)
  5. Belajar mengatur waktu dengan baik
  6. Melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok (belajar menerima pendapat orang lain, siswa belajar menjadi team player)
  7. Mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action
  8. Melakukan interaksi social (melakukan wawancara, survey, terjun ke lapangan, mendengarkan guest speaker)
  9. Melakukan kegiatan/pratikum dengan belajar berkelompok

Namun demikian, salah satu yang dapat kita lakukan untuk mengetahui apakah suatu pembelajaran kimia memiliki kadar PBAS yang tinggi, sedang atau lemah, dapat kita lihat dari criteria penerapan PBAS dalam proses pembelajaran. Kriteria tersebut menggambarkan sejauh mana keterlibatan siswa dalam pembelajaran baik dalam perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran maupun dalam mengevaluasi hasil pembelajaran. Di mana semakin terlibat siswa dalam ke tiga aspek, maka kadar PBAS semakin tinggi, maka dari proses ini diharapkan dapat meningkatkan hasil dan nilai belajar siswa baik secara berkelompok maupun perorang.

KESIMPULAN

Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subejk belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi pada aktivitas siswa (PBAS).

PBAS dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang. PBAS bertujuan sebagai beriktu:

Meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih bermakna. Artinya, melalui PBAS siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah informasi, tetapi juga bagaimaa memanfaatkan informasi itu untuk kehidupannya.

Mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki. Artinya, melalui PBAS diharapkan tidak hanya kemampuan intelektual saja yang berkembang, tetapi seluruh pribadi siswa termasuk sikap dan mental.

Dalam implementasi PBAS, guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana memfasilitasi agar siswa belajar. Oleh karena itu, penerapan PBAS menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga mampu menyesuaikan kegiatan mengajarnya dengan gaya dan karakteristik belajar siswa. Keberhasilan penerapan PBAS dalam proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: factor guru karena guru merupakan ujung tombak yang sangat menentukan keberhasilan penerapan PBAS, factor sarana belajar di mana dalam implementasi PBAS juga dapat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar yang meliputi ruang kelas dan setting tempat duduk siswa, media, dan sumber belajar.

Saran

Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru kimia dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif adalah Strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS). Jadi untuk memberikan variasi dalam proses pembelajaran maka guru dapat menerapkan PBAS.

 

Daftar Pustaka

Depdiknas (2003). Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata                    Pelajaran Kimia SMA dan MA, Jakarta: Departemen                            Pendidikan Nasional.

Sabri, Ahmad. (2007). Strategi Belajar Mengajar dan Micro                        Teaching.Quantum Teaching: Ciputat.

Sadiman Arif;etal, Media Pendidikan, 2007, Raja Grafindo Persada            Jakarta

Sagala Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran.                                 Bandung:Alfabet

Sampurno,A.,2008, Pembelajaran Aktif, WWW.Google.Com.

Sanjaya,W.,2008, Strategi Pembelajaran, Kencana Prenada Media               Group, Jakarta.

Subroto,S., (1997), Proses Belajar Mengajar, Penerbit Rineka Cipta,            Jakarta

Sudarwan Danim, (2002), Inovasi pendidikan Dalam                                      Upaya

Supratman Atwi, 1997, Desain Instruksional, Pusat Antar                               Universitas, Depdikbud, Jakarta.

Sunyono, 2005., Optimalisasi Pembelajaran Kimia pada Siswa Kelas             XI Semester 1 SMA Swadhipa Natar melalui Penerapan                         Metode Eksperimen Menggunakan Bahan yang Ada di                         Lingkungan., Laporan Hasil Penelitian (PTK), Dit.PPTK &                 KPT Ditjen Dikti, 2005.

Torrance,E.P.(1980). A three stage model for teaching for creative                 thinking, AETS yearbook, The Psychology for Teaching For               Thinking and Creativity

West, L.H.T. and Pines, A.L.(1985). Cognitive Structure and                            Conceptual Change, New York: Academic Press.

Winkel, Tjipto & Ruijter, (1995), Peningkatan dan Pengembangan                Pendidikan, Penerbit Gramedia, Jakarta.

Zaini,H, dkk.,2005, Strategi Pembelajaran Aktif, CTSD,                                    Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.