HOMESCHOOLING SOLUSI TEPAT BUAT YANG SIBUK

0
28

By

Miskiah

Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Palembang

Abstract: Homeschooling adalah sebuah system pendidikan alternatif untuk anak selain di sekolah. Dimana saat ini mulai perkembang di Indonesia , dan keberadaanya sah dan dijamin undang-undang. Homeschooling mulai menjadi pilihan masyarakat sebagai alternatif metode pendidikan karena adanya keinginan masyarakat untuk lebih fleksibel dalam mendidik anak, menyediakan system pendidikan yang lebih ramah terhadap perkembangan anak, maupun menjamin bahwa proses belajar mengajar anak bisa terlaksana secara maksimal. Hal ini terjadi karena adanya keinginan para orang tua untuk memberikan pendidikan yang lebih sesuai dengan bakat dan minat sang anak, maupun karena disebabkan adanya  kondisi di system pendidikan konvensional yang tidak bisa memuaskan kehendak orang tua untuk mendidik anaknya.

Keyword: Homeschooling,

 A. Pendahuluan

Homeschooling, mungkin tidak begitu populer di kalangan masyarakat umum. Namun, bangsa Indonesia sudah lama mengenal homeschooling. Sebelum system pendidikan Belanda datang, homeschooling telah berkembang. Di pesantren-pesantren, misalnya, banyak kiai, buya, dan tuan guru secara khusus mendidik anak-anaknya.

Istilah ini pun kembali populer dan bahkan menjadi trend di kalangan orang-orang yang sangat peduli dengan pendidikan berkualitas bagi generasi mudanya. Seto Mulyadi, seorang ahli pendidikan anak ternyata menerapkan homeschooling untuk ketiga putrinya. Nia Ramadhani, seorang bintang sinetron juga menerapkan hal serupa untuk anaknya. Homeschooling juga banyak diterapkan oleh kalangan selebritis yang lain, terutama para artis cilik yang tidak memiliki waktu leluasa seperti anak-anak pada umumnya.

Berbagai kekecewaan terhadap institusi sekolah merupakan alasan utama seseorang memilih homeschooling untuk anak-anaknya (Simbolon, 2008), selain alasan agama (Sumardiono, 2007). Buruknya lingkungan sekolah menjadi alasan yang sangat kuat bagi orang tua untuk tidak memasukkan anaknya di sekolah formal (Sumardiono, 2007). Alasan tersebut diperkuat dengan makin meningkatnya pengangguran akhir-akhir ini, yang itu menandakan bahwa sekolah gagal mencetak manusia-manusia produktif. Sekolah hanya lebih mampu memberi tugas-tugas kepada siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang mengawang-awang, yang siswa tidak mampu menterjemahkan pemahaman terhadap soal tersebut di kehidupannya. Akibatnya siswa kurang kreatif dengan waktu yang habis hanya untuk memikirkan pelajaran-pelajaran yang ia tidak ketahui mau diapakan.

Pendapat itu memang tidak berlebihan, karena memang di sekolah umum, satu orang guru bisa mengajar 20 bahkan sampai 30 anak dalam satu ruang kelas. Sedangkan diyakini, bahwa kemampuan masing-masing anak dalam menangkap mata pelajaran yang diberikan berbeda-beda.

Homeschooling pun lantas dilirik sebagai alternatifnya. Tidak seperti di sekolah umum, homeschooling (sekolah di rumah) ini memiliki konsep yang biasanya satu guru akan menghadapi satu atau dua murid saja. Selain tentu saja lebih bisa ditertibkan, dengan home schooling, anak bisa lebih berkonsentrasi dalam menangkap pelajaran. Mutu mata pelajaran yang diberikan, juga bisa dipilih, sesuai dengan apa yang dibutuhkan anak saat itu.

Walau pun bisa menjaga kualitas pendidikan atau pengajaran kepada anak-anak yang belajar di rumah, bukan tidak berarti pendidikan jenis ini tidak mengalami kekurangan. Salah satu kekurangan yang paling menonjol dari home schooling adalah anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Kasus seperti inilah yang kemudian menjadi perdebatan hangat di kalangan pengajar serta psikolog anak. Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak akan bermanfaat jika anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman seusianya.

B. Pembahasan

1. Pengertian Homeschooling

Tidak ada pengertian secara eksplisit tentang homeschooling. Berbagai istilah sering disamakan dengan istilah homeschooling, antara lain home-education, dan home-based learning. Dalam bahasa Indonesia, istilah “sekolah rumah”, dan “sekolah mandiri” sering menjadi terjemahan dari kata homeschooling (Sumardiono, 2007).

Salah satu pengertian umum dari homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya dan mendidik anak-anak tersebut dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya (Sumardiono, 2007). Pada homeschooling orang tua tidak menyerahkan begitu saja tanggung jawab pendidikan anak-anaknya kepada guru dan sistem sekolah, orang tua homeschooling bertanggung jawab secara aktif atas proses pendidikan anaknya.

Yang dimaksudkan dengan bertanggung jawab secara aktif di sini adalah keterlibatan penuh orang tua pada proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dalam hal penentuan arah dan tujuan pendidikan, nilai-nilai yang ingin dikembangkan, kecerdasan dan keterampilan yang hendak diraih, kurikulum dan materi pembelajaran hingga metode belajar serta praktik belajar kesehari-harian.

Pada keluarga homeschooling yang anaknya berusia pra-sekolah dan SD, sebagian besar proses belajar mengajar dipimpin oleh orang tua, sebab pada tingkat ini materi pembelajaran relatif, masih sederhana dan dapat diberikan langsung oleh orang tua. Namun, pada tingkat yang lebih tinggi, biasanya anak-anak homeschooling semakin mandiri dalam mencari dan memenuhi kebutuhan pendidikannya sendiri.

2. Model dan Pendekatan Homeschooling

Meskipun secara bahasa, homeschooling mengartikan bahwa pendidikan berpusat di rumah, pelaksanaan homeschooling sendiri tidak serta merta hanya menggunakan rumah sebagai wahana belajar. Penggunaan sarana-sarana lain di luar rumah tetap digunakan sebagai bahan pencapaian tujuan dari pendidikan homeschooling.

Model homeschooling sendiri sangat beragam. Hal ini disebabkan homeschooling yang bersifat unique, dimana setiap keluarga yang menerapkan homeschooling memiliki latar belakang yang berbeda, sehingga berbeda pula dalam penerapan model homeschoolingnya (Sumardiono, 2007).

Pendekatan-pendekatan (approachs) dalam homeschooling memiliki rentang yang lebar antara yang tidak terstruktur (unschooling) sampai yang sangat terstruktur seperti belajar di sekolah (school at-home). Sumardiono (2007) menyebutkan beberapa pendekatan dalam homeschooling, sebagai berikut:

a. School at-home approach adalah model pendidikan yang serupa        dengan yang diselenggarakan di sekolah. Hanya saja, tempatnya        tidak di sekolah, tetapi di rumah. Metode ini sering disebut                 textbook approach, traditional approach, atau school approach.

b. Unit studies approach adalah model pendidikan yang berbasis            pada tema (unit study). Pada pendekatan ini, siswa tidak belajar        satu mata pelajaran tertentu (matematika, bahasa, IPA, atau              IPS), tetapi mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui      sebuah tema yang dipelajari. Metode ini berkembang atas                    pemikiran bahwa proses belajar seharusnya terintegrasi                      (integrated), bukan terpecah-pecah (segmented). Misalnya,                dengan tema tentang rumah, anak-anak dapat belajar bentuk              geometri (matematika), jenis-jenis rumah (sejarah), fungsi                  rumah (IPA), profesi pembangun rumah (IPS), dan sebagainya.

c. The living books approach adalah metode pendidikan melalui            pengalaman dunia nyata. Metode ini dikembangkan oleh                      Charlotte Mason. Pendekatannya dengan mengajarkan kebiasaan      baik (good habit), keterampilan dasar (membaca, menulis,                  matematika), serta mengekspos anak dengan pengalaman nyata,      seperti berjalan-jalan, mengunjungi museum, berbelanja ke                pasar, mencari informasi di perpustakaan, menghadiri pameran,      dan sebagainya.

d. The classical approach adalah model pendidikan yang                          dikembangkan sejak abad pertengahan. Pendekatan ini                        menggunakan kurikulum yang distrukturkan berdasarkan tiga            tahap perkembangan anak yang disebut trivium. Penekanan                metode ini adalah kemampuan ekspresi verbal dan tertulis.                Pendekatannya berbasis teks/literatur (bukan ambar/image).The      waldorf approach adalah model pendidikan yang dikembangkan      oleh Rudolph Steiner, banyak ditetapkan di sekolah-sekolah                alternatif Waldorf di Amerika. Karena Steiner berusaha                        menciptakan setting sekolah yang mirip keadaan rumah,                      metodenya mudah diadaptasi untuk homeschool.

  1. The Montessori approach adalah model pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Pendekatan ini mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami, mengamati proses interaksi anak-anak di lingkungan, serta terus menumbuhkan lingkungan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensinya, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.
  2. Unschooling approach berangkat dari keyakinan bahwa anak-anak memiliki keinginan natural untuk belajar dan jika keinginan itu difasilitasi dan dikenalkan dengan pengalaman di dunia nyata, maka mereka akan belajar lebih banyak daripada melalui metode lainnya. Unschooling tidak berangkat dari textbook, tetapi dari minat anak yang difasilitasi.
  3. The eclectic approach memberikan kesempatan pada keluarga untuk mendesain sendiri program homeschooling yang sesuai, dengan memilih atau menggabungkan dari sistem yang ada.
  4. Jenis-Jenis Homeschooling

Pada perkembangannya, para pegiat homeschooling terus berusaha menyempurnakan konsep ini, yakni dengan merespons perkembangan di masyarakat. Semakin banyak orang tua yang mantap memilih homeschooling  sebagai alternative pendidikan untuk anak-anaknya mengharuskan homeschooling terus meng-up date  diri. Saat ini, ada tiga jenis homeschooling yang berkembang di masyarakat. Masing-masing tipe memiliki keunggulan dan kelemahan.

  1. Homeschooling Tunggal

Homeschooling tunggal biasanya hanya melibatkan orang tua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya. Orang tua harus benar-benar mengambil peran sebagai pembimbing, teman belajar, sekaligus penilai.

Kelemahan homeschooling  tunggal murni adalah tidak adanya mitra untuk saling mendukung, berbagi, atau membandingkan keberhasilan dalam proses belajar. Jika tidak di mix dengan tipe homeschooling lainnya, anak pun cenderung kurang bersosialisasi dan berekspresi sebagai syarat pendewasaan.

  1. Homeschooling Majemuk

Tipe homeschooling kedua ini satu tingkat di atas homeschooling tunggal dalam hal pelibatan individu lain. Majemuk berarti lebih dari satu; dilaksanakn oleh dua atau lebih keluarga tertentu, smentara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.

Keluarga-keluarga yang memutuskan untuk bergabung dalam homeschooling majemuk ini biasanya memiliki kebutuhan-kebutahan yang dapat dikompromikan dalam kegiatan bersama. Contohnya, kurikulum dari konsorsium, kegiatan olahraga (misalnya keluarga atlet tenis), keahlian music/seni, kegiatan social, dan kegiatan agama.

Karena melibatkan anak-anak lain, tentu saja proses belajar menjadi dinamis. Insting social pada diri anak pun bisa “tumpah” seperti seharusnya. Dalam kelompok kecil ini, semangat berkompetisi pun akan muncul. Masing-masing anak akan memacu diri untuk berprestasi lebih baik daripada yang lain. Masalah-masalah yang muncul dalam interaksi antar mereka pun akan berperan dalam pembentukan kepribadian anak yang kuat dan tahan banting.

  1. Komunitas Homeschooling

Tipe homeschooling yang ketiga ini merupakan gabungan beberapa homeschooling  majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok 9olahraga, music/seni, dan bahasa), sarana/prasarana, dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggara pembelajaran antara orang tua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.

Mereka yang memilih berkelompok dalam komunitas homeschooling  memandang bahwa konsep homeschooling ini lebih tersruktur dan lengkap untuk pendidikan akademik, pembangunan akhlak mulia, dan pencapaian hasil belajar. Selain itu, tersedianya fasilitas pembelajaran yang lebih baik, misalnya bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan, laboratorium IPA/bahasa, auditorium, fasilitas olahraga, dan kesenian juga menjanjikan.

  1. Kesimpulan

Homeschooling sebagai salah satu alternative proses pendidikan memberikan peluang seluas-luasnya kepada pesertanya untuk mengembangkan diri, memilih akses terbaik untuk memenuhi kehausan mereka terhadap materi pendidikan. Homeschooling menjadi konsep alternative yang layak diterapkan untuk memberi pilihan terhadap setiap orang untuk menguasai pengetahuan sesuai dengan gaya mereka masing-masing.

 

REFERENCES

Beberapa Tinjauan Perundangan Terhadap Homeschooling, Agung Purwadi D.Ed., Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Depdiknas (disampaikan dalam Seminar “Homeschooling?  Siapa Takut” di Gedung depdiknas Jakarta, 18 Juni 2006)

Direktorat pendidikan Kesetaraan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Departemen pendidikan Nasional, 2006. Pendidkan Kesetaraan Mencerahkan Anak Bangsa.

Kembara, Maulia D. 2007. Panduan lengkap Homeschooling. Bandung: Progressio

Layne, Marty. 2005. Ibuku Guruku (Belajar di Rumah dalam Balutan Kearifan dan Kehangatan), Bandung: MLC

Mulyadi, Seto. 1997. Anakku, Sahabat, dan Guruku (Catatan kecil Keluarga Muda). Jakarta: Elex Media komputindo

 

Sumardiono. 2007. Homeschooling, Lompatan Cara Belajar. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

_______. 2008. Homeschooling (online). (www.sumardiono.com, diakses 11 Juli 2008).

Simbolon, P. 2007. Homeschooling: Sebuah Pendidikan Alternatif (online). (www.wordpress.com, diakses 20 Juni 2008).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.