HAKEKAT PEMBALAJARAN BAHASA ARAB

0
19

 

HAKEKAT PEMBALAJARAN BAHASA ARAB

Oleh : Muhammad Tontowi

 

Abstrak: Tulisan yang berjudul “Hakekat Belajar” ini, akan membahas lima bahasan yaitu;  pertama  Motivasi, kedua  Perhatian, ketiga Aktivitas, keempat, Balikan, dan kelima Perbedaan Individual. Didalam tulisan ini anda akan diperkenalkan kepada hal-hal apa yang harus diperhatikan dan diupayakan supaya belajar terjadi secara baik. Karena perinsip belajar merupakan ketentuan atau hokum yang harus dijadikan pegangan di dalam pelaksanaan, kegiatan belajar. Sebagai suatu hukum, Hakekat Belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar.

 

Kata Kunci: Hakekat Belajar

 

PENDAHULUAN

A.        PERENCANAAN SISTEM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

(مفهوم تخطيط نظام تعليم اللغة العربية)

Perencanaan berasal dari kata rencana yang mendapat awalan pe dan akhiran an, berarti suatu proyeksi aktivitas yang akan dilakukan. Dalam bahasa Inggris perencanaan disebut dengan istilah planing, misalnya administrative planing (perencanaan administrasi), city planing (perencanaan kota), curriculum planing (perencanaan kurikulum). Roger A. Kaufman, seorang tokoh pendidikan dari United Stated International University, mendefinisikan perencanaan pembelajaran sebagai proyeksi yang akan dilakukan oleh pendidik untuk mencapai tujuan[1]. Perencanaan dan tujuan ditetapkan sebelum aktivitas dilakukan. Sebagai seorang pendidik yang akan mengajar, ia harus menetapkan dalam dirinya bahwa ia tahu apa yang diajarkan, bagaimana mengajarnya dan apa yang diharapkan dari proses pembelajaran tersebut.

Dalam bahasa Arab perencanaan disebut dengan kata تخـطيط [2], misalnya  تخـطيط المناهج (perencanaan kurikulum), التـخطيط التـربـوي (Perencanaan pendidikan), عمليـة التـخطيـط (proses perencanaan). Lafazh تخطيـط merupakan bentuk mashdar dari fi`il madhi tsulasyi mazid bi tad`if `ainni al-fi`ly dari bentuk tsulatsyi mujarrad خَـّط. Akar kata ini mengandung makna sesuatu yang mengalami dinamika, misalnya خَـطٌّ berarti tulisan atau kaligrafi, خطوة berarti langkah atau sepak terjang. Bila dilihat dari akar kata ini, maka kata تخطيط jelas merupakan kata yang menunjukkan pengertian tentang konseptualisasi dari suatu ragam aktivitas yang akan dijalankan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perencanaan adalah sebuah konseptualisasi dari sekian banyak aktivitas, dalam bentuk program-program, tersusun secara sistematis, logis, jelas makna dan tujuannya. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya merupakan bagian dari ilmu pendidikan dan pembelajaran yang tentu tidak dapat dipisahkan dengan ilmu-ilmu pendidikan dan pembelajaran lainnya. Artinya untuk menjadi seorang perencana pembelajaran yang baik diperlukan kemampuan-kemampuan pendukung lainnya, seperti filsafat pendidikan dan pembelajaran, psikologi pembelajaran, metode pembelajaran administrasi pendidikan, pembelajaran dan seterusnya.

Mengingat luasnya cakupan perencanaan pembelajaran, sebagian ahli pendidikan menggunakan istilah اعداد, untuk menyebut rencara pembelajaran dalam arti yang lebih spesifik. Perencanaan yang bersifat persiapan untuk mengajar di kelas, dan biasanya dibuat berdasarkan kebutuhan pada setiap kali tatap muka.[3] Membuat persiapan yang terencana sebelum mengajar merupakan salah satu langkah penting bagi kesuksesan pendidik dalam mengajar. Rencara pembelajaran sebaiknya dituangkan dalam kertas kerja, sejenis persiapan pembelajaran atau rencana desain pembelajaran. Arti penting perencanaan pembelajaran bagi pendidik adalah sebagai berikuti:

  1. Dapat menjadi pedoman bagi pendidik dalam mengajar; fokus materi, waktu yang dibutuhkan, metode yang akan diterapkan dan target yang akan dicapai.
  2. Lebih dapat memberikan rasa nyaman bagi peserta didik, karena proses pembelajaran yang diikutinya terasa lebih sistematis.
  3. Dapat dimanfaatkan sebagai alat kontrol bagi lembaga terhadap proses pembelajaran yang berlansung, termasuk dalam hal pencapaian target kurikulum.[4]

Dalam sistem instruksional, rencana pembelajaran dibuat berdasarkan pendekatan teknologi pendidikan, yaitu lebih berorientasi pada teknik atau strategi penyampaian materi secara logis dan cenderung mengabaikan faktor humanis. Dengan pendekatan ini, maka rencana pembelajaran memuat hal-hal berikut:

  1. materi pelajaran yang akan diajarkan
  2. judul/tema mata pelajaran
  3. kelas atau kelompok yang akan diajar
  4. metode yang akan diterapkan, dan media yang akan digunakan.[5]

Dengan demikian, semua aktivitas yang berlangsung di dalam kelas sudah ditentukan secara jelas dan berjalan secara ketat. Hampir bisa dipastikan tidak ada kegiatan pembelajaran yang terjadi selain yang telah ditetapkan dalam rencana pembelajaran. Masalah apakah peserta didik akan setuju dengan apa yang akan disampaikan, atau apakah metode yang akan digunakan sudah tepat, semua itu tidak menjadi pertimbangan. Realitas sosial, potensi yang dimiliki, atau perbedaan karakteristik peserta didik bukan merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan proses pembelajaran. Sistem seperti ini bertahan cukup lama sebelum adanya gerakan humanisme pendidikan. Namun ketika gerakan humanisme pendidikan gencar dilaksanakan dan menjadi paradigma pendidikan, maka sistem tersebut mulai ditinjau kembali dan cenderung mulai ditinggalkan.

Paradigma pendidikan humanistik memandang bahwa manusia/peserta didik merupakan faktor pertama dan utama dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran.[6] Memahami dan menyadari adanya perbedaan setiap peserta didik merupakan faktor penting yang harus menjadi titik tolak proses pendidikan dan pembelajaran. Karakteristik/perbedaan yang dimaksud meliputi; potensi yang dimiliki, bakat dan minat, aspek  kecerdasan, dan juga lingkungan sosial, bahkan kondisi kesehatan fisik.[7] Paradigma ini memandang bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bertujuan membimbing peserta didik untuk dapat belajar mengenal kelebihan dan kekurang dirinya, sehingga mempunyai kesadaran untuk mengembangkan potensi diri yang dimiliki, bukan sekedar tranfer pengetahuan dari buku-buku ajar.

Dalam perencanaan sistem pembelajaran bahasa Arab, paling tidak terdapat dua macam kategori sistem, yaitu pembelajaran sebagai sistem dan bahasa Arab sebagai sistem. Pembelajaran sebagai sistem, setidaknya terdiri dari peserta didik, pendidik, materi, metode, dan evaluasi.[8] Sedangkan bahasa Arab sebagai sistem berarti bahwa bahasa Arab sesungguhnya terdiri dari berbagai aspek kebahasaan, seperti gramatika, percakapan, membaca, menulis dan menterjemahkan.[9] Pembelajaran bahasa Arab berarti pembelajaran aspek-aspek dari bahasa Arab itu sendiri, dan setiap aspek kebahasaan itu mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya. Selain itu, perencanaan sistem pembelajaran bahasa Arab disusun berdasarkan asumsi-asumsi dasar, prinsip-prinsip yang harus dipegang, dan dasar pemikiran operasional yang jelas dan capability. Asumsi dan prinsip dasar pembelajaran bahasa Arab tersebut terkait dengan hakekat pembelajaran yang sesungguhnya, misalnya siapa saja yang belajar, untuk apa mereka belajar, siapa yang seharusnya mengajar, kapan, di mana dan bagaimana strategi yang digunakan dan seterusnya. Lebih-lebih bila pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing, atau orang non Arab yang belajar bahasa Arab tentu tidak sama dengan orang Arab yang belajar bahasanya sendiri.

B.        PRINSIP-PRINSIP DASAR PEMBELAJARAN BAHASA ARAB     SEBAGAI BAHASA ASING

)اسس تعـليم اللغة العربية لغير الناطقين بها(

Belajar bahasa asing berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pembelajarannya pun sangat mungkin berbeda, baik dalam hal metode, materi, maupun proses pembelajarannya. Bahasa adalah sistem, yaitu terdiri dari beberapa unsur dan aspek yang mempunyai obyek kajian yang berbeda tetapi masih saling terkait, oleh karena itu pembelajaran bahasa harus menyangkut berbagai aspek atau bidang kajian, tetapi harus selalu dikaitkan satu dengan yang lainnya.[10]

. Namun demikian belajar bahasa ibu relatif lebih berhasil, sementara belajar bahasa asing cenderung lebih sulit. Hal tersebut, setidaknya disebabkan oleh dua faktor prnting, yaitu; pertama perbedaan tujuan, kedua, perbedaan kemampuan dasar yang dimiliki, ketiga, lingkungan pembelajaran, dan keempat faslititas yang digunakan dalam proses pembelajaran.

  1. Tujuan pembelajaran

Belajar bahasa ibu merupakan tujuan yang hidup, yaitu sebagai alat komunikasi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu, motivasi untuk mempelajarinya sangat tinggi. Sementara itu belajar bahasa asing, seperti bahasa Arab pada umumnya mempunyai tujuan sebagai alat keterampilan atau keahlian tertentu sebagai ilmu pengetahuan (kebudayaan). Bahasa asing tidak dijadikan sebagai bahasa hidup sehari-hari, sehingga motivasi belajar bahasa Arab lebih rendah ketimbang bahasa ibu. Padahal besar-kecilnya motivasi belajar bahasa mempengaruhi hasil yang akan dicapai.

  1. Kemampuan dasar yang dimiliki

Ketika anak kecil belajar bahasa ibu, otaknya masih bersih dan belum mendapat pengaruh bahasa-bahasa lain, sehingga cenderung lebih mudah berhasil dalam menangkap setiap simbol bahasa ibu yang muncul, yang ditangkap oleh panca indra, sehingga cenderung dapat berhasil dengan cepat. Sementara ketika mempelajari bahasa Arab, ia terlebih dahulu menguasai bahasa ibunya, baik dalam aspek lisan, tulisan, maupun bahasa berfikirnya. Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab tentu lebih sulit dan berat, karena ia harus menyesuaikan sistem bahasa ibu ke dalam sistem bahasa Arab, baik sistem bunyi, struktur kata, struktur kalimat maupun sistem bahasa berfikirnya.

  1. Lingkungan pembelajaran

Lingkungan pembelajaran adalah segala sesuatu yang melingkupi proses pembelajaran, yakni meliputi unsur kondisi lingkungan alam, lingkungan manusia dan sosial. Semua aktivitas manusia selalu terkait dengan lingkungan yang melingkarinya. Manusia dan lingkungannya akan selalu terjadi hubungan interkoneksi. Kualitas lingkungan berpengaruh terhadap kualitas aktivitas kehidupan yang terjadi, dan sebaliknya aktivitas kehidupan manusia berpengaruh terhadap kualitas lingkungannya.

Pembelajaran bahasa apa saja sangat membutuhkan lingkungan yang kondusif, arti penting lingkungan dalam mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran telah disadari oleh para tokoh pendidikan Islam dan di Indonesia khususnya. Munculnya lembaga pendidikan berasrama, seperti pondok pesantren merupakan salah satu bentuk aplikasi konsep interkoneksi lingkungan dengan proses pembelajaran. Banyak keberhasilan pembelajaran bahasa asing, terutama bahasa Arab di Indonesia ini lahir dari konsep pendidikan berasrama ini.

  1. Fasilitas pembelajaran

Fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaran merupakan salah satu unsur penting yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran, khususnya laboratorium bahasa dengan segala sarananya. Laboratorium bahasa adalah satu bentuk aplikasi teknologi dalam bidang pembelajaran bahasa asing. Laboratorium bahasa merupakan salah satu bentuk nativisasi proses pembelajaran bahasa. Artinya fasilitas yang ada di dalam laboratorium dapat membawa peserta didik dalam belajar bahasa asing, termasuk bahasa Arab kepada realitas bahasa Arab yang sebenarnya, sebagaimana orang Arab memfungsikannya.

Oleh karena itu, seorang guru yang mengajarkan bahasa asing seperti bahasa Arab, perlu memahami lima prinsip dasar dalam pembelajaran bahasa asing, yaitu pertama, prinsip prioritas penyajian, kedua, prinsip koreksitas dan umpan balik, ketiga, prinsip bertahap, keempat prinsip  penghayatan, dan kelima prinsip korelasi isi.[11]

C.       HAKEKAT PESERTA DIDIK (مفهوم المتعلم)

Dalam bahasa Arab peserta didik disebut dengan istilah متعـلم, yaitu isim fa`il dari fi`il madhi  تعـلم . Selain kata متعـلم , kata lain yang digunakan untuk menyebut istilah peserta didik adalah kata دارس, yaitu bentuk isim fa`il dari fi`il madhi درس . Selain itu, kata طالب, bentuk isim fa`il dari fi`il madhi طلب, juga digunakan sebagai istilah yang sama dengan dua istilah sebelumnya. Selanjutnya muncul pula istilah مريد, yaitu bentuk isim fa`il dari fi`il madhi أراد yang juga mempunyai makna yang yang jauh berbeda. Akan tetapi yang paling populer adalah تلميذ . Bila dilihat dari arti dasar katanya, peserta didik dengan istilah متعـلم cenderung bermakna sebagai orang yang dijadikan sasaran proses pengajaran, yakni orang yang ”terajar”. Sedangkan kata دارس lebih bermakna sebagai orang yang mempelajari, menela`ah dan menekuni. Istilah ini lebih menekankan pada makna sebagai subyek yang aktif ketimbang sebagai obyek dari sebuah proses pembelajaran. Sementara kata طالب lebih bermakna sebagai orang yang dapat berusaha mandiri untuk menuntut hak-haknya dalam rangka memenuhi kebutuhan yang diinginkan, cenderung mempunyai kemampuan komunikasi dan diplomasi yang lebih, namun atas dasar bimbingan dan kemurahan hati orang yang mempunyai kemampuan lebih. Kata مريد lebih mengarah pada makna sebagai orang yang mempunyai kemauan, yakni orang yang mengusung cita-cita dan cita-cita itu dapat tercapai atas dasar kemurahan dari orang lain yang mau memenuhi kemauannya. Adapun kata تلميذ tampaknya bukan berasal dari kata Arab asli[12], namun kata ini lazim digunakan untuk menyebut peserta didik tingkat sekolah dasar dan menengah dan tidak digunakan untuk tingkat perguruan tinggi.

Ada tiga macam tipe utama modalitas peserta didik dalam menyerap informasi selama proses pembelajaran, yaitu tipe, tipe auditorial, visual dan tipe kinestetik. Dalam istilah al-Qur’an tipe-tipe itu disebut dengan istilah al-sam`, tipe al-abshar dan tipe al-af’idah.[13] Setiap tipe modalitas dapat dikenali dengan ciri-ciri umum yang kita lakukan dalam kegiatan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemukan di antara individu dalam satu komunitas belajar menjadi juara kelas, ketika duduk di bangku sekolah dasar, tetapi tidak menonjok lagi ketika di sekolah lanjutan atau mungkin ketika duduk di sekolah menengah sangat menonjol (juara), tetapi ketika duduk di perguruan tinggi justru tertinggal atau bahkan gagal sama sekali. Namun demikian mereka tidak mengerti mengapa mereka mengalami hal itu. Hal tersebut terjadi mungkin situasi pembelajaran yang berlangsung tidak cocok dengan gaya belajar dan modalitas yang dimiliki, karena perbedaan kompetensi yang dimiliki oleh pendidik. Oleh karena itu mengenal gaya belajar dan modalitas adalah faktor yang sangat penting yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Lebih dari itu, satu hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana peserta didik menyadari modalitas yang dimiliki dan menemukan gaya belajar yang tepat dengan modalitas yang dimilikinya itu

SARAN

Dari kesimpulan di atas dapat penulis  sarankan sebagai berikut:

  1. Guru BAHASA ARAB di MI  pada khususnya dan guru-guru lainnya di Madrasyah pada umumnya, sebaiknya mencoba  menggunakan beberapa diantara berbagai jenis strategi pembelajaran yang mungkin bisa diterapkan  di sekolah tempat anda berkerja/bertugas/mengajar, mudah-mudahan dapat meningkatkan kualitas pendidikan peserta didik anda masing-masing , Amin.
  2. Kepala Sekolah diharapkan,  menyediakan/memberikan  fasilitas belajar mengajar untuk keperluan guru mengajar seperti sarana  prasarana, dan memberikan motivasi terus kepada  guru- guru  supaya guru bersemangat dan termotivasi untuk jauh lebih maju dan  tidak lagi  mengajar seperti yang lama (metode pembelajaran tradisional/ceramah),  karena  metode pembelajaran  yang lama itu sudah harus kita tinggalkan, sekarang kita dituntut untuk selalu berobah demi kemajuan dan keberhasilan  anak Bangsa,

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Anita W, Sri . 2007. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Arsyad. 2003. Belajar Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Dahar, R. W. 1989. Teori-teori Belajar.Jakarta: Erlangga

Hamalik, O. 1986. Strategi  Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Martina.

Istarani. 2011. Model-Model Pembelajaran Interaktif. Medan : Iscom Medan.

Ivor K. Davies. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.

____, 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Roestiyah N.k. 2008. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Sudiarto. 1990. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti

Winkel, W.S, 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: P.T. Grasindo.

Zain, Aswan dan Djamarah, Syaiful Bahri. 2006. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Indonesia. 2002. Media Pembelajaran. (http://www.indonesia.com/intisari/2002 agst/diakses 25 Desember 2008).

  Sudrajat, Akhmad. 2006. Media Pembelajaran. (http://romisatriawahoo                       .net/2006/06/23/media-pembelajaran-dalam-aspek-rekayasa-perangkat -lunak/.diakses 18 November 2008)

 

 

[1] Roger A. Kaufman, Educational System Planing, (New Jersey: Englewood Cliffs, 1972), hal. 6

[2][2] Muhammad Ali al-Khauly, Qamus al-Tarbiyah, Inggris-Arab, (Beirut: Dar al-`Ilm li al-Malayin, 1981) hal. 355

[3] `Abd al-`Alim Ibrahim, al-Muwajih al-Fanny, (Kairo: Dar al-Ma`arif, 1973) hal. 38

[4] Ibid., hal. 38-39

[5] `Abd `Alim, al-Muwajih…, hal. 40-41

[6] Munir Mursy Sarhan, Fi Ijtima`iyat al-Tarbiyah, (Maktabah al-Anjalu al-Mishriyah, 1978) hal. 90

[7] Shaleh Abd al-`Aziz, al-Tarbiyah al-Haditsah, Madatuha, Mabadi’uha, Tathbiqatuha al-`Amaliyah, (Kairo: Dar al-Ma`arif, 1969) juz. III, hal. 31-39

[8] Ibrahim Muhammad `Atha, Thuruq Tadris al-Lughah al0`Arabiyah wa al-Tarbiyah    al-Diniyah, ( Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1998) juz. I, hal 22-23.

[9] Ibrahim, Thuruq Tadris…, hal. 52

[10] Kamal Ibrahim Badry dan Mamduh Nuruddin, “Usus Ta`lim al-Lughah al-Ajnabiyah”, dalam, Mudzakarat al-Daurat al-Tarbawiyah, (Jami`ah al-Imam Muhammad Ibn Su`ud al-Islamiyah, 1406 H) hal. 2

[11]Kamal, Usus…, hal. 4

[12] Dalam literatur Islam klasik belum dijumpai penggunaan istilah tersebut yang ditujukkan sebagai istilah untuk menyebut peserta didik. Al- Khauly menyamakan istilah تلميذ dengan kata dalam bahasa Inggris pupil, bukan student. Lihat, al-Khauly, Qamus Tarbiyah, hal. 384

[13] lihat QS., al-Qashash ayat 78, Qs., al-Nahl ayat 16.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.