GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DAN UPAYANYA DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA PADA MOMEN BULAN RAMADHAN

0
33

Oleh: Riduwan

Abstrak

Penyelenggaraan pendidikan karakter merupakan suatu keniscayaan pada lembaga pendidikan di tanah air. Hal ini mengingat karakter generasi kini kian merosot dan memprihatinkan. Penyelenggaraan pendidikan karakter ini merupakan amanat pemerintah yang tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pelaksanaan pendidikan karakter ini sangat tepat diselenggarakan pada momen bulan Ramadhan, mengingat ketika seseorang berpuasa mereka  lebih mampu mengatur “tone sifat-sifat mereka. “Tone” sifat-sifat itu terus-menerus diturunkan sampai pada level paling rendah sehingga hatinya menjadi lembut. Dengan berpuasa, ia memperoleh kelembutan hati, sehingga materi demi materi yang bermuatan tentang karakter yang disampaikan dalam wadah pesantren kilat di sekolah, dan diiringi dengan kegiatan muhasabah, akan mudah merasuk ke relung hati yang paling dalam sehingga akhirnya menjadi perilaku. Perilaku yang baik ini bila ditampilkan oleh para peserta didik dalam kehidupan nyata akan memunculkan pribadi-pribadi yang berkarakter baik.

Key words: pendidikan, karakter, peserta didik, guru

Pendahuluan

Dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan regulasi di atas maka menjadi tanggung jawab pendidikanlah untuk membentuk warga negara (peserta didik) yang berkualitas dan berkarakter demi meningkatkan derajat dan martabat bangsa.

Dalam upaya mewujudkan terbentuknya peserta didik yang berkarakter, tentu tidak semata-mata menjadi tugas para guru atau sekolah, tetapi juga tugas keluarga dan masyarakat. Karena peserta didik menghabiskan waktu dan beraktivitas tidak hanya di sekolah, namun juga di rumah dan di masyarakat. Namun, pada pendidikan formal di sekolah, guru merupakan orang yang memiliki peran sangat penting dalam pembentukan karakter peserta didik, terutama guru PAI. Nilai-nilai karakter ini antara lain meliputi keberanian, kejujuran, hormat pada orang lain dan disiplin.

Bulan Ramadhan sebagai bulan suci umat muslim, merupakan bulan yang tepat dan strategis dalam penanaman karakter peserta didik di sekolah melalui kegiatan pesantren kilat. Di bulan ini hati para sho-imiin (orang yang berpuasa) pada umumnya begitu lembut sehingga sangat mudah untuk menerima wejangan/taushiah dari hati ke hati yang disampaikan oleh para guru yang sarat dengan muatan materi pembentukan karakter. Karena itu momen ini sebaiknya tidak disia-siakan oleh para guru PAI di sekolah.

Penyelenggaraan pesantren kilat pada momen bulan Ramadhan di sekolah-sekolah ini merupakan himbauan dari Mendiknas dan Menag. Dinyatakan oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional Musliar Kasim, “agar program-program seperti pesantren kilat itu diupayakan untuk dikembangkan dan dihidupkan selama bulan puasa”. Lebih lanjut Beliau menyatakan “kita harapkan selama bulan puasa disamping tetap melakukan pembelajaran, tapi bagian pembentukan karakter menjadi salah satu hal yang diutamakan”. (http://www.jurnalasia.com/2013/07/08/pesantren-kilat-bagian-pembentukan-karakter/)

Sebagai guru agama di sekolah, maka guru PAI hendaknya menjadi pelopor dalam pembentukan karakter peserta didik di sekolah. Maka dengan segala upayanya para guru agama Islam harus berperan lebih aktif dalam mewujudkan peserta didik  yang berkarakter di sekolah dalam momen bulan ramadhan, diantaranya dalam bentuk penyelenggaraan pesantren kilat.

Pembahasan

  1. Hakekat Karakter

Secara bahasa karakter berarti “kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi (Hornby dan Parnwell 1972:49). Sedangkan menurut istilah karakter dimaknai dengan kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong atau penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain (M. Furqon Hidayatullah 2010:13). Seseorang dapat dikatakan berkarakter ketika orang tersebut berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.

Sementara itu merujuk ke kamus bahasa Indonesia Purwadarminto, karakter diartikan sebagai sebuah tabiat, watak, sifat–sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari orang lain. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Karakter merupakan sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.

Karakter menjadi salah satu penentu kesuksesan seseorang, karena itu karakter menjadi hal penting dalam kehidupan seseorang. Karakter yang kuat dan positif perlu dibentuk dengan baik melalui pendidikan di sekolah kuhususnya pada bulan Ramadhan dengan sarana pesantren kilat. Slamet Imam Santoso (1981:33), menyatakan bahwa tujuan tiap pendidikan yang murni adalah menyusun harga diri yang kukuh, kuat dalam jiwa pelajar, supaya kelak mereka dapat bertahan dalam masyarakat. Selain itu pendidikan juga bertugas mengembangkan potensi individu semaksimal mungkin dalam batas-batas kemampuannya, sehingga terbentuk manusia yang pandai, terampil, jujur, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, serta mempunyai kehormatan diri. Lebih lanjut Furqon (2010:18) mengatakan bahwa pendidikan tak cukup hanya untuk membuat anak pandai, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai-nilai luhur atau karakter.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, karakter seseorang benar-benar mempengaruhi kesuksesannya.  (http://akhmadsudrajat.Wordpress.com/… /pendidikan-karakterdi-smp/). Diungkapkan pula bahwa ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Hasil penelitian di Harvard University di atas senada dengan apa yang diungkapkan oleh Daniel Goleman (dikutip dalam http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/). Dijelaskannya bahwa keberhasilan seseorang ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan sisanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosi akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah sudah dapat dilihat sejak usia prasekolah dan kalau dibiarkan akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang mempunyai kecerdasan emosi tinggi (berkarakter) cenderung terhindar dari berbagai masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya, disebabkan kesibukan atau lebih mementingkan aspek kognitif anak.

Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di keluarga. Apabila seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Berdasarkan hal tersebut terbukti bahwa pentingnya pendidikan karakter, baik di rumah ataupun di pendidikan formal.

Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku berjudul Emotional Intelligence and School Success karangan Joseph Zins (2001) (dalam http://pondokibu.com/ parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademianak/) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dalam buku itu dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor

resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan terkonsentrasi, rasa empati dan kemampuan berkomunikasi.

  1. Kompetensi dan Sifat Guru Pendidikan Agama Islam Sebagai Pembentuk Karakter

Guru merupakan unsur yang sangat dominan dan dinilai sangat penting dalam jalur pendidikan sekolah (formal) pada umumnya, karena bagi siswa guru sering dijadikan sebagai tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Demikian pula dalam proses pembelajaran guru harus memiliki kemampuan tersendiri guna mencapai harapan yang  dicita-citakan dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Untuk memiliki kemampuan tersebut guru perlu membina diri secara optimal  sebagai karekteristik pekerjaan profesional.

 Secara operasional terdapat beberapa pandangan mengenai definisi guru yaitu:

  1. Menurut pandangan tradisional; guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan
  2. Menurut pandangan seorang ahli pendidikan; guru adalah seorang yang menyebabkan orang lain mengetahui atau mampu melaksanakan sesuatu atau memberikan pengetahuan atau keterampilan kepada orang lain

Kata guru dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggeris disebut dengan teacher itu memiliki makna yang sangat sederhana, yaitu “a person whose accupation is teaching other”. Artinya guru adalah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain. Demikian pula yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru dimaknai sebagai seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.

Dalam Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru, pada Bab I pasal 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini di jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Selanjut Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik yang memberikan pelajaran kepada murid, dan biasanya guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran di sekolah. Karena itu jelaslah sudah bahwa yang dimaksud guru agama adalah pendidik yang mengampu mata pelajaran agama di sekolah tanpa membeda-bedakan agama tertentu.

Guru agama (Islam) sebagai pengampu dan penanggung jawab mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, menurut Zuhairini (1997) mempunyai tugas lain yaitu mengajar ilmu pengetahuan agama Islam, menanamkan keimanan ke dalam jiwa anak didik, mendidik anak anak agar taat menjalankan agama, dan mendidik anak-anak agar berbudi pekerti yang mulia.

Kemudian dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru PAI khususnya  dituntut untuk memiliki karakter baik, yang nantinya akan dijadikan sebagai teladan oleh peserta didik baik dalam bertutur kata, bersikap maupun dalam berperilaku.

Hadari Nawawi (1993), bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai pendidik yang sebenarnya, jika di dalam dirinya terkandung beberapa aspek yang diidentifikasi sebagai kompetensi, yang meliputi:

  1. Kewibawaan merupakan sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan hormat, bukan yang berdasarkan tekanan, ancaman ataupun sanksi, melainkan atas kesadarannya sendiri.
  2. Memiliki sikap tulus ikhlas dan pengabdian sikap tulus ikhlas tampil dari hati yang rela berkorban untuk anak didik, yang diwarnai juga dengan kejujuran, keterbukaan dan kesabaran,
  3. Keteladanan guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan, karena guru adalah orang yang pertama setelah orang tua yang mempengaruhi pembinaan karakter dan kepribadian seseorang. Karena itu seorang guru yang baik senantiasa akan memberikan yang baik pula kepada peserta didiknya.

Mahmud Yunus (1966) dalam Ahmad tafsir (2011) menyatakan bahwa seorang guru Pendidikan Agama Islam harus memiliki sifat-sifat yang baik yaitu:

  1. Kasih sayang pada murid
  2. Senang memberikan nasehat
  3. Senang memberikan peringatan
  4. Senang melarang murid melakukan hal yang tida baik
  5. Bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan lingkungan murid
  6. Hormat pada pelajaran lain yang bukan menjadi pegangannya
  7. Bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan taraf kecerdasan murid
  8. Mementingkan berpikir dan berijtihad
  9. Jujur dalam keilmuan dan
  10. Adil

Bila seorang guru PAI di suatu sekolah memiliki kompetensi dan sifat-sifat di atas maka diharapkan mereka bisa memberikan pendidikan karakter kepada peserta didik dengan hasil yang memuaskan. Sangat tercela bila seorang guru berupaya untuk membimbing dan membina karakter peserta didiknya, sementara dirinya sendiri memiliki karakter yang buruk dan tidak berusaha untuk selalu memperbaiki diri.

  1. Suasana Hati di Bulan Romadhan

Pada bulan Ramadhan, pembentukan karakter tentu akan memberikan hasil yang lebih baik. Pada bulan ini para sho-imiin (orang-orang yang berpuasa) lebih mudah mengendalikan sifat-sifat yang ada di dalam dirinya. Ia lebih mudah mengendalikan dorongan amarah, iri, dengki, dan kebencian. Orang yang berpuasa lebih mampu mengatur “tone” sifat-sifat mereka. “Tone” sifat-sifat itu terus-menerus diturunkan sampai pada level paling rendah sehingga hatinya menjadi lembut. Dengan berpuasa, ia memperoleh kelembutan hati.

Sejalan dengan itu, semakin lemah tubuh, semakin melemah hasrat, semakin mudah orang yang berpuasa mengendalikan sifat-sifat tersebut, maka ruh asali (fitrah) semakin tampak. Lintasan-lintasan pikiran buruk mereda, loncatan-loncatan pikiran dari satu persoalan ke persoalan lain berkurang. Pikiran-pikiran baik yang selama ini terecoki oleh pikiran buruk mulai tampak. Orang menjadi tercerahkan. Rasa gelisah juga menurun sejalan dengan tubuh yang lebih nyaman. Orang menuju kembali ke ruh asalnya, ke sifat-sifat dasar manusia yang sesungguhnya. Karena itu, jika orang ingin berubah menjadi “baik”, ia tidak perlu berkata, “Aku ingin berubah!” Cukup ia puasa dan tidak perlu sulit-sulit untuk “mengatur”  perilaku menjadi “baik”. Puasa dengan sendiri akan merubah perilakunya menuju kebaikan (http://mayaaksara.com/puasa-dan-kelembutan-hati/).

Pada beberapa orang yang berpuasa, walau kondisi tubuh secara fisik melemah karena kurang asupan, mereka kadang masih sulit mengendalikan sifat-sifat mereka, khususnya sifat-sifat buruk. Jelas, pengurangan asupan makanan dan minum belum mampu melemahkan tubuh secara fisik untuk meredakan hasrat yang ternyata sangat kuat. Karena itu, setiap habis berbuka puasa, asupan makan sampai menjelang sahur masih perlu dijaga. Dorongan makan sepuas-puasnya secara borongan dapat muncul dalam periode ini. Selain itu, orang yang puasa, pun harus mulai kerja ekstra, yaitu pada saat puasa, ia tidak hanya menahan makan, minum, dan hasrat seksual, ia juga harus mulai melatih mengendalikan inderanya, antara lain mata, hidung, telinga, dan mulut. Bila ini dilakukan, biasanya hasrat marah dan hasrat seksual mulai tertekan dan dikendalikan. Bila ia tidak mampu melakukannya, puasanya hanya memperoleh rasa haus dan lapar saja. Tapi, ini tentu lebih baik dari pada kebanyakan orang yang berpuasa, ada pula yang hampir-hampir tidak pernah merasa lapar. Perut mereka tidak pernah merasakan perih karena lapar. Rasullulah SAW pernah bersabda bahwa rasa perih karena lapar dapat membuat hati menjadi lembut. Mengingat kondisi para sho-imiin tersebut sangat tepat pembentukan karakter ini dilakukan pada bulan ramadhan.

  1. Pembentukan Karakter di Sekolah pada Momen Bulan Ramadhan

Sebagaimana diungkap di atas bahwa sarana yang bisa ditempuh dalam rangka membina karakter peserta didik di sekolah pada bulan Ramadhan adalah dengan menyelenggarakan pesantren kilat. Karena itu setiap sekolah yang menginginkan terwujudnya karakter peserta didik yang baik sebagaimana amanat UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hendaknya menyelenggarakan kegiatan pesantren kilat di sekolahnya masing-masing di setiap bulan Ramadhan.

Diakui bahwa dalam membentuk karakter tidak bisa dilakukan dalam sekejap dengan memberikan tausiah, nasihat, petunjuk, perintah, atau instruksi terhadap peserta didik, namun lebih dari hal tersebut. Dan usaha pembentukan karakter ini tidak cukup dilaksanakan pada bulan ramadhan saja, tetapi mesti diteruskan lagi pada bulan-bulan lain di luar bulan ramadhan.

Pembentukan karakter memerlukan teladan/role model, kesabaran, pembiasaan dan pengulangan. Dengan demikian, proses pendidikan karakter merupakan proses pendidikan yang dialami oleh peserta didik sebagai bentuk pengalaman pembentukan kepribadian melalui mengalami sendiri nilai-nilai kehidupan, agama dan moral. Menurut Ratna Megawangi (2008), pendiri Indonesia Heritage Foundation, ada tiga tahap pembentukan karakter, yakni:

  1. Moral Knowing: Memahamkan dengan baik pada anak tentang arti kebaikan. Mengapa harus berperilaku baik. Untuk apa berperilaku baik. Dan apa manfaat berperilaku baik.
  2. Moral Feeling: Membangun kecintaan berperilaku baik pada anak yang akan menjadi sumber energi anak untuk berperilaku baik. Membentuk karakter adalah dengan cara menumbuhkannya.
  3. Moral Action: Bagaimana membuat pengetahuan moral menjadi tindakan nyata. Moral action ini merupakan outcome dari dua tahap sebelumnya dan harus dilakukan berulang-ulang agar menjadi moral behavior

Dengan melalui tiga tahap tersebut, proses pembentukan karakter akan menjadi lebih mengena dan peserta didik akan berbuat baik karena dorongan internal dari dalam dirinya sendiri. Tahapan demi tahapan itulah yang harus diinternalisasikan terhadap peserta didik di sekolah selama bulan Ramadhan dan bulan-bulan berikutnya demi terwujudnya pribadi yang berkarakter.

Ratna Megawangi (2008) mengungkapkan ada 9 pilar karakter yang harus ditumbuhkan dalam diri siswa:

  1. Cinta pada Allah SWT, dengan segenap ciptaan-Nya
  2. Kemandirian dan tanggung jawab
  3. Kejujuran, bijaksana
  4. Hormat, santun
  5. Dermawan, suka menolong, gotong royong
  6. Percaya diri, kreatif, bekerja keras
  7. Kepemimpinan, keadilan
  8. Baik hati, rendah hati
  9. Toleransi, Kedamaian, kesatuan

Kesembilan pilar karakter perlu diajarkan dengan menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan acting the good berubah menjadi kebiasaan.

Dalam kegiatan proses pembelajaran, membentuk peserta didik berkarakter dapat dimulai dari pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Karakter yang akan dikembangkan dapat ditulis secara eksplisit pada RPP. Dengan demikian, dalam setiap kegiatan pembelajaran guru perlu menetapkan karakter yang akan dikembangkan sesuai dengan materi, metode, dan strategi pembelajaran. Ketika guru ingin menguatkan karakter kerjasama, disiplin waktu, keberanian, dan percaya diri, maka guru perlu memberikan kegiatan-kegiatan dalam proses pembelajaran. Guru perlu menyadari bahwa guru harus memberikan banyak perhatian pada karakter yang ingin dikembangkan ketika proses pembelajaran sedang berlangsung. Seperti kita ketahui bahwa belajar tidak hanya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan saja, namun juga dapat menerapkan ilmu pengetahuan dalam bentuk karya yang mencerminkan keterampilan dan meningkatkan sikap positif. http://gurupembaharu.com/home/.

Dalam kegiatan terakhir, upaya yang dilakukan oleh guru adalah memberikan kesadaran. Kesadaran berarti berupaya untuk tetap tahu, mengerti dan memahami serta menerima keadaan yang dialami. Kesadaran dapat pula diartikan sebagai kondisi jiwa di mana seseorang mengerti dengan jelas apa yang ada dalam pikirannya dan paham dengan apa yang sedang dilakukannya. Dalam praktiknya orientasi materi penyadaran diarahkan kepada proses memahami tujuan hidup, peran dan tanggung jawab sebagai hamba dan khalifah. Sadar akan kelebihan dan kekurangan diri. Sadar bahwa setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban di akherat nanti. Sadar bahwa setiap diri ini diharuskan untuk selalu berbuat baik, baik kepada diri sendiri, sesama dan kepada sang khaliq. Serta sadar bahwa semua ini akan berakhir. Aplikasi kegiatan penyadaran dapat dilaksanakan melalui proses muhasabah atau perenungan diri. Muhasabah (kalkulasi diri) digunakan sebagai upaya dalam mencapai tingkat ketenangan diri.  Muhasabah dilakukan setelah beramal. Muhasabah juga diartikan sebagai kegiatan  mengingat, merenungi, menyadari  atau  mengevalusai aktivitas untuk merancang masa depan yang lebih baik.

Haris al-Muhasibi, (2000:97) memaknai muhasabah dengan upaya mengenali diri (ma`rifatunnafs); mengetahui diri yaitu mengetahui kecenderungan tabiat dan keinginannya, mengetahui segala bentuk kelemahan dan kekuatan diri. Merenungi apa yang telah diperbuat, berapa banyak kelalaian yang telah diperbuat dan sebagainya. Materi muhasabah bisa dikaitkan kepada proses merenungi siapa kita? Untuk apa kita ke dunia? Apa yang perlu kita siapkan? Kemana akhir dari kehidupan kita?.

Pemaparan di atas dapat dipahami bahwa hakikat pendidikan dan pembinaan karakter adalah sebagai proses pemahaman diri (sadar) dengan indikator mampunya seseorang untuk tahu, kenal, mengerti dengan apa yang sedang dan telah dilakukan selama ini. Dikaitkan dengan kondisi peserta didik “semakin tinggi tingkat kesadaran mereka terhadap dirinya, maka akan lebih cepat pula bagi guru dalam membentuk karakter baik peserta didiknya”.

Penutup

Dengan diselenggarakannya pendidikan karakter melalui pesanteren kilat pada momen bulan Ramadhan terhadap peserta didik di setiap sekolah, maka diharapkan sikap dan perilaku (karakter) generasi era kini dan ke depan akan bertambah baik, sehingga berbagai penyimpangan perilaku bisa diminimalisir. Dan ini tentu merupakan tanggung jawab setiap para pendidik (guru) di sekolah tempat mereka bertugas, dibantu oleh para orang tua di rumah, dimana peserta didik banyak menghabiskan waktu bersama orang tuanya dalam keluarga.

REFERENSI

Abdullah, Al-Haris al-Muhasibi Abi. 2000. Al- Masailu Fi A`Maliil Quluubi Wal Jawarih. Bairut: Dar Al-Kitab  Ilmiyah

Hidayatullah, Furqan. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.

Hornby, A.S. dan Parnwell, E.C. 1972. Learner’s Dictionary. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

http://akhmadsudrajat.Wordpress.com/… /pendidikan-karakterdi-smp/

http://gurupembaharu.com/home/

http://mayaaksara.com/puasa-dan-kelembutan-hati/

http://pondokibu.com/parenting/pendidikan-psikologi-anak/dampak-pendidikan-karakter-terhadap-akademi-anak/

http://www.jurnalasia.com/2013/07/08/pesantren-kilat-bagian-pembentukan-karakter/

Megawangi, Ratna. 2008. Dalam http://www.langitperempuan.com/2008/02

/ratna-megawangi-pelopor-pendidikan-holistik-berbasis-karakter/

Nawawi, Hadari. 1993. Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Poerwadarminta, WJS. 1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

 

Santoso, Slamet Imam. 1981. Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan. Jakarta: UI Press.

Tafsir, Ahmad. 2011. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Zuhairini dkk. 1997. Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam. Surabaya: Usaha Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.