“GELAR” BAGI PARA GURU

0
49

“GELAR” BAGI PARA GURU

Oleh

Muhammad Abduh

 

Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus dipenuhi oleh seorang guru bukan hanya sekedar pengetahuan saja tetapi juga menyangkut penampilan dan karakter. Hal ini dikarenakan guru adalah tokoh sentral di sekolah yang selalu menjadi pusat perhatian para siswa, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaya bicara, mimik wajah, gerakan tubuh, pakaian, dan sikap semuanya menjadi pusat perhatian siswa.

Sebagai pusat perhatian, guru harus menyadari bahwa siswa umumnya memiliki label tertentu yang biasa mereka sematkan kepada guru. Label atau gelar tersebut biasanya berkaitan dengan tubuh, pakaian, penampilan, dan sikap seorang guru. Bila guru bisa tampil sempurna di depan kelas maka label yang disematkan kepadanya akan positif namun bila tidak maksimal maka lebel yang disematkan cenderung bersifat negatif. Beruntung jika label tersebut berkonotasi positif karena akan menjadi energi semangat, namun apa jadinya jika label itu ternyata negatif. Karena itu penting bagi guru untuk menyadarinya.

Beberapa label yang biasa disematkan oleh siswa kepada guru antara lain, guru CBSA (catat buku sampai habis), guru genit, guru killer, guru no problem, dan guru aktif (asyik dan inspiratif). Dilabeli sebagai guru CBSA, karena setiap masuk kelas si guru selalu menyuruh siswanya untuk menyalin buku. Sementara sang guru asyik ngobrol atau update status. Bagi guru CBSA ini,  definisi belajar tidak lain adalah mencatat.

Lain lagi dengan guru genit, label ini diberikan karena si guru suka perhatian dengan yang ganteng atau cantik-cantik saja. Sering curi-curi pandangan, dan terkadang kata-katanya  sedikit nyerempet ke pornografi. Kepada guru tipe ini siswa sering berbisik tuh si genit lagi cari mangsa.

Demikian pula guru yang diberikan gelar killer karena sikapnya yang pemarah, suka membentak, sering memvonis siswa bodoh, tidak demokratis, tidak menerima kritik.  Tidak boleh ada yang berisik sedikit pun, tidak boleh pula siswa ke toilet berdua. Biasanya gelar ini sering disematkan kepada guru matematika atau mata pelajaran eksakta lainnya. Jika anda guru bidang studi tersebut, maka berhati-hatilah karena di belakang siswa akan bilang “alhamdulillah si killer sudah pergi sekarang” atau “mudah-mudahan si killer itu tidak masuk hari ini”.

Selanjutnya guru digelari oleh siswanya sebagai guru no problem karena sangat cuek alias tidak perhatian. Guru no problem ini tidak terlalu mempermasalahkan kalau ada yang kelupaan tugas atau PR, atau kalau ada yang berulah di kelas. Bagi siswa guru tipe ini memang tidak “mengganggu” tapi sangat membosankan karena monoton dan tidak bersemangat dalam mengajar. Terhadap guru tipe ini, siswa biasanya berkata “wah dia lagi dia lagi”, kenapi sih dia yang ngajarnya, mendingan tidur aja ah daripada dengarin “radio ngoceh”.

Terakhir guru dilabeli sebagai guru aktif. Guru tipe ini dianggap guru yang paling ideal. Pakaiannya rapih, berwibawa, murah senyum, ramah, penyayang, perhatian, memotivasi. Belajar bersama guru aktif siswa merasa betah, enjoy, ingin berlama-lama. Siswa sering berkata “belajarnya asyik ya waktu tiga jam terasa cuma lima menit”.

Berikut ini adalah kisah ilustrasi tentang guru yang memiliki label di atas.

Pak  Asal

Sebenarnya nama aslinya bukanlah Asal. Ia dipanggil pak Asal karena predikat yang diberikan oleh para siswanya. Dengan predikat semacam itu, siapapun bisa menebak tipe guru seperti apa Pak Asal. Ya pak Asal memang seorang guru namun menjadi seorang guru bukanlah panggilan hatinya. Karenanya profesi guru bagi pak Asal adalah profesi sampingan saja.

Dalam melaksanakan tugas, pak Asal selalu asal-asalan. Asal masuk kelas, asal mengajar, asal melaksanakan tugas, asal menunaikan kewajiban. Bagi pak Asal yang penting terget kurikulumnya tercapai. Dalam mengajar pak Asal tidak pernah membuat perencanaan dan persiapan terlebih dahulu. Apalagi untuk melakukan evaluasi terhadap cara mengajarnya. Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh pak Asal.

Dalam mengajar pak Asal hanya sekedar menyampaikan pengetahuan, jika materi sudah dia sampaikan maka pak Asal sudah merasa cukup. Tidak penting baginya apakah siswanya paham atau tidak, apalagi harus berpikir bagaimana mendidik siswa agar memiliki akhlak yang baik.

Pak Asal memiliki perangai yang tidak bagus, emosional, suka marah-marah, sering mengucapkan kata kasar. Tak terhitung kata atau kalimat bodoh ia ucapkan untuk siswanya. Sehingga siswa menjadi takut setiap kali mengikuti pelajarannya. Suasana kelas menjadi hening seketika jika pak Asal masuk kelas. Kelas takubahnya seperti kuburan, hening dan mencekam. Saking takutnya siswa kepada pak Asal, setiap kali berpapasan dengan pak Asal, para siswa berusaha untuk menghindar. Jangankan bertemu langsung melihat bayangan pak Asal saja para siswa takut.

Pak Banu

Tidak jauh berbeda dengan pak Asal, pak Banu menjalani profesi guru hanya sekedar untuk mencari penghidupan karena sudah berkali-kali mencoba mendapatkan pekerjaan lain tidak kunjung didapat. Hingga akhirnya Pak Banu putus asa kemudian menjatuhkan pilihan pekerjaan sebagai guru.

Dalam melaksanakan tugas, pak Banu tidaklah bersemangat. Tidak memiliki target dan tujuan. Baginya yang penting kurikulum tersampaikan tuntas kepada siswa. Cara mengajar pak Banu monoton, sehingga siswa sebagian ada yang tertidur. Jika ada siswa yang tertidur pak Banu tidak ambil pusing dia biarkan saja siswanya tersebut tidur. Pak Banu tidak pemarah. Mungkin inilah yang menjadi pembeda antara dirinya dengan pak Asal.

Pak Banu tidak pernah mengevaluasi cara mengajarnya sehingga tidak pernah ada perubahan cara mengajarnya. Mulai dari menjadi guru hingga mendekati masa pensiun begitu-gitu saja cara mengajar. Tidak pernah meng upgrade keterampilan mengajar apa lagi untuk membeli buku.

Bagi siswa ada dan tiadanya pak Banu sama saja. Kehadiranya tidak terlalu diharapkan namun kehadirannya pun tidak mengganggu aktifitas siswa. Pokoknya pak Banu adalah tipe guru yang sangat cuek dengan siswa. Pak Banu tidak peduli apakah siswanya akan menjadi pintar atau bodoh. Apakah siswa paham dengan pelajaranya atau tidak.

Bagi pak Banu mau pintar atau nggak bukan urusan dia. Apalagi siswa itu bukanlah anaknya atau keluarganya. Jika ada anak yang mau pintar silahkan berusaha sendiri. Tapi jika anak gak mau berusaha pak Banu tidak pernah untuk memotivasinya.

Bu Rohimah

Sesuai dengan namanya bu Rohimah memang sosok guru yang penyayang terhadap siswa-siswanya. Perhatian sepenuhnya ia curahkan kepada siswanya. Bu Rohimah berusaha untuk mengenal siswanya dengan baik. Berusaha mengenal kondisi ekonomi, orang tua, latar belakang keluarga siswa. Hal ini penting bagi bu Rohimah untuk mengetahui kondisi nyata siswanya sehingga bisa memberikan perhatian khusus bagi siswanya.

Suatu ketika ada seorang siswanya selalu terlambat masuk kelas, sebut saja namanya Raihan. Dimata guru-guru yang lain Raihan dianggap sebagai murid yang tidak disiplin waktu karena ia selalu terlambat masuk ke kelas. Tapi bagi bu Rohimah yang memiliki naluri kepekaan yang dalam, tidak langsung memberikan penilain negatif kepada Raihan. Dia yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Raihan pasti ada yang melatarbelakanginya.

Bu Rohimah berusaha mencari tau kondisi Raihan. Sepulang sekolah Bu Rohimah menyempatkan mampir ke rumah Raihan. Bu Rohimah  bertemu dengan ibu Raihan yang sedang terbaring sakit. Ibu Raihan bercerita bahwa sejak suaminya meninggal dan dirinya dalam kondisi yang sakit, Raihan menggantikan posisi orang tuanya untuk mencari nafkah guna kelangsungan hidup mereka berdua. Subuh pagi-pagi Raihan harus mengantar koran ke rumah para pelanggannya. Sepulang dari mengantar koran, ia menyiapkan sarapan untuk ibunya yang sakit, kemudian ia memandikan ibunya. Setelah selesai mengurus ibunya, barulah Raihan mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Mendengar cerita Ibu Raihan tanpa terasa bu Rohimah  meneteskan air mata haru. Ia merasa kasihan sekaligus bangga dengan budi pekerti Raihan yang penuh bakti dengan orang tuanya. Kini bu Rohimah sangat memaklumi mengapa Raihan selalu terlambat datang ke sekolah.

Begitulah sosok Bu Rohimah yang sangat perhatian dengan kondisi siswanya. Jika ada yang tidak hadir Bu Rohimah berusaha untuk mencari tau. Ketika ada siswa yang murung tidak semangat belajar bu Rohimah mengajak bicara empat mata kemudian menasehatinya.

Baik pak Asal, pak Banu, maupun bu Rohimah memiliki label tersendiri bagi siswa-siswanya. Pak Asal akan dilabeli sebagai guru killer, pak Banu sebagai guru no problem, dan bu Rohimah sebagai guru penyayang. Label atau “gelar” tersebut akan terus tersimpan dalam ingatan para siswa dan akan menjadi cerita yang menarik  disaat momen reuni sekolah.

Membaca tiga kisah ilustrasi di atas, para guru dapat bercermin dan menentukan posisinya apakah ia guru killer, no problem, atau guru aktif (asyik dan inspiratif). Semoga artikel ini memberi inspirasi bagi guru untuk selalu menjad guru yang terbaik bagi siswa-siswanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.