Evaluasi Kinerja Penyuluh Agama Pascadiklat

0
54

Oleh :

Drs. H. Kgs. M. Daud, M.HI

( Widyaiswara Utama Balai Diklat Keagamaan Palembang)

ABSTRAK

 

Penyuluh Agama memengang peranan yang penting dan strategis dalam menunjang  keberhasilan tugas dan fungsi Kementrian Agama.  Posisi penyuluh Agama  sangat strategus, karena selain ia berhadapan langsung dengan masyarakat, tugasnya sebagai penyampai pesan – pesan Agama dan pesan – pesan pembangunan melalui bahasa Agama secara psikologis akan sangat menyentuh hati dan sekaligus memotivasi masyarakat untuk berperan secara aktif membangun dirinya sendiri dan membangun bangsa dan Negara.

 

Kata Kunci : Kinerja Penyuluh Agama Pasca Diklat

 

  1. A.     PENDAHULUAN

Bahwa Penyuluh Agama memegang peranan yang penting dan strategis  dalam  menunjang keberhasilan pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian Agama. Penyuluh agama adalah ujung tombak Kementerian Agama yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Sebagai pegawai negeri sipil, sesuai dengan Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54/KEP/MK.WASPAN/9/1999 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya, penyuluh agama diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan bimbingan dan penyuluhan agama dan pembangunan kepada masyarakat melalui bahasa agama.

Posisi penyuluh agama sangat strategis, karena selain ia berhadapan langsung dengan masyarakat, tugasnya sebagai penyampai pesan-pesan agama dan pesan-pesan pembangunan melalui bahasa agama secara psikologis akan sangat menyentuh hati dan sekaligus memotivasi masyarakat untuk berperan secara aktif membangun dirinya sendiri dan membangun bangsa dan negara. Hal ini sangat logis, karena bangsaIndonesiadikenal sebagai bangsa yang religius.

Sejalan dengan peran dan posisi penyuluh agama yang strategis itu, maka kinerja penyuluh agama perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Sejak ditetapkannya penyuluh agama sebagai tenaga fungsional tahun 1999,  banyak kebijakan yang telah diambil oleh Kementerian Agama dalam rangka pembinaan kinerja dan pengembangan karir penyuluh agama. Antara lain penerbitan petunjuk teknis dan pedoman kerja tugas-tugas penyuluh agama, pelaksanaan diklat bagi penyuluh agama, rekrutmen dan penambahan tenaga penyuluh agama melalui formasi pengangkatan CPNS dan kebijakan-kebijakan strategis lainnya.

Upaya-upaya ini menunjukkan tingginya perhatian Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama akan pentingnya peran penyuluh agama dalam masyarakat, sekaligus sebagai cerminan harapan pemerintah agar para penyuluh agama dapat menampilkan kinerja yang optimal, dan menjadi petugas yang handal dalam memberikan bimbingan agama dan pembangunan di negara tercinta ini.

 

  1. B.     PENYULUH AGAMA DI KEMENTRIAN AGAMA

Perlu kami informasikan bahwa pada tahun 2011 di Kantor Kementerian Agama Kota Palembang terdapat 83 orang penyuluh agama dan 68 orang diantaranya sudah mengikuti diklat penyuluh agama. Sejatinya, 68 orang penyuluh agama yang sudah mengikuti diklat penyuluh agama akan menampilkan kinerja yang lebih baik dalam pelaksanaan tugas kesehariannya,  dibanding sebelum mereka mengikuti diklat. Namun sampai sekarang, belum pernah ada penelitian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengukur atau mengevaluasi capaian kinerja para penyuluh agama pascadiklat.

Hal inilah yang menjadi dasar pertimbangan, mengapa kami memilih judul EVALUASI KINERJA PENYULUH AGAMA PASCADIKLAT DI KOTA PALEMBANG untuk diangkat dalam penelitian ini. Adapun rumusan masalah yang hendak dijawab melalui penelitian ini adalah: bagaimanakah perkembangan kinerja penyuluh agama di Kota Palembang setelah mereka mengikuti diklat?.

Ada 2 (dua) indikator kinerja yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1) hasil penilaian kinerja dari atasan langsung Penyuluh Agama yang dituangkan dalam DP3, dan 2) pelaksanaan kegiatan tugas pokok Penyuluh Agama seperti yang diatur dalam Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya Juncto  Keputusan Bersama Menteri Agama RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 574 dan 178 Tahun 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya. Berdasarkan 2 (dua) keputusan Menko Wasbangpan dan Keputusan Bersama Menteri Agama RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara di atas, rincian kegiatan tugas pokok penyuluh agama meliputi : pengumpulan data dan identifikasi potensi wilayah/kelompok sasaran, penyusunan rencana kerja operasional, identifikasi kebutuhan sasaran, pengumpulan bahan materi penyuluhan, penyusunan konsep materi, melaksanakan penyuluhan kepada kelompok binaan, menyusun laporan mingguan dan melaksanakan konsultasi.

Selanjutnya secara praktis penelitian ini bermanfaat :           1) sebagai evaluasi bagi Kepala Kantor Kementerian Agama  dalam rangka meningkatkan kinerja dan produktivitas penyuluh agama, dan 2) sebagai masukan bagi Kepala Balai Diklat Keagamaan Palembang untuk mengembangkan jenis-jenis program diklat yang dibutuhkan oleh para penyuluh agama di masa yang akan datang.

 

  1. C.     MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dimaksudkan dengan penelitian deskriptif adalah penelitian yang ”menggambarkan apa adanya tentang sesuatu variabel, gejala atau keadaan ” (Arikunto, 2000 : 310). Penelitian ini juga dikatakan penelitian kualitatif karena” data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif ” (Sugiyono, 2005 : 1). Populasi penelitian ini meliputi 68 orang penyuluh agama yang sudah mengikuti diklat. Mereka  bertugas di 14 kecamatan dalam  lingkungan Kementerian Agama Kota Palembang yang terdiri dari penyuluh agama terampil penyelia sebanyak 10 orang, penyuluh agama ahli pertama sebanyak 49 orang, dan penyuluh agama ahli muda sebanyak 9 orang.

Menurut Suharsimi Arikunto (1991:120), ”jika subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi”. Karena populasi penelitian ini hanya 68 orang atau kurang dari 100, maka keseluruhan populasi sebagai subjek penelitian dijadikan sampel penelitian.

Untuk teknik pengumpulan data digunakan tiga macam teknik pengumpulan data yang relevan dengan penelitian ini yaitu teknik wawancara, studi dokumen (pustaka) dan pengamatan (observasi).

Teknik wawancara yang digunakan terdiri dari wawancara berstruktur (structured interview) dan wawancara tidak terstruktur (unstructured interview). Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan di mana ”pengumpul data menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya ” (Sugiyono,2005: 73).

Pedoman wawancara (interview guide) berisi pertanyaan dan alternatif jawaban yang diberikan kepada interviewee telah ditetapkan terlebih dahulu oleh peneliti. Pedoman wawancara ini dikembangkan dari rincian Tugas Pokok penyuluh agama seperti yang tercantum dalam Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999.

Jumlah pertanyaan dan alternatif jawaban dalam pedoman wawancara ini disesuaikan dengan tingkat jenjang jabatan penyuluh agama. Untuk penyuluh agama terampil penyelia disiapkan 14 item pertanyaan, untuk penyuluh agama ahli pertama sebanyak 18 item pertanyaan, dan untuk penyuluh agama ahli muda sebanyak 32 item pertanyaan. Masing-masing pertanyaan disediakan 3 (tiga) alternatif jawaban yang sudah dibakukan, yaitu 1) sudah melaksanakan sesuai dengan pedoman, 2) sudah melaksanakan tetapi belum sesuai dengan pedoman, dan 3) belum melaksanakan. Wawancara terstruktur ini digunakan untuk memperoleh data kinerja penyuluh agama dalam melaksanakan rincian kegiatan tugas pokoknya sesuai dengan Keputusan Menkowasbangpan Nomor 54 Tahun 1999.

Sedangkan wawancara tidak terstruktur (unstructured interview) adalah wawancara yang bebas dan lebih bersifat informal di mana ”peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan ” (Sugiyono, 2005 : 74).

Adapun yang dijadikan sumber data dalam wawancara ini adalah Kepala Seksi dan Staf Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kota Palembang. Wawancara tidak terstruktur ini digunakan untuk mengumpulkan data peta kekuatan dan penyebaran penyuluh agama yang ada di Kota Palembang.

Sementara untuk teknik studi dokumen dilakukan untuk mendapatkan data kinerja penyuluh agama sebagai Pegawai Negeri Sipil menurut hasil penilaian atasan langsungnya yang tertuang dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) Penyuluh Agama yang bersangkutan. Di samping itu teknik studi dokumen ini juga dilakukan untuk memastikan keabsahan pelaksanaan tugas-tugas Penyuluh Agama dalam rangka melengkapi hasil wawancara. Studi dokumen ini dilakukan dengan cara menelaah arsip-arsip yang ada pada Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kota Palembang.

Selanjutnya data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan cara menghitung persentase nilai DP3 tahun 2010 dan 2011, dan hasil jawaban responden terhadap pertanyaan yang diajukan dalam wawancara, kemudian dilakukan cross check dengan hasil studi dokumen, selanjutnya dibandingkan antara kondisi kinerja penyuluh agama sebelum mengikuti Diklat dengan kinerja mereka setelah mengikuti Diklat, dan terakhir dari semua proses itu ditarik beberapa kesimpulan.

Sebelum kami menguraikan hasil temuan penelitian ini, terlebih dahulu izinkan kami untuk menjelaskan landasan teoritis yang menjadi dasar berpijak pelaksanaan penelitian ini sebagai berikut :

 

  1. 1.      Kinerja Penyuluh Agama

Kata kinerja merupakan terjemahan dari kata performance dalam bahasa Inggris. Menurut kamus  The New Webster Dictionary yang dikutip oleh Ruky (2006 :4) performance memiliki tiga arti yaitu :

  1. prestasi yang digunakan dalam konteks atau kalimat misalnya tentang ”mobil yang sangat cepat (high performance car)”;
  2. pertunjukan yang biasanya digunakan dalam kalimat folk dance performance atau pertunjukan tari-tarian rakyat;
  3. c.       pelaksanaan tugas misalnya dalam kalimat in performing his/her dutles.

Secara terminologi, Sianipar (1999 : 4) mendefinisikan kinerja sebagai ”hasil kerja atau kemampuan kerja yang diperlihatkan seseorang, sekelompok orang (organisasi) atas suatu pekerjaan pada waktu tertentu.” Kinerja dapat berupa produk akhir (barang dan jasa) dan atau berbentuk perilaku, kecakapan, kompetensi, sarana dan keterampilan spesifik yang dapat mendukung pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.

Sementara itu Triton (2005 : 95) mengartikan kinerja sebagai merumuskan aspek–aspek kinerja yang harus dievaluasi meliputi ”kesetiaan, kejujuran, kepemimpinan, kerjasama, loyalitas, dedikasi, dan partisipasi sebagai kontribusi keseluruhan yang diberikan oleh setiap individu bagi organisasinya.”

Untuk lingkungan Pegawai Negeri Sipil, aspek-aspek kinerja terangkum dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) yang diatur dalam peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1979. DP3 ini memuat hasil penilaian kinerja Pegawai Negeri Sipil dalam jangka waktu satu tahun. Dalam pasal 4 ayat (2) PP 10 Tahun 1979, unsur-unsur yang dinilai dalam DP3  seorang PNS sebagai berikut :  (1) kesetiaan, (2) prestasi kerja, (3) tanggung jawab, (4) ketaatan, (5) kejujuran, (6) kerjasama, (7) prakarsa, (8) kepemimpinan. Khusus unsur nomor 8 (kepemimpinan) hanya dinilai bagi Pegawai Negeri Sipil yang memangku suatu jabatan struktural.

Hasil penilaian terhadap setiap unsur kinerja Pegawai Negeri Sipil tersebut di atas, dituangkan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) dengan menggunakan angka dan sebutan sebagai berikut : 91-100 =amat baik,  76-90 = baik, 60-75 = cukup, 51-60 = sedang, dan 50 ke bawah = kurang. Daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan ini digunakan sebagai bahan untuk melakukan pembinaan Pegawai Negeri Sipil, antara lain dalam mempertimbangkan mutasi kenaikan pangkat, promosi dan penempatan dalam jabatan, pemindahan tempat tugas, kenaikan gaji berkala, dan mutasi kepegawaian lainnya.

Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, penyuluh agama adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan bimbingan atau Penyuluhan Agama dan pembangunan kepada masyarakat melalui bahasa agama (pasal 1 ayat (1) Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999).

Dari rumusan Menko Wasbangpan di atas dapat dipahami bahwa  pada haikatnya ada dua fungsi yang harus dilakukan oleh Penyuluh Agama. Fungsi pertama sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan kedua sebagai penyuluh agama yang berfungsi sebagai pejabat fungsional dengan tugas melakukan penyuluhan dan bimbingan keagamaan. Dengan demikian, kinerja penyuluh agama dapat diartikan sebagai hasil kerja atau kemampuan kerja yang harus diperlihatkan oleh seorang penyuluh agama pada waktu tertentu baik dalam posisi dan kapasitasnya sebagai Pegawai Negeri Sipil, maupun sebagai pejabat fungsional yang bertugas melakukan penyuluhan dan bimbingan keagamaan dalam bahasa agama.

Sebagai  Pegawai Negeri Sipil, penyuluh agama harus menunjukkan kinerja sesuai dengan unsur-unsur kinerja yang tercantum dalam PP Nomor 10 Tahun 1979, dan sebagai pejabat fungsional, penyuluh agama harus memperlihatkan kinerja sesuai dengan tuntutan tugas pokoknya seperti  yang dirinci dan diatur dalam Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999.

Adapun tugas pokok penyuluh agama menurut pasal 4 Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999 adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Rumusan tugas pokok ini dirinci lagi secara spesifik ke dalam beberapa unsur kegiatan sesuai dengan jenjang jabatan penyuluh agama masing-masing. Sebagai salah satu contoh dalam pasal 7 ayat 1–c dimuat unsur-unsur kegiatan yang harus dilaksanakan oleh penyuluh agama terampil penyelia sebanyak 14 unsur kegiatan, yaitu :

1)      Menyusun rencana kerja operasional

2)      Mengidentifikasi kebutuhan sasaran

3)      Menyusun konsep program

4)      Membahas konsep program sebagai penyaji

5)      Merumuskan program kerja

6)      Menyusun konsep tertulis materi bimbingan atau penyuluhan dalam bentuk naskah

7)      Melaksanakan bimbingan atau penyuluhan tatap muka kepada masyarakat pedesaan

8)      Melaksanakan bimbingan atau penyuluhan melalui pentas pertunjukan sebagai pemain

9)      Menyusun laporan mingguan pelaksanaan bimbingan atau penyuluhan

10)  Melaksanakan konsultasi secara perorangan

11)  Melaksanakan konsultasi secara kelompok

12)  Menyusun laporan hasil konsultasi perorangan/kelompok

13)  Mengumpulkan bahan untuk penyusunan petunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis bimbingan atau penyuluhan

14)  Mengolah dan menganalisis data untuk penyusunan petunjuk pelaksanaan/petunjuk teknis bimbingan atau penyuluhan.

Begitu pula dengan rincian kegiatan penyuluh agama Ahli Pertama  sebanyak 18 rincian kegiatan seperti yang termuat dalam pasal 7 ayat 2-a dan rincian kegiatan Penyuluhan Agama Ahli Muda sebanyak 32 rincian kegiatan yang tidak kami uraikan satu persatu dalam tulisan ini.

 

  1. 2.      Diklat dan Peningkatan Kinerja Penyuluh Agama

Upaya lainnya yang ditempuh oleh Pemerintah untuk meningkatkan kinerja Penyuluh Agama sebagai aparatur pemerintah adalah melalui pendidikan dan pelatihan (diklat). Dalam sistem pembinaan Pegawai Negeri Sipil, diklat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara komprehensif. Untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan tugas jabatan agar menjadi profesional sesuai dengan kebutuhan instansi, maka penyuluh agama harus mengikuti diklat.

Menurut pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2000, Diklat adalah suatu proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil yang bertujuan  untuk :

1)      Meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan kebutuhan instansi;

2)      Menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembahasan dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa;

3)      Memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan masyarakat;

4)      Menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan demi terwujudnya kepemerintahan yang baik (Pasal 2 PP 10/2000).

Sejalan dengan itu sasaran yang harus dicapai melalui Diklat adalah ”terwujudnya Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan persyaratan jabatan masing-masing” (Pasal 3 PP 101/2000). Dalam penjelasan pasal 3 ini dijelaskan bahwa kompetensi itu sendiri adalah ”kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PNS, berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap prilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya”.

Untuk meningkatkan kompetensinya, seorang penyuluh agama dapat mengikuti diklat teknis fungsional dan diklat teknis substantif, baik diklat yang berjenjang atau tidak berjenjang, agar penyuluh agama yang bersangkutan memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensi teknis yang dibutuhkan oleh Kementerian Agama.

Dengan mengikuti diklat penyuluh agama, diharapkan kompetensi para penyuluh agama dapat meningkat, sehingga kinerja para Penyuluh Agama diharapkan akan lebih baik.

Perlu kami sampikan bahwa kegiatan penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pengumpulan dan analisis data, dan tahap penulisan laporan penelitian.

Tahap persiapan dilaksanakan selama dua bulan, yaitu pada bulan November dan Desember 2011. Kegiatan persiapan diawali dengan mengadakan wawancara dengan Kepala Seksi Penamas dan beberapa orang penyuluh agama pada Kantor Kementerian Agama Kota Palembang. Selanjutnya  menelaah beberapa dokumen yang berkaitan dengan kegiatan penyuluh agama.

Dari hasil wawancara dan penelaah dokumen ini kami memperoleh gambaran tentang peta kegiatan Penyuluh Agama di Kota Palembang dan beberapa kegiatan Penyuluhan yang sudah dilaksanakan maupun yang belum dilaksanakan. Berdasarkan data awal yang masih bersifat umum ini selanjutnya disusunlah proposal penelitian diikuti dengan penyusunan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan inventarisasi data yang akan dihimpun, serta dilanjutkan dengan pengurusan administrasi pelaksanaan penelitian sesuai prosedur yang berlaku.

Tahap pengumpulan dan analisis data berlangsung pada bulan Januari dan Februari 2012. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah penelaahan dokumen DP3 dan dokumen laporan penyuluh agama pada Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kota Palembang, sekaligus  mengadakan wawancara dengan para penyuluh agama yang ada di Kota Palembang. Data yang diperoleh kemudian dirangkum dan diseleksi serta dilakukan pengeditan data. Terhadap data yang belum jelas, dilakukan pendalaman kembali dengan cara melakukan wawancara ulang dan studi dokumen, sementara terhadap data yang dipandang akurat dilakukan proses tindak lanjut berikutnya sehingga sampai pada proses pengambilan kesimpulan.

 

 

 

 

 

  1. D.    HASIL TEMUAN PENELITIAN

Selanjutnya perkenankan kami untuk menyampaikan hasil temuan penelitian ini. Selama proses kegiatan penelitian berlangsung, diperoleh data dan informasi mengenai perkembangan kinerja Penyuluh Agama Pascadiklat di Kota Palembang. Data dan informasi kinerja penyuluh agama ini dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, aspek hasil penilaian kinerja dari atasan langsung penyuluh agama yang bersangkutan yang tertuang dalam DP3, dan kedua, aspek pelaksanaan rincian kegiatan tugas pokok penyuluh agama sesuai dengan Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999.

 

Berdasarkan hasil penelaahan terhadap dokumen DP3 penyuluh agama yang ada pada Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kota Palembang, diperoleh data DP3 penyuluh agama, sebagai berikut :

 

Tabel 1.

Nilai Rata-rata DP3 Penyuluh Agama

 

No

Nilai Rata-rata

Tahun 2010

Tahun 2011

Keterangan

Jumlah Orang

%

Jumlah Orang

%

 

1

2

3

4

80

81

82

83

12

22

25

9

17,65 %

32,35 %

36,76 %

13,24 %

3

20

34

11

4,41 %

29,41 %

50 %

16,17 %

Berkurang 9 org

Berkurang 2 org

Bertambah 9 org

Bertambah 2 org

Jumlah

68

100 %

68

100 %

Sumber data    :  Seksi Penamas Kantor Kemenag Kota Palembang tahun 2010 dan 2011.

 

Data tersebut memperlihatkan bahwa secara umum tidak ada peningkatan kinerja Penyuluh Agama di Kota Palembang pada tahun 2011 dibanding dengan tahun 2010. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata yang diperoleh masih tetap sama,  yaitu nilai rata-rata tertinggi 83 dan nilai rata-rata terendah 80. Tetapi secara perorangan penyuluh agama, terdapat beberapa orang yang mendapatkan peningkatan nilai rata-rata DP3 pada tahun 2011, dibandingkan dengan nilai rata-rata DP3 tahun 2010. Dari jumlah penyuluh agama yang memperoleh nilai rata-rata 82 ditahun 2010, pada tahun 2011 bertambah 11 orang dan yang memperoleh nilai rata-rata 83 bertambah 2 (dua) orang. Sementara jumlah penyuluh agama yang mendapat nilai rata-rata 80 dan 81 pada tahun 2011 berkurang masing-masing 9 dan 2 orang, bila dibandingkan tahun 2010.

Dengan kata lain, pada tahun 2011, dari 68 orang penyuluh agama di Kota Palembang terdapat 22 orang  (32,35 %) penyuluh agama yang dapat menunjukkan peningkatan kinerjanya, menurut penilaian Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kota Palembang. Peningkatan tersebut dengan nilai rata-rata satu angka.

Berikut akan kami sajikan data perkembangan kinerja Penyuluh Agama Pascadiklat di Kota Palembang dilihat dari aspek pelaksanaan rincian kegiatan tugas-tugas pokok seperti diatur dalam Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999.

Mengingat beban tugas penyuluh agama ini tidak sama bobotnya antara jenjang jabatan yang satu dengan yang lainnya, maka data tentang kinerja penyuluh agama berdasarkan tugas pokoknya, akan disajikan sesuai dengan  jenjang jabatan penyuluh agama.

 

 

  1. A.     Penyuluh Agama Terampil Penyelia

Jumlah penyuluh agama Terampil Penyelia yang ada di Kota Palembang sebanyak 10 orang, dengan 14 rincian tugas pokok. Untuk mendapatkan data tentang perkembangan kinerja mereka, telah dilakukan wawancara terstruktur dengan menggunakan 14 pertanyaan, dan masing-masing pertanyaan disediakan 3 (tiga) alternatif jawaban. Dari hasil wawancara ini diperoleh 140 jawaban (10 orang x 14 pertanyaan) dengan rekapitulasi sebagai berikut :

 

 

Tabel 2.

Data Pelaksanaan Rincian Tugas Pokok

Penyuluh Agama Penyelia

No

Alternatif Jawaban

Tahun 2010

Tahun 2011

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Sudah melaksanakan sesuai pedoman

31

22,15 %

95

67,86 %

2

Sudah melaksanakan tetapi belum sesuai pedoman

43

30,71 %

30

21,43 %

3

Belum melaksanakan

66

47,14 %

15

10,71 %

Jumlah

140

100 %

140

100 %

Sumber data : Hasil Wawancara dengan Penyuluh Agama Terampil Penyelia.

 

 

Data tersebut memperlihatkan adanya peningkatan kinerja penyuluh agama Terampil Penyelia pada tahun 2011. Hal ini terlihat dalam pernyataan para penyuluh, bahwa tugas-tugas pokok penyuluh agama sebanyak 14 kegiatan yang sudah terlaksana sesuai dengan pedoman mencapai angka 67,86 %, meningkat sangat signifikan yaitu 45,71 % dibandingkan kinerja tahun 2010 yang menunjuk pada angka 22,15 %. Untuk kegiatan yang belum dilaksanakan mengalami penurunan drastis sebesar  36,43 %, di mana pada tahun 2010 berada pada angka 47,14 % sementara pada tahun 2011  menurun menjadi 10,71 %. Penurunan juga terjadi pada kegiatan yang sudah dilaksanakan tetapi belum sesuai dengan pedoman. Tahun 2010 masih berada pada angka 30,71 % sementara pada akhir 2011 menurun menjadi 21,43 %, atau dengan kata lain terjadi penurunan sebesar 9,28 %.

Memperhatikan data yang ada, kegiatan tugas pokok yang sudah dilaksanakan sesuai dengan pedoman oleh semua penyuluh agama terdiri dari 5 (lima) kegiatan yaitu penyusunan rencana kerja operasional, identifikasi kebutuhan sasaran, pelaksanaan penyuluhan mingguan, dan pelaksanaan konsultasi secara perorangan. Sedangkan 9 (sembilan) kegiatan sisanya baru terlaksana rata-rata 51%. Hal ini terlihat dari jawaban yang ada untuk 9 kegiatan tersebut, 46 dari 90 jawaban menyatakan sudah melaksanakan sesuai dengan pedoman, dan 44 jawaban sisanya menyatakan sudah melaksanakan tetapi belum sesuai dengan pedoman dan belum melaksanakan rincian kegiatan secara keseluruhan.

 

  1. B.     Penyuluh Agama Ahli Pertama

Jumlah penyuluh agama Ahli Pertama yang ada di Kota Palembang sebanyak 49 orang, dengan 18 rincian tugas pokok. Data perkembangan kinerja penyuluh agama Ahli Pertama ini diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan 18 pertanyaan dengan alternatif jawaban untuk setiap item pertanyaan 3 pilihan jawaban, sama dengan penyuluh agama terampil penyelia. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh 882 jawaban (49 orang x 18 pertanyaan) dengan rekapitulasi sebagai berikut :

Tabel 3.

Data Pelaksanaan Rincian Tugas Pokok

Penyuluh Agama Ahli Pertama

 

No

Alternatif Jawaban

Tahun 2010

Tahun 2011

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Sudah melaksanakan sesuai pedoman

180

20,41 %

575

65,19 %

2

Sudah melaksanakan tetapi belum sesuai pedoman

286

32,43 %

3

Belum melaksanakan

702

79,59 %

21

2,38 %

Jumlah

882

100 %

882

100 %

Sumber data : Hasil Wawancara dengan Penyuluh Agama Ahli Pertama.

 

Data tersebut memperlihatkan adanya peningkatan kinerja penyuluh agama Ahli Pertama pada tahun 2011. Hal ini terlihat dalam jawaban responden yang menyatakan bahwa kegiatan tugas pokok kepenyuluhan agama sebanyak 18 kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh seluruh penyuluh agama sesuai dengan pedoman pada tahun 2010 masih berada pada angka 20,41 %, pada akhir tahun 2011 sudah dapat mencapai angka 65,19 % yang berarti mengalami peningkatan sebasar 44,78 %. Sedangkan untuk tugas-tugas yang sama sekali belum dilaksanakan pada tahun 2010 jumlahnya sangat besar mencapai 79,59 %,  tetapi pada akhir tahun 2011 menurun drastis, hanya tinggal 2,38 % atau berkurang 77,21 %. Tugas-tugas yang belum terlaksana pada tahun 2010 ini sudah mulai dilaksanakan dalam tahun 2011 walaupun masih banyak yang pelaksanaannya belum sepenuhnya sesuai dengan pedoman yang sudah ditetapkan. Tugas-tugas yang pelaksanaannya belum sesuai dengan pedoman ini masih berada pada angka 32,43 % dari seluruh tugas yang harus dilaksanakan oleh penyuluh agama Ahli Pertama.

Sementara itu dari data yang masuk, terungkap juga bahwa kegiatan yang sudah dilaksanakan sesuai dengan pedoman oleh para penyuluh agama Ahli Pertama, belum ada yang mencapai 100 %. Tetapi ada 5 (lima) tugas yang sudah dilaksanakan oleh 90% Penyuluh Agama Ahli Pertama yaitu : 1) tugas identifikasi potensi wilayah/kelompok sasaran dan tugas menyusun laporan mingguan pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan dilaksanakan oleh 48 orang, 2) tugas melaksanakan konsultasi perorangan dan tugas menyusun laporan hasil konsultasi perorangan/kelompok dilaksanakan oleh 46 orang, dan 3) tugas menyusun konsep materi bimbingan/penyuluhan dalam bentuk maskah dilaksanakan oleh 45 orang dari 49 orang Penyuluh Agama Ahli Pertama. Sedangkan 13 tugas lainnya baru dilaksanakan oleh rata-rata 47 % Penyuluh Agama Ahli Pertama yang ada di Kota Palembang.

 

  1. C.     Penyuluh Agama Ahli Muda

Jumlah Penyuluh Agama Ahli Muda yang ada di Kota Palembang sebanyak 9 (sembilan) orang, dan rincian tugas pokoknya yang harus dilaksanakan sebanyak 32 kegiatan. Data perbandingan kinerja penyuluh agama Ahli Muda diperoleh melalui wawancara  dengan mengajukan 32 pertanyaan dan setiap item pertanyaan disediakan tiga alternatif jawaban. Dari wawancara tersebut diperoleh 288 jawaban (9 orang x 32 pertanyaan) dengan rekapitulasi sebagai berikut :

Tabel 4.

Data Pelaksanaan Rincian Tugas Pokok

Penyuluh Agama Ahli Muda

 

No

Alternatif Jawaban

Tahun 2010

Tahun 2011

Jumlah

%

Jumlah

%

1

Sudah melaksanakan sesuai pedoman

61

21,18 %

195

67,71 %

2

Sudah melaksanakan tetapi belum sesuai pedoman

10

3,47 %

91

31,60 %

3

Belum melaksanakan

217

75,35 %

2

0,69 %

Jumlah

288

100 %

288

100 %

Sumber data : Hasil Wawancara dengan Penyuluh Agama Ahli Muda.

Data ini memperlihatkan bahwa kinerja penyuluh agama Ahli Muda yang ada di Kota Palembang pada akhir tahun 2011 mengalami peningkatan di bandingkan tahun 2010. Dari 32 kegiatan penyuluh agama Ahli Muda yang sudah dilaksanakan sesuai pedoman pada tahun 2010 baru mencapai 21,18%, sementara pada akhir tahun 2011 meningkat menjadi 67,71 %. Ada peningkatan 46,53 % dibandingkan tahun sebelumnya. Pada sisi lain kegiatan penyuluh agama yang belum dilaksanakan untuk tahun 2010 jumlahnya sangat besar yaitu 75,35 % , tetapi tahun 2011 menurun drastis menjadi 0,69 % atau berkurang 74,66 %. Tugas-tugas yang belum dilaksanakan pada tahun 2010 ini, sudah mulai dilaksanakan pada tahun 2011, meskipun pelaksanaannya baru mencapai 31,60 % dan belum sesuai dengan pedoman yang sudah digariskan.

Sementara itu dari data yang masuk,  terungkap pula sebanyak 11 unsur kegiatan (34,37 %) dari seluruh tugas pokok penyuluh agama Ahli Muda yang pada akhir tahun 2011 sudah terlaksana sesuai dengan pedoman yang sudah digariskan, yaitu tugas menyusun instrumen pengumpulan data potensi wilayah/kelompok sasaran, tugas menganalisis data potensi wilayah/kelompok sasaran, tugas menyusun rencana kerja operasional, tugas menyusun desain materi bimbingan/penyuluhan, tugas menyusun konsep tertulis materi bimbingan/penyuluhan dalam bentuk naskah, tugas merumuskan materi bimbingan/penyuluhan, tugas melaksanakan bimbingan/penyuluhan melalui tatap muka kepada generasi muda, tugas menyusun laporan mingguan pelaksanaan bimbingan/penyuluhan, tugas melaksanakan konsultasi perorangan, tugas melaksanakan konsultasi kelompok, dan tugas menyusun laporan hasil konsultasi perorangan/kelompok. Sedangkan sisanya 21 kegiatan (65,63 %), baru terlaksana rata-rata 51 % .

 

  1. E.     PENINGKATAN KINERJA PENYULUH AGAMA

Peningkatan kinerja Penyuluh Agama dalam tahun 2011 seperti diuraikan tadi, tidak terlepas dari peran diklat yang sudah mereka ikuti selama ini. Diklat Penyuluh Agama yang dilaksanakan selama ini telah memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan wawasan tentang tugas pokok, fungsi, tanggung jawab penyuluh agama sebagai pejabat fungsional yang bertugas melaksanakan bimbingan dan penyuluhan agama dan pembangunan dengan bahasa agama.

Selain itu, pembinaan dan pemberdayaan secara terus menerus yang dilakukan oleh Pimpinan Kantor Kementerian Agama Kota Palembang terutama Kasi Penamas sebagai pembina penyuluh agama, ikut memberikan konstribusi yang sangat besar terhadap peningkatan kinerja penyuluh agama. Berbagai langkah kebijakan yang diambil, pelaksanaan bimbingan dan pengawasan terhadap aktivitas dan kinerja penyuluh agama yang telah dilakukan oleh pihak Kantor Kementerian Agama Kota Palembang selama ini telah mampu membuat para penyuluh agama lebih aktif mengembangkan pengetahuan dan potensi yang ada pada diri mereka sehingga menghasilkan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya.

Sementara itu apabila kita mencermati data perkembangan kinerja penyuluh agama yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka dapatlah dikatakan bahwa walaupun kinerja para penyuluh agama di Kota Palembang tersebut sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan, namun kinerja yang dicapai dalam tahun 2011 belum dapat dikatakan optimal. Hal ini terlihat dari tingkat capaian kinerja tugas-tugas penyuluh agama yang terlaksana sesuai dengan pedoman yang sudah digariskan baru berada pada kisaran 65,19 % sampai 67,86 % artinya masih di bawah 70 %. Berarti lebih dari 30 % tugas-tugas penyuluh agama di Kota Palembang yang belum terlaksana sesuai dengan pedoman yang ada. Demikian pula halnya dilihat dari aspek DP3 para penyuluh agama pada akhir tahun 2011, di mana jumlah penyuluh agama yang mengalami penambahan nilai dalam DP3 hanya sebanyak 22 orang atau 32,35 % dari 68 orang penyuluh agama yang ada, dan penambahan nilai itupun masing-masing hanya satu angka. Data ini juga mengindikasikan bahwa kinerja yang dicapai belum optimal.

 

  1. F.      KESIMPULAN

Akhirnya tibalah saatnya bagi kami untuk menarik beberapa kesimpulan dari uraian yang sudah dipaparkan tadi sebagai berikut :

  1. Dilihat dari aspek nilai DP3 yang dibuat oleh Kasi Penamas Kantor Kementerian Agama Kota Palembang maupun dari aspek pelaksanaan tugas-tugas kepenyuluhan agama yang diatur dalam Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999, kinerja penyuluh agama yang ada di Kota Palembang menunjukkan peningkatan, yaitu bertambahnya nilai DP3 tahun 2011 masing-masing satu angka untuk 22 orang penyuluh agama (32,35 %) dari 68 penyuluh agama yang ada, serta peningkatan volume tugas yang terlaksana sesuai dengan pedoman pada tahun 2011 sebesar antara 44,78 % sampai 46,53 % dibanding tahun sebelumnya.
  2. Peningkatan kinerja Penyuluh Agama yang terjadi pada tahun 2011 merupakan hasil sinkronisasi antara hasil Diklat Penyuluh Agama yang diikuti oleh para Penyuluh Agama yang ada di Kota Palembang dan pelaksanaan pembinaan serta pemberdayaan secara efektif oleh pimpinan Kantor Kementerian Agama Kota Palembang terhadap potensi yang ada pada diri Penyuluh Agama tersebut.

 

  1. Dilihat dari aspek pelaksanaan rincian kegiatan tugas-tugas pokok seperti diatur dalam Keputusan Menko Wasbangpan Nomor 54 Tahun 1999 diperoleh temuan sebagai berikut :
  1. Adanya peningkatan kinerja penyuluh agama Terampil Penyelia pada tahun 2011. Dari 14 kegiatan yang sudah terlaksana sesuai dengan pedoman mencapai angka 67,86 % meningkat signifikan sebesar 45,71 % dari tahun 2010 ;
  2. Adanya peningkatan kinerja penyuluh agama Ahli Pertama pada tahun 2011. Dari 18 kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh seluruh penyuluh agama sesuai dengan pedoman pada tahun 2010 masih berada pada angka 20,41 %, pada akhir tahun 2011 sudah dapat mencapai angka 65,19 % yang berarti mengalami peningkatan sebasar 44,78 % ;
  3. Adanya peningkatan kinerja penyuluh agama Ahli Muda. Dari 32 kegiatan penyuluh agama Ahli Muda yang sudah dilaksanakan sesuai pedoman pada tahun 2010 baru mencapai 21,18 %,  tetapi pada akhir tahun 2011 meningkat menjadi 67,71 %. Ada peningkatan 46,53% dibandingkan tahun sebelumnya.

 

  1. G.    DAFTAR PUSTAKA

 

Anas, Sudijono. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Arikunto, Suharsimi. 1991. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Reneka Cipta.

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Manajemen Penelitian.         Jakarta : Reneka Cipta.

A.Syafei, Buyung. 2007. Evaluasi Kinerja (Performance Appraisal). Palembang: Universitas Bina Darma.

 

Departemen Agama RI. 2002. Pedoman Penyusunan Laporan Penyuluh Agama Islam/ panduan tugas Penyuluh Agama Islam. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Keagamaan Penyuluh Agama.

 

Departemen Agama RI. 2003. Himpunan Peraturan Tentang Kepegawaian Jilid II. Jakarta: Proyek Pembibitan Calon Tenaga Kependidikan Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal Departemen Agama Republik Indonesia.

 

Ety Rochaety, Ratih Tresnawati dan H. Abdul Madjid Latief. 2009. Metodologi Penelitian Bisnis Dengan Aplikasi SPSS. Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media.

 

Haditijo, Roni. 1983. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: Ghalia.

Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan. 2011. Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Agama, Pedoman  Penyuluhan I. Palembang: Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan.

 

Kementerian Agama RI. 2010. Peraturan Menteri Agama RI tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama. Jakarta: Kementerian Agama RI.

 

Pedoman Penilaian Kinerja PNS. 2011.

            <http://www.bkn.go.id/in/peraturan/ pedoman/pedoman-pedoman-pns.html>accessed 2/2/2011

 

Peraturan Pemerintah RI Nomor 101 tahun 2001 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil.

 

Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan.

 

Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2005. Term of Reference (TOR) Diklat Tenaga Teknis Keagamaan. Jakarta.

 

Rivai, Veithzal. 2005. Performance Apraisal. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Ruky, 2006. Sistem Manajemen Kinerja. Jakarta:                    PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Sianipar, 1999. Perencanaan Peningkatan Kinerja. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara RI.

 

Sugiyono, 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.

 

Triton, 2005. Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta : Tugu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.