CIPTAKAN SUASANA RELEGIUS DI SEKOLAH

0
41

 Oleh: H. Gusman, S.Ag M.Pd

WIDYAISWARA AHLI MADYA BDK PALEMBANG

 

Abstrak : Sebagai Tenaga pendidik, guru Pendidikan Agama Islam pada sekolah memiliki tugas pokok yang sangat banyak.  Selain bertugas sebagai pendidik atau pengajar Pendidikan Agama Islam di sekolah, di antara tugas mereka adalah memberikan  suasana relegius di sekolah dimana saja tempat mereka bertugas. Upaya menciptakan suasana relegius di sekolah antara lain dengan melaksanakan kegiatan sebagai berikut: menebarkan 3 S, S yang pertama Salam, S yang kedua Senyum dan S 3 Sapa/Santun serta melaksanakan sholat berjamaah di sekolah, melaksanakan kegiatan sholat dhuha, pengajian dan baca tulis Al-Quran, kegiatan shoum (puasa) sunnat, kegiatan praktek ibadah, kegiatan infak mingguan dan kegiatan silaturrahim di kalangan siswa dan guru. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam rangka mewujudkan dan meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik menjadi insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.

Key words: Ciptakan Suasana relegius, di sekolah

 

  1. PENDAHUUAN

Guru yang profesional adalah seoarng guru yang memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas dalam bentuk pengabdian. Menurut Moh. Uzer Usman (2001),  jabatan guru memangku tiga jenis tugas, yakni tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan, tugas dalam bidang kemasyarakatan.

Dalam kapasitasnya sebagai jabatan profesi, guru bertugas untuk mendidik, mengajar dan melatih. Sedang tugasnya dalam bidang kemanusiaan meliputi bahwa guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Adapun tugas dalam bidang kemasyarakatan pada hakekatnya adalah merupakan komponen strategis yang memiliki peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa.

Menurut Mc. Leod yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2010), sosok guru didefinisikan sebagai “a person whose occupations teaching others” (guru adalah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain) dengan maksud menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif), melatih keterampilan jasmani kepada orang lain (bersifat psikomotor) dan menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (bersifat apektif).

Guru agama (Islam) sebagai pengembang dan penanggung jawab mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, menurut Zuhairini (1997) mempunyai tugas yaitu mengajar ilmu pengetahuan agama Islam, menanamkan keimanan dalam jiwa anak didik, mendidik anak agar taat menjalankan agama dan mendidik anak agar berbudi pekerti mulia.

Seorang guru agama dituntut tidak hanya mengajarkan ilmu Pendidikan Agama Islam semata dalam proses pembelajaran, tetapi juga melakukan usaha-usaha lainnya yang dapat membantu tercapainya tujuan pendidikan agama islam. Usaha-usaha tersebut antara lain diwujudkan melalui upaya guru agama dalam menumbuhkan suasana relegius di sekolah. Adapun yang dimaksud dengan suasana religius adalah terciptanya situasi keagamaan di kalangan pendidik dan anak didiknya yang tercermin dalam usaha memahami ajaran-ajaran agama, budi luhur dari peserta didik, hidup sederhana dan hemat, mencintai kebersihan dan  segera menyadari dan memperbaiki kesalahan (Anonimous 1988).

  1. BGURU PAI, KOMPETENSI DAN KARAKTERISTIKNYA

Guru merupakan unsur yang sangat dominan dan dinilai sangat penting dalam jalur pendidikan sekolah (formal) pada umumnya, karena bagi siswa guru sering dijadikan sebagai tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Demikian pula dalam proses pembelajaran guru harus memiliki kemampuan tersendiri guna mencapai harapan yang  dicita-citakan dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Untuk memiliki kemampuan tersebut guru perlu membina diri secara optimal  sebagai karekteristik pekerjaan profesional.

Secara operasional terdapat beberapa pandangan mengenai definisi guru yaitu:

  1. Menurut pandangan tradisional; guru adalah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan
  2. Menurut pandangan seorang ahli pendidikan; guru adalah seorang yang menyebabkan orang lain mengetahui atau mampu melaksanakan sesuatu atau memberikan pengetahuan atau keterampilan kepada orang lain

Kata guru dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggeris disebut dengan teacher itu memiliki makna yang sangat sederhana, yaitu “a person whose accupation is teaching other”. Artinya guru adalah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain. Demikian pula yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru dimaknai sebagai seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.

Dalam Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru, pada Bab I pasal 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini di jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Selanjut Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik yang memberikan pelajaran kepada murid, dan biasanya guru adalah pendidik yang memegang mata pelajaran di sekolah. Karena itu jelaslah sudah bahwa yang dimaksud guru agama adalah pendidik yang mengampu mata pelajaran agama di sekolah tanpa membeda-bedakan agama tertentu. Guru agama (Islam) sebagai pengampu dan penanggung jawab mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, menurut Zuhairini (1997) mempunyai tugas lain yaitu mengajar ilmu pengetahuan agama Islam, menanamkan keimanan ke dalam jiwa anak didik, mendidik anak anak agar taat menjalankan agama, dan mendidik anak-anak agar berbudi pekerti yang mulia.

Kemudian dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru dituntut untuk memiliki berbagai kecakapan (competencies) yang bersifat psikologis yang meliputi: kompetensi kognitif (ranah cipta), kompetensi apektif (ranah rasa) dan kompetensi psikomotor (ranah karsa) (Muhibbin Syah 2010).

Ramayulis (1994) mengemukakan bahwa ada beberapa jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh guru agama (Islam), antara lain: 1) mengenal dan mengakui harkat dan potensi dari setiap individu atau murid yang diajar, 2) membina suatu suasana sosial yang meliputi interaksi belajar mengajar sehingga amat bersifat menunjang secara moral (bathiniah) terhadap murid bagi terciptanya kesepahaman dan kesamaan arah dalam pikiran serta perbuatan murid dan guru, dan 3) membina suatu perasaan saling menghormati, saling bertanggung jawab dan saling percaya mempercayai antara guru dan murid.

Selanjutnya kompetensi guru agama yang dikembangkan oleh Abdul Mudjieb (1993) meliputi kategori berikut yaitu: 1) penguasaan materi al-islam yang komprehensif serta wawasan dan bahan penghayatan, terutama pada bidang yang menjadi tugasnya, 2) penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode dan teknik) pendidikan Islam, termasuk kemampuan evaluasinya, 3) penguasaan ilmu dan wawasan kependidikan, 4) memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan pada umumnya guna keperluan pengembangan pendidikan Islam, 5) memiliki kepekaan informasi secara langsung  yang mendukung kepentingan tugasnya.

Sedangkan menurut Hadari Nawawi (1993), bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai pendidik yang sebenarnya, jika di dalam dirinya terkandung beberapa aspek yang diidentifikasi sebagai kompetensi, yang meliputi:

  1. Kewibawaan merupakan sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan hormat, bukan yang berdasarkan tekanan, ancaman ataupun sanksi, melainkan atas kesadarannya sendiri.
  2. Memiliki sikap tulus ikhlas dan pengabdian sikap tulus ikhlas tampil dari hati yang rela berkorban untuk anak didik, yang diwarnai juga dengan kejujuran, keterbukaan dan kesabaran,
  3. Keteladanan

Keteladanan yang dimiliki seorang guru memegang peranan penting dalam proses pendidikan, karena guru adalah orang yang pertama setelah orang tua yang mempengaruhi pembinaan kepribadian seseorang. Karena itu seorang guru yang baik senantiasa akan memberikan yang baik pula kepada anak didiknya.

Mahmud Yunus (1966) dalam Ahmad tafsir (2011) menyatakan bahwa selain memiliki kompetensi seorang guru Pendidikan Agama islam juga harus memiliki sifat-sifat yang baik yaitu:

  1. Kasih sayang pada murid. 2. Senang memberikan nasehat. 3. Senang memberikan peringatan. 4. Senang melarang murid melakukan hal yang tida baik. 5. Bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan lingkungan murid. 6. Hormat pada pelajaran lain yang bukan menjadi pegangannya.7. Bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan taraf kecerdasan murid. 8. Mementingkan berpikir dan berijtihad.  9. Jujur dalam keilmuan dan. 10.Adil
  2. MATA PELAJARAN PAI DI SEKOLAH

Agama memiliki peran yang sangat besar dalam usaha memandu dan mewujudkan kehidupan manusia yang bermakna, damai dan bermartabat. Mengingat besarnya peran agama bagi kehidupan umat manusia, maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi manusia menjadi suatu keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan di keluarga, di sekolah maupun di masyarakat.

Karena itu dalam UUSPN No. 2/1989 pasal 39 ayat (2) ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat, antara lain Pendidikan Agama. Dan dalam penjelasanya dinyatakan bahwa pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama daalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional.

Dalam konsep Islam, Iman merupakan potensi rohani yang harus diaktualisasikan dalam bentuk amal shaleh, sehingga nenghasilkan prestasi rohani (iman) yang disebut taqwa. Amal saleh itu menyangkut keserasian dan keselarasan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya yang membentuk kesalehan pribadi; hubungan manusia dengan sesamanya yang membentuk kesalehan sosial (solidaritas sosial), dan hubungan manusia dengan alam yang membentuk kesalehan terhadap alam sekitar. Kualitas amal saleh akan menentukan derajat ketaqwaan (prestasi rohani/iman) seseorang di hadapan Allah SWT.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka pendidikan agama dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik menjadi insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Karena itu dalam menyusun GBPP Pendidikan Agama Islam di Sekolah umum diselaraskan dengan maksud dan tujuan di atas. Sebagaimana dijelaskan bahwa pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Pendidikan agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntutan bahwa agama yang diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri.

  1. Lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi.
  2. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia
  3. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya pendidikan

Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berusaha menyempurnakan iman, taqwa dan akhlak serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti ini diharapkan tangguh menghadapi tantangan, hambatan dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan  kompetensi inti dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. Peran semua unsur sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam.

  1. PEMBENTUKAN SUASANA RELEGIUS DI SEKOLAH

Dalam mengembangkan kompetensi siswa, guru Pendidikan Agama Islam sangat bersentuhan dengan materi dan kompetensi akhlak mulia. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berupaya mentransfer, membentuk dan menginternalisasikan nilai-nilai relegius mempunyai tanggung jawab dalam pembentukan akhlak mulia siswa. Dalam hal ini guru Pendidikan Agama Islam dapat mengupayakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Menebarkan salam. Pada kegiatan ini guru senantiasa berusaha mengucapkan salam kepada anak didik di sekolah, mengucapkan salam ketika membuka dan menutup pelajaran, dan menyapa guru lainnya dengan mengucapkan salam terlebih dahulu
  2. Melaksanakan sholat berjamaah di sekolah. Guru dapat membiasakan sholat berjamaah di sekolah bersama anak didik. Memberikan contoh keteladanan kepada anak didiknya untuk sholat berjamaah di sekolah dan dilaksanakan pada awal waktu.
  3. Melaksanakan sholat dhuha pada jam istirahat. Hal ini dimaksudkan untuk mengisi waktu kosong dalam bentuk wisata rohani bagi anak didik. Dalam hal ini guru Pendidikan Agama Islam bisa mengajak guru-guru lain untuk sama-sama melaksanakan sholat dhuha, sehingga teladan tidak hanya diterima oleh anak didik dari guru Pendidikan Agama Islam saja.
  4. Pengajian dan baca tulis Al-Quran. Dalam kegiatan ini usaha guru Pendidikan Agama Islam adalah bertadarus Al-Quran bersama anak didik, selalu berusaha mengajak anak didik untuk belajar membaca dan memahami Al-Quran, dan berusaha menghidupkan kegiatan pengajian dan ceramah agama.
  5. Kegiatan shoum (puasa) sunnat. Untuk kegiatan ini bisa mengambil momen Senin dan Kamis, atau puasa tiga hari berturut-turut setiap bulan dipertengahan bulan hijriah, yaitu tanggal 13,14 dan 15 (shoum ayyamul bidh). Adapun pada bulan Ramadhan, bisa diselingi dengan kegiatan berbuka puasa bersama antara guru dan peserta didik.
  6. Kegiatan praktek ibadah. Pada kegiatan ini guru Pendidikan Agama Islam berupaya melaksanakan kegiatan praktek ibadah sholat di sekolah, mengingatkan anak didik untuk mempraktekkan kehidupan keagamaan di sekolah dan memberikan keteladanan dalam mempraktekkan amaliah ibadah kepada anak didiknya.
  7. Kegiatan infak mingguan. Kegiatan ini bisa dilaksanakan pada setiap hari Jum’at misalnya. Uang infak bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat keagamaan bahkan sosial.
  8. Kegiatan silaturrahim di kalangan siswa dan guru. Pada kegiatan ini guru berupaya untuk mengajak siswa untuk bersama-sama menjenguk siswa yang sedang sakit, menjalin keakraban dengan anak didik dan guru lainnya, dan menaruh sikap hormat terhadap sesama, dan menyayangi anak didik.

 

  1. PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut bahwa Guru Pendidikan Agama Islam pada Sekolah tetap terus meningkatkan dan mengupayakan pembiasaan-pembiasaan yang terus-menerus berinovasi dalam meningkakan kinerjanya sebagai seorang  guru Pendidikan Agama Islam yang profesional. Maka peserta didik akan terbiasa berperilaku relegius dalam kehidupannya sehari-hari di sekolah pada khususnya, serta dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat pada umumnya. Karena itu kepada seluruh guru Pendidikan Agama Islam agar mengupayakan seluruh kegiatan-kegiatan di atas, atau kegiatan-kegiatan relegius lainnya yang sesuai di sekolah masing-masing, demi mewujudkan peserta didik yang baik sebagaimana amanah yang tertuang dalam UUSPN tahun 2005 tentang Tujuan Pendidikan Nasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 1988. Memelihara Kelangsungan Anak Menurut Ajaran Islam. Jakarta: MUI dan UNICEF

Departemen P dan K. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Mudjieb, Abdul. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya

Nawawi, Hadari. 1993. Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Roestiyah. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bina Aksara

Ramayulis. 1994. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tafsir, Ahmad. 2011. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Usman, Muh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Zuhairini dkk. 1997. Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam. Surabaya: Usaha Nasional

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.