BDK Palembang Gelar Halal Bihalal Idul Fitri 1436 H

0
61

Palembang (Diklat NEWS) – Kegiatan halal bihalal sudah merupakan hal yang terjadi dari tahun ke tahun di Indonesia, hal ini juga termasuk di Balai Diklat Keagamaan Palembang. Halal Bihalal adalah alternatif pemecahan praktis dari kunjungan silaturahmi yang membutuhkan waktu berhari-hari. Dengan menghadiri acara halal bihalal yang diadakan di satu tempat seseorang sudah dapat bersilaturahmi dan saling meminta maaf dengan banyak orang.

“ Kegiatan halal bihalal ini merupakan kegiatan yang positif, karena sebagai umat Islam sudah selayaknya kita berlapang dada, khususnya terhadap sesama muslim dan muslimah, yang sudah barang tentu dalam kehidupan sehari-hari memiliki rasa khilaf, rasa salah dan rasa berdosa. Untuk itu dalam kesempatan halal bihalal semua orang untuk melapangkan dada, membuka hati dengan rasa sabar, atas ridha Allah meminta maaf dan memberi maaf atas kesalahan di antara kita baik yang disengaja atau yang tidak disengaja “. Kata Kepala BDK Palembang dalam sambutan halal bihalal di BDK palembang (22/7) yang dihadiri oleh pimpinan dan seluruh pegawai BDK Palembang.

Lebih lanjut Bapak Drs. H. M. Thontowi selaku penceramah pada kegiatan halal bihalal ini mengatakan bahwa selama ini kita selalu disibukan dengan menghiasi diri dan rumah kita dalam menyambut idul fitri, tetapi kita lupa menghiasi hati kita. Padahal menghiasi hati lebih utama daripada menghiasi lahir.

“Ada 2 hal yang perlu kita lakukan dalam menghiasi hati yaitu ikhlas dan syukur. Dengan ikhlas hati kita menjadi tenang dan dengan rasa syukur berarti kita telah membuat hati kita tenteram menerima segala pemberian Allah. Inti dari halal bihalal ini adalah saling memaafkan dan silaturahim”. Kata Bapak Drs. H. M. Thontowi.

Dengan begitu, halal bihalal mempunyai arti penting dalam ajaran agama. Penekannya adalah hubungan antara manusia dan Tuhannya serta hubungan antara manusia dan sesamanya. Allah berfirman, ”Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (An-Nur: 22).

Dalam ayat tadi, pemberian ampunan dari Allah SWT kepada hambanya, tegas-tegas dikaitkan dengan pelaksanaan perintah memberi maaf dan berlapang dada atas kesalahan orang lain terhadap dirinya. Adanya pertautan hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia itu selalu diselingi oleh hal-hal yang haram, oleh berbagai kesalahan [RDH/AMZ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.