Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran IPA

0
80

OLEH: BASUKI,M.Pd

WIDYAISWARA MADYA

BALAI DIKLAT KEAGAMAAN PALEMBANG

Abstrak

 Salah satu usaha yang tidak pernah Widyaiswara tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode/model sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang Widyaiswara.

Salah satu metode/model/pendekatan dalam mengajar adalah menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat diselanjutnya dinamakan STM. Pendekatan STM berkaitan erat dengan pendekatan lingkungan dan pendekatan nilai. Dalam pendekatan lingkungan harus diperhatikan bahwa materi pelajaran hendaknya mempunyai hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari

Pendekatan STM muncul sebagai alternative jawaban terhadap kritikan pada pengajaran sains tradisional. Salah satu bentuk pengajaran sains tradisional adalah terlalu banyak dan terlalu menekankan pada fakta-fakta dan teori-teori tanpa ada hubungannya dengan dunia di luar kelas atau di luar laboratorium

Dalam penggunaan pendekatan STM, hendaknya dalam belajar menggunakan strategi kontruktivisme. Strategi kontruktivisme dalam pengajaran sains dalam STM kedalam 4 tahapan yaitu tahap invitasi, tahap eksplorasi, tahap penjelasan dan tahap pengambilan tindakan.

  1. A.     Pendahuluan

Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran (sasaran didik), sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar (Nana Sudjana, 2004).

Belajar pada hakekatnya merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan, menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Manusia tanpa belajar, akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak lain juga merupakan produk kegiatan berpikir manusia-manusia pendahulunya. Tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah merupakan tuntutan kebutuhan manusia sejak lahir sampai akhir hayatnya. Dengan demikian, belajar merupakan tuntutan hidup sepanjang hayat manusia (life long learning)

Oleh sebab itu belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses merekasi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu. Apabila kita berbicara tentang belajar maka kita berbicara bagaimana mengubah tingkah laku seseorang.

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Guru/Widyaiswara dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi peserta diklat. Dengan seperangkat teori dan pengalamannya Guru/Widyaiswara gunakan untuk bagaimana mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis.

Salah satu usaha yang tidak pernah Widyaiswara tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode/model sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang Widyaiswara/guru.

Salah satu metode/model/pendekatan dalam mengajar adalah menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat diselanjutnya dinamakan STM. Pendekatan STM berkaitan erat dengan pendekatan lingkungan dan pendekatan nilai. Dalam pendekatan lingkungan harus diperhatikan bahwa materi pelajaran hendaknya mempunyai hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Pendidikan sains pada tahun 1960-1970, perhatiannya ditujukan kepada kemampuan warga Negara agar melek secara ilmiah. Kemudian di tahun 1980-an pendidikan sains menekankan pada relevansi pengetahuan ilmiah, isu-isu masyarakat, dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat atau lebih dikenal dengan melek sains dan teknologi. Melek sains dan teknologi mempunyai arti bahwa semua warga Negara yang lulus dari sekolah menengah umum hendaknya reasonably comfortable dengan masalah-masalah ilmiah yang disajikan dan hal-hal yang berkenan dengan masalah-masalah teknis. Seseorang yang telah lulus sekolah menengah  hendaknya mampu membaca artikel-artikel dalam koran atau majalah yang berhubungan dengan isu-isu terknologi yang berkembang saat ini, misalnya lingkungan atau energy nuklir.

Sains-Teknologi Masyarakat (STM) kini menjadi mega trend dalam pendidikan sains. STM sebagi istilah yang diciptakan oleh John Ziman dalam bukunya “Teaching and about science and society. Pendekatan STM muncul sebagai alternative jawaban terhadap kritikan pada pengajaran sains tradisional. Salah satu bentuk pengajaran sains tradisional adalah terlalu banyak dan terlalu menekankan pada fakta-fakta dan teori-teori tanpa ada hubungannya dengan dunia di luar kelas atau di luar laboratorium (Holman, 1986;Lewin,1987 dalam Hartinawati,2008)

Holman mengemukan bahwa pengajaran sains cenderung menyiapkan segelintir orang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (universitas), sementara sebagaian siswa akan menjadi konsumen dari sains dan teknologi daripada sebagai produsen. Dari kenyataan ini menuntut agar pendidikan sains memberikan pengetahuan sains yang dibutuhkan oleh siswa kebanyakan dan hendaknya berguna untuk kehidupan sehari-hari.

Alasan lain perlunya pendekatan STM dalam pengajaran sains adalah 1) kita sekarang hidup dibanjiri oleh produk sains dan teknologi; 2) untuk membuat sains dapat dipahami oleh semua baik guru maupun siswa; 3) pengajaran sains dengan pendekatan STM akan mendekatkan guru dan siswa kepada obyek yang dibahas;4) pengajaran sains dengan pendekatan STM merupakan suatu konteks pengembangan pribadi dan sosial.

Bila STM digunakan sebagai pendekatan mengajar sains, bagaimanakah langkah-langkah yang perlu dikembangkan jika menggunakan pendekatan STM.

  1. B.     Pembahasan
  2. 1.      Karakteristik Pendekatan STM dalam Pembelajaran

Pendekatan STM muncul sebagai alternative jawaban terhadap kritikan pada pengajaran sains tradisional. Salah satu bentuk pengajaran sains tradisonal adalah terlalu banyak dan terlalu menekankan pada fakta-fakta dan teori-teori tanpa ada hubungannya dengan dunia di luar kelas atau di luar laboratorium (Holman, 1986;Lewin,1987 dalam Hartinawati,2008)

Holman mengemukan bahwa pengajaran sains cenderung menyiapkan segelintir orang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (universitas), sementara sebagaian siswa akan menjadi konsumen dari sains dan teknologi daripada sebagai produsen. Dari kenyataan ini menuntut agar pendidikan sains memberikan pengetahuan sains yang dibutuhkan oleh siswa kebanyakan dan hendaknya berguna untuk kehidupan sehari-hari.

Alasan lain perlunya pendekatan STM dalam pengajaran sains adalah kita sekarang hidup dibanjiri oleh produk sains dan teknologi. Hal ini berarti perlu dibekali untuk menangani produk-produk sains dan teknologi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari

Karakteristik pendekatan STM seperti yang dikutip pada buku modul Universitas Terbuka berjudul kecendrungan dalam Pembelajaran IPA berkaitan dengan domain konsep, domain proses, domain aplikasi, domain kreativitas dan domain sikap (Hartinawati, 2008)

1.1  Domain Konsep

Domain konsep ini menfokuskan pada muatan sains, tujuan-tujuan sains untuk mengelompokkan alam yang teramati ke dalam unit-unit yang teratur untuk studi dan penjelasan hubungan-hubungan fisika dan biologi dari pengajaran sains yang melibatkan siswa belajar konsep-konsep utama dari sains. Domain konsep meliputi fakta-fakta, informasi, hukum-hukum, prinsip-prinsip, penjelasan-penjelasan keberadaan sesuatu dan teori yang digunakan oleh sains

1.2  Domain Proses

Proses-proses sains berhubungan dengan bagaimana sainstis berpikir dan bekerja, yaitu menggambarkan dimensi sains. Proses-proses sains telah diidentifkasikan oleh “The American Association for Advancement of Science (AAAS) yaitu ada 15 keterampilan proses yang meliputi; a) mengobservasi; b) menggunakan ruang/waktu;c) mengklasifikasi;d) mengelompokkan dan mengorganisasi;e) menggunakan bilangan;e) menggunakan bilangan; f) mengkuantifikasi; g) mengukur;h) mengkomunikasikan; h) menginferensi; h) memprediksikan;i) memberikan definisi secara operasional; j) melaksanakan eksperimen

1.3  Domain Aplikasi

Domain ini meliputi mengaplikasikan konsep-konsep dan keterampilan dalam memecahkan masalah sehari-hari, memahami prinsip-prinsip ilmiah dan prinsip-prinsip teknologi yang terdapat dalam rumah tangga, menggunakan proses-proses ilmiah dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, memahami dan menilai laporan media masa, mengenal perkembangan pengetahuan, mengambil keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pribadi, gizi dan gaya hidup yang didasari oleh pengetahuan konsep-konsep ilmiah daripada emosi, mengintegrasikan sains dengan subjek-subjek lain, mengambil tindakan khusus yang dirancang untuk memecahkan masalah dan atau member kontribusi untuk pemecahan masalah yang dihadapi secara local, nasional, regional maupun internasional dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.

1.4  Domain kreativitas

Kemampuan manusia yang terpenting dalam domain ini diantaranya meliputi visualisasi, menghasilkan gambaran mental, menggabungkan objek-objek dan ide-ide dalam cara-cara baru, memecahkan masalah dan teka-teki, memprediksi konsekuensi-konsekuensi yang mungkin, menyarankan alasan-alasan yang mungkin mendesain alat atau mesin dan menghasilkan ide-ide yang tidak biasa

1.5  Domain Sikap

Domain sikap meliputi pengembangan sikap-sikap positif terhadap sains. Pada umumnya, kelas sains, kegunaan belajar sains, dan untuk guru terbentuknya pengembangan sikapsikap positif terhadap diri sendiri (sikap dapat mengerjakan sesuatu), eksplorasi emosi manusia, mengembangkan kepekaan dan rasa hormat terhadap perasaan-perasaan orang lain, mengekspresikan perasaan dengan cara-cara kontruktif, mengambil keputusan mengenai isu-isu lingkungan social dan mengeksplorasi argument dalam sudut pandang yang berbeda mengenai isu-isu yang ada.

  1. 2.      Langkah-langkah pelaksanaan Pendekatan STM dalam Pembelajaran

Dalam penggunaan pendekatan STM, Yoger menyarankan hendaknya dalam belajar menggunakan strategi kontruktivisme. Yoger mengorganisasikan strategi kontruktivisme dalam pengajaran sains dalam STM kedalam 4 tahapan yaitu tahap invitasi, tahap eksplorasi, tahap penjelasan dan tahap pengambilan tindakan.

Pada tahap pertama dalam pembelajaran (invitasi), siswa di dorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan problematic tentang fenomena yang sering ditemui sehari-hari dengan mengkaitkan konsep-konsep yang akan dibahas. Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasi pemahamannya tentang konsep itu

Pada tahap kedua (eksplorasi), siswa diberi kesempatan untuk penyelidikan dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang guru. Secara berkelompok/individu siswa melakukan kegiatan dan diskusi. Secara keseluruhan, tahap ini akan memenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena alam sekelilingnya.

Pada tahap ketiga (penjelasan dan solusi) saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan guru, maka siswa dapat menyampaikan gagasan, membuat model, membuat penjelasan baru, membuat solusi, memadukan solusinya dengan teori dari buku, membuat rangkuman dan kesimpulan. Siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari. Hal ini menjadi siswa tidak ragu-ragu tentang konsepsinya

Pada tahap keempat (pengambilan tindakan), siswa dapat membuat keputusan, menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagi informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, mengajukan saran baik bagi individu maupun masyarakat yang berhubungan dengan pemecahan masalah.

Dalam pembelajaran dengan pendekatan STM ini banyak metode mengajar yang dapat digunakan guru. Metode yang dapat digunakan misalnya diskusi, bermain peran, studi kasus, eksperimen, survey dan studi lapangan. Penggunaan metode-metode tersebut menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam mengajar.

Untuk mengetahui keberhasilan siswa dengan pendekatan STM tetap diadakan pengujian dan penilaian terhadap siswa. Mungkin pengujian hasil belajar siswa agak sulit pelaksanaannya karena meliputi banyak aspek dan bahkan menyangkut beberapa bidang studi baik sains maupun non sains.

  1. Kesimpulan

Pendekatan STM berkaitan dengan pendekatan lingkungan dan pendekatan nilai. Dalam pendekatan lingkungan harus diperhatikan bahwa materi pelajaran hendaknya mempunyai hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, isi pelajaran disesuaikan dengan lingkungan siswa dan penerapan-penerapannya. Dalam pendekatan nilai diungkapkan bahwa IPA merupakan suatu bidang studi yang memberikan banyak kesempatan untuk mengungkapkan nila-nilai dalam pembelajaran IPA saling berkaitan.

Dalam pelajaran IPA di sekolah hendaknya ditanamkan tentang pentingnya mengenai 4 hal mendasar yaitu 1) pengetahuan yang berhubungan dengan pemenuhan akan kebutuhan makanan; 2) pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu-ilmu dasar yang harus mereka kuasai;3) pengetahuan untuk persiapan karier berupa pengetahuan yang berguna bagi setelah menyelesaikan studi.

Tujuan umum dari pendekatan STM adalah untuk membentuk masyarakat yang cakap dan amapu membuat suatu keputusan yang penting tentang masalah-masalah atau isu-isu yang berkembang di sekitarnya dan mampu mengambil tindakan nyata untuk memecahkan permasalahan yang ada. STM berarti memfokuskan diri pada masalah-masalah terbaru yang berkembang dan

Daftar pustaka

Hartinawati, dkk. 2008. Kecendrungan dalam Pembelajaran IPA.Jakarta.      Universitas Terbuka.

 Nana Sudjana.2004. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar.Sinar Baru Algensindo. Bandung

 Yoger, R.E (1992).The Contructivist Learning Model.A Must For STS Classroom The Status Of Science-Technology Society. Reform Effort Around The  World.IOWA University

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.