APAPUN KURIKULUMNYA, GURU HARUS PROFESIONAL

0
102

APAPUN KURIKULUMNYA, GURU HARUS PROFESIONAL

Oleh: Marzal

Menteri pendidikan dan kebudayaan sudah memukul gong tanda akan dimulainya pelaksanaan Kurikulum 2013 di beberapa sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project (sekolah percontohan), ada sekitar 6.410 sekolah, 56.113 guru, dan 1.535.065 siswa dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sesuai realese yang di keluarkan oleh Kemendikbud berikut ini “Kita kurangi besar kendaraan yang akan ditumpangi, ilustrasinya seperti itu. Untuk itu, harus kita matangkan dan mantapkan betul. Jangan sampai kita tidak realistis dalam arti tidak mempertimbangkan faktor-faktor eksternal,” Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)  Mohammad Nuh di kantor Kemendikbud, di Jakarta, Senin (6/5/2013) sebagaimana keterangan tertulis melalui Humas Kemendikbud.

Bertitik tolak dari pernyataan tersebut, sepertinya kemendikbud juga masih ragu untuk mengeluarkan instruksi dimulainya pelaksanaan kurikulum 2013 di seluruh sekolah se Indonesia, sehingga terkesan sangat dipaksakan karena sudah terlanjur terlontar dan didengung-dengungkan sejak jauh hari bahwa kurikulum 2013 mau tidak mau, suka tidak suka harus dilaksanakan pada pertengahan tahun 2013 ini juga.

Seharusnya sebuah kebijakan besar ini jangan sampai ada kesan dipaksakan dan tergesa-gesa yang menunjukkan bahwa ganti menteri, harus ganti kurikulum, seolah-olah menteri tidak berprestasi kalau tidak mengganti kurikulum, atau bahkan lebih parah lagi penggantian kurikukulum tersebut hanya untuk menghabiskan anggaran yang berarti bahwa agar mendapat anggaran yang besar maka kementerian pendidikan dan kebudayaan berusaha membuat salah satu program yang bernama penggantian kurikulum 2013.

Sesungguhnya yang perlu kita sadari  bahwa sebagus apapun kurikulumnya, yang menentukan baik atau buruknya proses dan hasil pembelajaran adalah para guru yang ada di sekolah sebagai ujung tombaknya. Oleh karenanya sebetulnya yang harus di perhatikan oleh para pengambil kebijakan adalah bagaimana berupaya untuk meningkatkan kompetensi guru-guru mulai dari jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA  sederajat agar semakin profesional. Peningkatan kompetensi itu bisa melalui pendidikan dan pelatihan sebelum memangku jabatan (prajabatan) atau bahkan dalam jabatan (on the job training).

Disamping tugas pemerintah untuk meningkatkan kompetensi dan profesional guru, perguruan tinggi pencetak guru juga mempunyai peranan besar dalam memproses dan mempersiapkan lulusannya untuk berperan aktif dan bekerja secara profesional sebagai guru ditengah-tengah masyarakat. Lembaga pendidikan pencetak tenaga pendidik dan kependidikan (LPTK) atau pergurun tinggi jangan hanya terkesan mengejar target secara kuantitas lulusan untuk mengejar setoran SPP dan uang sumbangan yang lain dengan mengesampingkan kualitas lulusan. Perguruan tinggi pencetak guru turut bertanggungjawab menciptakan guru profesional. Guru profesional harus diciptakan sejak dini oleh perguruan tinggi pencetak guru dengan menggodok dan memproses para mahasiswa calon guru dengan bersungguh-sungguh, sesuai dengan kebutuhan di lapangan, sesuai dengan perkembangan zaman, dan beorientasi pada kualitas sehingga tercipta guru profesional yang siap mengabdi sesuai dengan perkembangan dunia global.

Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah terlepas apapun nama dan bentuk kurikulumnya, antara lain adalah guru sebagai pendidik, pengajar, fasilitator, motivator, evaluator dan inovator serta tauladan yang baik karena guru sejatinya tempat para siswa menggugu dan meniru (bahasa jawa: diguguh lan ditiru). Artinya peran guru sangat penting dalam membentuk dan membina para siswa terlepas dari seperti apapun kurikulumnya.  Dalam tulisan ini penulis ingin menegaskan bahwa kurikulum bukanlah segala-galanya, namun guru profesional sebagai pendidiklah yang menentukan keberhasilan para siswa disamping dari faktor-faktor yang lain; seperti faktor motivasi siswanya sendiri, dan fasilitas belajar lainnya.

Masih segar dalam ingatan kita tentang sebuah film yang sangat menarik perhatian di tahun 2007-2009 yaitu film laskar pelangi, betapa semangat guru dan motivasi siswa untuk berhasil dalam segala keterbatasan yang ada di pulau Belitong saat itu, nyatanya mereka cukup berhasil termasuk penulis novelnya yang dapat melanjutkan ke tempat kuliah yang bonafit (ITB) dan melanjutkan kuliah S2 di Perancis, ini merupakan sebuah kisah prestasi nyata yang sangat luar biasa yang diangkat dalam sebuah novel dan film sehingga dapat menginspirasi banyak orang. Dapatkah kita bercermin dengan sebuah film tersebut, betapa guru mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter pejuang seorang anak manusia. Siswa-siswanya begitu patuh dan hormat kepada gurunya, karena gurunya juga mendidik dengan hati tanpa harus memaki, mengajar tanpa harus mengancam atau mencerca, memberi ilmu tanpa harus menuntut pamrih, dan lain sebagainya.

Dengan gambaran di atas jelas sudah bahwa seperti apapun kurikulumnya sepanjang gurunya tidak kompeten, tidak profesional, dan tidak memiliki panggilan untuk menjadi seorang guru maka kurikulum tersebut hanya menjadi sebuah dokumen yang tidak berarti apa-apa. Akankah seperti itu kurikulum 2013 yang akan diterapkan nantinya, apakah ada jaminan pendidikan kita semakin berkualitas apabila kurikulum 2013 segera dilaksanakan pada pertengahan tahun ini? jawabannya belum tentu, kalau kurikulumnya tidak “dieksekusi” oleh guru-guru yang kompeten, kreatif dan profesional.

Jadi bagaimana sebaiknya sikap guru terhadap penerapan kurikulum 2013 tersebut? Mari kita laksanakan dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Karena kurikulum sendiri sebenarnya bermakna sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan tertentu. Demikian Pengertian Kurikulum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Bab I pasal 1 ayat 19). Jika demikian pengertian kurikulum, berarti kurikulum bukanlah sebuah kitab suci yang tidak bisa dimodifikasi dan dikembangkan secara inovatif. Oleh karenanya para guru jangan kehabisan akal untuk berkreasi dan berinovasi untuk mengembangkan kurikulum tersebut dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan  pembelajaran dan pendidikan secara utuh, sehingga tercipta insan-insan indonesia yang tangguh, berakhlakulkarimah, berpengetahuan yang luas, jujur, disiplin, kerja keras, dan berintegritas. Semoga bermanfaat..

Penulis adalah Widyaiswara, trainer dan motivator Balai Diklat Keagamaan Palembang – Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.